NovelToon NovelToon
Jiwa Modern Sang Agen Rahasia : Pembalasan Permaisuri Lin

Jiwa Modern Sang Agen Rahasia : Pembalasan Permaisuri Lin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Agen Wanita / Time Travel
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Amber Mist

Lin Meilin adalah agen intelijen modern papan atas yang ditakuti karena keahliannya dalam taktik pertempuran dan racun mematikan. Namun, sebuah misi rahasia untuk merebut kembali Giok Dinasti Long yang hilang di luar negeri justru berakhir tragis. Meilin dikhianati oleh rekan seperjuangannya sendiri hingga sekarat.Saat tetesan darah Meilin menyentuh permukaan giok kuno tersebut, keajaiban mistis terjadi. Jiwanya terlempar melintasi waktu dan terbangun di dalam tubuh Permaisuri Lin—seorang wanita berkedudukan tinggi namun memiliki kepribadian yang sangat lemah dan penakut. Di dunia kuno ini, Permaisuri Lin baru saja diracun oleh selir kesayangan kaisar dan dibuang hingga terabaikan di Istana Dingin yang sunyi.Kini, tidak ada lagi permaisuri lemah yang bisa ditindas! Dengan jiwa agen rahasia yang haus akan keadilan, Meilin bangkit untuk mengacak-acak seisi istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amber Mist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Tamu Misterius di Keheningan Malam

Meilin menatap mereka dengan pandangan menilai. Membunuh mereka sekarang memang mudah, tetapi mereka jauh lebih berguna jika dijadikan pion pelacak. Istana Dingin ini kekurangan logistik, dan Meilin membutuhkan orang-orang yang tahu seluk-beluk dapur istana untuk menyelundupkan bahan-bahan yang ia butuhkan.

"Aku bisa membiarkan kalian tetap hidup," kata Meilin datar.

Kedua pelayan itu mendongak dengan binar harapan di mata mereka. "Terima kasih, Permaisuri! Terima kasih!"

"Tapi," Meilin memotong ucapan mereka, membuat atmosfer kembali mendingin. "Kalian harus meminum ini."

Meilin mengambil sebotol kecil bubuk abu-abu dari dalam laci meja—itu adalah bubuk arang kayu yang dicampur dengan beberapa tanaman hias beracun ringan yang ia petik dari halaman depan saat fajar tadi. Bagi orang awam, campuran ini akan memberikan efek kram perut yang luar biasa setiap beberapa hari sekali.

"Ini adalah racun penakluk saraf buatanku sendiri," dusta Meilin dengan wajah tanpa ekspresi yang sangat meyakinkan. "Jika dalam waktu tujuh hari kalian tidak mendapatkan obat penawarnya dariku, seluruh organ dalam kalian akan membusuk dan mencair dari dalam. Jika kalian berani melaporkan hal ini pada Selir Hua atau siapa pun, kalian tahu apa konsekuensinya."

Tanpa berani membantah, Kai Mun dan Pelayan Liu berebut mengambil bubuk tersebut dan menelannya dengan gemetar. Rasa pahit dan panas langsung menjalar di tenggorokan mereka, membuat mereka semakin yakin bahwa Permaisuri Lin telah menguasai ilmu sihir hitam atau racun yang mengerikan selama diasingkan.

"Sekarang, bersihkan kamar ini sampai berkilau. Setelah itu, bawakan aku makanan yang layak dari dapur utama—bukan sisa makanan atau nasi basi. Jika aku melihat ada keanehan pada makanan yang kalian bawa, bersiaplah untuk memesan peti mati kalian sendiri," perintah Meilin dingin.

"Baik, Permaisuri! Kami segera melaksanakannya!" Kedua pelayan itu langsung bergerak secepat badai, membersihkan lantai dan membuang semua barang rusak tanpa berani mengeluh sedikit pun.

Xiao Cui berjalan mendekati Meilin, matanya berbinar penuh kekaguman dan rasa hormat yang mendalam. "Permaisuri... Anda benar-benar luar biasa. Hamba tidak pernah tahu Anda memiliki kemampuan sehebat ini."

Meilin menepuk bahu kecil Xiao Cui dengan lembut. "Xiao Cui, ingat ini baik-baik. Di tempat ini, jika kau menunjukkan kelemahan, orang lain akan menginjakmu sampai mati. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh kita tanpa membayar harganya."

