Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Perkataan Arka terbukti. Yogi tampaknya mulai bosan. Gerakan pedangnya mendadak berubah samar, seolah lenyap dari pandangan. Bagi Mika, rasanya seolah ia bertarung melawan hantu. Setiap hantaman gadanya yang seberat ratusan kilogram justru hanya bertemu angin atau bunyi “ting” lembut yang menghisap seluruh kekuatannya.
Riiip… Riiip…
Tanpa disadari, pertahanan tenaga dalam Mika terkoyak. Luka menganga muncul di dadanya. Dalam keputusasaan, Mika melancarkan jurus pamungkas: Gada Penggoncang Jagat. Gada itu dilempar bak meteor jatuh, membawa gelombang kejut yang mengerikan.
Yogi tidak menghindar. Ia hanya mengibaskan pedangnya dengan gerakan melingkar yang anggun—Teknik Pengalihan Arus. Niat pedangnya mengikat gada tersebut, memutar balik arahnya, dan mengirim senjata itu kembali ke pemiliknya.
BOOM!!
Gada itu tertancap tepat di antara kaki Mika yang terduduk lemas, menembus panggung hingga retak parah. Seandainya arahnya meleset satu inci saja, Mika sudah tewas.
“A… aku mengaku kalah,” ucap Mika dengan napas terengah-engah karena ketakutan.
Usai pertandingan, enam belas besar telah ditentukan. Arka kembali meraih kemenangan dan besok ia dijadwalkan melawan Miko, kakak dari Mika.
“Miko berbeda dengan adiknya,” Satya Wibowo memperingatkan Arka malam itu. “Ia menguasai teknik Guntur Geni. Serangannya menggunakan api tersembunyi dan tenaga dalam. Kau harus sangat waspada.”
Namun, saat mereka berempat hendak kembali ke penginapan, tiga orang telah menunggu di halaman. Salah satunya adalah pria paruh baya berwajah angker-Mardika, penguasa Benteng Gada Langit Utara.
Begitu melihat Arka, pria itu melangkah maju tanpa memedulikan Satya Wibowo atau Putri Larasati yang ada di sana.
“Aku Mardika. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu.” suaranya berat dan penuh wibawa yang dipaksakan.
Arka mengerutkan kening. “Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?”
“Sederhana,” ujar Mardika menatap Arka tajam. “Bakatmu terlalu besar untuk terkubur di Kerajaan Surya Kencana yang kecil dan lemah ini. Itu sama saja membuang mutiara ke dalam selokan.”
Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan nada memerintah:
“Bergabunglah dengan Benteng Gada Langit Utara. Aku akan menjadikanmu murid utama.”
Hening sejenak. Satya Wibowo mengepalkan tinju, wajahnya memerah karena dihina secara terang-terangan di depan matanya sendiri. Menggali bakat orang lain di depan pemiliknya adalah penghinaan yang luar biasa.
Ini bukan sekadar tawaran; ini adalah penindasan yang tak tertahankan.
Meskipun Mardika menyebutnya sebagai sebuah "undangan", nada bicaranya dipenuhi kesombongan yang kental. Seolah-olah dengan mengajak Arka bergabung ke Benteng Gada Langit Utara, ia sedang menganugerahkan karunia besar yang seharusnya diterima dengan air mata haru. Penghinaannya terhadap Kerajaan Surya Kencana pun dilakukan begitu telanjang.
Arka merasakan amarah Satya Wibowo yang mendidih di sampingnya. Namun, ia hanya tersenyum tipis, sorot matanya dingin.
“Aku berterima kasih atas apresiasi Penguasa Benteng Mardika,” ujarnya tenang. “Namun Anda tentu tahu bahwa aku adalah putra daerah dan murid dari Kerajaan Surya Kencana. Untuk saat ini, aku tidak berniat pergi. Jadi, atas tawaran Anda, aku hanya bisa menyampaikannya lewat satu kata: tidak.”
Wajah Mardika tetap datar, namun matanya menyipit. “Arka, keteguhan itu baik. Tapi berpikirlah realistis. Kerajaan Surya Kencana hanyalah tempat kecil. Di antara kekuatan besar di sini, mereka bahkan tak layak disebut kelas menengah. Tanpa nama besar keluarga kerajaan, mereka hanyalah butiran debu.”
