NovelToon NovelToon
Long Wait

Long Wait

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Davina Auroraaa

LONG WAIT

Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.

Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.

Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.

Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Jebakan Di Rumah Kayu & Kode Pengancur

Hujan deras masih mengguyur hutan pinus di kawasan Puncak Bogor, menyamarkan suara langkah kaki dua sosok yang berlari tertatih-tatih keluar dari mulut selokan besar. Aldo Sky dan Sabiru Naverlla Azzura muncul dari kegelapan gorong-gorong, tubuhnya berlumur lumpur hitam dan bau apek, namun mata mereka waspada menyapu sekeliling.

Mereka berhasil lolos dari penyergapan di Safe House bawah tanah, tapi mereka tahu Rio Pratama tidak akan berhenti sampai mereka tertangkap. Mereka butuh tempat bersembunyi sementara sebelum bisa menghubungi sekutu lain.

"Ayah, lihat!" bisik Sabiru, menunjuk ke arah sebuah bangunan kayu tua yang setengah tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. "Itu rumah jaga perkebunan lama. Sepertinya sudah tidak dipakai. Kita bisa masuk ke sana sebentar untuk membersihkan diri dan mengecek peralatan."

Aldo mengangguk cepat, pistolnya masih siap di genggaman. "Hati-hati, bisa saja itu jebakan juga. Tapi kita tidak punya pilihan. Tubuh kita kedinginan, dan baterai laptopmu hampir habis."

Mereka merayap mendekati rumah kayu itu. Pintunya tidak terkunci, hanya tergantung miring pada engselnya yang berkarat. Dengan hati-hati, Aldo mendorong pintu terbuka. Ruangan di dalamnya kosong, berdebu, dan berbau kayu lapuk. Hanya ada satu meja reyot dan beberapa kursi rusak.

"Aman," lapor Aldo setelah memeriksa setiap sudut ruangan dan kolong tempat tidur. "Tidak ada orang. Kita aman selama sepuluh menit."

Sabiru segera meletakkan tas tahan airnya di atas meja, membuka laptopnya yang layarnya retak sedikit akibat benturan saat pelarian tadi. "Aku harus mengecek status jaringan lagi. Pastikan Rio belum melacak sinyal darurat yang mungkin terbawa tanpa sengaja."

Jari-jarinya mulai mengetik cepat, meski dalam kondisi kedinginan. Tiba-tiba, matanya membelalak.

"Ayah... ada sesuatu yang aneh," gumam Sabiru, alisnya bertaut. "Di sudut ruangan sana, di bawah meja reyot itu... ada kotak logam kecil yang berkedip merah sangat samar. Lampu LED-nya berkedip sesuai pola biner."

Aldo langsung menodongkan pistol ke arah bawah meja. "Jangan bergerak, Sabiru! Mundur pelan-pelan!"

"Tunggu, Yah!" seru Sabiru cepat, menahan lengan ayahnya. Matanya menyipit, menganalisis objek itu dari jarak dua meter. "Itu bukan sekadar lampu hias. Itu sensor gerak pasif (PIR) yang terhubung ke modul penerima sinyal. Dan lihat kabelnya... itu mengarah ke balok utama atap."

Sabiru merangkak maju perlahan, mengambil senter kecil dari tasnya, dan menyinari objek di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang. Di sana, tersembunyi rapi di balik kain debu, terdapat sebuah perangkat berbentuk kotak persegi dengan layar digital kecil yang menampilkan hitungan mundur: 00:59:48.

"Bom," desis Sabiru, wajahnya pucat pasi. "Ini bom rakitan dengan pemicu ganda: sensor gerak dan timer digital. Kalau kita bergerak terlalu cepat atau mencoba lari keluar, sensornya akan mendeteksi perubahan gelombang inframerah dan memicu ledakan seketika."

"Astaga..." Aldo terhuyung mundur, keringat dingin bercampur air hujan di wajahnya. "Rio... dia sudah memasang ini bahkan sebelum kita datang ke sini? Dia tahu kita akan lari ke arah Bogor?"

"Dia tidak tahu pasti, Yah. Ini mungkin jebakan area luas untuk siapa saja yang masuk ke rumah ini. Tapi sekarang, kita yang terjebak di dalamnya," jawab Sabiru, otaknya bekerja keras menekan rasa panik. "Waktunya kurang dari satu jam."

"Ayo kita lari saja! Kita bisa lompat keluar jendela sebelum timer habis!" usul Aldo putus asa, siap menerjang.

"TIDAK!" bentak Sabiru tajam. "Kalau kita bergerak tiba-tiba, sensor geraknya akan aktif. Ledakannya bisa menghancurkan seluruh rumah ini dan membahayakan nyawa kita seketika. Satu-satunya cara adalah menonaktifkannya dari dalam secara teknis."