Meilin kembali menatap ke arah halaman luar melalui jendela. Pembersihan pertama di Istana Dingin telah selesai.

Sekarang, saatnya ia memulihkan kekuatan fisiknya dan mempersiapkan umpan pertama untuk memancing sang pemilik istana yang sesungguhnya—Kaisar Long Feng.

Tiga minggu berlalu dengan cepat di Istana Dingin. Berkat pasokan makanan segar yang rajin "diselundupkan" oleh Kai Mun dan Pelayan Liu dari dapur utama, kondisi fisik Lin Meilin perlahan-lapan membaik. Kulitnya yang semula putih pucat tanpa gairah kini mulai memancarkan rona sehat. Rambut hitamnya yang panjang tidak lagi kusam, melainkan berkilau seperti kain sutra terbaik.

Namun, bagi Meilin, penampilan luar tidak ada gunanya jika kekuatan fisiknya belum kembali ke standar seorang agen The Ghost.

Oleh karena itu, setiap kali malam tiba dan seluruh istana belakang telah terlelap dalam kegelapan, Meilin akan menyelinap keluar ke halaman belakang Istana Dingin yang dipenuhi ilalang tinggi. Di sana, di bawah siraman cahaya bulan perak, ia melakukan latihan fisik ekstrem. Menggunakan beban dari batu-batu besar yang diikat dengan kain lapuk, ia melatih kekuatan otot kaki, perut, dan tangannya. Ia juga melatih kembali memori ototnya untuk melakukan gerakan beladiri taktis—serangan cepat yang mengincar titik fatal seperti jakun, ulu hati, dan persendian musuh.

Hah... hah... hah...

Meilin menyeka keringat yang membasahi dahi dan lehernya dengan ujung lengan baju jubah tidurnya. Ia baru saja menyelesaikan seratus kali gerakan push-up dan latihan beban kaki.

"Tubuh ini baru pulih sekitar empat puluh persen dari kapasitas asliku," gumam Meilin sambil mengembuskan napas panjang. Kapasitas paru-parunya masih terlalu kecil, dan ia belum memiliki kekuatan dalam yang disebut Qi oleh orang-orang di zaman ini. Namun, untuk ukuran pertempuran jarak dekat melawan manusia biasa, kemampuannya saat ini sudah lebih dari cukup untuk mematahkan leher tiga pria dewasa dalam hitungan detik.

Tiba-tiba, insting tajam Meilin menangkap sesuatu yang tidak beres. Angin malam yang berembus pelat mendadak membawa aroma yang sangat tipis, namun sangat familier bagi hidung seorang agen medis: aroma karat dari darah segar.

Ada orang terluka di dekat sini, batin Meilin waspada.

Seketika, seluruh otot tubuhnya menegang. Ia meraba pergelangan tangan kanannya, tempat ia menyembunyikan sebuah tusuk konde perak yang ujungnya telah ia asah menjadi sangat runcing dan dilumuri racun kelumpuhan dari ekstrak tanaman kecubung liar. Dengan langkah kaki yang sangat ringan tanpa suara, Meilin bergerak mendekati tembok pembatas Istana Dingin yang telah runtuh sebagian.

Sreeek... sreeek...

Suara gesekan kain pada semak-semak terdengar dari balik pohon pinus tua di sudut halaman. Meilin menahan napasnya, menyatukan tubuhnya dengan bayangan kegelapan malam. Matanya yang tajam seperti elang malam mengunci ke satu titik.

Sesosok tubuh tinggi tinggi besar berpakaian serba hitam tampak terhuyung-huyung keluar dari balik semak-semak. Pria itu memegangi dada kanannya yang terus mengalirkan darah kental. Gerakannya tampak berat dan napasnya memburu tidak teratur. Dari balik cadar hitam yang menutupi setengah wajahnya, sepasang mata tajam yang berkilau dalam kegelapan tampak menatap sekeliling dengan waspada sebelum akhirnya tubuhnya limbung dan jatuh bertumpu pada satu lutut di atas tanah.

Meilin tidak langsung mendekat. Di dunia intelijen, menolong orang asing tanpa tahu identitasnya adalah tindakan bodoh yang bisa berujung pada kematian sendiri. Ia mengamati pria itu dari kejauhan. Pakaian hitam yang dikenakan pria itu terbuat dari kain sutra brokat kelas atas yang hanya bisa dipakai oleh kalangan bangsawan tinggi atau anggota keluarga kerajaan. Senjata di pinggangnya adalah sebuah pedang dengan sarung berukir naga emas yang sangat rumit.

