NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^28

"Wahhh, bagaimana bisa dia menemuinya di saat salah satu murid di tempatnya bekerja sudah mengetahui sikap busuknya itu?" Sungut seorang gadis yang masih tidak percaya dengan dua manusia di depan matanya saat ini.

Menggeleng pelan, dengan kedua tangan berada di pinggangnya, walau sesaat. Sembari tersenyum masa. Sebelum, melangkah pergi dari tempatnya berdiri saat ini. Karena, Austyn harus tiba di rumah sebelum ibunya melihat sepupunya lebih dulu. Itu akan menjadi masalah lama yang terus diulang.

Tetapi, niatnya terurung saat satu hal terlintas di kepala. Kembali melihat dua punggung familiar yang kini telah masuk kedalam sebuah tempat terlarang bagi remaja di bawah umur seperti Austyn.

"Aku ingin memberi mereka ancaman agar aku mendapat apa yang ku mau. Tapi, bagaimana bisa aku masuk kedalam sana?" Gumam Austyn dengan kening mengerut samar, karena isi kepala mulai mencari cara untuk melewati akses terlarang itu karena usia.

"Tunggu, bukankah tempat ini sering sekali pamanku datangi? Mereka akan mengijinkan ku, bukan? Jika aku mencari pamanku sebagai alasannya." Terus saja bermonolog sendiri, Austyn tidak peduli dengan sekitarnya yang terlihat tidak ada siapapun kecuali gadis itu sendiri.

"Tapi, mereka akan memanggil pamanku untuk keluar dari pada mengijinkan ku masuk. Karena pekerjaan yang akan mereka korbankan jika menuruti perkataan ku." Seperti orang yang sudah kehilangan kewarasannya, Austyn masih saja berargumen dengan dirinya sendiri.

"Benar," kenapa Austyn mengangguk kecil dengan pandangan kembali melihat kearah di mana tempat mewah itu berada. "Tidak seharusnya aku mengganggu pekerjaan mereka."

"Tidak mungkin juga aku menunggunya disini."

Tersentak akan sebuah panggilan masuk yang berasal dari benda pipih di dalam saku rok sekolah Austyn. Membuat tangan gadis itu merogoh, untuk melihat siapa yang berani menghubunginya.

Satu nama yang tertera langsung membuat Austyn mendengus kesal. "Untuk apa dia menghubungi ku?" Tanpa menerima panggilan itu Austyn mematikan daya handphonenya, agar tidak lagi merasa terganggu.

Kini Austyn memilih melangkah pergi untuk pulang kerumah, walau hatinya begitu sangat berat. Karena, jika Austyn tiba di rumah, ibunya akan melontarkan kalimat tanya pada Austyn. Dan itu tidak hanya sekali, tapi berulang kali.

"Jika kepala sekolah mengumumkannya sejak awal, aku tidak akan seperti ini." Rendah Austyn yang terus berjalan pelan di atas trotoar pejalan kaki. Mengabaikan orang-orang lalang di sekitarnya.

Hingga langkah itu tiba di halte bus yang akan mengantarkan Austyn pulang ke rumah. Memilih duduk di kursi panjang dengan pandangan kosong lurus kedepan. Membiarkan orang-orang di sekitar mulai menaiki bus yang baru saja terhenti dihadapan Austyn. Masih pada posisinya. Melupakan niat awal yang ingin segera pulang kerumah.

"Jika nilai ku tidak seburuk itu, apa keadaannya akan berubah?" Cetus Austyn untuk dirinya sendiri.

Sedikit membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan yang bertautan berada di kening gadis itu. Kepalanya benar-benar merasa pusing, ingin rasanya Austyn membenturkan kepalanya pada dinding. Agar isi kepalanya tidak lagi mengingat apapun. Terutama, dalam hal persaingan nilai. Itu sangat melelahkan batin.

...ʚɞ...

Mencari ataupun di cari. Kedua hal itu tidak akan pernah sanggup membesarkan ego dalam jiwa seseorang, yang tidak begitu memikirkan sebuah persaingan keluarga maupun dalam hal pendidikan. Karena persaudaraan ternyata jauh lebih dalam segi apapun. Tetapi, diri tidak lagi bisa mengalah akan hal yang menyangkut orang-orang tersayangnya. Terutama sosok wanita yang telah mengandungnya selama 9bulan.

Diam, menatap rumah besar yang telah menjadi saksi bisu kehadirannya di muka bumi ini. Dengan pandangan sendu penuh makna. Hingga seorang pelayan wanita dewasa berjalan cepat menghampiri pemuda itu. Membuat sang empu sedikit tersenyum sembari mengernyitkan sekilas keinginannya. Akan raut wajah sang pelayan yang terlihat sangat gelisah.

"Sepertinya tuan muda tidak perlu masuk lebih dulu kedalam rumah." Sangat gelisah dan takut, pelayan itu melontarkannya dengan sangat hati-hati. Karena tidak ingin melukai perasan pemuda itu.

"Apa dia belum pulang?" Datar sang pemuda yang semakin membuat pelayan itu menundukkan pandangannya.

"Maafkan saya tuan muda."

"Apa aku harus mengorbankan diriku demi sikap buruknya?" Tanya sang pemuda yang terdengar sangat kesal.

"Maafkan saya tuan." Lagi, pelayan itu hanya bisa mengatakan satu kalimat yang sangat pemuda itu benci. Karena, pelayan tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi mereka juga yang harus mengatakan maaf.

Tersenyum masam, sebelum melangkah pergi dari lingkungan rumah yang membuat dadanya sesak. Sulit untuk bernapas. Tapi pemuda itu juga harus bertahan hingga mendapatkan apa yang dia mau.

Merogoh saku celana seragam sekolahnya untuk mengambil benda persegi yang kini diletakkan pada daun telinganya setelah mencari satu nama yang berada di dalam kontak nomor handphonenya.

"Berhentilah menjadi anak kecil. Terimalah telpon dariku." Gumam sang pemuda yang kembali tersenyum masam, saat panggilannya diputuskan begitu saja.

Sebentar melihat layar handphonenya, sebelum menyimpannya kembali tanpa menghentikan langkah kakinya terus berjalan untuk mencari keberadaan sosok yang berada di ujung seberang sana. Mungkin.

Tapi saat berada di penyeberangan jalan kedua mata sang pemuda tertuju pada sosok familiar yang berdiri dengan raut wajah murung. Dan lagi membuat pemuda itu tersenyum masam.

Melangkah melewati zebra cross saat lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau. Dan hal itu tidak membuat kaki sosok familiar itu melangkah.

"Berhentilah membuat masalah, karena aku ingin cepat tidur malam ini." Lontar sang pemuda yang membuyarkan lamunan sang gadis di depan matanya saat ini.

"Aku tidak membuat masalah, dan masalah itu ada pada dirimu." Kesal sang gadis yang membalas tatapan pemuda itu.

"Austyn." Terdengar sangat lelah. Pemuda itu tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi.

"Aku tahu," cepat Austyn, yang diam sejenak menatap lawan bicaranya dengan sorot mata sendu penuh kesedihan. "Semua kesalahan itu ada pada diriku. Jadi, berhentilah bersikap sebagai pahlawan karena kau bisa mengalahkanku."

"Kau mau es krim?" Akhir sang lawan bicara yang entah kenapa begitu sangat kalah jika sudah berhadapan dengan sepupunya sendiri. Apalagi, pemuda itu tahu. Kenapa Austyn memilih telat pulang ke rumah ketimbang telat masuk sekolah.

Mungkin, dan itu sangat pasti. Rumah memang sangat menakutkan.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!