"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Gerimis di Balik Jendela
Hujan di Solo tidak pernah benar-benar berhenti; ia hanya berganti rupa menjadi rintik halus yang membasahi kaca jendela kamar kos Lyana. Ruangan itu terasa begitu sesak, bukan karena ukurannya yang hanya tiga kali empat meter, melainkan karena beratnya udara yang terperangkap di dalamnya. Sudah tiga hari sejak pemakaman Fajar, dan dunia seolah kehilangan warnanya.
Lyana duduk di tepi kasur, menatap tumpukan berkas BEM yang berserakan di atas meja belajar. Harusnya ia mengoreksi laporan keuangan untuk rapat esok pagi, tapi otaknya terasa beku. Ia masih bisa melihat bayangan Fajar—tawanya, candaannya saat mereka lembur di sekre, dan tatapan matanya yang terakhir kali ia lihat di kantin.
"Nduk," suara lembut Ibu memecah keheningan.
Wanita paruh baya itu masuk dengan membawa segelas teh hangat. Ia meletakkannya di samping tumpukan berkas, lalu duduk di samping Lyana. Ibu tidak bertanya apa-apa. Ia tahu putrinya sedang berada di titik yang paling rapuh. Ibu hanya mengusap punggung Lyana pelan, sebuah gestur yang jauh lebih menenangkan daripada kata-kata motivasi apa pun.
"Temanmu itu... dia anak yang baik, bukan?" tanya Ibu lirih.
"Dia sahabat yang paling ngerti Lyana, Bu," jawab Lyana, suaranya parau. "Lyana nggak pernah nyangka dia bakal milih jalan kayak gitu. Kenapa dia nggak pernah cerita kalau dia lagi nanggung beban seberat itu?"
Ibu menghela napas panjang. "Kadang, orang yang paling sering tersenyum adalah orang yang paling mahir menyembunyikan luka. Kita nggak bisa memaksa mereka bercerita kalau mereka belum siap, Nduk. Yang bisa kita lakukan cuma mendoakan."
Lyana menyandarkan kepalanya di bahu Ibu, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Di luar, suara klakson kendaraan di jalan raya terdengar sayup-sayup, sebuah pengingat bahwa di luar sana, kehidupan tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Kampus tetap sibuk, mahasiswa tetap tertawa, dan matahari akan tetap terbit besok pagi. Dan itulah yang membuat segalanya terasa jauh lebih menyakitkan.
Ketukan di pintu terdengar pelan. Lyana tahu itu Rumi. Hanya Rumi yang mengetuk dengan irama yang tenang seperti itu.
Setelah Ibu membukakan pintu, Rumi masuk dengan wajah yang sama lelahnya. Ia membawa tas punggung dan sebuah kotak makanan. Rumi tidak berpakaian rapi seperti biasanya; ia hanya mengenakan kaus oblong hitam yang sedikit kusut. Ia sudah tidak lagi terlihat seperti Presiden BEM yang selalu tampil prima, tapi seperti laki-laki muda yang sedang berusaha keras berdiri tegak di tengah duka.
"Bu," sapa Rumi sopan. Ia mengangguk pada Ibu, lalu menatap Lyana. "Tadi mampir beli martabak. Katanya Ibu suka yang keju."
Ibu tersenyum kecil, lalu dengan bijak beranjak dari kamar. "Ibu ke depan sebentar ya, mau bantu Ibu kos jemur cucian. Kalian ngobrol saja."
Setelah pintu tertutup, Rumi duduk di lantai, bersandar pada kaki meja. Ia tidak langsung bicara. Ia tahu Lyana butuh waktu untuk sekadar bernapas.
"Satria sudah dipanggil komdis," Rumi memulai, suaranya pelan. "Dia mengakui kalau dia memanipulasi banyak laporan. Dia sudah diskors satu semester. Dia juga datang ke pemakaman Fajar kemarin. Dia kelihatan... hancur, Lyan. Satria mungkin nyebelin, tapi dia juga nggak tahu kalau Fajar bakal senekat itu."
Lyana menatap Rumi. "Apa itu bikin segalanya lebih baik?"
"Nggak," Rumi menggeleng tegas. "Nggak ada yang bakal bikin ini jadi lebih baik. Fajar tetap nggak ada. Tapi, yang bisa kita lakukan sekarang adalah memastikan kejadian ini nggak terulang ke orang lain."
Rumi menatap tumpukan berkas di meja Lyana. "Pak Haris bilang, program kerja BEM bulan depan tetap harus jalan. Dies Natalis universitas itu tanggung jawab kita. Kalau kita berhenti sekarang, semua kerja keras Fajar di BEM bakal sia-sia."
"Kita mau lanjut?" tanya Lyana ragu. "Aku... aku masih ngerasa bersalah, Mas. Aku ngerasa aku gagal sebagai temen."
"Kita semua gagal kalau kita liat dari satu sisi," Rumi menjawab dengan tatapan yang sangat dalam. "Tapi kalau kita berhenti, kita justru mengabaikan alasan kenapa Fajar dulu semangat banget masuk BEM. Dia mau kita bikin kampus ini jadi tempat yang lebih suportif. Kalau kita mogok, kita malah membiarkan kampus ini tetap jadi tempat yang keras buat mahasiswa kayak dia."
Lyana terdiam. Logikanya setuju, tapi hatinya masih terasa berat.
"Besok rapat besar," Rumi melanjutkan. "Aku butuh kamu, Lyan. Sebagai bendahara, dan sebagai orang yang paling tahu gimana caranya kita bisa bikin anggaran yang efisien supaya nggak ada lagi yang merasa terbebani. Kita bikin acara Dies Natalis nanti jadi acara yang inklusif. Kita bikin ruang konseling buat mahasiswa yang merasa tertekan sama biaya kuliah. Kita jadikan ini monumen buat Fajar."
