“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Guling atau Suami?
Ryu mengusap wajahnya kasar, melepaskan celana panjang dan kemejanya, lalu melemparnya ke keranjang pakaian kotor. Ia keluar dari kamar mandi dengan celana pendek longgar yang membentuk otot pahanya.
Ryu melihat Seroja masih duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan.
"Sudah malam, kita tidur," ucap Ryu datar seraya berjalan menuju ranjang.
Seroja meletakkan ponselnya di atas nakas dan saat mengangkat wajahnya, ia melihat Ryu bertelanjang dada. Sejenak ia tertegun melihat otot dada dan perut Ryu yang tercetak sempurna. Tapi hanya sejenak.
"Kenapa gak pakai baju?" tanyanya tenang meski jantungnya mulai tak karuan.
"Apa dia bakal minta haknya sebagai suami?" batin Seroja.
Bukan tanpa alasan Seroja berpikir demikian. Ini adalah malam pertama mereka tidur bersama. Dan mereka sudah menikah.
"Aku gak biasa tidur kalau pakai baju," sahut Ryu ringan seraya naik ke atas ranjang.
Dalam hati Ryu penuh tanda tanya, "Apa tubuhku gak bagus? Kenapa dia gak terpesona sama sekali?"
"Oh," gumam Seroja pendek berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Kenapa?" tanya Ryu. "Kamu merasa gak nyaman karena aku tidur gak pakai baju?"
"Nggak kok," jawab Seroja cepat. "Lagipula, tidur bertelanjang dada memang bagus untuk kualitas tidur."
Dalam hati ia melanjutkan, "Bagus juga untuk kesuburan pria, apalagi buat cuci mata."
"Syukurlah kalau kamu gak terganggu," ucap Ryu. "Soalnya meski aku tidur pakai baju, aku suka gak sadar melepasnya pas tidur."
"Oh, itu kebiasaan yang bisa digolongkan ke dalam parasomnia," sahut Seroja.
Ryu mengernyit tipis. "Parasomnia? Apa itu?"
"Parasomnia adalah gangguan perilaku saat tidur," jelas Seroja.
"Gangguan?" tanya Ryu.
"Ya, tapi yang kamu alami masih termasuk jenis perilaku parasomnia ringan. Kebiasaan melepas baju itu biasanya adalah kebiasaan otomatis saat tidur karena tubuh merasa kepanasan atau tidak nyaman."
"Apa ini berbahaya?"
Seroja menggeleng pelan. "Kalau cuma buka baju doang..." Seroja memalingkan wajahnya. "gak buka yang lain, itu masih aman." Pipinya merona.
"Kalau tidur sambil jalan?"
"Berjalan sambil tidur, mengigau, atau melakukan gerakan tertentu tanpa sadar, itu juga masih tergolong aman," jawab Seroja. "Selama tidak mengganggu orang lain dan tidak membahayakan diri sendiri."
Seroja akhirnya menatap Ryu. "Kamu punya kebiasaan tidur sambil jalan?"
"Enggak. Cuma penasaran saja. Soalnya dulu ada teman yang ngaku suka berjalan sambil tidur. Pernah kebangun berdiri di pojok kamar mandi, bahkan buka kunci rumah dan tidur di teras," terang Ryu mengingat cerita teman SMA-nya.
"Itu sudah tergolong bahaya. Apalagi kalau perempuan dan keluarnya pas malam-malam."
"Kamu sepertinya tahu banyak soal medis." Ryu menyipitkan matanya. "semester berapa kamu berhenti kuliah?"
"Semester empat," jawab Seroja, lalu melirik jam di dinding. "Sudah larut. Ayo tidur."
"Hm," sahut Ryu.
Ryu mematikan lampu utama, menyalakan lampu tidur, lalu berbaring. Seroja yang sudah berbaring lebih dulu, menarik selimut menutupi tubuhnya hingga ke dada.
Ruangan mendadak hening. Tak ada yang bicara. Hanya suara deru pendingin udara yang terdengar samar.
Ryu melirik Seroja, ada rasa canggung karena ini pertama kalinya ia tidur bersama orang lain. Demikian pula dengan Seroja.
Hingga entah berapa lama berlalu, akhirnya mereka sama-sama tertidur.
Namun, tak ada yang tahu bagaimana posisi mereka saat tertidur nanti.
Pagi datang bersama suara kendaraan di kejauhan yang melintas.
Seroja menggeliat kecil memeluk gulingnya, tubuhnya terasa hangat. Tapi saat kesadarannya mulai terkumpul, ia merasa ada yang berbeda.
