Novelette
Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.
Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.
Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.
Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.
Kim membawa pesan yang sulit dipercaya
Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.
Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 | Bayang-bayang di Sekitar
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...
Libur sekolah masih berlangsung, namun bagi Iris, waktu ini tidak digunakan untuk bermalas-malasan. Di dalam Shelter yang sunyi dan futuristik, suasana terasa sangat serius. Iris mengenakan setelan latihan khusus, matanya terpejam erat sambil duduk bersila di tengah ruangan.
Di depannya, terdapat sebuah meja kecil yang berisi berbagai macam cairan berwarna-warni, bunga, dan juga beberapa perangkat elektronik kecil.
"Fokus, Nona Iris. Aktifkan sensor mikro di ujung jari dan hidung Anda. Sistem akan membantu menganalisis komposisi molekul," instruksi Kim dengan nada tenang namun tegas.
Iris menghembuskan napas panjang, lalu perlahan membuka matanya yang kini bersinar samar dengan cahaya biru. Ia mengulurkan tangan ke arah sebuah gelas berisi air bening.
[Analisis Dimet...]
[Tidak ditemukan zat berbahaya. Aman.]
Kemudian ia beralih ke sebuah piring kecil berisi bubuk berwarna putih.
[Deteksi Zat...]
[Ditemukan senyawa Halusinogen tingkat rendah. Kategori: Berbahaya.]
"Benar sekali," kata Kim sambil mengangguk puas. "Musuh kita tidak selalu menggunakan senjata tajam atau ledakan. Racun, obat penenang, atau bahkan kata-kata manis yang bertujuan memanipulasi emosi adalah senjata yang jauh lebih mematikan. Anda harus bisa merasakan kebohongan di balik senyuman, dan mendeteksi ancaman di balik kebaikan."
Iris mengangguk mantap. "Aku mengerti, Paman. Aku tidak akan membiarkan diriku atau orang lain terluka lagi."
................
Setelah latihan yang melelahkan namun bermanfaat, Kim memutuskan untuk mengajak Iris keluar sejenak melepaskan penat. Mereka pergi ke sebuah taman hiburan besar di pusat kota. Berbeda dengan suasana tegang di Shelter, di sini suasana sangat hidup dan berwarna.
Mereka mencoba berbagai wahana, mulai dari yang santai seperti Ferris Wheel hingga wahana ekstrem yang memacu adrenalin. Tawa renyah Iris terdengar sangat lepas, seolah semua beban berat di pundaknya hilang untuk sementara waktu. Kim pun tersenyum lebar melihat gadis itu bisa tersenyum bahagia.
"Wah, seru sekali! Lagi dong, Paman!" seru Iris dengan mata berbinar saat mereka turun dari wahana kereta maut.
"Hahaha, baiklah, tapi ini yang terakhir ya. Nanti kalau pusing siapa yang mau menanggung?" canda Kim sambil mengelus kepala Iris dengan penuh kasih sayang.
Momen indah dan hangat itu seolah menjadi oase di tengah badai masalah yang sedang mengintai mereka. Namun, di balik kebahagiaan itu, bahaya sebenarnya justru sedang merayap semakin dekat.
................
Di markas besar Aegis Corporation, di ruangan yang gelap dan dingin hanya diterangi cahaya dari layar monitor, Stella berdiri membelakangi pintu. Di hadapannya, tampilan hologram menampilkan peta kota dan data-data orang-orang terdekat Iris.
"Kim... Selama dia ada di sana, dinding pertahanan di sekitar Iris ibarat benteng baja yang tak bisa ditembus," gumam Stella pelan, namun suaranya terdengar dingin dan menusuk.
Ia memutar tubuhnya, wajahnya tampak serius dengan tatapan yang penuh perhitungan.
"Jika kita tidak bisa menjangkau intinya, maka kita hancurkan fondasinya."
Stella menunjuk satu per satu wajah di layar hologram itu dengan tongkat komandonya.
"Bram, posisimu di kantor tetap bertahan. Pantau setiap pergerakan aset perusahaan dan arus uang. Siska, kau tetap di posisi utama dekat Iris, mainkan peran teman baikmu sebaik mungkin. Faisal dan Sandra... kalian punya tugas khusus."
Mata Stella menyipit tajam, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang sangat mengerikan.
"Target kita kali ini bukan Iris. Dan bukan juga Kim. Kita akan menyasar orang-orang yang dia sayangi. Sahabat-sahabatnya di sekolah... terutama si Bayu itu."
Stella menatap foto Bayu yang tertawa riang bersama Iris.
"Jika Iris melihat orang-orang yang dia cintai hancur satu per satu karena ulahnya... atau karena ketidakmampuannya melindungi mereka... Hancurlah mentalnya secara perlahan. Rasa bersalah adalah racun terbaik yang bisa membunuh manusia bahkan tanpa menyentuh fisiknya sedikitpun."
"Siapkan operasi. Mulai besok, permainan baru dimulai. Dan kali ini, tidak ada aturan main," perintah Stella dengan nada yang tegas dan menakutkan.
................
Sore harinya, saat matahari mulai terbenam dan langit berwarna jingga keunguan, Iris dan Kim baru saja sampai di lobi apartemen mewah tempat mereka tinggal. Mereka masih membawa sisa kenangan bahagia dari taman hiburan tadi.
"Ah, capek sekali tapi senang sekali. Terima kasih banyak, Paman Kim," ujar Iris sambil menguap kecil, wajahnya terlihat sangat lelah namun puas.
"Sama-sama, Nona. Istirahatlah yang malam ini," jawab Kim lembut sambil menekan tombol lift.
Pintu lift terbuka, mereka berdua masuk. Kim menekan nomor lantai tempat mereka tinggal. Lift pun bergerak naik perlahan. Suasana di dalam lift tenang, hanya terdengar suara dengungan mesin yang halus.
Namun, tepat saat lift berhenti di lantai mereka dan pintunya baru saja terbuka sedikit...
Ting!
Suara bel lift berbunyi. Tapi sebelum pintu terbuka sempurna, sebuah aroma yang sangat familiar namun sangat aneh tercium oleh hidung Iris. Aroma parfum mahal yang sangat khas... aroma yang sama persis dengan yang dipakai oleh seseorang yang sangat mereka kenal.
Dan saat pintu lift terbuka penuh...
Di depan pintu unit apartemen mereka, berdiri seorang wanita dengan gaun elegan, rambut terurai indah, dan senyum yang sangat manis namun membuat bulu kuduk merinding. Wanita itu sedang berdiri santai seolah-olah dia adalah pemilik tempat itu.
Wanita itu adalah Stella.
"Selamat sore... Kim. Dan kamu pasti Iris ya? Wah, cantik sekali. Maaf aku datang tanpa pemberitahuan, aku hanya ingin berkunjung dan berbincang baik-baik dengan tetangga baru yang ternyata sangat penting bagiku," ucap Stella dengan nada suara yang terdengar sangat manis, namun matanya menatap tajam penuh ancaman.
Iris terbelalak kaget, memegang lengan Kim dengan erat. Wajah Kim yang biasanya tenang kini berubah datar dingin, tangannya siap siaga di saku celana, siap mengeluarkan senjata atau sistem pertahanan kapan saja.
Mereka terjebak. Musuh utama ada tepat di depan mata mereka, di tempat yang seharusnya paling aman.
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...