NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB X

Setelah saling meminta maaf, keduanya pun berdiri berhadapan dan mulai memperkenalkan diri dengan sopan.

“Namaku Dafi. Aku berasal dari kediaman Menteri Pangan, dan kebetulan sedang menemani adikku berjalan-jalan untuk melihat pemandangan di sini,” ucap Dafi ramah, lalu balik bertanya, “Kalau kau sendiri, siapa nama dan dari mana asalmu?”

“Aku Haoran. Aku juga hanya sedang berjalan-jalan santai di tempat ini,” jawab sang Pangeran dengan nada tenang dan ramah, sama sekali tidak membocorkan jati dirinya yang asli.

Sebelum mereka menyudahi obrolan itu, Dafi sempat memperhatikan raut wajah Haoran. Terlihat jelas bahwa pemuda itu gelisah dan tampak tidak tenang, seolah ada beban berat di dalam hatinya. Melihat hal itu, Dafi pun memberanikan diri bertanya, berharap Haoran mau menceritakan apa yang dirasakannya, agar sedikit demi sedikit rasa cemas dan beban di hatinya mungkin bisa berkurang.

Mereka pun sepakat untuk berpindah ke kedai teh yang tidak terlalu jauh dari penginapan itu, tempat yang cukup tenang untuk mengobrol. Sesampai di sana, percakapan mengalir panjang lebar, mereka saling bertukar cerita dan pengalaman seolah sudah saling kenal dan bersahabat sejak lama. Suasana terasa hangat dan akrab, hingga akhirnya topik pembicaraan mengarah pada satu hal yang paling tersimpan rapi dan paling berharga di dalam hati Haoran itu sendiri.

“Dulu, saat aku masih kecil, pernah ada kejadian yang mengubah seluruh hidupku,” kata Haoran pelan, pandangannya menatap jauh seolah melihat masa lalu. “Waktu itu aku berusia 6 tahun, aku diculik oleh seorang gadis dan beberapa para penjahat lainnya. Orang akan mengira bahwa gadis itu jahat, tapi sebenarnya saat itu dia juga masih sangat kecil, hidupnya pasti sangat sulit dan penuh penderitaan. Saat kami sedang di hutan, tiba-tiba ada harimau buas yang menyerang kami. Alih-alih membiarkanku dimakan atau kabur, dia malah melindungiku dan melawan binatang itu sendirian. Karena kejadian itu, dia kehilangan satu jari kelingking di tangan kirinya demi menyelamatkan nyawaku. Sejak saat itu sampai sekarang, aku selalu mencarinya ke mana-mana, namun sampai hari ini aku belum juga berhasil menemukan jejaknya.”

Dafi mendengarkan dengan saksama, lalu mengerutkan keningnya bingung. “Tunggu… tapi bukankah dia yang awalnya menculikmu? Berarti dia bukan orang yang baik, kan? Kenapa kau begitu ingin sekali bertemu kembali dengannya?”

Haoran langsung menggeleng tegas, raut wajahnya berubah serius seolah tak terima perkataan itu. “Jangan bicara seperti itu tentang dia. Dia berbeda dari orang lain. Jika kau menatap matanya, kau pasti langsung mengerti. Di balik tatapan matanya yang sedingin es dan semenakutkan itu, ada tersimpan rasa sakit dan luka yang begitu dalam, sampai siapa pun yang melihatnya bisa ikut merasakan betapa menderita dirinya.”

“Aku jadi penasaran sekali seperti apa rupa gadis yang kau maksud itu,” ucap Dafi dengan mata berbinar penasaran. Lalu ia kembali bertanya, “Tapi… bagaimana jika kalian bertemu lagi sekarang? Sudah begitu lama kalian tidak bertemu, apakah kau yakin masih bisa mengenalinya?”

“Tentu saja!” jawab Haoran tanpa ragu sedikit pun, nada suaranya penuh keyakinan dan kepastian. “Aku pasti akan langsung mengenalinya, meskipun wajahnya sudah berubah dan juga sudah dewasa. Aku akan mengenalinya dari matanya, dan dari auranya itu.”

Tiba-tiba senyum jahil terbit di bibir Dafi, ia mendekatkan wajahnya sedikit dan bertanya menggoda, “Atau… jangan-jangan sebenarnya kau sudah menyukainya sejak dulu?”

