NovelToon NovelToon
Mahkota Darah Dan Mawar Es

Mahkota Darah Dan Mawar Es

Status: tamat
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.

​Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menaklukan Gerbang Winterfell

​Rambut perak Aura Zephyra berkibar liar, mencambuk pipinya yang mulai mati rasa akibat hantaman angin badai di depan gerbang utama Winterfell.

Di hadapannya, gerbang marmer raksasa yang biasanya berdiri sebagai simbol perlindungan mutlak bagi rakyat Utara kini tampak seperti monumen kematian.

Lapisan mantera es purba yang melapisi gerbang itu telah berubah warna secara abnormal; bukan lagi kristal transparan yang memantulkan cahaya, melainkan putih susu yang pekat dan kusam.

​Aura melangkah maju satu langkah, mengabaikan serpihan salju yang menusuk wajahnya seperti pecahan kaca. Ia menempelkan telapak tangannya yang tanpa sarung tangan ke permukaan es magis tersebut.

​Zzzzt!

​Gelombang penolakan yang dingin dan anyir langsung menyengat urat-urat mananya. Aura menarik tangannya dengan cepat, napasnya memburu, meninggalkan uap putih yang tebal di udara.

​"Ini bukan pembekuan defensif yang biasa dilakukan oleh ksatria kita, Kaelen," ucap Aura, suaranya sedikit bergetar oleh kombinasi rasa dingin dan kecemasan yang kian memuncak.

"Seseorang telah membalikkan sirkulasi inti mantera dari dalam. Es purba ini dipaksa memadat menggunakan energi yang terdistorsi. Ini adalah isolasi total, sebuah lockdown yang dirancang bukan untuk menahan musuh di luar, melainkan untuk mengurung apa pun yang ada di dalam."

​Kaelen melangkah ke samping Aura, jubah bulu hitamnya yang berat berdesau keras ditiup angin. Sepasang mata merah delimanya berkilat dengan haus darah yang amat pekat, menatap lurus ke arah dinding benteng yang sepi dari penjagaan.

Tidak ada kepulan asap dari menara pengawas, tidak ada lambaian bendera Serigala Hitam. Hanya ada keheningan yang menyesakkan, yang perlahan-lahan menelan suara gemuruh badai di sekeliling mereka.

​"Varick tidak akan pernah mengambil keputusan ini kecuali situasi di dalam sudah benar-benar tidak bisa dikendalikan." Suara bariton Kaelen terdengar begitu rendah, sarat akan otoritas seorang penguasa yang wilayahnya sedang diinjak-injak.

Ia menoleh ke belakang, menatap barisan Ksatria Hitam yang tersisa. Wajah-wajah prajuritnya tampak pucat, sebagian karena hawa dingin, sebagian besar karena kenyataan bahwa Boris—komandan mereka—kini terbaring membeku di dalam kereta medis, dan separuh pasokan makanan mereka telah berubah menjadi abu hitam di jalur perbatasan.

​Kelelahan fisik dan moral sedang menggerogoti pasukannya. Jika mereka terus tertahan di luar gerbang ini dalam hitungan jam, badai salju ekstrem perbatasan akan membantai mereka tanpa perlu Gavin mengangkat senjatanya.

​"Kita tidak bisa menunggu fajar, dan kita tidak bisa membongkar ini dengan taktik pengepungan biasa," kata Kaelen sembari meraih gagang pedang emas kekaisaran pemberian sang Kaisar. "Aura, bersiaplah di belakangku. Aku akan mendobrak gerbang ini menggunakan sirkulasi darah transenden."

​"Kaelen, itu terlalu berisiko!" Aura menahan lengan zirah Kaelen. "Mana darahmu baru saja terkuras untuk menghalau makhluk bayangan di Desa Okvanh. Jika kau memaksa membakar mana darahmu sekarang untuk melawan es purba, tubuhmu—"

​"Benteng ini adalah jantung Utara, Aura. Dan di dalam sana ada rakyatku, pasukanku." Kaelen memotong kalimat Aura dengan tatapan mata yang begitu tajam namun penuh kehangatan protektif yang intim. Ia meraih tangan Aura, mengecup punggung jemari istrinya yang membeku.

"Dan yang lebih penting, di luar sini terlalu dingin untuk ratu kecilku. Aku tidak akan membiarkanmu membeku di depan rumah kita sendiri."

​Sebelum Aura sempat mendebat lebih jauh, Kaelen telah melepaskan genggaman tangannya dan melangkah maju tepat tiga langkah di depan gerbang marmer putih susu tersebut.

​Pangeran Tanpa Mahkota itu menarik napas dalam-dalam. Detik berikutnya, atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah secara drastis. Tekanan udara jatuh dengan ekstrem. Aura merah tua yang pekat, sewarna dengan darah segar, mulai merembes keluar dari celah-celah zirah hitam yang dikenakan Kaelen.

Api darah transenden meledak membubung tinggi dari bilah pedangnya, memancarkan hawa panas yang begitu masif hingga tumpukan salju di bawah kakinya langsung mencair dan menguap menjadi kabut putih tebal dalam sekejap.

​"Ughh!" Kaelen mengerang rendah. Urat-urat di pelipis dan lehernya menegang, memerah akibat sirkulasi mana darah yang dipaksa bergerak melampaui batas aman tubuh manusia.

​Kaelen mengangkat pedangnya tinggi-highi dengan kedua tangan, lalu menghempaskannya ke bawah secara vertikal dengan kekuatan penuh ke arah celah tengah gerbang marmer.

​BOOOMMMM!

​Benturan dua energi transenden itu menciptakan gelombang kejut yang luar biasa dahsyat. Suara ledakannya menggelegar, membelah lolongan badai salju dan melemparkan partikel-partikel es kristal ke segala arah.

