Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duel Mulut di Taman Istana (Alara vs. Selir Licik)
Aroma semur daging sapi premium dengan kuah kental yang gurih dan sup ayam obat yang kaya rempah memenuhi seluruh penjuru ruangan Istana Dingin yang biasanya berbau kayu lapuk. Lily makan sampai menangis sesenggukan, air matanya menetes pas di atas mangkuk nasi putihnya yang pulen. Sementara Alara? Jangan ditanya. Dia sudah menambah porsi nasinya untuk ketiga kali dengan kecepatan makan yang membuat Lily ngeri sekaligus takjub.
Perintah Kaisar Kaivan pagi itu benar-benar bukan gertakan sambal belaka. Pihak dapur utama yang dikelola langsung di bawah Paviliun Naga Emas mengirimkan makanan kelas satu, lengkap dengan buah-buahan segar yang masih dingin karena embun pagi.
"Gusti... Selir... hamba merasa seperti sedang bermimpi di siang bolong. Apakah ini semua nyata?" tanya Lily dengan mulut yang masih penuh dengan potongan daging sapi yang empuk.
"Nyata seratus persen, Lily. Makanya, catat ini di otak lu: kalau ditindas itu jangan cuma bisa nangis bombay di pojokan kamar. Protes! Pake logika, potong jalur birokrasi, langsung tembak ke bos besarnya," sahut Alara santai sambil mengelap sisa kuah di sudut mulutnya dengan puas. "Nah, sekarang perut udah kenyang, energi sudah terisi *full*. Saatnya kita jalan-jalan santai mencari udara segar. Gue butuh *skin care* alami alias vitamin D dari sinar matahari biar kulit spek bidadari ini gak makin pucat."
Namun, kedamaian yang baru saja dirasakan Alara tampaknya memiliki masa kedaluwarsa yang sangat singkat di istana ini.
Baru saja kedua kaki Alara melangkah keluar dari gerbang kayu Istana Dingin menuju jalur taman anggrek kekaisaran, sebuah suara dengan nada tinggi melengking yang sangat meremehkan langsung memecah ketenangan pagi.
"Astaga... lihat siapa yang baru saja merangkak keluar dari tempat pembuangan sampah. Apakah bau busuk Istana Dingin belum cukup untuk membuatmu sadar diri, Alara?"
Alara menghentikan langkah kakinya. Di depannya, sekitar lima meter jauhnya, berdiri seorang wanita dengan gaun sutra berlapis warna merah menyala yang super heboh dan mencolok. Di atas kepalanya, bertengger konde emas raksasa yang dipenuhi oleh berbagai tusuk konde berbentuk burung phoenix yang berkilauan diterpa cahaya. Wajah wanita itu sebenarnya cantik, tetapi bibirnya yang dipulas lipstik merah darah ditekuk sinis dengan pandangan mata yang merendahkan. Di belakangnya, ada sepasukan pelayan wanita yang sibuk mengipasi sang majikan dengan kipas bulu angsa.
Dia adalah **Selir Shina**, pelaku utama yang mendorong tubuh asli Alara ke dalam kolam teratai minggu lalu hingga menyebabkan jiwa Alara modern terlempar ke dunia ini.
Lily yang melihat sosok Shina langsung gemetar hebat di belakang punggung Alara. Secara refleks, pelayan kecil itu memegangi ujung jubah Alara dengan jari-jari yang memucat ketakutan. "S-Selir Shina..." bisiknya lirih.
Berbeda dengan Lily yang ketakutan setengah mati, Alara justru menatap Shina dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan mata malas yang sangat kentara. *'Oh, ini dia uler keket yang hobi nge-bully pemilik tubuh ini dulu. Dandanannya menor banget, ini mau jalan-jalan di taman atau mau manggung dangdut keliling sih?'* batin Alara gemas sendiri melihat kehebohan busana wanita di depannya.
"Wah, ada badut istana edisi pagi hari lewat. Selamat pagi," sapa Alara santai seraya melemparkan senyuman lebar tanpa dosa sedikit pun.
Selir Shina langsung melotot sempurna hingga matanya hampir keluar dari kelopaknya. "Apa kau bilang?! Badut?! Kau... berani sekali kau berbicara kurang ajar seperti itu padaku! Apakah air kolam teratai kemarin benar-benar membuat otakmu yang dangkal itu makin bergeser, hah?!"
