Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Suara Sindiran Umi Di Sela Doa Fajar
Suara sindiran Umi di sela doa fajar seketika menghentikan embusan napas Hana yang sedang bersujud pasrah di atas hamparan kain beludru. Kalimat tajam itu meluncur begitu saja dari balik tirai pembatas saf jamaah perempuan, merobek kesucian embun pagi yang baru saja menyapa kompleks asrama. Hana terpaku dengan tubuh gemetar, merasakan tatapan ratusan pasang mata santriwati kini menghujam langsung ke arah punggungnya yang mendadak terasa kaku. Kesunyian surau yang semula begitu syahdu berganti menjadi medan pengadilan sepihak bagi menantu baru yang dianggap membawa noda kota.
"Seorang wanita yang dibesarkan di lingkungan mulia tentu tahu cara menempatkan diri pada barisan terdepan, bukan malah bersembunyi di sudut belakang seperti memendam rahasia kelam," ucap Umi Kalsum dengan intonasi rendah namun bergaung penuh penekanan.
Hana perlahan menegakkan raga, meremas ujung mukena putihnya dengan jemari yang terasa dingin. "Mohon maaf Umi, saya sengaja mengambil posisi di sudut ini agar tidak mengganggu kekhusyukan jamaah lain yang datang lebih awal."
"Alasan itu hanya pembenaran bagi jiwa yang belum terbiasa bangun sebelum fajar menyapa bumi," sahut wanita tua itu sambil memutar butiran tasbih kayu di tangannya tanpa menoleh sedikit pun.
Bisikan halus mulai menjalar di antara barisan para santri senior, laksana desau angin kering yang membakar telinga Hana. Sang wanita kota mencoba menahan sesak yang menyumbat tenggorokan, memaksa sepasang netranya tetap kering meski hatinya hancur berkeping. Ia tidak menyangka ibadah pertama pasca malam pengantin yang dingin justru menjadi panggung bagi sang mertua untuk mempertegas batas penolakan. Di bawah temaram lampu surau, Hana merasa sekujur tubuhnya laksana selembar kertas putih yang sengaja dikotori oleh prasangka buruk yang tidak pernah ia perbuat.
Azzam yang baru saja melangkah keluar dari ruang imam jamaah laki laki tertegun menyaksikan ketegangan yang tercipta di seberang tabir kain. Sebagai ustaz muda sekaligus putra kandung, ia menangkap gurat ketakutan yang mendalam pada raut wajah sang istri yang kini menunduk dalam. Ada gejolak batin yang menuntutnya untuk segera melangkah maju, merengkuh raga Hana, dan membawa wanita itu pergi dari ruang penuh intimidasi tersebut. Namun, doktrin kepatuhan mutlak pada sang ibu yang telah mengakar selama puluhan tahun seketika mengunci kedua telapak kakinya di atas lantai ubin.
"Umi, jamaah subuh baru saja selesai, alangkah baiknya jika kita melanjutkan zikir ini di kediaman utama," sela Azzam dengan suara bariton yang terdengar ragu.
Umi Kalsum membalikkan raga perlahan, menatap sang putra kesayangan dengan sepasang mata yang memancarkan ketegasan tanpa kompromi. "Apakah kamu sudah mulai berani mengatur langkah ibumu, hanya karena sekarang ada wanita lain yang mendiami kamarmu?"
"Bukan begitu maksud saya Umi, saya hanya ingin menjaga ketenangan para santri yang bersiap menghafal kitab pagi ini," dalih Azzam sambil mengalihkan pandangannya dari Hana.
"Ketenangan sejati hanya akan tercipta jika aturan tempat ini dihormati oleh seluruh penghuni tanpa kecuali," pungkas Umi Kalsum seraya bangkit berdiri meninggalkan tempat duduknya.
Langkah kaki sang mertua yang beranjak pergi meninggalkan aroma minyak wangi gaharu yang terasa mencekik penciuman Hana. Azzam hanya mampu menghela napas panjang, lalu memilih berjalan mendahului menuju halaman luar tanpa memberikan satu pun kata penenang bagi sang istri. Keberadaan sang suami yang diharapkan mampu menjadi perisai pelindung kini menjelma laksana bayangan bisu yang tidak memiliki daya di hadapan sang penguasa pesantren. Hana bangkit dengan lutut lemas, melipat mukenanya dengan gerakan perlahan sembari menata puing puing ketabahan yang mulai rontok satu demi satu.
Matahari pagi mulai menyembul di balik rimbun pohon jati, memantulkan cahaya keemasan yang terasa menyengat di atas selasar semen paviliun belakang. Di dalam ruang pribadi yang masih menyisakan hiasan sutra putih, Hana terduduk lesu di depan cermin rias kayu jati yang besar. Ia menatap bayangan dirinya sendiri, meratapi keputusan besar yang telah diambil demi membina rumah tangga bersama lelaki pilihan hati. Kenyataan pahit yang kini terpampang nyata di depan mata membuktikan bahwa cinta saja tidak pernah cukup untuk meruntuhkan dinding keangkuhan sebuah tradisi kaku.
