Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima tahun, tungguin gue
Arvin melangkah masuk ke dalam rumah dengan ekspresi datarnya yang biasa. Dia langsung menuju kamar.
Reza yang sedang rebahan di kasur langsung menegakkan tubuhnya. "Lo mau ke mana, Vin?" tanya Reza, dahinya mengernyit heran.
"Gue ada urusan, jadi pulang duluan," jawab Arvin singkat tanpa melepas pandangannya.
Anak-anak yang sedang berkumpul di ruang tengah seketika bungkam. Tidak ada satupun dari mereka yang berani membuka mulut untuk bertanya atau menahan langkah Arvin. Kasak-kusuk langsung pecah dengan volume suara yang sangat pelan. Di kepala mereka, skenario terburuk sudah terbentuk.
"Gara-gara si Eja masuk, nih, jadi gak tahu kan tuh bocah pergi karena ditampar terus diusir atau kenapa," bisik Bima geregetan.
"Iya, asli bikin penasaran banget!" sahut Fino ikut gemas.
"Hey, sst, sst! Ada Tante Karin!" kode Elora buru-buru menyenggol lengan teman-temannya.
Mereka yang tadinya saling mendekatkan kepala langsung tegak seketika, melempar senyuman manis yang dipaksakan begitu melihat Karin berjalan masuk ke ruang tengah. Karin sempat melirik ke arah pintu depan yang baru saja tertutup, lalu beralih menatap anak-anak.
"Si Reza udah masuk?" tanya Karin, suaranya terdengar biasa saja meski hatinya masih sedikit berdebar.
"Udah, Tan, ada di kamar," jawab Dito cepat.
"Ya udah, kalian juga masuk kamar masing-masing sekarang. Tidur, gak ada yang boleh begadang ya di rumah Tante," ucap Karin dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah.
"Siap, Tante!" sahut mereka serempak, langsung bubar tunggang-langgang masuk ke kamar masing-masing.
Karin menghela napas pendek. Dia berjalan ke pintu depan, membukanya sedikit untuk melihat siluet motor Arvin yang perlahan bergerak menjauh membelah malam. Setelah mengunci pintu depan dengan rapat dan mematikan lampu ruang tengah, Karin melangkah masuk ke kamarnya sendiri.
Di dalam kamar, suasana sudah tenang. Karin ikut merebahkan tubuhnya di atas karpet bulu, bergabung di samping barisan para gadis. Namun, baru saja Karin memejamkan mata untuk mencari ketenangan, sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan.
"Tante... Tante habis marahin Arvin, ya?" tanya Alessa pelan.
"Padahal Arvin perhatian banget loh sama Tante," timpal Sela ikut bersuara.
"Atau jangan-jangan... Tante nolak ciuman Arvin terus langsung ngusir dia, makanya dia pergi?" sambung Nayara dengan begitu polos dan blak-blakan.
Ucapan Nayara sukses membuat seisi kamar langsung heboh!
"Sssuutt!!!" serempak Aurel, Elora, dan Alessa langsung membekap suara Nayara, sadar kalau mereka baru saja membongkar aib sendiri bahwa mereka habis ngintip di dapur.
Nayara yang mulutnya setengah bebas hanya bisa mengeluh bingung. "Apa sih? Kan emang bener tadi Arvin—" Belum sempat kalimatnya selesai, Aurel sudah membekap mulutnya lagi dengan bantal kecil.
Karin yang awalnya tidur terlentang langsung membuka matanya. Ada jeda beberapa detik sebelum dia akhirnya menjawab dengan suara yang teramat tenang, mencoba menyembunyikan badai rasa salah tingkah di dadanya.
"Dia ada urusan... makanya dia pergi," ucap Karin singkat.
Setelah mengucapkan itu, Karin mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping, membelakangi kerumunan para gadis tersebut agar mereka tidak bisa melihat senyuman tipis dan semburat merah yang kembali muncul di kedua pipinya.
Setelah malam yang dipenuhi debar di rumah Karin, sebuah keheningan yang aneh justru membentang di antara mereka. Arvin bener-bener menghilang bak ditelan bumi. Tidak ada pesan yang masuk, tidak ada telepon, bahkan dia tidak pernah memunculkan batang hidungnya sama sekali. Karin sempat dibuat bingung dan bertanya-tanya, apakah ucapan Arvin malam itu hanya impulsif belaka?
Hingga akhirnya, di penghujung libur semester, Karin memutuskan untuk berkunjung ke rumah Maya. Karena malam sudah terlanjur larut dan dia malas pulang ke rumahnya yang cukup jauh, Karin berniat untuk menginap di sana malam itu.
Karin tiba tepat saat jam makan malam. Suasana ruang makan kedengaran hangat. Begitu Karin melangkah masuk, dia mendapati seluruh keluarga sedang berkumpul mengelilingi meja makan dan di sana, duduk juga Arvin di sebelah Reza.
"Tante Alin!" panggil Lulu dengan riang, tangan mungilnya melambai-lambai sambil memegang sendok.
Karin langsung tersenyum manis, rasa lelahnya sedikit menguap. "Hai, sayang," sapa Karin lembut, mengusap puncak kepala Lulu sekilas sebelum dia mengambil tempat.
Saat matanya bergulir, pandangan Karin dan Arvin langsung bertemu di udara. Mereka hanya saling tatap dalam diam tanpa ada sapaan verbal, menyimpan rahasia besar yang tidak diketahui oleh orang-orang di ruangan itu.