Haoran tidak menghindar atau malu, ia menatap lurus ke mata Dafi dan menjawab dengan jujur dan tegas. “Tentu saja. Aku sangat menyukainya. Bahkan aku sudah bertekad, jika nanti aku berhasil menemukannya, aku akan melamar dan menikahinya.”

“Wah, sungguh luar biasa sekali dirimu ini!” seru Dafi takjub sambil menggelengkan kepala. “Baru bertemu sekali saat masih kecil, dan kau sudah seyakin itu bahwa dia adalah orang yang kau cintai?”

“Benar,” jawab Haoran mantap. “Selama ini aku bahkan tidak pernah melirik wanita lain sedikit pun. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa seumur hidupku aku hanya akan menikah dengan gadis itu, dan tak akan ada yang menggantikannya.”

Mendengar ketulusan dan kesetiaan yang luar biasa itu, Dafi tersenyum tulus. Ia pun menepuk-nepuk pelan bahu Haoran, tanda ia mengerti dan menghargai perasaan sahabat barunya ini. “Baiklah, aku mengerti sepenuhnya maksudmu. Semoga Tuhan segera mengabulkan keinginanmu dan mempertemukan kalian berdua kembali.”

Tanpa terasa, langit di timur mulai memutih dan sinar matahari perlahan menyingsing, tanda pagi telah tiba.

“Wah, sudah pagi rupanya,” ucap Dafi bangkit berdiri. “Aku harus kembali dulu melihat keadaan adikku. Dia masih tidur di kamar.”

“Aku juga harus kembali ke kamarku sebentar untuk bersiap-siap,” kata Haoran ikut berdiri. “Ingat, kita sudah sepakat, hari ini kita akan berkeliling mengelilingi kota ini bersama-sama.”

“Baik, aku tunggu di sini ya sebentar lagi!” jawab Dafi antusias.

Keduanya pun berpisah untuk sejenak, masing-masing melangkah menuju kamarnya dengan hati yang gembira, bersiap untuk menikmati hari yang baru bersama.

Begitu masuk ke dalam kamar, senyum Dafi tak kunjung hilang dari wajahnya, bahkan ia terus menyeringai. Melihat tingkah kakaknya yang aneh dan tak biasa itu, rasa penasaran Lili makin memuncak. Ia yang sedang merapikan pakaian dan rambutnya, segera mendekat.

“Kak Dafi! Kenapa kau senyum-senyum sendiri begitu? Ada apa sebenarnya? Kau bertemu peri cantik semalam sampai pagi begini masih berseri-seri wajahmu?” goda Lili sambil mendorong pelan bahu pemuda itu.

Dafi tersenyum kecil, lalu menarik Lili duduk di sampingnya dan menceritakan semuanya dari awal sampai akhir.

“Nah, orang itu namanya Haoran. Dia pemuda yang sangat baik, sopan, dan bicaranya begitu tulus. Sekarang dia sedang bersiap-siap di kamarnya dan sebentar lagi kita akan bertemu dan berkeliling kota dengannya. Pasti jauh lebih seru daripada kalau hanya kita berdua saja,” ucap Dafi dengan penuh semangat.

Wajah Lili seketika bersinar gembira. “Benarkah? Wah, asyik sekali! Ada teman baru yang akan ikut jalan-jalan, aku jadi makin tak sabar ingin segera berangkat!”

Namun tiba-tiba Dafi mengeluarkan sebuah benda yang ia bawa, yaitu sebuah Weimao (Topi lebar dengan kain tirai panjang yang menjuntai ke bawah, yang jika dipakai akan menutupi seluruh wajah hingga bahu pemakainya).

Ia langsung menyodorkan benda itu kepada Lili. “Pakai ini sekarang,” perintahnya tegas. Lili menerima benda itu dengan bingung, alisnya terangkat tinggi. “Lho? Untuk apa ini, Kak? Kenapa aku harus menutup wajahku begini? Kan di sini tidak ada orang yang mengenal kita.”

Dafi langsung menjawab dengan alasan yang sudah disiapkannya. “Siapa yang tahu? Kota ini besar dan ramai, bisa saja ada kenalan Ayah atau orang dari kediaman yang mungkin lewat di sini. Kalau sampai ada yang mengenali kita, semuanya akan ketahuan, kau tidak mau kan pulang sebelum puas melihat-lihat segalanya, pemandangannya?”

