⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Kekaisaran Baharuth. Istana. Malam hari.
Jircniv Rune Farlord El-Nix duduk di kursinya, di belakang meja kayu besar yang penuh dengan dokumen dan laporan. Lilin di atas meja sudah meleleh setengah, sumbunya mulai hitam karena terlalu lama menyala. Para pelayan sudah dua kali masuk menawarkan untuk mengganti, tapi dia mengusir mereka dengan lambaian tangan tanpa mengangkat kepala.
Dia tidak bisa tidur.
Bukan karena lilin terlalu terang. Bukan karena dingin malam yang menusuk. Tapi karena pikirannya tidak bisa berhenti.
Satu kata terus berputar di kepalanya.
The Destroyer.
Jircniv menghela napas. Uap putih keluar dari mulutnya—tidak karena dingin, tapi karena dia sudah terlalu lama tidak bergerak. Tangannya meraih gelas anggur di samping dokumen. Anggurnya sudah dingin. Tidak enak. Tapi dia meminumnya tetap.
The Destroyer. Entitas misterius yang muncul di hutan Elf. Yang membuat monster perempuan—apa namanya?—Shalltear?—lari ketakutan. Yang menghilang tanpa jejak.
Mata-mataku tidak bisa mendapatkan informasi lebih lanjut. Theocracy tutup mulut. Elf Kingdom juga. Nazarick... diam.
Tapi dia ada.
Dan dia mungkin satu-satunya yang bisa—
Dia tidak menyelesaikan pikirannya.
Jircniv meletakkan gelas anggur, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Jari-jarinya meraba rambutnya—rambut yang dulu tebal dan hitam, sekarang mulai menipis di bagian atas. Dia menarik beberapa helai. Rambut itu lepas dengan mudah, tertinggal di sela-sela jarinya.
Sial.
Stres ini akan membunuhku lebih cepat daripada Ainz.
Tapi—
apa yang bisa kulakukan?
Duduk diam? Menunggu kematian?
Atau mencari jalan keluar?
Dia menatap laporan di depannya—laporan dari mata-mata yang dikirim ke Holy Kingdom. Bukan laporan resmi. Hanya catatan awal. Masih belum lengkap. Masih belum jelas.
"Seorang pria dengan tanda segitiga hitam di jidat terlihat di pos selatan. Berpakaian lusuh. Tidak beralas kaki. Pekerjaan: kurir. Tidak ada perilaku mencurigakan yang teramati. Masih dalam penyelidikan lebih lanjut."
Jircniv membaca ulang catatan itu tiga kali.
Tanda segitiga hitam.
Kurir.
Tidak beralas kaki.
Apakah ini dia?
The Destroyer?
Atau hanya orang gila yang kebetulan memiliki tanda aneh di jidat?
Atau—
penyamaran.
Kedok sempurna.
Siapa yang akan curiga pada kurir gembel dengan sandal jepit satu?
Tidak ada.
Persis.
Itu sebabnya dia tidak pernah ditemukan.
Jircniv berdiri. Kursinya berdecit. Dia berjalan ke jendela, menarik tirai tebal yang menutupi kaca dari dingin malam.
Di luar, langit gelap. Bintang-bintang bersinar redup. Beberapa lampu istana masih menyala di kejauhan, titik-titik kecil kuning di tengah kegelapan.
Jika dia benar-benar The Destroyer...
...aku harus menemuinya.
Sebelum Nazarick menemukannya.
Sebelum Ainz.
Jircniv menggigit bibir bawahnya.
Tapi bagaimana?
Mengirim utusan? Terlalu mencolok.
Mata-mata? Mereka sudah dikirim.
Pergi sendiri?
...Gila.
Tapi mungkin itu satu-satunya cara.
Dia menghela napas. Rambutnya yang tersisa terasa ringan—mungkin karena beberapa helai lagi rontok saat dia menarik napas terlalu keras. Atau mungkin karena kekhawatiran yang terus menggerogoti pikirannya.
Tidak. Tidak bisa gegabah.
Aku harus menunggu informasi lebih lanjut.
Setidaknya sampai mata-mataku bisa memastikan bahwa pria itu benar-benar—
Pintu ruangan terbuka. Seorang pelayan masuk dengan langkah tergesa-gesa.
"Yang Mulia, ada laporan dari Holy Kingdom."
Jircniv menoleh. Matanya menyala.
"Baca."
Pelayan itu membuka gulungan perkamen, lalu membaca dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup.
"Tidak ada perkembangan baru, Yang Mulia. Pria dengan tanda segitiga hitam masih bekerja sebagai kurir di kelompok relawan. Tidak ada aktivitas mencurigakan. Tidak ada interaksi dengan pihak manapun yang terindikasi sebagai ancaman. Mata-mata kita masih terus memantau."
Jircniv terdiam.
Tidak ada perkembangan.
Masih kurir.
Tidak ada aktivitas mencurigakan.
Itu aneh.
Atau...
...itu justru yang membuatnya semakin mencurigakan.
Orang yang tidak melakukan apa pun di tengah kekacauan adalah orang yang paling berbahaya.
Karena dia tidak perlu melakukan apa pun.
Dia hanya perlu ada.
Dan dunia sudah panik duluan.
Jircniv menghela napas lagi.
"Terus pantau. Jangan lewatkan satu detail pun."
"Baik, Yang Mulia."
Pelayan itu berbalik dan meninggalkan ruangan.
Jircniv kembali menatap ke luar jendela.
Bintang-bintang masih redup. Langit masih gelap. Tidak ada yang berubah.
Kecuali rambutku yang semakin menipis.
Sial.
Semua ini sial.
The Destroyer.
Ainz.
Nazarick.
Theocracy.
Dunia ini gila.
Dan aku terjebak di dalamnya.
Dia mengepalkan tangannya. Kuku jarinya menekan telapak tangan.
Tapi aku tidak akan menyerah.
Tidak sebelum aku melihat akhir dari semua ini.
Tidak sebelum aku tahu siapa The Destroyer sebenarnya.
Tidak sebelum aku bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk tentang Ainz.