NovelToon NovelToon
MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
​Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
​Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
​Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
​Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Bayangan Masa Lalu dan Gerbang Puncak Awan

​Jeritan Leo Tjandra yang melengking memecah kesunyian lantai seratus, namun terpotong secara tiba-tiba ketika Thomas dengan gerakan efisien dan presisi menyabetkan belati peraknya. Sebelah telinga pemuda arogan itu terlepas dari kepalanya, jatuh berlumuran darah di atas karpet.

​Dua anggota Pasukan Bayangan segera melangkah maju, menyeret tubuh Leo yang kini setengah pingsan karena syok dan rasa sakit. Pemuda yang beberapa menit lalu bertingkah seperti dewa itu kini diseret keluar layaknya kantong sampah.

​Thomas membersihkan bilah belatinya dengan saputangan sutra, lalu berbalik menghadap Arya yang masih duduk dengan tenang.

​"Pesan telah dikirim, Tuan Muda. Namun, ada satu hal yang harus saya laporkan secara pribadi," ucap Thomas. Nada suaranya berubah menjadi sangat berat. Ia meletakkan sebuah map hitam tebal berlambang tengkorak merah di atas meja—simbol tingkat kerahasiaan tertinggi di jaringan intelijen Dragon Corp.

​Arya menatap map itu. "Bicaralah."

​"Ini mengenai latar belakang Keluarga Tjandra di Ibukota," Thomas menelan ludah sebelum melanjutkan. "Tiga tahun lalu, ketika Tuan Besar dan Nyonya Besar... kedua orang tua Anda, mengalami kecelakaan pesawat di Samudra Hindia, Keluarga Tjandra adalah pihak pertama di Ibukota yang secara agresif mencoba membekukan aset Dragon Corp pusat. Penyelidikan bayangan kami yang terbaru menemukan jejak transfer dana gelap dari rekening rahasia Keluarga Tjandra ke salah satu teknisi Penerbangan 777, tepat satu minggu sebelum pesawat itu meledak di udara."

​Suhu di dalam ruang direktur utama itu anjlok drastis ke titik beku. Retakan halus mulai menjalar di permukaan cangkir teh porselen di tangan Arya, hingga akhirnya cangkir itu hancur menjadi debu putih.

​Teh panas yang tumpah langsung menguap sebelum menyentuh kulitnya.

​Arya tidak berteriak atau memukul meja. Kemarahannya termanifestasi dalam bentuk keheningan yang jauh lebih mematikan daripada badai. Di matanya, Tuan Muda Bastian Tjandra kini bukan lagi sekadar serangga yang mengganggu teritorialnya, melainkan target eliminasi absolut.

​[Ding! Memicu Misi Utama: Darah Dibayar Darah!]

[Detail Misi: Hancurkan fondasi Keluarga Tjandra dan temukan dalang sebenarnya di balik tragedi Penerbangan 777.]

[Hadiah Penyelesaian: Keterampilan Mata Dewa (Mampu melihat struktur energi musuh dan kelemahan fatal formasi), 10.000 Poin Sistem, dan Petunjuk Kepingan Dimensi.]

​"Kecelakaan pesawat," gumam Arya, suaranya sedingin es di dasar neraka. "Mereka menggunakan tragedi itu untuk menutupi pembunuhan. Thomas, persiapkan jet pribadi. Kita berangkat ke perbatasan Ibukota."

​"Baik, Tuan Muda. Berapa anggota Pasukan Bayangan yang harus saya kerahkan?"

​"Tidak ada," jawab Arya rasional, berdiri dari kursinya. "Pertemuan Bela Diri Puncak Awan adalah kedok untuk mengumpulkan praktisi bela diri. Membawa pasukan militer konvensional hanya akan memicu intervensi dari negara. Ini adalah masalah di ranah kultivasi. Aku akan menyelesaikannya dengan hukum mereka sendiri."

​Tiga hari kemudian.

​Kaki Gunung Lawu diselimuti kabut tebal yang tak kunjung hilang. Terletak di perbatasan antara provinsi luar dan wilayah Ibukota, gunung ini telah lama dikenal memiliki medan magnet yang aneh dan sering menjadi tempat pertapaan tokoh-tokoh kuat.