Api darah merah tua milik Kaelen menghantam langsung lapisan es putih susu yang melapisi gerbang. Es tersebut mendesis keras, melepaskan uap kelabu yang berbau anyir samar—bukti konkrit bahwa energi Abyss telah mengontaminasi mantera pertahanan benteng.

​"Retak ...!" Aura bergumam, matanya yang sewarna perak jernih menangkap jaring-jaring retakan yang mulai menjalar cepat di sepanjang permukaan marmer raksasa itu.

​"Hancuuuur!" Kaelen berteriak, mengalirkan sisa mana darahnya ke dalam satu dorongan terakhir.

​PRANGGG! KRETEKKK!

​Gerbang utama Winterfell yang melegenda, yang belum pernah runtuh oleh pengepungan militer mana pun dalam sejarah kekaisaran, akhirnya jebol.

Potongan-potongan es purba raksasa runtuh ke atas tanah bersalju bersamaan dengan terbukanya daun gerbang marmer yang berat.

Kaelen terengah-engah, tubuh tegapnya sedikit terhuyung ke depan sebelum ia menancapkan ujung pedangnya ke tanah untuk menahan bobot tubuhnya.

​Aura dengan sigap langsung berlari mendekat, merangkul pinggang Kaelen dan menyalurkan sedikit mana es murninya yang menenangkan untuk meredakan gejolak api darah di dalam tubuh suaminya.

"Suamiku, kau baik-baik saja?"

​Kaelen hanya mengangguk pelan, menyeka setitik darah yang keluar dari sudut bibirnya, lalu beralih menatap ke dalam kegelapan benteng yang kini telah terbuka.

"Masuk ke dalam formasi besi! Jaga kereta medis Boris!" perintah Kaelen kepada pasukannya yang kini mulai bergerak masuk melewati reruntuhan gerbang.

​Namun, pemandangan yang menyambut mereka di balik dinding Winterfell sama sekali tidak membawa kehangatan sebuah rumah.

​Halaman luas benteng yang biasanya dipenuhi oleh aktivitas pelatihan para ksatria kini berubah menjadi labirin kesunyian yang mencekam.

Obor-obor sihir di sepanjang dinding pembatas telah padam. Yang ada hanyalah pendaran cahaya kelabu tipis yang merayap di atas permukaan tanah, menciptakan atmosfer yang menyerupai dunia bawah.

​Aura melangkah dengan tingkat kewaspadaan tertinggi. Indra spiritualnya sebagai penyihir jenius langsung menangkap fluktuasi mana yang sangat kacau dan kotor di udara.

"Kaelen, bau ini ... ini bau yang sama dengan kereta logistik kita yang membusuk."

​Tepat setelah kalimat Aura selesai, dari arah bayang-bayang barak militer di sisi barat halaman benteng, terdengar suara langkah kaki yang terseret-seret. Puluhan sosok ksatria dengan zirah Serigala Hitam lengkap mulai bermunculan satu per satu dari balik kegelapan.

​Para prajurit Ksatria Hitam yang berada di belakang Kaelen awalnya hendak bersorak melihat rekan-rekan mereka, namun sorakan itu tertahan di tenggorokan.

​Ksatria-ksatria yang keluar dari barak itu bergerak dengan cara yang abnormal. Kepala mereka miring ke satu sisi, mata mereka sepenuhnya putih tanpa pupil, dan dari sela-sela zirah mereka, urat-urat hitam legam berpendar dengan cahaya ungu tua yang redup. Air liur hitam menetes dari sudut bibir mereka yang bergetar.

​"Apa yang terjadi pada mereka?!" teriak Kapten logistik dari barisan belakang dengan nada suara yang dipenuhi kengerian yang nyata.

​"Halusinasi racun sihir Abyss ...." Aura berbisik dengan wajah yang seketika memucat pasi. Buku-buku jarinya meremas jubah peraknya dengan sangat kuat.

"Mereka ... mereka telah mengonsumsi pasokan makanan yang terkontaminasi parasit Abyss dari dalam benteng sebelum kita tiba. Gavin tidak menyerang benteng ini dari luar menggunakan pasukan monster, Kaelen. Dia menginfeksi logistik Winterfell dari dalam!"

​Ironi yang sangat brutal kembali menghantam mental Aura. Pengetahuan masa lalunya selalu mengatakan bahwa Gavin adalah pria yang mengandalkan kebrutalan fisik dan taktik pengepungan yang bising di paruh akhir perang.

Namun di garis waktu yang telah retak ini, Gavin bergerak layaknya hantu kelaparan yang efisien—melumpuhkan pertahanan utama Monster Utara tanpa perlu mengalirkan setetes pun darah dari pasukannya sendiri.

​"Uaaarrgghhh!"

Salah seorang ksatria yang terinfeksi di depan mereka mendadak melolong parau, suara yang tidak lagi menyerupai manusia, sebelum akhirnya menerjang maju ke arah barisan konvoi Kaelen dengan kecepatan yang mengerikan, diikuti oleh puluhan rekan mereka yang telah kehilangan akal sehat.

​"Tahan serangan! Gunakan bagian belakang pedang! Mereka adalah rekan kita!" Kaelen memberikan komando dengan suara yang bergetar oleh amarah yang tertahan, sembari bersiap menghadapi gelombang kegilaan yang kini mulai merangsek masuk di tengah badai salju Winterfell yang kian mengganas.

Ditambah dengan hilangnya separuh pasokan makanan mereka sendiri, Aliansi Utara kini benar-benar telah melangkah masuk ke dalam jebakan hidup mati yang dirancang dengan sempurna oleh Gavin Elrod.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!