NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:571
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 PULANG CEPAT

"Gree! Kamu nggak apa-apa?!" pekik Ruby, memecah keheningan yang aneh itu. "Biar aku saja yang mengantarmu pulang! Jangan dipaksakan!"

Gretta yang baru sadar dari keterpakuannya langsung berusaha mendorong dada Gian pelan.

 "N-nggak usah, Ruby. Aku... aku bisa jalan sendiri," sahut Gretta, suaranya cicit saking malunya karena posisi mereka yang terlalu dekat.

Gian menghela napas kasar. "Sudahlah, jangan keras kepala," pekik Gian pendek.

Sebelum Gretta sempat memprotes, Gian dengan gerakan super cepat menarik lengan Gretta, menyampirkannya ke atas bahunya sendiri untuk memapah gadis itu. Tangan kirinya dengan santai menyambar tas ransel Gretta dari pundak gadis itu lalu mencangklongnya di bahunya yang kirinya.

Nona dan Ruby sekali lagi dibuat melongo sampai rahang mereka hampir copot. Bisa-bisanya Gian—si cowok nomor satu yang paling anti berurusan dengan perempuan di sekolah ini—tiba-tiba berubah menjadi pahlawan kesiangan yang sangat perhatian.

"Apa kamu sungguhan mau mengantar Gretta pulang?" tanya Nona dengan nada heran yang tidak disembunyikan sama sekali.

Gian hanya melirik Nona sekilas melalui sudut matanya. Tanpa niat membalas ucapan tidak penting itu, ia langsung membalikkan tubuh, memapah Gretta yang lemas untuk berjalan menyusuri koridor. Gretta sendiri hanya bisa pasrah, kepalanya yang pusing membuat ia tidak punya energi untuk berdebat, meski matanya terus menatap samping wajah Gian dengan pandangan bingung sekaligus heran.

Melihat punggung keduanya yang mulai menjauh, Nona yang merasa dikacangi langsung berkacak pinggang. "Heeee, Giaaann! Awas aja ya kalau kamu macam-macam sama Gretta! Aku sendiri yang bakal menendangmu sampai ke planet lain!" pekiknya kesal setengah mati karena diabaikan begitu saja.

Setelah berjalan cukup jauh menyusuri koridor yang mulai ramai oleh siswa lain, keheningan di antara Gian dan Gretta terasa makin pekat. Gretta, entah karena pusing atau hal lain, tidak bisa mengalihkan pandangannya dari samping wajah Gian.

"Ada apa? Kenapa kau tidak berhenti menatapku?" gumam Gian pelan. Pandangannya tetap lurus ke depan, meski sesekali matanya melirik ke bawah, memastikan langkah kaki Gretta tidak tersandung.

Gretta langsung memalingkan wajahnya yang mendadak terasa hangat. "T-tidak ada... Siapa juga yang melihatmu? Jangan terlalu percaya diri!" balas Gretta terbata-bata, mencoba membela diri.

Mereka terus berjalan keluar dari gedung sekolah hingga tiba di area loker sepatu. Gian melepaskan papahannya sejenak, lalu dengan cepat mengganti sepatu sekolahnya dengan sepatu luar.

Sementara itu, Gretta hanya berdiri terdiam. Efek pusing di kepalanya membuat gerakannya lambat; ia hanya melamun sambil memandangi sepatunya yang berada di dalam loker tanpa berniat mengambilnya.

Melihat hal itu, Gian berdecak pelan. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung menyambar sepatu Gretta, lalu menarik bahu gadis itu agar duduk di bangku panjang dekat loker. Detik berikutnya, Gian berlutut di depan Gretta, bersiap memakaikan sepatu ke kaki gadis itu.

Aksi Gian tentu saja langsung menarik pusat perhatian. Area loker yang tadinya bising mendadak senyap. Beberapa pasang mata mulai berbisik-bisik.

Pipi Gretta seketika berubah merah padam, persis seperti tomat matang. "S-sudah... aku bisa memakainya sendiri," bisik Gretta panik, matanya melirik ke kanan dan ke kiri, menyadari bahwa mereka kini menjadi tontonan gratis anak-anak lain.