​Hari ini, jalan akses yang biasanya sepi dipenuhi oleh deretan mobil-mobil mewah—Mercedes Maybach, Rolls-Royce, hingga SUV taktis antipeluru—yang terparkir rapi di sebuah pelataran luas di dekat pos pendakian. Mereka yang datang bukan sekadar orang kaya, melainkan perwakilan keluarga besar dan ahli bela diri dari berbagai sekte tersembunyi.

​Sebuah Range Rover hitam pekat perlahan memasuki pelataran dan berhenti di sudut yang sunyi. Arya Permana melangkah keluar, mengenakan jaket trench coat hitam yang elegan dan praktis. Thomas menyusul dari kursi kemudi.

​Di depan mereka, jalan setapak menuju puncak telah diblokir oleh sebuah gerbang kayu raksasa bergaya kuno. Puluhan pemuda berseragam abu-abu dengan sulaman pedang di dada mereka berjaga dengan ekspresi arogan. Mereka adalah murid dari Sekte Pedang Angin, salah satu faksi pendukung Keluarga Tjandra.

​"Berhenti di sana!" bentak seorang penjaga gerbang saat melihat seorang pria tua berpakaian tradisional mencoba masuk. "Tunjukkan surat undanganmu! Jika tidak ada, serahkan sepuluh batang rumput spiritual atau uang lima puluh miliar sebagai biaya pendaftaran!"

​Pria tua itu terbatuk, wajahnya pucat. "Lima puluh miliar?! Di tahun-tahun sebelumnya, Pertemuan Puncak Awan terbuka untuk semua praktisi bela diri tanpa pungutan liar! Kalian Sekte Pedang Angin terlalu serakah!"

​Plak!

​Pemimpin penjaga itu menampar wajah pria tua tersebut hingga jatuh tersungkur. "Tutup mulut baumu, pak tua! Tahun ini, Keluarga Tjandra yang menjadi tuan rumah. Aturan telah diubah! Tidak punya uang? Enyah dari sini sebelum kupatahkan kakimu!"

​Para praktisi bela diri independen dan pengusaha kecil yang berkumpul di sekitar gerbang hanya bisa menunduk, tidak berani melawan ketidakadilan itu. Mengkritik Keluarga Tjandra di tempat ini sama dengan bunuh diri.

​Tepat pada saat itu, seorang wanita muda melangkah maju dari kerumunan. Ia mengenakan pakaian kulit ketat berwarna hitam yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang berbahaya, dipadukan dengan sepatu bot militer. Wajahnya sangat cantik namun memancarkan aura es yang membekukan. Di punggungnya, melintang sebuah pedang tipis berbalut kain.

​"Aku tidak punya undangan, dan aku tidak akan membayar biaya konyol kalian," ucap wanita itu dingin. "Namaku Elena. Aku di sini untuk menantang Bastian Tjandra."

​Pemimpin penjaga itu menyeringai mesum, menatap Elena dari atas ke bawah. "Wah, wah, seekor kucing liar. Nona cantik, Tuan Muda Bastian tidak punya waktu melayani wanita sepertimu kecuali di atas ranjang. Bagaimana kalau kau melayaniku dulu—"

​Sebelum penjaga itu selesai berbicara, Elena bergerak. Kecepatannya melampaui batas manusia biasa. Sebuah kilatan perak berkelebat, dan detik berikutnya, pedang tipisnya telah menempel di leher penjaga tersebut, menembus sedikit hingga setetes darah segar mengalir.

​"Tutup mulutmu atau kehilangan kepalamu," ancam Elena, matanya menyiratkan niat membunuh yang nyata. Dia jelas seorang Petarung Tahap Puncak yang sangat terlatih.

​"Sialan! Beraninya kau menyerang murid Sekte Pedang Angin! Kepung dia!"

​Belasan penjaga langsung menghunus pedang mereka, membentuk formasi setengah lingkaran untuk menjebak Elena. Meski Elena kuat, ia dikepung oleh belasan praktisi tingkat menengah. Situasi berubah menjadi sangat tegang.

​Arya, yang berdiri tak jauh dari sana, menyaksikan pemandangan itu dengan wajah datar. Ia tidak memiliki sedikit pun niat untuk menjadi "pahlawan penyelamat wanita" yang klise. Secara logis, konflik mereka tidak relevan dengan tujuannya.

​Arya melangkah maju, berjalan lurus menuju gerbang dengan langkah yang sangat santai, mengabaikan pertarungan yang hampir pecah di dekatnya.

