"Tidak akan, aku menyukai kamu sejak pandangan pertama." yakin Johan.
'Karena aku mirip ibu? Tuan, apakah kamu tidak tau bahwa aku ini adalah putrimu.'
Akhirnya aku bertemu orang yang sering disebut-sebut namanya di setiap pertengkaran ayah dan ibu, hah!
Karunia , 19 tahun.
*
Dewi pelangi, 28 tahun.
Selesai makan mereka duduk santai di ruang tengah menonton televisi. Dewi bersandar di dada Johan, dagu Johan di pucuk kepala istrinya.
"Mas, bagaimana kalau kita cari seorang perempuan yang mau dihamili." suara Dewi tiba-tiba mendongak pada Johan.
"Maksudnya apa sayang?" tanya Johan merasa aneh dengan perkataan istrinya, Dewi.
*
Kedua perempuan diatas adalah isteri Johan Alamsyah 37 tahun, Pria matang itu berniat poligami agar terhindar dari masksiat.
Apakah niatnya akan tercapai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sadar T'mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Di ruangan Johan.
Karunia menyuapi pria yang telah menikahi nya itu dengan menahan rasa kesal, yang disuapin pula menatap nya gak berkedip seolah mau menerkam.
"Kamu juga makanlah, sini aku suapi." ujar Johan mengambil sendok dari tangan Karunia.
"Tidak usah, Tuan." tolak Karunia menjauhkan sendoknya.
"Ya sudah, aaa..." Johan membuka mulutnya.
Hm, kembali Karunia menyuapi nya, Johan merampas paksa sendok dari tangan Karunia.
"Aa..buka mulutnya."
Johan mengarahkan sendok penuh puding ke mulut Karunia. Ck, Karunia membuka mulutnya.
"Enak kan! Ini masakan istriku Dewi dan aku sangat mencintai nya, kamu itu gak ada apa apanya dibandingkan istriku jadi tidak usah khawatir. Aku tidak mungkin jatuh cinta padamu, ini hanya bentuk perhatian seorang suami pada istrinya. Tidak ada rasa cintai." jelas Johan panjang kali lebar.
"Iya ya, saya percaya. Lagian siapa yang butuh cinta Tuan, saya menerima tawaran karena ada imbalan. Tidak ada urusannya dengan cinta jadi anda jangan kegeeran. Saya pastikan tidak akan pernah jatuh cinta pada anda, kalau sampai itu terjadi saya rela di tab...ummmph."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya mulut Niah telah disumbat oleh bibir Johan. Karunia kaget menarik bibirnya, mendorong Johan sekuat tenaga.
Plak!
Satu tamparan mendarat di wajah Johan. "Ini tidak ada dalam perjanjian." ketus Niah, berdiri keluar dari ruangan Johan.
Di depan pintu Shopie yang telah menunggu nya, mencekal tangan Karunia. Ia tadi menguping mencoba mencuri dengar tapi tidak terdengar apa apa, benar benar kedap suara.
"Di bayar berapa kamu menjadi rahim pengganti?" tanya Shopie.
"Bukan urusan kamu!" Karunia nada ketus menghempas tangan Shopie, masuk ke dalam lift yang terbuka.
Devan barusan keluar. "Niah, mau kemana?"
Tanya Devan, Niah tidak menjawab pintu lift pun tertutup.
Hm, Devan menatap Shopie, Shopie mengangkat bahu tanda tau. Suara bel berbunyi, itu panggilan dari Johan kalau lagi membutuhkan nya, Shopie memandang Devan sinis, di matanya seolah mengejek.
~
Di dalam ruangan nya Johan terperangah.
Berani sekali si janda kembang itu menampar ku.
Johan menekan bel memanggil Shopie ke ruangannya. "Iya, Pak. Tidak ada rapat hari ini, saya membaca email dari Devan anda membatalkan nya." jawab Shopie setelah di dalam ruangan.
Ia berusaha bersikap profesional melakukan tugasnya sebagai sekretaris, walaupun ia tau untuk apa Johan memanggil nya. Apalagi kalau bukan layanan plus plus.
Dan benar saja, Johan menjentikkan jarinya, menunjuk pada sela antara kakinya yang terbuka. "Pak, bukankah anda telah membuang saya, saya kira anda tidak mau lagi disentuh oleh saya." Shopie alasan menolak, pura pura jual mahal.
"Jadi kamu benar benar ingin aku campakkan!" sergah Johan berang.
"Tentu tidak Johan, baiklah kalau itu yang kamu inginkan." Shopie tidak lagi bicara formal.
Shopie mendekat ke Johan berjongkok di depan pria itu, membuka ikat pinggang menurunkan resleting celana Johan. Shopie menelan ludah melihat Junior yang sudah berdiri tegang.