Shina melangkah maju beberapa tindak dengan gaya angkuh, lalu berkacak pinggang tepat di hadapan Alara. "Jangan pikir karena kemarin Yang Mulia Kaisar mendadak kasihan dan mengirimkan sisa-sisa makanan dapur untukmu, kau bisa bertingkah tinggi dan merasa di atas angin ya! Kau itu cuma selir terbuang, wanita pembawa sial yang hampir meracuni teh kesayangan Ibu Suri!"
Alara menghela napas panjang yang terdengar sangat melecehkan, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan santai. Dia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Shina dengan pandangan kasihan yang sengaja dibuat-buat agar tingkat kekesalan lawannya naik ke level maksimal.
"Teh Shina—eh, maksud saya Selir Shina yang terhormat," ucap Alara dengan nada suara yang sangat tenang namun setiap katanya terasa menukik tajam. "Pertama-tama, soal insiden kolam teratai kemarin. Makasih lho ya jorokannya. Seger banget, hitung-hitung saya dapet fasilitas mandi gratis di tempat estetik. Tapi lain kali kalau mau dorong orang, tolong latih dulu otot lengannya di gym. Dorongan Anda kemarin lemah banget, kurang berbobot dan kurang bertenaga."
"Kau...!" Wajah Selir Shina mulai berubah warna menjadi merah padam menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya.
"Kedua," Alara memotong kalimat Shina dengan cepat sebelum wanita bermulut mercon itu sempat berteriak histeris. "Soal kiriman makanan dari Yang Mulia Kaisar tercinta. Itu bukan makanan sisa ya, Sayang. Itu namanya *tunjangan kesejahteraan materi* yang dirapel sekaligus karena manajemen istana kemarin agak kurang becus mengurus selir secantik saya. Dan tebak siapa yang minta langsung ke Kaisar? Gue. Dan tebak siapa yang langsung kabulin tanpa babibu? Kaisar lu yang ganteng dan gagah itu."
Mendengar penuturan Alara, napas Selir Shina mulai memburu dengan cepat. Dadanya kembang kempis karena syok yang luar biasa melihat Alara yang biasanya cuma bisa bersujud memohon ampun sambil menangis histeris, sekarang malah balik menceramahinya dengan kosa kata asing yang tidak dia mengerti artinya, namun terasa sangat menyebalkan di telinga.
"Kau... kau pasti sudah menggunakan sihir hitam atau ramuan terlarang untuk merayu Yang Mulia Kaisar! Dasar wanita murahan tidak tahu malu!" pekik Shina histeris. Mengikuti emosinya yang sudah menyentuh ubun-ubun, tangan kanannya yang dihiasi kuku-kuku panjang langsung terangkat tinggi ke udara, siap melayangkan sebuah tamparan keras ke arah pipi mulus Alara.
Para pelayan di belakang Shina sudah tersenyum puas, membayangkan Alara akan kembali menangis tersungkur di tanah seperti biasanya.
*SET!*
Namun, sebelum telapak tangan Shina sempat menyentuh permukaan kulit wajahnya, Alara dengan refleks anak muda zaman modern yang hobi bermain *game* aksi dan bela diri dasar langsung bergerak cepat. Tangan kirinya melesat maju, menangkap pergelangan tangan Shina di udara dengan sangat akurat. Cengkeraman jari-jari Alara sangat kuat dan bertenaga, membuat Selir Shina langsung memekik kesakitan karena tulang pergelangan tangannya seperti dijepit oleh tang besi.
"Lepaskan! Lancang sekali kau menyentuh tubuhku dengan tangan kotormu itu!" jerit Shina, mencoba menarik tangannya namun nihil karena kekuatan fisik Alara yang sekarang jauh lebih prima setelah makan daging sapi premium.
Alara justru menarik tangan Shina sedikit lebih dekat, lalu mencondongkan wajahnya hingga berjarak beberapa sentimen dari telinga Shina. Dia berbisik dengan nada yang sangat rendah, dingin, dan penuh dengan penekanan yang mengerikan.
