NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 2

Pagi di Desa Angin Lembut selalu diawali dengan embun yang sejuk dan suara ayam yang saling bersahutan.

Shi Hao berjalan pelan menyusuri jalan tanah desa, tangan kirinya menopang tubuh dengan tongkat bambu, sementara tangan kanannya digandeng erat oleh Gu Qing Yi. Kain putih bersih menutupi mata kirinya, namun bibirnya menyunggingkan senyum yang tak pernah pudar.

Bagi penduduk desa, pasangan suami-istri ini adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga besar mereka. Shi Hao yang ramah dan Qing Yi yang baik hati selalu menjadi tempat warga meminta tolong, mulai dari membacakan surat hingga meracik obat demam.

"Pagi, A-Hao! Pagi, Nyonya Qing!" sapa Paman Wang, si pandai besi yang sedang memanaskan tungku.

"Pagi, Paman Wang," balas Shi Hao ramah, menoleh tepat ke arah suara. "Kudengar dari dentingan palumu, logam yang kau tempa hari ini sedikit kurang panas. Tambahkan kayu pinus kering, itu akan membuat mata pisaunya lebih tajam."

Paman Wang tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Mata A-Hao memang tidak bisa melihat, tapi telingamu lebih tajam dari elang! Akan kulakukan!"

Mereka melanjutkan langkah hingga tiba di pendopo desa. Di sana, beberapa tetua sedang duduk berjemur menikmati matahari pagi. Salah satunya adalah Kakek Li, sesepuh desa yang usianya sudah menginjak delapan puluh tahun lebih.

"A-Hao? Qing Yi? Sini, duduk sebentar dengan orang tua ini," panggil Kakek Li dengan suara serak dan napas yang berbunyi.

Qing Yi menuntun Shi Hao duduk di bangku kayu di sebelah Kakek Li, lalu memijat pelan bahu ringkih kakek tersebut.

Kakek Li menatap wajah Shi Hao dan Qing Yi bergantian, lalu menggelengkan kepalanya sambil tertawa terkekeh-kekeh, memperlihatkan gusinya yang hanya menyisakan tiga gigi.

"Kalian berdua ini... benar-benar tidak adil pada waktu," kata Kakek Li sambil memukul pelan lututnya sendiri. "Aku masih ingat betul, enam puluh tahun yang lalu saat kalian baru pindah ke desa ini. Waktu itu aku masih pemuda berumur dua puluh tahun yang kuat mengangkut tiga karung beras!"

Kakek Li menghela napas panjang bernada nostalgia.

"Dulu, kita ini seumuran padahal! Kita turun ke sawah bersama, memancing di sungai bersama. Tapi lihat aku sekarang... punggungku sudah bengkok seperti busur panah, rambutku rontok semua. Sedangkan kalian? Astaga, kalian masih saja terlihat seperti pengantin baru berusia dua puluhan! Apa Dewa Kematian lupa mencatat nama kalian di buku umurnya?"

Mendengar itu, warga desa lain yang lewat ikut tertawa mengiyakan. Mereka sudah terbiasa dengan fenomena "awet muda" pasangan Shi ini.

Shi Hao tertawa pelan. "Kakek Li terlalu memuji. Ini semua berkat teh herbal dari gunung yang selalu diracik oleh istriku setiap pagi. Ditambah lagi, hidup damai di desa ini tanpa memikirkan beban dunia membuat hati tenang. Hati yang tenang adalah rahasia umur panjang, Kakek."

"Benar sekali, Kakek Li," tambah Qing Yi dengan senyum manis, meski di dalam hatinya dia sedikit berkeringat dingin. Dia harus terus menerus menanamkan sugesti halus ke pikiran warga desa agar mereka menganggap keanehan umur ini sebagai hal yang wajar karena "obat herbal".

Namun, obrolan santai itu tiba-tiba terpecah oleh suara teriakan histeris dari arah ladang utara.

"TOLONG! MONSTER! MONSTER GUNUNG TURUN!"