Ukiran naga? Meilin menyipitkan mata. Di kerajaan ini, naga adalah simbol mutlak milik kaisar atau pangeran inti.

Saat pria bermata tajam itu mencoba bangkit kembali, kekuatannya tampaknya telah habis akibat kehilangan terlalu banyak darah. Ia ambruk sepenuhnya ke atas tanah, tidak sadarkan diri, dengan pedang yang masih tergenggam erat di tangannya.

Setelah memastikan tidak ada orang lain atau pengejar di sekitar tembok pembatas, Meilin perlahan berjalan mendekati tubuh pria tersebut. Ia menendang pedang dari tangan pria itu terlebih dahulu untuk memastikan keamanan, baru kemudian berlutut di sampingnya.

Meilin menarik cadar hitam yang menutupi wajah pria itu. Begitu kain hitam itu terlepas, Meilin sempat tertegun sejenak. Pria di hadapannya ini memiliki wajah yang luar biasa tampan, dengan rahang yang tegas, hidung mancung seperti dipahat, dan alis tebal yang bahkan dalam keadaan pingsan pun masih berkerut tajam. Namun, ada aura dingin, angkuh, dan berbahaya yang memancar kuat dari wajah tidur pria ini.

Menggunakan ingatannya tentang dokumen kerajaan yang pernah dibaca oleh Permaisuri Lin yang asli, Meilin mencoba mencocokkan wajah ini. Namun, Permaisuri yang asli hampir tidak pernah mendongak menatap wajah suaminya secara langsung karena terlalu takut, jadi Meilin tidak bisa memastikan apakah ini sang Kaisar atau salah satu pangeran pemberontak.

"Siapa pun kau, kau beruntung malam ini bertemu denganku," bisik Meilin dingin

1
sasa adzka
cerita makin keren ey 😍😍
semangat up nya kak, Terima kasih sdh up beberapa bab kak😍😍.. utk jam berapa nya kau up terserah aja ya.. aku selalu menantikan kelanjutan cerita mu ini.. semoga sampai tamat 😍😍😍
Amber Mist: 😍 baik lah terima kasih
total 1 replies
Lina Hibanika
jangan kasih ampun pelayan calutak seperti itu mah
sasa adzka
wahhh sebentar lagi bucin neh si kaisar long sama meilin🤭🤭🤭
Amber Mist: Siap2, ya Yang Mulia. Lebih suka upload jam brp kak?
total 1 replies
Lina Hibanika
hadiah perkenalan,, segelas kopi buat author ☕
Amber Mist: 😍 terima kasih Yang Mulia
total 1 replies
sasa adzka
I like it permaisuri meilin😍😍😍 aku suka karakter nya... pertahan kan kak.. pokok nya harus kuat mah MC cewek nya😍😍😍😍
semangat ya
Amber Mist: wahhh, makasi Yang Mulia, dukung aku terusnya "follow" dan jangan lupa "bintang5nya"
total 1 replies
sasa adzka
hallo baru mampir kak othor...
semoga sampai tamat ya😍😍
semangat up nya💪💪
Amber Mist
Yang Mulia Datu Zahra, bagian mana ya yg fisiknya brubah? coba dibaca ulang, karena Meilin ahli racun kak, itu bukan fisik yg brubah tapi jiwanya uda ganti kak
Datu Zahra
Dibab sebelumnya disebutin udah lewat seminggu, tambah dua hari seudha kaisar pergi sampe fisik berubah, ya kali nyebut racun semalam. ngaco
Amber Mist: Yang Mulia, sepertinya harus baca ulang ya
total 1 replies
Amber Mist
Halo Yang Mulia Ratu pembaca setia Permaisuri Lin, Salam Kenal.

Yuk, voting, kalian lebih suka aku upload di jam brp?

Yang setia ikutin, pencet " ikuti" + kasih 💫 bintangmu ya.

Hamba butuh dukungan kalian
Alia Chans
suka.... like + bunga😉
semangat thor nulisnya nya🤭




kalo berkenan mampir thor😉
Amber Mist: 😍👍 siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!