"Tumben kamu malem-malem ke sini, Rin? Habis dari mana?" tanya Hendra, sambil menyendokkan nasi.
Karin mengalihkan pandangannya dari Arvin dengan tenang. "Habis cari angin aja, Mas. Pas mau pulang ngerasa rumah jauh banget, jadi mutusin ke sini aja yang deket."
"Ya udah, kebetulan ini lauknya masih banyak. Sini duduk, makan bareng," ajak Maya ramah.
Karin mengangguk dan duduk tepat berada di hadapan Arvin.
Di sebelah Arvin, Reza diam-diam memperhatikan interaksi keduanya. Mata Reza bergerak bergantian, menatap Karin lalu beralih menatap Arvin yang hanya diam seribu bahasa. Melihat Arvin yang sempat terpaku beberapa saat lalu melanjutkan makannya dengan tenang tanpa mencoba mencari perhatian Karin, sebuah kesimpulan langsung terbentuk di kepala Reza. Reza membatin lega, mengira bahwa skenario yang dipikirkan teman-temannya malam itu benar. Arvin sudah ditolak mentah-mentah oleh tantenya dan kini sedang mencoba membatasi diri.
Beres makan malam, suasana rumah berangsur sepi karena penghuninya mulai kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Karin berjalan menuju balkon lantai dua. Udara malam yang dingin langsung menerpa kulitnya. Dia melangkah mendekati pagar pembatas besi, menumpu kedua tangannya di sana untuk menyangga bobot tubuhnya sembari menikmati hembusan angin malam yang menenangkan. Pikirannya melayang, menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Arvin selama liburan ini.
Grep.
Lamunan Karin seketika pecah saat sebuah lengan kokoh tiba-tiba melingkar posesif di pinggangnya dari arah belakang. Kehangatan dada seseorang yang menempel erat di punggungnya langsung membuat jantung Karin berdegup kencang. Dia tahu persis wangi parfum ini.
"Gue kangen sama lo, Tan," bisik Arvin pelan, suaranya terdengar begitu serak dan sarat akan kerinduan yang mendalam tepat di dekat telinga Karin.
Karin menarik napas dalam, mencoba mempertahankan akal sehatnya. Dia memegang tangan Arvin, melepas pelukan itu perlahan lalu membalikkan tubuhnya agar bisa menghadap langsung ke arah lelaki jangkung itu.
Karin melipat kedua tangannya di dada, menatap Arvin dengan dahi berkerut samar. "Bohong. Kangen kok gak pernah hubungi Tante? Main ke rumah juga enggak selama liburan."
Bukannya menjawab dengan kata-kata, Arvin justru maju selangkah. Tangan kanannya bergerak cepat menarik pinggang Karin, mengikis habis jarak di antara mereka hingga tubuh mereka kembali merapat tanpa celah. Arvin menundukkan wajahnya, lalu mengunci bibir Karin dengan sebuah ciuman dalam yang menumpahkan seluruh rasa rindu yang dia tahan setengah mati selama dua minggu ini.
Ciuman itu terasa begitu intens di bawah pendar cahaya bulan malam, seolah menyalurkan segala rasa frustasi karena jarak yang mereka ciptakan. Setelah beberapa saat, Arvin perlahan menjauhkan wajahnya, namun tangannya tetap mengunci pinggang Karin. Ditatapnya mata wanita itu dengan sorot yang teramat serius.
"Tante... lima tahun ya, tungguin gue," ucap Arvin lirih, meminta sebuah kepastian yang teramat berat untuk masa depan mereka. Lima tahun adalah waktu yang dia butuhkan untuk lulus sekolah, kuliah, dan menjadi pria mandiri yang layak berdiri di samping Karin.
Karin menatap manik mata hitam Arvin yang bergetar. Alih-alih memberikan janji manis, Karin hanya tersenyum tipis dan mengusap rahang tegas lelaki di depannya. "Belajar aja yang bener," sahut Karin lembut, sebuah jawaban yang menyiratkan dukungan penuh tanpa ingin membebani Arvin dengan janji yang mengikat.
Mendengar itu, Arvin menurunkan tangannya dari pinggang Karin lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Karin yang paham langsung menghambur masuk ke dalam dekapan itu, memeluk leher Arvin dengan erat.
Arvin mendekap tubuh Karin seolah wanita itu akan menghilang jika dia melonggarkannya sedikit saja. Di sela-sela pelukan hangat itu, setetes air mata diam-diam jatuh melewati pipi Arvin. Dadanya terasa begitu sesak dan berdenyut nyeri. Dia tidak sanggup, benar-benar tak sanggup jika harus menyebut ini sebagai pelukan perpisahan sebelum mereka benar-benar berpisah.
Pelukan itu terasa begitu lama, membelah keheningan. Menyadari mereka berada di rumah Maya, Karin akhirnya perlahan menyudahi pelukan tersebut karena takut ada orang rumah yang tiba-tiba keluar dan melihat posisi mereka.
"Udah... kamu masuk sana, terus tidur," suruh Karin dengan suara yang dilembutkan, menepuk dada Arvin pelan.
Arvin menatap Karin untuk terakhir kalinya malam itu. Menuruti perintah wanita yang dicintainya, Arvin mematuhinya. Namun sebelum benar-benar melangkah pergi, dia menunduk dan mengecup bibir Karin sekilas.
"Selamat malam, Tante," bisik Arvin, lalu berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Karin yang masih terpaku sendirian di balkon dengan rasa hangat yang tertinggal di bibirnya.