"Kenapa gulingku terasa lebih keras dari biasanya? Dan... biasanya wangi gulingku gak kayak gini."
Ia meraba gulingnya dari atas ke bawah, mengendus aromanya. Seketika matanya terbuka dan dada keras berotot itu terpampang jelas di depan matanya. Tangannya yang ternyata meraba kulit perut kini membeku.
"Kau ingin menggodaku?"
Suara serak Ryu membuatnya tersentak dan buru-buru menjauh.
"Maaf, aku biasa tidur sambil meluk guling," ucap Seroja seraya beranjak duduk. Pipinya merona.
"Tak apa, aku juga mengira kau adalah gulingku," ucap Ryu, lalu turun dari ranjang.
Seroja menatap punggung Ryu yang akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia masih ingat bagaimana tangannya menyentuh kulit hangat yang terasa kencang dan berotot tadi.
"Astaga... memalukan sekali."
Seroja kembali menjatuhkan tubuhnya di kasur lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sementara itu di kamar mandi, Ryu berdiri di depan wastafel dengan mata terpejam. Ia masih bisa merasakan tangan kecil dan hangat itu bergerak dari dada ke perutnya.
"Sial!"
Ryu mengusap wajahnya frustrasi. Ia merasakannya. Sesuatu di bawah sana menegang.
Ryu menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Berharap bisa menurunkan panas badannya dan menenangkan adik kecilnya yang mulai rewel.
Sarapan pagi sudah terhidang di meja makan. Ryu, Seroja dan Nyonya Hanifah sudah duduk di kursi masing-masing.
"Bagaimana lutut Nenek hari ini?" tanya Seroja sambil mengisi mangkuk dengan bubur.
"Rasanya lebih baik. Nggak terlalu sakit lagi," jawab Nyonya Hanifah. Bibirnya melengkung tipis. "Terima kasih Seroja," ucapnya tulus.
"Sama-sama, Nek," sahut Seroja. "Aku juga ikut senang kalau Nenek sehat."
"Kamu mau pergi?" tanya Nyonya Hanifah saat melihat Seroja memakai celana panjang yang dipadu dengan blouse.
"Iya, Nek," sahut Seroja sambil meletakkan mangkuk yang berisi bubur di depan Ryu. "Rencananya aku mau lanjut kuliah."
Nyonya Hanifah langsung tersenyum lebar.
"Bagus itu. Nenek mendukungmu," katanya antusias.
"Kamu bisa bawa mobil?" tanya Ryu ragu.
"Bisa," jawab Seroja tenang.
"Bagus. Kamu bisa, pakai mobil di garasi. Pilih saja yang kamu suka."
"Kamu gak punya motor?" tanya Seroja. "Aku lebih suka pakai motor. Soalnya lebih fleksibel kalau pas arus lalu lintas padat, apalagi macet."
"Aku cuma punya motor sport," sahut Ryu sebelum menyuapkan bubur ke mulutnya.
"Ya sudah, aku pakai motor sport kamu aja," kata Seroja enteng.
"Uhuk--!"
Ryu hampir tersedak buburnya.
Tangan Nyonya Hanifah yang hendak menyuapkan bubur ke mulutnya berhenti di udara.
Ia langsung menoleh ke arah Seroja. "Kamu bisa naik motor sport?"
"Dulu pernah belajar," sahut Seroja pendek.
"Beli saja yang baru," kata Nyonya Hanifah. "Motor matic atau bebek, biar nyaman."
"Nggak usah, Nek," tolak Seroja lembut. "Pakai yang ada aja. Kebetulan aku juga suka naik motor sport."
"Ya sudah, terserah kamu saja. Asal hati-hati di jalan," kata Nyonya Hanifah akhirnya.
"Siapa yang ngajarin kamu naik motor sport?" tanya Ryu penasaran.
"Tony," jawab Seroja sambil menyuap buburnya.
Tangan Ryu yang menyendok bubur langsung berhenti di udara. Rahang Ryu mengeras samar.
...🔸🔸🔸...
...“Kenyamanan sering tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan tanpa sadar.”...
...“Kadang hati mulai terbiasa pada seseorang sebelum logika sempat menolaknya.”...
...“Tanpa sadar, hati mulai terbiasa pada seseorang yang awalnya terasa asing.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Bagus Seroja... Lanjutkan lah lagi kuliahmu itu! Sayang loh, kslau nggk di lanjutkan!:😂😂😂