Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.
Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.
"Kamu siapa ?"
"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"
Duarrr...
Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.
"Sayang ! Siapa yang datang ?"
Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.
Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.
Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Bab 32: Serangan dari Balik Layar
Sejak hari itu,
Wulan tidak lagi menampakkan diri di kediaman keluarga Wijaya. Tapi ketiadaan itu bukan berarti ia berhenti bergerak.
Justru sebaliknya — wanita itu hanya mengubah cara mainnya. Jika sebelumnya ia mendekat secara langsung, sekarang ia memilih jalan yang lebih halus, tersembunyi, dan jauh lebih berbahaya.
Ia sadar, selama ia terlihat jelas, Arga dan Diana akan selalu waspada.
Maka, cara terbaik untuk merusak hubungan mereka adalah dengan menanamkan benih keraguan dari balik layar.
Seminggu berlalu, suasana di rumah besar itu kembali terasa tenang.
Arga dan Diana semakin dekat satu sama lain — sering terlihat berjalan beriringan di taman, berbincang santai sambil menikmati teh di sore hari,
atau bahkan duduk berdampingan saat Arga mengurus pekerjaannya di ruang kerja.
Nyonya Amara pun merasa lega melihat putra dan menantunya hidup rukun, meski di sudut hatinya masih tersisa rasa waspada:
kepergian Wulan terasa terlalu diam, seolah sedang menyimpan sesuatu.
Malam itu, saat mereka duduk bersantai di ruang tengah, Diana memandang wajah suaminya dengan pandangan yang sedikit khawatir.
“Mas… menurutmu, dia benar-benar akan menyerah?” tanyanya pelan.
Arga mengusap lembut puncak kepala istrinya, lalu menariknya bersandar di bahunya.
“Tenang saja. Aku sudah mengatakan bahwa aku hanya mencintaimu. Kalau dia masih punya sedikit akal sehat, dia akan mengerti batasannya.”
Diana mengangguk perlahan, tapi nada bicaranya masih terasa ragu.
“Aku percaya sama kamu, Mas. Hanya saja… aku masih tidak yakin. Rasanya terlalu tenang, seolah badai sedang bersiap untuk datang.”
"Kamu gak usah khawatir, sekalipun badai itu datang, aku akan selalu ada untukmu"
Diana mendongak, melihat wajah suaminya yang terpahat sempurna, di usia nya yang matang, dia terlihat berkali-kali lipat begitu memikat.
Pantas saja Wulan begitu terpikat oleh sosok Arga Wijaya.
"Makasih, Mas, Sayang!" Diana mencium dagu suaminya.
Arga menunduk lalu mencium bibir Diana lama, melumatnya lembut dan penuh cinta.
"Kamu bisa berterimakasih dengan cara yang benar, sayang!" Ujarnya sambil menyeringai
Diana bergidik ngeri, dia tau arah pembicaraannya ke mana.
Segera Arga mengangkat istrinya, lalu membawa nya ke kamar, Diana hanya pasrah dan mengalungkan tangannya ke leher Arga.
"Dasar maniak!" Bisik Diana di telinga suaminya.
Dan firasat Diana ternyata benar.
Keesokan harinya...
Tidak butuh waktu lama, hal-hal yang mengganggu mulai muncul satu per satu.
Sebuah artikel pendek di surat kabar lokal menarik perhatian mereka. Isinya tidak menyebutkan nama secara langsung, tapi siapa pun yang mengenal keluarga Wijaya pasti tahu siapa yang dimaksud.
Tertulis di sana: “Seorang pengusaha sukses yang sudah berusia matang baru saja menikah dengan wanita muda yang usianya terpaut jauh. Banyak yang bertanya-tanya, apakah ini didasari cinta sejati, atau sekadar ketertarikan sesaat? Ada juga yang menduga, wanita itu hanya mengejar harta dan kedudukan semata.”
Membaca tulisan itu, wajah Diana seketika memucat. Tangannya sedikit gemetar saat melipat koran itu. Arga yang melihat segera mengambilnya, membaca sekilas, lalu melemparnya ke meja dengan wajah tegas.
“Jangan dipikirkan, Sayang. Itu cuma omong kosong dari orang yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya mencoba menenangkan.
“Tapi orang-orang akan membacanya, Mas. Mereka akan mulai bicara ini-itu, menilai kita tanpa tahu apa-apa,” jawab Diana dengan suara yang mulai terasa sesak.
Arga segera menariknya masuk ke dalam pelukan. “Biarkan mereka bicara sesuka hati. Yang paling penting adalah apa yang kita rasakan satu sama lain. Aku sudah minta tim hukum untuk melacak siapa yang menyebarkan berita ini, nanti kita tahu siapa dalang di baliknya.”
