Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Tagihan Janji dan Detak Jantung yang Bocor
Langkah kaki Kinar terasa jauh lebih ringan saat keluar dari gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Draf bab tiganya memang penuh dengan coretan tinta merah khas Pak Bambang, namun ajaibnya, tidak ada amukan badai seperti yang ia takuti tadi pagi. Tips dari kertas kecil Arga terbukti manjur. Setiap kali Pak Bambang mulai mengerutkan alis dan meninggikan suara, Kinar langsung membayangkan wajah Rendi—teman Arga yang sok tahu itu—sedang diusir dari kontrakan. Pikiran konyol itu sukses menekan rasa takutnya, membuat Kinar bisa menjawab pertanyaan dosen pembimbingnya dengan kepala dingin dan artikulasi yang lancar.
Kinar berjalan menyusuri trotoar kampus sambil memeluk map bening berisi draf skripsinya. Angin siang menepis beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya. Perutnya kenyang karena nasi goreng buatan Arga sudah tandas tak bersisa sebelum ia masuk ke ruangan tadi. Mengingat cowok itu, Kinar refleks meraba ponsel di saku roknya. Ada rasa bimbang yang menggelitik jemarinya untuk mengirimkan pesan singkat, sekadar mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya atau pamer bahwa ia selamat dari terkaman Pak Bambang.
Namun, gengsi Kinar masih setinggi langit. "Ah, gak usah deh. Nanti dia malah makin besar kepala," gumamnya pada diri sendiri, memutuskan untuk menyimpan ponselnya kembali.
Perjalanan pulang menggunakan angkutan umum terasa cukup melelahkan karena cuaca kota yang mulai berubah terik. Begitu sampai di depan pagar kontrakan, Kinar mengembuskan napas lega. Ia membuka pintu rumah yang tidak dikunci dan langsung disambut oleh keheningan. Sunyi. Kinar mengira Arga sedang pergi ke kampus atau nongkrong bersama teman-teman geng motornya. Namun, saat langkahnya melewati ruang tengah yang merangkap sebagai ruang santai, ia melihat siluet seseorang di atas sofa panjang kain berwarna abu-abu.
Arga ada di sana. Cowok itu tengah berbaring miring dengan satu tangan menjadi bantal, sementara tangan lainnya memegang ponsel yang menampilkan layar permainan game online. Ia masih mengenakan kaus hitam polos, namun jaket denimnya sudah tersampir di sandaran kursi makan.
"Eh, udah balik lo?" suara Arga memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Karakter game-nya tampaknya sedang berada di tengah pertempuran sengit.
Kinar meletakkan tas ransel dan map skripsinya di atas meja belajar di sudut ruangan sebelum menghampiri sofa. "Udah. Untung gak telat tadi. Makasih ya nasi gorengnya, enak kok. Gak bikin gue keracunan."
Arga mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang tipis. "Sama-sama. Lagian kalau lo keracunan, repot di gue juga yang harus mandiin mayat lo. Oh ya, gimana si Bambang? Aman?"
"Aman banget! Gila, kertas contekan lo kepake banget, Ga. Kok lo bisa tahu sih kalau Pak Bambang bakal nanya soal metodologi penelitian sedetail itu?" Kinar mendudukkan dirinya di lantai, tepat di samping sofa tempat Arga berbaring, bertumpu pada kedua lututnya dengan wajah berbinar antusias.
Arga akhirnya mematikan layar ponselnya setelah tulisan 'Victory' terpampang besar di sana. Ia mengubah posisinya menjadi duduk, meregangkan kedua tangannya ke atas hingga terdengar bunyi gemertak halus dari persendiannya. "Gue kan sering dengerin lo ngedumel tiap malem sambil nangis-nangis di depan laptop. Otak gue yang pinter ini otomatis merekam dan menganalisis polanya. Makanya, lo punya suami tuh dimanfaatin otaknya, jangan cuma dijadiin pajangan."
Kinar memutar bola matanya malas. "Iya deh, si paling jenius. Tapi beneran, makasih ya."
Arga tidak langsung menjawab. Matanya menatap lekat wajah Kinar yang tampak sedikit kemerahan akibat berjalan di bawah terik matahari siang. Ada sisa keringat tipis di pelipis gadis itu. Tangan Arga bergerak secara impulsif, berniat menghapus bulir keringat itu, namun ia segera menarik tangannya kembali sebelum Kinar menyadarinya. Ia berdeham canggung, berusaha mengalihkan perhatian.
"Ehem. Jadi, gimana soal janji lo tadi pagi?" Arga menaik-turunkan alisnya, menatap Kinar dengan pandangan menuntut.
Kinar mengernyitkan dahi, pura-pura amnesia. "Janji? Janji apaan? Gue gak ngerasa janji apa-apa ya."