Lyana melihat ada binar harapan di mata Rumi. Laki-laki di depannya ini bukanlah orang yang lari dari kenyataan. Rumi adalah pemimpin yang mengolah kesedihan menjadi aksi.
"Aku nggak tahu apa aku bisa, Mas," bisik Lyana.
"Kita bisa," Rumi meraih tangan Lyana, mengenggamnya erat. "Ayah sudah kasih akses vendor buat bantu kita tekan biaya. Itu bukan sogokan, itu bantuan dari alumni yang peduli sama kampus. Kita pakai itu supaya beban anggaran kita nggak terlalu berat. Kita selesaikan ini dengan cara yang bersih."
Tiba-tiba, ponsel Lyana bergetar. Sebuah pesan dari grup BEM.
“Guys, ada kabar dari Pak Haris. Pihak rektorat setuju untuk menambah dana bantuan khusus untuk mahasiswa yang mengalami kendala finansial mendesak, hasil usulan Fajar dua bulan lalu yang baru saja disetujui. Dananya cair besok.”
Lyana membaca pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Ternyata, Fajar sudah berjuang. Fajar sudah melakukan yang terbaik sebelum ia pergi.
"Dia sudah berusaha, Ly," bisik Rumi, seolah membaca pesan yang sama di layar ponsel Lyana. "Dia sudah ngebuka jalan buat kita. Sekarang giliran kita yang lanjutin."
Lyana mengangguk pelan. Rasa bersalah yang tadi mencekik, kini perlahan berubah menjadi rasa tanggung jawab. Ia meraih berkas di atas meja, membuka pulpennya, dan mulai menulis.
"Oke," ucap Lyana mantap. "Besok rapat jam berapa?"
"Jam tujuh pagi," Rumi tersenyum tipis. "Jangan telat, Bendahara."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah tiga hari, Lyana bisa tidur dengan nyenyak. Ia tidak lagi dihantui oleh rasa bersalah, melainkan oleh rencana-rencana yang harus ia susun.
Namun, tepat sebelum ia memejamkan mata, ia teringat sesuatu. Amplop cokelat dari Hendrik yang masih tergeletak di tasnya. Ia belum membukanya sejak tadi siang. Dengan rasa penasaran, ia membukanya.
Di dalamnya, bukan hanya uang talangan yang ia tolak, tapi sebuah kartu nama Hendrik Wiraguna, dan di balik kartu itu ada tulisan tangan yang sangat singkat:
“Rumi butuh seseorang yang berintegritas di sampingnya untuk mengimbangi idealismenya. Saya tidak akan memberi uang lagi, tapi saya akan selalu membuka pintu jika kalian butuh nasihat. Selamat berjuang.”
Lyana menatap kartu itu dengan perasaan hangat. Ketakutannya terhadap keluarga Rumi perlahan memudar. Ternyata, dunia tidak sejahat yang ia bayangkan. Masih ada orang-orang yang bisa menghargai martabat manusia lebih dari sekadar angka di rekening bank.
Di luar, gerimis akhirnya berhenti. Langit Solo mulai tampak cerah dengan bintang-bintang yang malu-malu muncul di balik awan. Lyana mematikan lampu kamar, membiarkan dirinya terlelap. Besok pagi, matahari akan terbit, dan mereka akan mulai membangun sesuatu yang baru—sesuatu yang akan mereka dedikasikan untuk Fajar.
Tapi, saat ia sudah hampir terlelap, ia mendengar suara langkah kaki di lorong kos. Langkah kaki yang tidak asing. Langkah kaki yang sangat teratur.
Lyana membuka matanya. Ia menatap pintu kamarnya. Suara itu berhenti tepat di depan pintunya.
Bukan suara polisi. Bukan suara orang asing.
Itu suara Rumi yang kembali.
"Lyan?" panggil Rumi dari balik pintu dengan suara pelan. "Aku lupa bilang satu hal. Besok rapatnya jangan pakai jaket almamater yang lama. Kita akan ada sesi foto bareng dengan pihak rektorat buat kampanye bantuan finansial mahasiswa. Pakai almamater yang paling bagus, ya?"
Lyana tersenyum di dalam gelap. Ia berdiri, membuka pintu sedikit, dan mendapati Rumi masih berdiri di sana, menatapnya dengan senyum yang menenangkan.
"Iya, Mas. Udah balik sana, istirahat," bisik Lyana.
Rumi mengangguk, lalu berbalik pergi. Saat Lyana hendak menutup pintu kembali, ia melihat sesuatu yang tertinggal di lantai di depan pintunya. Sebuah buku kecil bersampul hitam.
Itu buku agenda Fajar yang ia tinggalkan di kantin tadi siang.
Bagaimana buku itu bisa ada di sini? Bukankah ia tadi membawanya ke dalam tas?
Lyana mengambil buku itu. Dan saat ia membukanya, ia menyadari bahwa di halaman terakhir buku itu, ada sebuah foto kecil yang terselip.
Foto Fajar, Rumi, dan dirinya sendiri saat pertama kali masuk BEM. Dan di balik foto itu, tertulis sebuah alamat yang sangat ia kenal.
Alamat rumah Hendrik Wiraguna.
Mengapa Fajar memiliki alamat rumah Hendrik? Dan apa hubungannya Fajar dengan keluarga Rumi yang selama ini tidak pernah mereka ketahui?
Ketenangan yang baru saja dibangun Lyana, kini kembali terusik oleh sebuah rahasia baru yang perlahan mulai menampakkan wujudnya.