Dari ujung jalan, Gou Dan (anak Kepala Desa yang gemuk) berlari terbirit-birit, tersandung kakinya sendiri hingga berguling-guling di tanah. Wajahnya pucat pasi, air matanya berlinang.

Di belakang Gou Dan, dari arah hutan, seekor siluman babi hutan berukuran sebesar sapi dewasa menerjang keluar.

Babi hutan itu tidak normal. Matanya menyala dengan warna ungu redup, dan taringnya meneteskan air liur yang membuat rumput di sekitarnya layu. Malam sebelumnya, ia secara tidak sengaja memakan rumput yang terpapar sisa Qi Sembilan Nether dari meteorit yang jatuh. Walau hanya terpapar setitik debu, itu cukup untuk membuat babi hutan biasa bermutasi menjadi monster yang kebal senjata tajam fana.

OINK! GRAAAW!

Babi raksasa itu menyeruduk gerobak sayur hingga hancur berkeping-keping. Para pemburu desa mencoba menembakkan panah, tapi anak panah itu patah saat mengenai kulit babi yang kini sekeras besi.

"Cepat! Berlindung!" teriak Paman Wang sambil mengangkat palu besinya.

Babi hutan mutan itu, merasa terganggu oleh keributan, mengalihkan pandangannya. Matanya yang merah keunguan terkunci pada kerumunan di pendopo desa, tepatnya ke arah Gou Dan yang sedang menangis memeluk tiang di dekat Shi Hao.

Dengan raungan marah, babi raksasa itu menerjang maju dengan kecepatan penuh, menundukkan kepalanya, bersiap menusuk siapa saja dengan taringnya yang mematikan.

"Suamiku, awas!" Qing Yi berseru.

Di balik lengan bajunya, jari lentik Qing Yi sudah membentuk segel pedang. Sebentuk Qi pembunuh tak terlihat berkumpul di ujung jarinya. Dia siap memotong babi itu menjadi ratusan daging cincang dalam sekejap mata, tidak peduli jika rahasianya sedikit terbongkar. Dia tidak akan membiarkan apapun menyentuh suaminya.

Namun, sebelum Qing Yi sempat melepaskan serangannya...

Shi Hao sedang duduk santai, menyilangkan kaki kanannya yang kaku di atas lutut kirinya. Kebetulan, sandal jeraminya terasa sedikit gatal karena ada kerikil yang masuk. Dia baru saja melepas sandal jeraminya dan memegangnya di tangan kanan untuk diketuk-ketukkan.

Mendengar suara langkah kaki yang sangat berat dan napas binatang buas berlari ke arahnya, insting Shi Hao yang tersegel bereaksi.

Dia tidak bisa melihat, tapi telinganya menangkap lintasan angin.

"Suara berisik apa ini? Debunya mengotori tehku," gumam Shi Hao dengan nada sedikit kesal.

Refleks, Shi Hao mengayunkan tangannya yang memegang sandal jerami itu, dan melemparnya ke arah suara.

Lemparan itu terlihat biasa saja bagi warga desa. Sama seperti kakek-kakek yang melempar sandal untuk mengusir anjing kampung.

Tapi bagi Qing Yi, yang memiliki mata Raja Dewa... dunia seolah melambat.

Saat sandal jerami butut itu lepas dari jari Shi Hao, sekelumit Aura Gravitasi Jantung Meteor (sisa dari senjata masa lalunya yang tertanam dalam memori ototnya) melapisi sandal tersebut. Ruang di sekitar sandal itu terdistorsi. Berat sandal jerami seberat dua ons itu, dalam sepersekian detik, berubah setara dengan jatuhnya sebuah gunung besi!

SWUUUSH!

Sandal jerami itu melesat membelah udara dengan suara peluit yang tajam.

BLAM!

Sandal itu menghantam tepat di tengah-tengah kening babi hutan raksasa yang sedang berlari kencang.

Tanah bergetar pelan.