"Lambat. Dari tadi kutunggu kamu cuma diam saja seperti patung," pekik Gian acuh tak acuh. Tangannya yang besar dengan cekatan memasukkan kaki Gretta ke dalam sepatu, lalu mengikat talinya dengan rapi seolah tidak ada ratusan mata yang sedang memandang mereka dengan ekspresi syok.

"Eh, lihat deh... Bisa-bisanya cowok anti cewek kayak Gian tiba-tiba bisa sebaik itu sama cewek? Kesambet apa ya?" bisik salah satu siswi yang kebetulan berjalan melewati mereka, menyenggol lengan temannya.

Di sudut lain dekat pilar, seorang siswi berambut ikal yang sudah menyukai Gian sejak kelas satu tampak meremas roknya dengan geram. Wajahnya memerah menahan kesal melihat pemandangan manis di depannya.

"Sialan! Siapa sih cewek centil itu?!" gumamnya.

Saking kesalnya, ia melayangkan satu tendangan kuat ke arah tembok di sampingnya. Bugh!

"Awww! Awww! Sakiiit!" pekiknya kemudian, meloncat-loncat dengan satu kaki sambil memegangi ujung sepatunya yang membentur semen keras.

Sontak saja, beberapa siswa yang baru mau berjalan masuk ke kelas meliriknya dengan pandangan aneh. Mereka menggeleng-geleng kepala melihat siswi yang mendadak histeris dan bicara sendiri itu. Sadar dirinya jadi pusat perhatian yang memalukan, cewek itu langsung menghentikan loncatannya. Ia tersenyum cengegesan, lalu melambaikan tangan sok akrab, "Eh, hai... siang ya! Cuacanya bagus ya!" sapanya hangat yang terkesan sangat dipaksakan, sebelum akhirnya kabur menahan malu.

Sementara itu, Gian sama sekali tidak mempedulikan drama di sekitarnya. Setelah memastikan kedua sepatu Gretta terpasang dengan benar, ia berdiri, menaruh sepatu khusus dalam ruangan milik Gretta ke dalam loker, lalu berbalik. Secara tak terduga, Gian mengulurkan tangan kanannya ke depan wajah Gretta.

Melihat uluran tangan itu, jantung Gretta rasanya mau copot. Pipinya makin bersemu merah. Namun karena kepalanya kembali berdenyut, ia akhirnya menyambut uluran tangan itu. Gian menggandeng erat tangan Gretta, menuntunnya berjalan melewati gerbang sekolah hingga tepat sampai di depan halte bus.

Tak perlu menunggu lama, bus kota yang mereka tunggu pun tiba. Gian membawa Gretta masuk, memilihkan tempat duduk yang nyaman di dekat jendela, sementara ia sendiri duduk di sebelahnya seolah menjadi pengawal pribadi. Perjalanan siang itu memakan waktu sekitar 38 menit karena arus lalu lintas yang agak padat.

Begitu turun di halte tujuan, Gian kembali menggandeng tangan Gretta. "Rumahmu lewat mana?" tanyanya datar.

 Gretta hanya menunjuk arah dengan jarinya yang lemas, menuntun langkah mereka menyusuri trotoar hingga akhirnya langkah mereka terhenti di depan sebuah toko kue.

Gian menghentikan langkahnya, memandangi fasad bangunan toko tersebut dengan kening berkerut. "Sepertinya... aku pernah ke sini," gumam Gian pelan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

 Namun, ia tidak ambil pusing dan langsung melangkah masuk ke dalam toko, masih dengan tangan yang menggandeng erat jemari Gretta.

Di dalam toko, aroma mentega dan vanila yang manis langsung menyergap indera penciuman mereka. Naura, salah satu karyawan toko kue milik ibunya Gretta, yang sedang mengelap etalase kaca, langsung menoleh saat mendengar gemerincing bel pintu. Begitu melihat siapa yang datang, matanya langsung membelalak cemas. Ia segera berlari menghampiri mereka.

"Alesia! Kamu kenapa pulang jam segini? Terus kenapa wajahmu pucat banget begitu?" ujarnya panik, memeriksa wajah Gretta yang tampak pucat.