"Heh, Nyonya Gadungan! Jangan amnesia mendadak ya. Tadi pagi di depan gerbang FISIP, lo bilang iya pas gue tagih pijit. Pundak gue beneran mau copot nih gara-gara bawa motor meliuk-liuk demi menyelamatkan masa depan lo yang suram itu," protes Arga dramatis, sambil memegangi pundak kirinya dengan ekspresi yang dibuat-buat kesakitan.
Kinar mendecak, namun tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya. Melihat Arga yang bertingkah manja seperti ini adalah pemandangan yang cukup langka, mengingat biasanya cowok itu selalu bersikap sok keren dan dingin di depan orang lain.
"Iya, iya, bawel banget sih. Sini balik badan lo," titah Kinar akhirnya mengalah.
Arga langsung mengubah posisi duduknya membelakangi Kinar dengan patuh. Kinar mengembuskan napas panjang, lalu perlahan menempatkan kedua telapak tangannya di atas pundak lebar Arga. Melalui lapisan kaus hitam tipis yang dikenakan cowok itu, Kinar bisa merasakan kehangatan tubuh Arga dan betapa kerasnya otot-otot pundaknya yang tegang.
Kinar mulai memberikan pijatan dengan tekanan yang pas. "Gimana? Kekencangan gak?"
"Nah... pas banget di situ. Enak, Nar. Lo bakat jadi tukang pijat keliling deh kalau gagal jadi sarjana," gumam Arga, memejamkan matanya menikmati setiap tekanan dari jemari tangan Kinar.
"Mulut lo bener-bener minta disumpal draf skripsi ya, Ga!" ancam Kinar, sengaja menekan pundak Arga sedikit lebih keras hingga cowok itu mengaduh pelan, namun setelah itu Kinar kembali melembutkan pijatannya.
Suasana di ruang tengah itu mendadak berubah menjadi hening yang menenangkan. Hanya terdengar suara detik jam dinding dan deru napas mereka yang teratur. Kinar fokus pada gerakannya, menyusuri garis bahu Arga hingga ke tengkuk lehernya. Dari jarak sedekat ini, aroma parfum maskulin beraroma kayu bercampur wangi sabun mandi khas Arga menguar begitu kuat, menyergap indra penciuman Kinar.
Kinar menelan ludah dengan susah payah. Entah mengapa, pandangannya mendadak terpaku pada bagian belakang leher Arga yang bersih, lalu turun ke punggung tegapnya. Pikiran Kinar mulai traveling ke mana-mana, mengingat fakta bahwa cowok di depannya ini adalah suaminya—meskipun hanya di atas kertas kontrak konyol mereka.
‘Kenapa punggung dia kelihatan cowok banget sih? Duh, Kinar, sadar! Lo cuma mijit, jangan malah mikir yang aneh-aneh!’ batin Kinar menjerit panik, mencoba menepis debaran aneh yang mulai berdentum bertalu-talu di dalam dadanya. Kepalanya mendadak terasa pening karena ritme jantungnya yang mendadak bocor, berdegup terlalu kencang hingga ia takut Arga bisa mendengarnya.
Tiba-tiba, Arga memegang kedua pergelangan tangan Kinar, menghentikan aktivitas pijatan itu secara mendadak.
Kinar tersentak. "Eh, kenapa, Ga? Kurang enak ya pijatan gue?"
Arga membalikkan badannya perlahan, membuat posisi mereka kini berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Wajah Arga tampak begitu serius, tidak ada lagi senyum miring atau tatapan mengejek. Mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Kinar, mengunci pergerakan gadis itu sepenuhnya.
"Nar," panggil Arga lirih, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
"Ya... kenapa?" tanya Kinar gugup, suaranya hampir habis tercekik di tenggorokan karena gugup yang luar biasa. Genggaman tangan Arga di pergelangan tangannya terasa begitu hangat dan erat.
"Lo... bisa denger sesuatu gak?" Arga memajukan wajahnya beberapa sentimeter, membuat Kinar refleks menahan napasnya.
"D-denger apa?" Kinar makin kelimpangan. Pikirannya langsung ketakutan setengah mati. Apa Arga bisa denger suara detak jantung gue yang kaya bom waktu ini?
Arga melepaskan satu tangannya dari pergelangan tangan Kinar, lalu perlahan mengarahkannya ke dadanya sendiri, tepat di mana jantungnya berada. "Denger ini. Jantung gue... kayanya ikutan rusak gara-gara lo mijitnya terlalu deket."
Mata Kinar membelalak sempurna mendengarkan pengakuan tak terduga itu. Di bawah telapak tangan Arga yang menempel di dadanya, Kinar bisa melihat gerakan ritmis yang cepat di balik kaus hitam itu. Jantung Arga... juga berdetak sama kencangnya dengan milik Kinar.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/