Pintu paviliun tiba tiba terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu, menampilkan sosok Mbok Siti yang membawa selembar gaun panjang berbahan kaku. Wanita pengasuh senior itu meletakkan pakaian tersebut di atas ranjang dengan gerakan kasar, seolah sedang menjalankan tugas yang teramat memuakkan. Hana memandangi busana bermotif polos sewarna tanah itu dengan kening berkerut, merasakan firasat buruk yang kembali merayapi benak indahnya. Atmosfer di dalam kamar pengantin yang semula diharapkan penuh kehangatan kini semakin terasa asing laksana bilik pengasingan yang dingin dan sunyi.
"Umi memerintahkan Anda untuk segera mengganti pakaian kota yang Anda kenakan dengan busana asrama ini sebelum jam sarapan dimulai," ujar Mbok Siti tanpa ekspresi.
Hana menyentuh permukaan kain yang terasa kasar di kulit telapak tangannya. "Apakah saya tidak diizinkan memakai pakaian saya sendiri yang sebenarnya sudah memenuhi syarat menutup aurat, Mbok?"
"Di sini, segala sesuatu bergerak sesuai dengan kehendak Umi, jadi sebaiknya Anda patuh jika tidak ingin memicu badai yang lebih besar," tukas wanita paruh baya itu lalu melangkah pergi.
Perlakuan diskriminatif yang terus berdatangan membuat ruang gerak Hana terasa semakin sempit dan menjerat persendian jiwanya. Ia menyadari ada skenario halus yang sengaja dibangun untuk mengikis rasa percaya dirinya secara perlahan hingga ia merasa tidak layak berada di sisi Azzam. Namun, darah pejuang yang mengalir dalam tubuhnya menolak untuk membuat wanita itu menyerah dan menangis meratapi nasib buruk di sudut ruangan. Dengan ketetapan hati yang bulat, Hana menanggalkan pakaian lamanya lalu mengenakan busana pemberian sang mertua meski terasa sangat tidak nyaman di raga.
Riuh rendah suara sendok dan piring yang beradu dari arah dapur utama menandakan waktu makan pagi bagi keluarga inti pesantren telah tiba. Hana melangkah menyusuri koridor panjang yang menghubungkan paviliun belakang dengan ruang makan utama yang terletak di bangunan induk depan. Setiap langkah kaki yang diayunkannya terasa sangat berat, laksana seorang terpidana yang sedang berjalan menuju altar eksekusi mati. Di ujung ruangan, Umi Kalsum sudah duduk tenang di kursi kebesarannya, diapit oleh Azzam dan beberapa kerabat dekat yang sengaja diundang pagi itu.
Azzam mendongak, menatap kedatangan Hana yang kini berbalut busana longgar kaku sewarna tanah dengan jilbab besar yang menutupi dada. Ada gurat keterkejutan yang sempat melintas di wajah tampan sang ustaz, namun ekspresi itu segera diredam dengan senyuman formal yang dipaksakan. Kursi di sebelah kiri Azzam tampak kosong, sengaja disisakan untuk Hana yang kini melangkah dengan kepala tegak meski batinnya bergejolak hebat. Semua orang di meja makan tersebut mendadak menghentikan obrolan mereka, menciptakan kesunyian baru yang terasa amat mencekam dan menindas pertahanan batin.
"Duduklah, cicipi hidangan pagi ini yang mungkin sangat berbeda dengan selera mewah yang biasa kamu nikmati di kota sana," sambut Umi Kalsum dengan nada menyindir.
Hana mengambil tempat duduk perlahan, mencoba menguasai gemetar di kedua belah tangannya. "Terima kasih Umi, apa pun yang dihidangkan di atas meja ini adalah rezeki mulia yang wajib saya syukuri."
"Semoga rasa syukur itu juga tertanam dalam perilaku sehari hari, bukan sekadar pemanis bibir di depan suami," timpal wanita tua itu sembari menyendok nasi.
Azzam hanya terdiam seraya menyantap makanannya dengan khusyuk, seolah seluruh perdebatan yang terjadi di sekitarnya adalah hal yang tidak layak untuk ditanggapi. Sikap abai sang suami menjadi pukulan telak yang meremukkan sisa sisa harapan Hana yang sempat digantungkan pada janji suci pernikahan mereka. Di tengah denting sendok yang beradu, Hana merasakan kesendirian yang teramat pekat di dalam rumah yang seharusnya penuh dengan perlindungan kasih sayang. Ia menyadari bahwa pertempuran mempertahankan harga diri ini baru saja dimulai, dan ia harus bersiap menghadapi benturan berikutnya yang jauh lebih dahsyat.