Aku masih bisa merebut Johan, setelah anak mereka lahir gadis bodoh itu akan segera diceraikan. Setelah itu, akan aku bongkar perselingkuhan Johan dengan ku maka Dewi sendiri yang akan meninggalkan suaminya. Taraaaa, jadilah Johan milikku seorang.
Sambil mempermainkan Junior, Shopie mengatur siasat.
Johan bersandar menengadah memicit micit batang hidungnya, membiarkan Shopie melakukan blow job padanya.
*
Karunia di dalam taksi menuju rumah Dewi, hatinya sedih Johan telah melecehkan nya.
Dasar lelaki kurang ajar, gak bisa dipercaya.Gak cinta tapi cium cium, hah! Apa aku bilang Bu Dewi saja, auto berantam pula aku yang diusir seperti ibu. Bagaimana aku bisa balas sakit ibu pada nenek lampir itu.
"Nyonya." sapa Karunia sesampai di rumah.
Dewi mengerut dahi melihat Karunia telah kembali segera menyeret nya ke lantai dua. "Bukankah kita akan bertemu di rumah sakit Niah?"
"Ha, saya gak tau Nyonya. Tuan tidak bicara apa apa pada saya."
"Kenapa kamu gak angkat panggilanku?"
"Maaf Nyonya, tidak ada panggilan masuk di ponsel saya. Nyonya telpon siapa?"
"Coba lihat nomor kamu." Karunia memberikan nomornya, Dewi mencocokkan dengan panggilannya.
"Miss satu angka, pantas saja. Tadi waktu aku nelpon Johan, apakah kamu ada di sana?"
"Ada Nyonya." jawab Karunia apa adanya.
"Hm, jadi benar kamu banyak uang Karunia?"
Hm, era sekarang mudah saja bagi Tuan Johan mencari informasi tentang dirinya, buat apa pura pura lagi. "Tidak Nyonya, cuma 3 milyar lebih." jawab Karunia.
"Ei, banyak itu!" Dwi terlonjak kaget menepuk bahu Niah.
"Kemarin waktu datang kenapa kamu kayak gembel?" tanya Dewi.
"Namanya naik Bus Nyonya, di terminal kita harus terlihat gembel. Soalnya banyak copet mengintai, kita harus waspada dan gak boleh terlalu mencolok juga. Kalau boleh tak kasat mata biar gak ada orang yang berniat jahat pada kita." jelas Karunia.
Ini anak polos gak neko-neko, yang harus diawasi itu Mas Johan. Bagaimana kalau setelah ini dia jatuh cinta pada Niah, aku sendiri sudah mulai menyukai nya.
"Bagaimana Niah waktu di kantor Johan, apa kamu melihat ada gelagat aneh antara Johan dan sekretarisnya?"
"Biasa saja Nyonya. Tuan kalau bicara kasar dan keras bikin sakit jantung, siapa yang mau jadi selingkuhan nya. Cuma Nyonya yang betah karana Tuan bicara lembut hanya pada Nyonya." jelas Karunia.
Tidak ada guna ikut campur, lebih baik aku mengurus diriku sendiri.
Batin Karunia. "Nya, kalau tidak ada lagi saya mau kembali bekerja."
"Kamu istirahat saja Niah, satu jam lagi kamu bersiap kita ke dokter."
"Ya udah, terima kasih Nyonya." ucap Karunia.
~>
Dewi antara sedih ataukah bahagia, hati kecilnya mempercayai Karunia, Johan lah yang perlu dikhawatirkan.
Apakah aku telah salah mengambil keputusan. Harusnya aku memakai jasa orang yang tidak disukai Johan, seperti Shopie misalnya jadi gak baper. Firasat ku mengatakan, Mas Johan menyukai Karunia dan aku sendiri yang menikahkan mereka, ah. Kata orang tua, lima tahun usia pernikahan sering sekali datang badai dalam rumah tangga, akankah aku sanggup bertahan menghadapi badai itu.
Tok tok tok.
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Dewi. "Nyonya, supir sudah datang menjemput."
"Baik mbok, apa Niah sudah siap?"
"Sudah Nya, menunggu di ruang tengah." jawab mbok Senah.
"Baik mbok, sebentar saya turun."
Dewi mengambil tas kecilnya, ngaca satu kali lalu keluar dari kamar bertemu Niah di ruang tengah. Seperti biasa, penampilannya lebih mirip Nona muda daripada asisten rumah tangga.
Hm, Dewi menarik ujung bibirnya. "Ayo, Niah."
"Siap Nya." jawab Karunia.
"Mbok, pergi dulu ya." pamit Dewi.
"Iya Nya, semoga sukses."
"Bi, Niah pergi dulu." Karunia menyalam punggung tangan mbok Senah.
"Hm." gumam mbok Senah, bahagia. Walaupun jadi istri majikan, Karunia tau batasan nya tidak lantas ngelunjak.
*****♥️
Jumpa lagi, 👍
kemana sofinya Thor