"Sabiru, kau gila? Kau bukan ahli bahan peledak! Kau anak IT! Biarkan Ayah yang coba potong kabelnya—"

"Bukan soal memotong kabel sembarangan, Yah!" potong Sabiru, matanya sudah penuh determinasi. "Bom zaman sekarang pakai mikrokontroler pintar. Kalau kita salah potong satu kabel saja, sirkuitnya akan menganggap itu sebagai upaya sabotase dan langsung memicu ledakan instan. Aku harus mengakses motherboard-nya, membaca kodenya, dan mematikan sistem pemicunya lewat jalur software."

Sabiru menarik napas panjang, lalu merangkak mendekat ke arah bom itu dengan gerakan sangat lambat dan halus, seolah sedang menari di atas ranjau. Ia mengeluarkan obeng kecil dan kabel data dari tasnya.

"Ayah, aku butuh waktu. Jangan biarkan siapa pun masuk ke rumah ini. Jika ada gangguan, aku bisa kaget dan salah ketik. Jaga pintunya!" perintah Sabiru, suaranya bergetar tapi tegas.

Aldo Sky menatap anaknya dengan campuran ketakutan dan kebanggaan yang luar biasa. Ia mengangguk kaku, lalu mundur ke arah pintu, pistol siap menembak siapa pun yang mencoba masuk. "Cepat, Nak. Ayah percaya padamu."

Sabiru kini berada tepat di depan bom itu. Bau mesiu dan logam panas tercium menyengat. Dengan tangan yang berusaha ia tenangkan, ia mulai membuka sekrup casing bom itu satu per satu. Klik. Klik. Tutup logam terbuka, mengungkapkan rangkaian kabel warna-warni yang rumit, baterai lithium besar, dan sebuah papan sirkuit hijau dengan chip mikrokontroler di tengahnya.

"Ini dia," bisik Sabiru. Ia mengenali tipe mikrokontroler itu. Ini adalah model yang sering digunakan dalam sistem keamanan otomatis, tapi dimodifikasi menjadi alat perusak.

Dengan hati-hati, Sabiru menyambungkan kabel datanya dari laptop ke port USB kecil di papan sirkuit bom itu. Layar laptopnya langsung penuh dengan barisan kode merah yang berjalan cepat.

"WARNING: TAMPERING DETECTED. COUNTDOWN ACCELERATED," muncul peringatan di layar laptop. Angka di bom tiba-tiba berubah menjadi 00:15:00. Waktunya dipercepat!

"Sial! Dia pasang protokol anti-hacking!" geram Sabiru. Jari-jarinya menari gila-gilaan di keyboard. "Oke, tenang Sabiru. Pikir. Ini cuma kode. Semua kode punya celah keamanan."

Sabiru tidak memotong kabel. Ia justru mulai menulis skrip baru. Ia mencoba menyusup ke dalam memori mikrokontroler bom itu, mencari loop utama yang mengatur timer.

"Akses ditolak. Firewall aktif," tulis layar.

"Dasar sialan," umpat Sabiru. Ia berkonsentrasi penuh, keringat dingin mengucur di pelipisnya meski udara dingin. Ia ingat pelajaran dari buku harian Arisendra tentang algoritma overload. "Kalau aku tidak bisa mematikan timer, aku akan membuat sistemnya bingung sampai crash atau macet total."

Sabiru mengetik perintah injeksi data sampah (dummy data) dalam jumlah masif ke dalam memori bom. Tujuannya bukan untuk memperbaiki, tapi untuk membuat prosesor bom itu "kewalahan" memproses data hingga sistemnya hang.

[UPLOADING DATA PACKET: 90%... 95%... 98%...]

Angka hitungan mundur di bom semakin cepat: 00:03:00... 00:02:15...

"Ayo, ayo, jangan macet sekarang!" desis Sabiru, matanya tidak berkedip menatap progress bar.

Di luar, Aldo Sky mendengar suara dengkungan mesin mobil mendekat. Sinar lampu sorot menyapu dinding kayu rumah itu. Mereka datang!

"Sabiru! Cepat! Mereka sudah datang!" teriak Aldo panik, menembakkan dua kali ke arah ban mobil musuh yang mencoba mendekat untuk memberi waktu. Dor! Dor!

[UPLOAD COMPLETE. SYSTEM OVERLOAD INITIATED.]

Layar digital pada bom itu tiba-tiba berkedip liar. Angka-angka acak muncul: 88:88:88. Lampu LED merah berkedip tak beraturan. Suara dengungan halus dari dalam kotak bom terdengar makin tinggi, seperti kipas yang dipaksa bekerja maksimal.

00:00:10...

00:00:05...

Sabiru menahan napas. Tangannya gemetar hebat di atas tombol Enter terakhir.

00:00:03...

00:00:02...

"SEKARANG!" teriak Sabiru, menekan tombol Enter dengan sekuat tenaga.