Babi hutan seberat satu ton itu langsung berhenti secara tidak wajar, seolah menabrak dinding yang tak terlihat. Matanya yang berwarna ungu membelalak lebar hingga hampir keluar dari rongganya.

Lalu, BRUK.

Monster itu ambruk ke tanah. Kejang-kejang dua kali dengan mulut berbusa, sebelum akhirnya pingsan total tanpa perlawanan. Sandal jerami milik Shi Hao tergeletak santai di atas moncongnya.

Keheningan yang luar biasa canggung menyelimuti seluruh pendopo desa.

Paman Wang yang sudah bersiap mengayunkan palu, mematung dengan mulut ternganga. Kakek Li hampir menjatuhkan tongkatnya. Gou Dan lupa cara menangis.

Mereka menatap babi raksasa yang mengerikan itu, lalu menatap sandal jerami, dan akhirnya menatap Shi Hao yang masih duduk santai dengan kaki bertelanjang sebelah.

"Eh?" Shi Hao menggaruk kepalanya. "Apa aku mengenai sesuatu? Tadi rasanya seperti ada anjing liar besar yang mau menabrak Kakek Li."

Qing Yi buru-buru berlari, mengambil sandal jerami itu dari moncong babi yang pingsan, dan dengan cepat mengusap sisa-sisa Qi Kekacauan yang menempel sebelum ada yang menyadarinya. Keringat dingin menetes di pelipisnya.

Astaga, Suamiku... kultivasimu tersegel, tapi tubuhmu masih mengingat cara membunuh dewa! batin Qing Yi setengah panik.

Qing Yi segera memasangkan kembali sandal itu ke kaki Shi Hao, lalu berbalik menatap warga desa dengan tawa yang dipaksakan.

"Hahaha! Lihatlah, kebetulan yang sangat luar biasa!" seru Qing Yi dengan nada ceria yang dibuat-buat. "Babi hutan ini pasti sedang sakit jantung, dan saat berlari tadi, dia kehabisan napas tepat ketika suamiku melempar sandal. Benar-benar kebetulan!"

Warga desa saling pandang. Logika itu terdengar bodoh, tapi apa lagi penjelasannya? Masa iya lemparan sandal orang buta bisa membuat babi hutan pingsan?

"Y-Yah... babi hutan memang sering mati mendadak kalau terlalu banyak berlari di musim semi," kata Paman Wang, mencoba merasionalisasikan kejadian di depan matanya.

"Benar! A-Hao kita ini benar-benar membawa keberuntungan besar!" tambah Kakek Li, memukul pahanya sendiri sambil tertawa lega. "Dewa Keberuntungan pasti menyayanginya!"

Ketegangan seketika mencair. Warga desa bersorak gembira.

"Malam ini kita pesta daging babi guling!" teriak para pemuda desa.

Gou Dan, yang masih gemetar, perlahan berdiri. Dia menatap Shi Hao dengan rasa kesal dan malu karena harga dirinya hancur, tapi dia tidak berani protes melihat babi raksasa yang terkapar itu.

Shi Hao hanya tersenyum ramah, menyesap kembali tehnya yang mulai dingin.

"Istriku, ternyata tehnya masih enak," kata Shi Hao polos.

Qing Yi hanya bisa menghela napas panjang, tersenyum pasrah sambil memeluk lengan suaminya. Selama Shi Hao bahagia dan tidak mengingat masa lalunya yang penuh darah, Qing Yi rela menghabiskan sisa hidupnya untuk menutupi semua "kebetulan" luar biasa yang disebabkan oleh pria ini.

1
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
kasian berkali kali manggg wuuuu ini....
saniscara patriawuha.
sakit banget tuhhh rasaneee...
saniscara patriawuha.
sikattttttt lagiiii mangggg shiiiiii.....
saniscara patriawuha.
mantaffffff surataffff....
Hendra Saja
makin penasaran.....apa tidak bertemu dengan sang tiran Thor....
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
HINATA SHOYO
mantapp jiwa kerennn cuuyyyyy
HINATA SHOYO
kerenn poolĺll lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!