Tiba-tiba, ponsel Arga berdering...
Arga melepaskan pelukannya, lalu merogoh saku celananya.
Nama Radit tertera di layar.
"Ada apa?" Tanya Arga tanpa basa-basi
"Tuan... " Terdengar suara riuh di sebrang sana, "Sebaiknya Tuan tidak ke kantor dulu, di depan gerbang banyak wartawan, mereka berteriak meminta penjelasan tentang artikel yang tersebar"
Arga menoleh pada Diana yang sudah syok.
"Baiklah, kau atasi dulu mereka. Jangan sampai membuat keributan di kantor ku" Arga berbicara dengan nada dingin
"Baik, Tuan" Radit segera mematikan telepon nya.
Tetapi, itu baru permulaan.
Beberapa hari kemudian, ponsel Arga mulai menerima pesan-pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Isinya selalu sama: “Hati-hati dengan istrimu, Arga. Dia tidak sebaik yang terlihat,” Dan juga ....
“Kabarnya dia punya banyak utang, makanya mau menikah dengan orang kaya,”
bahkan ada yang lebih kejam: “Dia masih sering bertemu dengan mantan kekasihnya.”
Semua pesan itu selalu menerornya setiap saat.
Awalnya Arga hanya mengabaikannya, menganggapnya ulah orang iseng.
Tapi pesan-pesan itu makin sering datang, dan isinya makin terperinci — seolah-olah pengirimnya tahu banyak hal.
Bahkan suatu hari, ada sebuah foto yang dikirimkan: gambar Diana sedang berbicara dengan seorang pria di sebuah kafe. Pandangannya terlihat serius, dan dari sudut pengambilan foto, terlihat seolah mereka sedang berbicara secara akrab dan saling tertawa bersama.
"Bukankah kamu bilang, hari itu kamu pergi sama ibu ke Mall?" Tanya Arga
Saat Arga melihat foto itu, ia tidak langsung marah atau menuduh, tapi tatapannya terlihat sedikit bingung dan ragu. Perubahan kecil itu tidak luput dari pandangan Diana.
"Waktu itu ibu tunggu di mobil, Mas! Ibu minta di belikan kopi, Itu cuma temen kerja aku dulu, bukan siapa-siapa!" Jawab Diana
Pria itu hanyalah mantan rekan kerja Diana dan mereka tidak sengaja bertemu saat Diana di kafe dua hari yang lalu.
“Mas… kamu… mikir apa sama foto itu? Kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanya sama ibu, aku gak pernah macem-macem, Mas” tanya Diana, suaranya bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Tapi kamu kelihatan akrab banget sama dia!" Ujar Arga, kini nadanya sedikit berbeda, wajahnya terlihat kecewa.
"Mas, kita cuma temen kerja, gak lebih dari itu. Lagipula, gimana gak akrab. Dulu aku satu divisi sama dia, kamu gak percaya sama aku, Mas?" Diana mulai merasa gundah, apalagi melihat Arga yang masih terlihat ragu.
"Mas tau, Mas itu sudah tua. Mungkin saja kamu sekarang menyesal sudah menikah dengan Mas dan berpikir mencari yang lebih muda" Arga masih mempertahankan egonya, dia merasa di khianati dan tidak senang setelah melihat foto itu.
"Astaga, Mas! Kamu sadar gak sih sama yang kamu katakan barusan, kamu seolah menganggap aku wanita gampangan, apa aku semurah itu di mata kamu, Mas!" Diana sudah berderai air mata, dia begitu terpukul dengan penuturan Arga.
Melihat Diana menangis...
Arga segera sadar, lalu menggeleng cepat sambil memegang bahu istrinya.
“Tidak, bukan seperti itu! Aku cuma bingung, Aku takut kamu berpaling dan meninggalkan aku.” Arga memeluk Diana dan mengelus punggungnya.
"Maafkan aku, Maaf ! Karena sudah meragukanmu, sayang. Maaf !" Ujar Arga dengan penuh penyesalan
"Aku cinta sama kamu, Mas. Sungguh!" Ujar Diana sambil memeluk Arga, dia menangis di dalam pelukan suaminya
"Maaf, Mas minta Maaf!" Bisik Arga di telinga Diana
Meski begitu, suasana di antara mereka terasa sedikit berbeda.
Keraguan itu seperti benih kecil — jika dibiarkan tumbuh, perlahan bisa merusak kepercayaan yang sudah dibangun dengan susah payah.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di pusat kota, Wulan duduk santai sambil mendengarkan laporan yang baru saja ia terima.