[SYSTEM CRASH. SAFE MODE ACTIVATED. POWER OFF.]

Lampu merah pada bom itu mati total. Layar digital menjadi gelap gulita. Dengungan halus menghilang. Hening. Tidak ada ledakan. Tidak ada apa-apa. Mekanisme pemicu telah lumpuh total karena kelebihan beban data.

Sabiru ambruk ke lantai kayu, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya lemas seolah baru saja mengangkat beban satu ton. Bom itu sudah tidak berfungsi. Mikrokontrolernya hang total dan tidak akan bisa menyala lagi tanpa di-reset manual yang butuh waktu berjam-jam.

"Sabiru! Kau berhasil?!" Aldo berlari masuk, mengabaikan bahaya, dan langsung memeluk anaknya erat-erat. Pistolnya jatuh ke lantai. Napas beratnya perlahan mereda, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. "Kau menyelamatkan kita... Kau benar-benar berhasil."

Sabiru tertawa lemah, air mata lega mengalir di pipinya yang kotor. "Berhasil, Yah. Sistemnya crash. Bomnya nggak bakal meledak."

Suara tembakan dan teriakan di luar semakin dekat. Musuh sudah turun dari mobil dan mulai mengepung rumah.

"Mereka masih banyak," kata Aldo, wajahnya kembali keras. Ia mengambil pistolnya lagi. "Tapi setidaknya kita tidak akan terkena ledakan. Sekarang kita harus bertarung untuk keluar dari sini."

Sabiru bangkit, mengambil laptopnya dan memasukkannya ke tas. Matanya yang tadi lelah kini kembali tajam. "Kita tidak perlu bertarung frontal, Yah. Aku sudah menanam virus kecil di sistem bom tadi sebelum mematikannya. Virus itu akan menyebar ke frekuensi radio pendek."

"Apa maksudmu?" tanya Aldo bingung sambil mengintip dari balik jendela, melihat lima orang bersenjata lengkap mulai mengelilingi rumah.

"Maksudku," jawab Sabiru sambil tersenyum tipis, "dalam tiga detik, semua perangkat komunikasi dan senjata elektronik milik mereka akan mengalami glitch yang sama. Radio mereka akan bising, scope senjata laser mereka akan error, dan mobil mereka mogok karena ECU-nya terganggu sinyal interferensi."

Satu... Dua... Tiga...

Tiba-tiba, kepanikan terjadi di luar. Para penyerang saling berteriak bingung. Radio mereka mengeluarkan suara decitan keras. Lampu sorot mobil mati mendadak. Senjata canggih mereka tampak tidak berfungsi.

"Sekarang, Yah! Saat mereka buta dan bingung!" seru Sabiru.

Aldo tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia membuka pintu samping, dan bersama Sabiru, mereka menerobos masuk ke dalam kegelapan hutan, memanfaatkan kekacauan yang diciptakan oleh serangan siber putrinya.

Malam itu, di tengah hutan Bogor yang gelap, Rio Pratama kembali gagal. Bukan karena kekuatan otot atau keberanian nekat, tapi karena kecerdasan seorang gadis yang mengubah alat perusak menjadi sekadar kotak besi tua lewat barisan kode logis.

Perang ini belum usai. Tapi malam ini, Sabiru dan Aldo Sky membuktikan bahwa mereka bukan lagi mangsa. Mereka adalah pemain catur yang mulai membalikkan papan permainan.

Dan di kejauhan, fajar mulai menyingsing, membawa harapan baru bahwa Allbiru mungkin masih bisa diselamatkan sebelum semuanya terlambat.

1
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
adududuuuhhhh benih cinta terlarang itu mau dibawa kemana nantinya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
namanya mirip banget...
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Thor agak panjang untuk jadi bab, jadiin dua bab thor. Seseorang pernah berkata padaku, biar enak dibaca pembaca dan lebih terlihat estetikanya, bab novel itu jangan terlalu panjang. kalau sudah dua kalimat atau lebih jadikan bab baru.
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
belum pernah ke rumah orang kaya raya nampaknya dia, sampai melongo begitu
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
pribadi seseorang bisa tergambar dari cara seseorang memandang dan melihat yah
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
cerita yang menarik thor
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hai Thor aku dah mampir, jangan lupa follback ya aku dah follow
Davina Aurora: sudah aku follback ya ka🥰
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
ini juga bagusss, saya suka👍
Davina Aurora: makasii ka☺️
total 1 replies
Amila FM,IG:amilaeditslife
ya ampun nangis bacanya, jiwa emak2nya keluar
Davina Aurora: makasii ka udah mampirr🤭
total 1 replies
Amila FM,IG:amilaeditslife
terharu 🥲🫠
Davina Aurora: makasii ka😊🩷
total 1 replies
T28J
mantap... panjang ini👍
T28J
hadiir 🙏
Davina Aurora: okee ka makasih ya ka😊
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!