Mendengar itu, Lili langsung mengangguk setuju. “Oh, begitu rupanya. Baiklah, aku akan pakai.”

Ia pun mengenakan Weimao itu, hingga wajah cantiknya kini tertutup rapat oleh kain tipis yang menjuntai, hanya menyisakan bayangan samar yang tak bisa dilihat jelas oleh siapa pun.

Sebenarnya, alasan yang diucapkan Dafi tadi hanyalah dalih. Ia takut wajah Lili dilihat sembarang orang, apalagi yang berniat buruk. Selama ini Lili hidup tertutup dan hanya dikenal oleh orang di kediaman, tapi sekarang mereka berada di luar. Dafi tahu banyak orang jahat di luar sana, dan jika ada yang tertarik pada kecantikan Lili, keselamatannya bisa terancam. Karena itu, ia sengaja menyuruh Lili menutup wajah demi keamanannya.

Setelah merasa semuanya sudah cukup aman, Dafi pun mengajak Lili keluar kamar. Bersama-sama mereka berjalan menuju ruang depan penginapan, tempat Haoran sudah menunggu dengan penampilan yang segar dan siap untuk berkeliling menikmati keindahan kota bersama.

  Di ruang depan Penginapan, Haoran sudah menunggu dengan santai, berdiri tegak sambil menatap ke arah lorong. Begitu melihat sosok Dafi dan seorang gadis muncul, wajahnya seketika tersenyum. Ia melambaikan tangan memanggil, “Dafi, ayo kemari!”

Dafi segera melangkah mendekat, tangannya erat menggenggam tangan Lili seolah takut gadis itu akan hilang. “Haoran, perkenalkan ini adikku, Lili,” ucapnya mengenalkan dengan nada tegas, sementara matanya menatap tajam ke arah pemuda di hadapannya.

Haoran mengangguk sopan, lalu pandangannya jatuh pada kain tirai yang menutupi seluruh wajah dan rambut Lili. Ia sedikit bingung dan kembali menatap Dafi. “Oh, jadi ini adikmu, Tapi kenapa ia harus tertutup begini? Bukankah di sini aman, tidak ada bahaya apa pun? Lagipula ada kau dan aku di sini, kita berdua pasti akan menjaganya, kalau dia merasa tidak nyaman memakainya, biarkan saja dilepas, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Wajah Dafi sedikit menegang, ia buru-buru mencari alasan. “Bukan begitu… cuma udara di luar sana agak panas dan banyak debu jalanan, jadi lebih baik ia menutup diri agar tidak terganggu.”

Haoran tersenyum mengerti, namun sorot matanya seolah bisa menembus dan membaca isi pikiran sahabat barunya itu. Ia mendekat sedikit, lalu berbicara dengan nada suara yang rendah namun terdengar jelas, disertai tawa ringan yang terdengar menggoda.

“Baiklah, baiklah, aku paham sekarang. Ternyata kau menjaga adikmu ini dengan ketat sekali, ya,” ucapnya sambil tersenyum geli, lalu melanjutkan dengan nada bercanda namun terdengar meyakinkan. “Tenang saja, tak perlu curiga begitu kepadaku. Aku sudah punya wanita ku sendiri, jadi aku sama sekali tak akan melirik apalagi mengambil adikmu ini darimu. Sekarang kau bisa tidur dan merasa tenang sepenuhnya.”

Mendengar ucapan itu, Lili yang tersembunyi di balik tirai kain tak bisa menahan senyum kecilnya, terhibur melihat tingkah kakaknya. Sedangkan wajah Dafi seketika memerah, Ia makin canggung, lalu buru-buru memalingkan wajah.

“Ayo kita berangkat! Masih banyak tempat bagus yang harus kita kunjungi, jangan buang waktu di sini terus!” ucap Dafi sedikit keras, lalu segera menarik tangan Lili dengan langkah cepat, meninggalkan Haoran yang masih tertawa kecil di tempatnya.

“Baiklah, ayo kita pergi!” seru Haoran antusias, lalu segera melangkahkan kakinya mengikuti mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!