"Alesia..? Batin Gian seperti namanya yang tidak asing."

"Aku... aku hanya nggak enak badan, Kak Naura," sahut Gretta lemas.

Dari arah dapur belakang, ibunya Gretta yang baru saja mengeluarkan seloyang kue makaron dari dalam oven raksasa mendengar suara ribut-ribut di depan. Setelah meletakkan loyang panas itu di meja kasir dengan terburu-buru, sang ibu langsung berlari menghampiri anak gadisnya.

"Ada apa, sayang? Apa yang terjadi? Kenapa kamu pulang cepat sekali?" ujar sang mama, nadanya naik satu oktav karena panik luar biasa takut terjadi hal buruk pada putrinya.

Sang mama langsung memeriksa kedua lengan Gretta, memutar tubuh anaknya ringan, hingga matanya tidak sengaja tertuju pada dahinya. Di sana, tertempel sebuah plester luka alias handsaplast bermotif kelinci.

"Kenapa dengan dahimu, Alesia?! Kamu berantem?!" tanya mamanya makin cemas, suaranya naik lagi satu tingkat.

Melihat situasi yang mulai dramatis, Gian yang sejak tadi diam dengan wajah datarnya tiba-tiba angkat bicara. Dengan ekspresi yang teramat polos tanpa dosa, ia menatap ibu Gretta. "Maaf, Tante. Tadi Gree... maksud saya Gretta tidak sengaja kena bola. Waktu kami main bola voli, bolanya tidak sengaja mengenai kepala Gretta sampai dia terluka," ucap Gian dengan nada suara yang kelewat lempeng.

Mendengar pengakuan jujur yang terdengar seperti tantangan itu, mata mama Gretta langsung menyipit tajam. Auranya mendadak berubah menjadi sekelompok awan mendung yang siap menurunkan petir.

"Ohhh... jadi kamu ya, yang sudah buat anak saya terluka sampai pucat begini?!" ujar mama Gretta kesal. Tanpa aba-aba, tangan cekatan sang mama langsung meluncur ke atas dan... Hup! Jari-jarinya sukses menjewer telinga kanan Gian dengan kekuatan penuh.

"Awww! Awww! Tante, lepaaas! Sakit, Tante! Aku minta maaafff!" saut Gian langsung mengaduh heboh.

Pertahanan wajah datarnya runtuh seketika. Cowok jangkung yang ditakuti di sekolah itu kini terpaksa membungkukkan badannya, berusaha melepaskan diri dari jeweran maut seorang ibu yang protektif, membuat pemandangan itu terlihat sangat kocak di mata Naura yang hanya bisa menonton sambil menahan tawa.

"Sudahlah, Mama... Gian juga nggak sengaja kok tadi," ujar Gretta menengahi dengan sisa-sisa suaranya yang lemas, merasa kasihan sekaligus ingin tertawa melihat ekspresi kesakitan Gian yang langka.

Melihat anak gadisnya yang tampak benar-benar tidak bertenaga dan hampir limbung, sang mama akhirnya melunakkan hatinya. Ia melepaskan jewerannya dari telinga Gian yang kini sudah berubah warna menjadi merah merona seperti kepiting rebus.

Sang mama menghela napas, menatap Gian dari atas sampai bawah dengan sisa-sisa kejengkelannya. "Kamu... ayo masuk dulu ke dalam," ujar mama Gretta, menyuruh Gian untuk ikut masuk ke dalam rumah mereka.

Gian memegangi telinganya yang masih terasa panas, lalu mengangguk pelan dengan patuh. "Iya, Tante..." ujarnya pasrah, kehilangan seluruh aura magis cowok dinginnya dalam sekejap.

Dengan sigap, sang mama langsung mengambil alih posisi Gian, memapah tubuh lemas Gretta untuk masuk ke pintu belakang toko yang menghubungkan langsung dengan tangga menuju lantai dua rumah mereka. Gian hanya bisa mengekor di belakang dengan langkah kikuk, membawa tas ransel milik Gretta di pundaknya.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!