Nada suaranya kian merendahkan. “Seni bela diri dan sumber daya mereka ibarat bumi dan langit jika dibandingkan dengan Benteng Gada Langit Utara. Mutiara sepertimu hanya akan menjadi batu biasa jika tetap di sana.”
“Mardika! Jaga ucapanmu!” Satya Wibowo membentak, wajahnya merah padam.
“Apakah ucapanku salah, Satya?” Mardika tertawa sinis. “Selama bertahun-tahun, pernahkah tempatmu melahirkan pendekar papan atas? Arka ini jelas bukan hasil didikanmu sejak awal, bukan?”
Ia kembali menatap Arka. “Jika kau bergabung denganku, dalam tiga tahun, aku yakin namamu akan mengguncang jagat raya! Jangan korbankan masa depanmu demi ‘kesetiaan’ pada tempat yang tidak pantas memilikimu.”
Satya dilanda kecemasan hebat—bagaimana jika Arka benar-benar tergoda? Namun, Larasati justru tersenyum lembut, seolah sudah tahu apa yang akan terjadi.
“Tujuan kami adalah mendidik generasi muda. Kami tidak pernah menghalangi kebebasan siapa pun. Jika Arka memang ingin pergi, kami tidak akan menahannya,” ujar Larasati tenang.
“Hahahaha!” Mardika tertawa keras. “Bagus! Ternyata Putri Larasati memang bijaksana!”
Arka terkekeh pelan, memecah tawa Mardika. “Penguasa Benteng Mardika, tak perlu berpikir sejauh itu. Sekalipun aku diusir dari kerajaan sekarang juga, aku tetap tidak akan sudi menginjakkan kaki di benteng Anda.”
Tatapannya kini tajam menusuk. “Bukan karena benteng Anda lemah. Tapi dengan seorang pemimpin yang tak tahu arti hormat dan bahkan tak memahami bahasa manusia seperti Anda… sekalipun kekuatannya besar, tetap saja itu hanya tempat kelas tiga yang penuh kesombongan kosong. Lebih baik aku tidak pergi.”
Suasana mendadak membeku. Satya Wibowo terperangah. Ia tak menyangka Arka berani berbicara setajam itu di hadapan pria yang ditakuti di wilayah utara tersebut.
“Apa kau bilang? Sepertinya telingaku salah dengar…” suara Mardika merendah, berbahaya.
Arka tersenyum santai, mengulanginya lebih lambat. “Kukatakan lagi—pemimpin yang tak punya etika hanya akan menciptakan tempat kelas tiga. Aku tidak tertarik.”
Urat-urat di wajah Mardika berkedut hebat. “Bagus… sangat bagus…”
“Sama-sama,” balas Arka tenang. “Anda merendahkan tempatku, aku pun meremehkan tempatmu. Kita impas. Bahkan jika seluruh pengikutmu berlutut memohon padaku, jawabannya tetap tidak.”
Jika ini bukan wilayah netral, Mardika mungkin sudah menyerang Arka saat itu juga. “Kau benar-benar bocah sombong! Semula aku berniat menyuruh Miko menahan diri besok. Tapi kini jelas, kau sendiri yang memilih jalan kematianmu!”
Mardika membalikkan badan dengan dengusan keras, diikuti oleh Mika dan Miko. Sebelum keluar, Miko menoleh dan menyunggingkan senyum menyeramkan pada Arka.
......................
Keesokan paginya, arena sudah penuh sesak. Babak enam belas besar segera dimulai. Pertandingan pertama: Arka melawan Miko.
Sebelum naik ke panggung, Mardika berbisik dingin pada putranya, “Hancurkan dia, Miko!”
“Tenang, Ayah,” Miko tersenyum santai. “Aku takkan memberinya kesempatan untuk berdiri lagi.”
Di atas arena, Miko menyipitkan mata, menatap Arka seolah ia hanyalah mangsa rendahan. Arka berdiri tenang bak danau tanpa riak. Ia tahu Miko menguasai teknik Guntur Geni yang mampu meledakkan energi batin dan menggunakan api tersembunyi.
Arka memutuskan satu hal—pertandingan ini harus berakhir dalam sekejap.
“Mulai!”
Begitu aba-aba terdengar, Miko mengangkat kedua tangan. Sepuluh bola petir api ungu-merah langsung terbentuk di ujung jarinya. “Arka! Bersiaplah meregang nyawa di bawah Guntur Geniku!”