Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Yang Mirip
Pagi itu, suasana di ruang kerja sementara kepolisian terasa jauh lebih berat dari biasanya. Tim investigasi sudah bekerja keras sejak subuh. Elena duduk membisu di depan komputer jinjingnya, dengan jemari yang bergerak cepat di atas keyboard. Arthur berdiri agak jauh di belakangnya sambil memegang secangkir kopi, sementara Manuel berjalan mondar-mandir membaca lembar laporan berkas. Sisa ketegangan akibat insiden rapat kemarin pagi masih terasa menyengat di antara mereka. Arthur jauh lebih banyak diam, tidak lagi melontarkan lelucon sarkastik seperti biasanya.
Tiba-tiba, Elena menghentikan gerakan mengetiknya. "Aku berhasil mendapatkan sesuatu."
Arthur dan Manuel segera melangkah mendekat ke arah layar monitor.
"Rekaman kamera pengawas yang sempat aku pulihkan tadi malam ternyata menyisakan sebuah jejak digital yang sengaja ditinggalkan. Namun, ada hal yang jauh lebih penting," Elena memperbesar tampilan gambar pada layar. "Ini adalah jejak sepatu di koridor utama. Berdasarkan analisis forensik, ini bukan milik pengawal pribadi. Ukuran dan pola tapak solnya berbeda."
Arthur menyipitkan matanya. "Tunjukkan padaku."
Elena membuka dokumen foto jarak dekat dari jejak sepatu yang membekas samar di atas karpet. Arthur langsung membungkukkan tubuh tegapnya dan memperhatikan detail tersebut dengan saksama.
"Ini adalah karakteristik sepatu kerja," kata Arthur dengan suara rendah dan formal, tanpa ada nada menggoda seperti hari-hari sebelumnya. "Bukan sepatu formal. Lihat pola potongan karetnya. Ini jenis sepatu milik seseorang yang intensitas berjalan di atas tanah atau rumputnya sangat tinggi."
Manuel mengangguk setuju. "Petugas kebun."
Elena melirik Arthur sekilas, merasakan perubahan sikap pria itu yang kini menjadi sangat dingin dan berjarak. "Analisis yang tepat. Jejak ini memang mengarah ke area taman belakang."
Arthur hanya memberikan seulas senyuman tipis yang kaku sebagai bentuk profesionalisme. "Kerja bagus, Elena. Kemampuan teknologimu memang sangat krusial di sini."
Elena tertegun sejenak mendengar pujian datar tanpa embel-embel rayuan itu. Ada rasa bersalah yang kembali mencubit dadanya. Ia hanya memalingkan wajah kembali ke monitor. "Aku hanya sedang melakukan pekerjaanku."
Manuel berdeham untuk mencairkan kecanggungan. "Cukup. Kita interogasi petugas kebun itu sekarang juga."
Sore harinya, setelah petugas kebun bernama George Miller diinterogasi cukup lama oleh Manuel di ruang pemeriksaan, tim akhirnya mendapatkan sebaris informasi yang sangat penting. George mengaku bahwa pada malam kejadian, ia sempat melihat siluet seseorang berpakaian hitam keluar dari pintu samping rumah Senator sekitar pukul 23.15. Awalnya ia mengira orang itu adalah salah satu pengawal pribadi, tetapi sekarang ia baru menyadari bahwa postur dan bentuk tubuhnya sangat berbeda. Namun, George tidak mampu memberikan deskripsi wajah secara mendetail karena kondisi pencahayaan yang sangat gelap.
Setelah sesi interogasi selesai, Manuel mengusap wajahnya yang kelelahan. "Informasi ini masih kurang. Sore ini juga kita panggil saudara sepupu Senator, Derek Grant."
Derek Grant tiba di kantor polisi tepat pukul 16.30. Pria berusia tiga puluh empat tahun itu memiliki postur tubuh yang tinggi, rambut cokelat pendek, dan paras wajah yang cukup tampan. Ia mengenakan kemeja biru muda yang dipadukan dengan celana bahan formal.
Arthur, Manuel, dan Elena menyambut kedatangannya di ruang pertemuan.
Derek menyunggingkan senyuman ramah kepada mereka. "Saya datang secepat mungkin setelah menerima panggilan dinas dari Anda. Bagaimana saya bisa membantu proses penyelidikan ini?"
Interogasi pun dimulai dengan atmosfer yang cukup santai. Derek menjawab semua rentetan pertanyaan Manuel dengan sikap yang sangat tenang. Ia mengaku terakhir kali bertemu dengan Senator Grant sekitar dua minggu lalu untuk membahas urusan bisnis internal keluarga. Ia juga menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui jika ada masalah besar yang sedang menimpa lingkaran keluarga Grant belakangan ini.
Namun, Arthur sama sekali tidak mendengarkan isi percakapan itu secara utuh.
Sepasang mata hijaunya menyipit tajam, fokus penuh memperhatikan setiap jengkal kontur wajah Derek. Ada sesuatu yang mengusik intuisi jeniusnya. Garis rahang pria itu, bentuk hidungnya, hingga sudut matanya, semuanya terasa begitu familier di dalam ingatan Arthur.