​Pemimpin penjaga yang lehernya masih tertahan pedang Elena menoleh dan melihat Arya yang berjalan tanpa rasa takut. "Hei, bocah! Kau buta?! Menjauh dari gerbang! Ini area terlarang!"

​Arya tidak berhenti. Matanya tertuju lurus ke arah kabut tebal di jalur pendakian.

​"Aku memegang undangan hitam dari Bastian Tjandra," ucap Arya datar, suaranya menembus keributan di tempat itu. Ia melemparkan undangan hitam berlambang harimau itu, yang melayang di udara dan menancap sempurna menembus pilar kayu tebal di dekat penjaga.

​Semua orang di sana, termasuk Elena, seketika membeku. Undangan hitam? Itu bukan undangan biasa; itu adalah Surat Kematian—undangan yang hanya dikirimkan kepada musuh bebuyutan yang ditandai untuk dibantai di hadapan publik.

​Pemimpin penjaga itu menelan ludah, matanya terbelalak menatap tulisan di undangan tersebut. "K-Kau... kau Arya dari Nusantara City?! Gembel yang berani menentang Keluarga Tjandra?!"

​Senyum arogan kembali menghiasi wajah penjaga itu. Ia perlahan menjauhkan pedang Elena dari lehernya dan tertawa keras. "Hahaha! Tuan Muda Bastian sudah berpesan. Jika kau benar-benar berani datang dan tidak melarikan diri ke luar negeri... kami diperintahkan untuk mematahkan kedua kakimu di gerbang ini sebelum menyeretmu ke puncak!"

​Belasan penjaga segera mengubah target mereka. Mereka meninggalkan Elena dan langsung menerjang ke arah Arya bagaikan kawanan serigala yang menemukan mangsa. Pedang-pedang mereka memantulkan cahaya dingin, diarahkan tepat ke otot lutut Arya.

​Elena mengerutkan kening. Walaupun ia tidak mengenal pria bernama Arya ini, ia tahu bahwa serangan formasi pedang itu bisa mencincang kaki manusia menjadi daging giling. "Bodoh! Menghindar!" teriaknya.

​Namun, Arya tetap diam di tempatnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung, posturnya setenang gunung karang yang menghadapi ombak kecil.

​"Secara logika, kalian harusnya bersyukur diberi kesempatan untuk menyingkir dari jalanku," gumam Arya pelan.

​Tepat ketika ujung-ujung pedang itu berjarak beberapa sentimeter dari tubuhnya, Arya menghentakkan kaki kanannya dengan ringan ke tanah.

​BUMMM!

​Sebuah gelombang kejut Qi murni meledak dari titik pijakannya, merambat melalui tanah berbatu seperti gempa bumi lokal berskala mematikan.

​Tanah di sekitar Arya retak dan hancur. Belasan murid Sekte Pedang Angin itu seketika merasa seolah ditabrak oleh sebuah lokomotif tak kasat mata.

​Krak! Krak! Krak!

​Suara tulang kaki yang patah secara serentak bergema di pelataran itu. Belasan penjaga arogan tersebut menjerit histeris, terlempar ke udara dengan kedua kaki mereka yang hancur total, lalu jatuh bergelimpangan di tanah sambil memuntahkan darah. Tidak ada satu pedang pun yang berhasil menyentuh ujung baju Arya.

​Keheningan yang mencekam turun ke pelataran Gunung Lawu. Ratusan praktisi bela diri dan pengusaha yang hadir menahan napas, menatap Arya dengan horor absolut.

​Menghancurkan belasan murid sekte tanpa menggerakkan tangannya? Kekuatan macam apa ini?!

​Elena menatap punggung Arya dengan mata melebar. Cengkeramannya pada gagang pedangnya mengerat. Ia baru menyadari betapa mengerikannya pria yang baru saja ia anggap sebagai 'orang bodoh' itu.

​Arya tidak memedulikan tatapan kaget di sekitarnya. Ia melangkah melewati para penjaga yang merintih kesakitan, berjalan menaiki tangga berbatu yang diselimuti kabut menuju Puncak Awan.

​"Bastian Tjandra," bisik Arya, suaranya bercampur dengan hembusan angin gunung yang dingin. "Malaikat mautmu telah tiba."

1
T28J
hadiir 👍
Aisyah Suyuti
menarik
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!