"Dengar baik-baik ya, Mbak Shina yang cantik tapi kurang asupan logika. Alara yang dulu bisa lu injek-injek, lu dorong ke kolam, dan lu tindas sesuka hati itu udah *log out* alias udah MATI. Sekarang yang berdiri di depan lu adalah Alara versi premium edisi anti-tindas. Sekali lagi lu berani angkat tangan ke arah wajah gue, atau lu coba-coba ganggu Lily... gue pastiin konde emas burung puyuh di atas kepala lu ini bakal gue pretelin satu-satu sampai botak, terus sisa tusuk kondenya gue suapin ke mulut lu sampai kenyang. Paham?"
Alara menghempaskan pergelangan tangan Shina dengan hentakan yang cukup kasar, membuat selir manja yang terbiasa hidup mewah itu limbung ke belakang dan hampir terjatuh jika tidak segera ditangkap oleh para pelayannya yang panik.
"A-Alara... kau... kau benar-benar sudah gila! Kau akan menerima pembalasanku yang jauh lebih kejam! Aku akan melaporkan tindakan kekerasanmu ini langsung pada Ibu Suri!" ancam Shina dengan suara yang bergetar hebat—bukan hanya karena marah, tapi juga karena rasa takut yang mendalam setelah melihat kilatan nekat dan aura berbahaya di mata Alara.
"Silakan, Mbak. Laporkan saja sesuka hatimu. Laporkan sekalian ke kantor kelurahan atau ke ketua RT biar makin ramai," sahut Alara melambaikan tangannya santai dengan gaya cuek yang luar biasa memancing emosi. "Ayo Lily, kita balik ke paviliun. Di sini terlalu banyak polusi visual dan polusi suara, gak bagus buat kesehatan mata dan janin—eh maksudnya kesehatan jiwa kita."
Alara berbalik dengan anggun, melangkah santai menjauhi area taman dengan gaya berjalan layaknya seorang model di atas *catwalk*, meninggalkan Selir Shina yang kini sedang menjerit-jerit histeris di tengah taman anggrek sambil menghentak-hentakkan kaki sutranya ke tanah seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
Tanpa ada satu pun orang di taman itu yang menyadari, di balik dinding batu paviliun yang terletak tidak jauh dari lokasi keributan, sesosok pria jangkung bermata elang tajam sedang berdiri diam memperhatikan seluruh kejadian itu sejak awal mula.
Kaisar Kaivan, yang awalnya kebetulan lewat setelah melakukan inspeksi pagi dan berniat melihat sekilas apakah Alara memakan makanan kirimannya dari kejauhan, justru disuguhi tontonan pertunjukan duel mulut yang sangat luar biasa menghibur.
"Konde burung puyuh...?" gumam Kaivan sangat lirih, mengulangi kosa kata aneh yang diucapkan oleh Alara tadi dengan dahi yang sedikit mengernyit.
Mata elang Kaisar itu kemudian beralih melihat ke arah tumpukan konde emas berbentuk phoenix di atas kepala Selir Shina yang bergoyang-goyang heboh karena sang pemilik sedang mengamuk. Dipikir-pikir kembali dengan saksama, konde milik Shina memang terlihat agak terlalu besar, berlebihan, dan justru mirip sangkar burung.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun hidup di dalam lingkungan istana yang kaku, penuh kepalsuan, dan membosankan, kedua bahu tegap sang Kaisar Kaivan tampak berguncang kecil. Dia sedang berusaha dengan sangat keras untuk menahan letupan rasa tawa yang luar biasa geli di dalam rongga dadanya.
"Kasim Wen," panggil Kaivan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ya, Yang Mulia Kaisar agung?" Kasim Wen yang berdiri setia di belakang punggungnya juga sedang sibuk menutupi mulutnya sendiri, menahan senyum geli yang hampir lolos.
"Wanita dari Istana Dingin itu... dia benar-benar racun baru yang sangat menyenangkan," bisik Kaivan dengan suara rendah, pandangan matanya masih tertuju pada punggung Alara yang kini sudah mengecil di ujung koridor. "Awasi pergerakan Selir Shina dan orang-orang di kediaman Ibu Suri. Jika Shina mencoba berbuat macam-macam atau mencari perkara lagi pada Alara... potong seluruh jatah kain sutra impor miliknya untuk bulan ini."
"Hamba menerima perintah, Yang Mulia Kaisar."
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