Bibirnya terukir senyum penuh kemenangan. Ia mengangkat gelas berisi anggur merah, memutarnya perlahan sambil membayangkan kekacauan yang sedang ia ciptakan.
“Lihat saja, Arga… selama kamu masih mempertahankan wanita itu, aku akan terus membuat hidupmu tidak tenang. Lambat laun, rasa curiga akan tumbuh di hatimu sendiri. Dan saat itu tiba, tempatku akan kembali kosong,” gumamnya pelan, nadanya dingin dan penuh dendam.
Ia tidak melakukan semuanya sendirian. Wulan membayar orang-orang yang bisa ia percayai — wartawan yang butuh berita sensasi, orang yang pandai menyebar gosip, hingga fotografer bayaran.
Semua dilakukan tanpa meninggalkan jejak, sehingga sulit sekali untuk melacak siapa dalang sesungguhnya.
Serangannya tidak hanya ditujukan pada Arga dan Diana saja. Ia juga mulai menyebarkan desas-desus ke lingkungan terdekat mereka.
Sore harinya, saat Nyonya Amara sedang berbelanja, ia bertemu dengan temannya yang sudah lama tidak berjumpa. Wanita itu mendekat sambil berbisik seolah takut didengar orang lain.
“Amara, kamu harus berhati-hati. Belakangan ini banyak kabar beredar soal menantumu itu. Katanya dia bukan orang yang jujur, cuma ingin mengurasa harta keluarga wijaya. Jangan sampai nama baikmu tercoreng gara-gara dia,” ujarnya dengan nada seolah-olah benar-benar mengkhawatirkan.
"Itu cuma gosip belaka, jangan pedulikan!" Ujar nyonya Amara pada temannya yang bernama Mira.
Mira mencebikkan bibirnya, "Tapi kamu harus tetap berhati-hati, bisa jadi berita itu benar, zaman sekarang anak muda rela melakukan apapun untuk hidup enak tau!" Ujarnya
Mendengar itu, hati Nyonya Amara menjadi terasa tidak enak.
Selama ini ia menyukai Diana, melihatnya sebagai wanita yang baik dan sopan.
Tapi jika banyak orang yang bicara hal yang sama, rasanya wajar jika ia mulai bertanya-tanya.
Setelah selesai berbelanja, dia langsung bergegas pulang, dan mencari anaknya.
"Bi, dimana Arga ?" Tanya nya pada Bi Mari
"Tuan sejak tadi belum keluar dari kamar, Nyonya. Nyonya Diana juga sama, saya juga khawatir terjadi apa-apa, karena saya juga melihat sudah beberapa hari banyak artikel yang menyebarkan fitnah tentang Nyonya Diana" Ujar Bi Mari, wajahnya menunjukkan ke khawatiran yang nyata
Dia merasa kasihan dengan nyonya mudanya itu, pasti sulit menghadapi keraguan dari banyak orang.
Nyonya Amara mengurungkan niatnya mendengar penuturan Bi Mari, dia akan berbicara dengan Arga nanti.
Dan....
Malam harinya, Nyonya Amara melihat Arga masuk ke ruang kerjanya dan segera ia menyusulnya.
"Tunggu!" Nyonya Diana memegang pintu yang akan di tutup oleh Arga.
"Ibu belum tidur?" Tanya Arga,
Nyonya Amara melihat kegundahan di wajah anaknya. Dia masuk ke dalam lalu duduk saling berhadapan.
“Arga, Ibu tahu kamu sangat mencintai Diana. Tapi sebagai orang tua, Ibu hanya ingin kamu berhati-hati.
Belakangan ini banyak sekali kabar yang beredar ke sana kemari. Meskipun Ibu tidak langsung percaya, tapi kalau dibiarkan terus, bisa-bisa nama baik keluarga kita terganggu,” ujarnya dengan nada lembut namun tegas.
Arga menghela napas panjang, lalu mengangguk mengerti.
“Aku paham kekhawatiran Ibu. aku juga sempat ragu, tapi aku yakin, Diana bukan orang seperti itu. Semua yang beredar itu cuma fitnah yang dibuat-buat untuk memisahkan kami. Dan aku sudah tahu siapa yang melakukannya.”
“Wulan?” tanya Nyonya Amara langsung, matanya melebar kaget.
“Ya, Bu. Siapa lagi yang punya alasan dan keinginan untuk membuat kami bermasalah selain dia? Dia tidak terima aku memilih Diana, jadi sekarang dia menggunakan cara licik untuk merusak keharmonisan keluar kita” jawab Arga dengan nada yakin.