Struktur wajah itu sangat mirip.
Arthur memanggil kembali memori visual dari rekaman kamera pengawas yang ditunjukkan oleh Elena kemarin, yaitu sosok pria misterius berpakaian hitam yang berjalan cepat menembus koridor tepat sebelum sistem kamera dimatikan secara paksa. Meski wajah pelaku di video tersebut tampak samar, bentuk anatomi kepala dan garis rahangnya memiliki tingkat kemiripan yang luar biasa tinggi dengan Derek Grant yang saat ini sedang duduk di hadapannya.
Arthur memilih untuk mengunci mulutnya. Ia tidak langsung melontarkan tuduhan apa pun. Pria Wales itu hanya terus mengamati setiap gerak-gerik Derek dengan tenang, sambil sesekali menganggukkan kepala secara formal setiap kali mendengar jawaban dari pria itu.
Elena yang duduk tepat di sebelahnya sempat melirik ke arah Arthur. Sebagai sesama orang pintar, ia tahu betul bahwa isi kepala Arthur sedang memproses sebuah kesimpulan besar. Wajah Arthur yang biasanya santai kini tampak mengeras dan sangat serius.
Saat interogasi sudah hampir mencapai akhir, Arthur mengeluarkan ponselnya dengan sebuah gerakan yang terlihat kasual dan biasa. Ia berpura-pura sedang memeriksa pesan masuk, padahal sebenarnya ia sedang mengarahkan lensa kamera ke arah wajah Derek, mengambil beberapa kali jepretan foto secara diam-diam dari sudut yang tidak akan memancing kecurigaan orang lain.
Aku harus mencocokkan anatomi ini nanti di kamar, pikirnya di dalam hati.
Setelah Derek Grant berpamitan dan melangkah pergi, Manuel segera menutup pintu ruangan lalu mengembuskan napas panjang. "Menurut pandanganku, pria itu berkata jujur. Tidak ada satu pun gelagatnya yang mencurigakan."
Elena mengangguk, menyetujui opini tersebut. "Sikapnya sangat kooperatif. Namun, aku tetap akan memeriksa riwayat aliran keuangannya malam ini."
Arthur yang selama interogasi hanya membisu, akhirnya membuka suara. "Kita lihat saja nanti. Ada satu poin yang ingin aku pastikan terlebih dahulu."
Manuel menoleh ke arahnya dengan penasaran. "Apa yang kau temukan?"
Arthur menyunggingkan senyum tipis yang penuh rahasia. "Aku akan memberi tahu kalian setelah aku mendapatkan keyakinan penuh. Untuk saat ini, aku memilih untuk kembali ke hotel terlebih dahulu. Ada data visual yang harus aku bandingkan."
Elena menatap Arthur dengan mata yang menyipit menyelidik. "Kau sedang menyembunyikan sesuatu dari kami, Wales."
Arthur hanya menyeringai kecil tanpa membalas dengan kalimat menggoda seperti biasanya. "Mungkin saja. Namun, jika analisisku kali ini salah, kalian berdua boleh memarahiku sepuasnya."
Malam harinya, di dalam kesunyian kamar hotel, Arthur duduk tegak di depan laptop. Ia membuka berkas foto yang diambilnya secara diam-diam dari wajah Derek Grant sore tadi, lalu menyejajarkannya dengan potongan gambar rekaman kamera pengawas yang berhasil dipulihkan oleh Elena kemarin.
Semakin ia memperbesar skala resolusi gambar tersebut, semakin jelas pula tingkat kesamaan struktural di antara keduanya.
Arthur menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, lalu menghela napas panjang menembus kegelapan kamar. "Menarik sekali," gumamnya pelan pada diri sendiri. "Seorang saudara sepupu, atau mungkin motifnya jauh lebih kompleks daripada sekadar hubungan kekerabatan biasa."
Ia mengambil ponselnya, lalu mengirimkan sebaris pesan singkat ke nomor Manuel. Dalam pesannya, Arthur menulis bahwa besok pagi mereka harus berdiskusi lagi karena ada hal krusial yang perlu didalami lebih jauh mengenai Derek Grant.
Setelah itu, jarinya mengetik pesan kedua yang ditujukan khusus untuk nomor Elena. Ia menuliskan ucapan terima kasih atas berkas rekaman kamera kemarin, menegaskan bahwa data tersebut sangat membantu analisinya.
Elena membalas pesan tersebut dengan sangat cepat. Ia menulis agar Arthur tidak besar kepala terlebih dahulu, karena jika analisis pria itu terbukti keliru esok hari, ia akan menjadi orang pertama yang mengolok-oloknya.
Arthur tersenyum kecil menatap pendar cahaya layar ponselnya di dalam kamar yang temaram. Kasus pembunuhan Senator Grant ini terbukti bergerak semakin rumit, dan Arthur mulai meyakini bahwa karakteristik wajah Derek Grant adalah kunci utama yang selama ini tersembunyi dari radar penyelidikan mereka.