NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 :

Malam di kota Bingdu jatuh dengan sunyi, menyelimuti gedung-gedung pencakar langit dengan selimut salju yang kian tebal. Di dalam kamar tidur, suhu ruangan diatur dengan sempurna, namun kehangatan itu terasa hampa tanpa kehadiran seseorang.

Alin malam itu menatap dirinya dari pantulan cermin. Rambut basahnya ia biarkan tergerai. Teringat bagaimana ciuman itu terjadi begitu panasnya. Rona merah panas seketika mengubah aura wajahnya.

BIP BIP BIP

“Hai… kau kemana saja tidak ada kabar seharian ini.” Sapa Zizi sahabat Alin dalam panggilan videonya.

Alin tidak tahu apa yang terjadi pada perasaannya. Dan ia perlu mengklarifikasi kebenarannya pada seseorang. Alin menarik napas berat. Pikirannya terlanjur kusut, dan ia benar-benar membutuhkan seseorang sebagai jangkar logikanya.

Ia menceritakan semuanya pada sahabatnya itu tanpa ada yang terlewatkan. Dimulai dari pertemuan pertama mereka didalam kapal.

“Kau gila—-“ Zizi memekik pelan, “Kau sudah menyalakan api, bagaimana kau memadamkannya Alin, astaga dia itu pangeran. Kau serius dengan hubunganmu?”

Terlihat raut wajah Alin yang semakin kacau dan bingung,

“Aku juga tidak tahu. Dia bahkan tidak menyatakan hal-hal klise seperti, maukah kau jadi kekasih ku? Atau bisakah aku menjadi priamu? Tapi sikapnya sudah menyatakan seakan aku ini——“ Alin menghela nafas. Ia sudah cukup sering menerima pernyataan cinta dari pria namun cara Rei yang tidak menyatakan apapun seakan sudah mengklaim dirinya adalah milik Rei.

"Argh!" Alin membenamkan wajahnya di bantal, berteriak tertahan. "Ciuman pertamaku—- kenapa aku bisa sebodoh dan sepasrah itu di depannya?"

"Ya, kau memang bodoh karena meremehkan pesonanya," sahut Zizi, nadanya kini berbaur antara kasihan dan cemas. "Sekarang, bagaimana kau akan menghadapi Pangeran Yan besok?"

"Entahlah. Memikirkannya saja membuat lututku lemas."

Zizi menatap bersedekap di layar, matanya menyipit penuh selidik. "Kau menyukainya, kan? Aku tahu kau menyukainya."

"Apa... apa terlihat sejelas itu?" Alin tersentak kaget, mendongak dengan mata membelalak.

"Tentu saja. Sejak awal pertemuanmu dengannya, aku sudah yakin kalau kau—"

"Ah, sudahlah! Jangan diteruskan," potong Alin cepat, memotong kalimat Zizi karena tak sanggup menghadapi kenyataan. "Aku jadi semakin takut untuk bertemu dengannya besok."

Zizi hanya bisa tertawa kecil di seberang panggilan. Ia tahu betul bagaimana watak sahabatnya yang sangat sulit didekati pria dan jarang jatuh cinta. Namun sekalinya jatuh cinta, Alin justru terjun terlalu dalam—ke dalam dekapan seorang pria berkuasa yang mungkin akan sangat sakit saat kekecewan menari dalam hubungan mereka.

...****************...

Pukul 02.00 pagi.

Alin sudah terlelap. Kelelahan karena perjalanan jauh, drama cake labu, hingga ketegangan saraf di ruang rapat tadi akhirnya menumbangkan pertahanannya, terlebih memikirkan tindakannya memberikan ciuman pertamanya pada Pangeran. Ia meringkuk di bawah selimut tebalhnya, rambut hitamnya tersebar berantakan di atas bantal, memberikan kesan rapuh yang jarang ia tunjukkan saat terjaga.

Bunyi klik pelan dari pintu kamar yang terbuka hampir tak terdengar. Pintu yang terkoneksi dengan kamar sebelah, kamar tidur milik Pangeran.

Rei melangkah masuk. Ia tidak lagi mengenakan jas formalnya; kemeja sudah tidak terkancing di bagian kerah, dan lengan bajunya digulung hingga siku, menunjukkan sisa-sisa ketegangan dari rapat darurat bersama Yuchen yang baru saja usai.

Rei tidak menyalakan lampu. Ia membiarkan cahaya remang dari lampu jalanan di luar yang menembus jendela kaca menjadi satu-satunya pemandu jalannya. Ia berdiri di sisi tempat tidur, menatap Alin dalam diam.

Wajah wanita itu tampak tenang dalam tidurnya. Tidak ada bantahan tajam, tidak ada tatapan menantang, hanya ada nafas yang teratur dan tenang. Rei duduk perlahan di pinggir ranjang Alin.

Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh kening Alin, menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi matanya. Sentuhannya begitu ringan, seolah takut akan memecahkan ilusi kedamaian ini.

“Jadi itu ciuman pertama mu.” Sahutnya dalam senyuman hangat, kamar itu telah dipasang penyadap suara. Rei dengan jelas mendengar percakapan yang terjadi antara Alin dengan sahabatnya tadi.

"Kau benar-benar tahu cara mengacaukan kepalaku, Alin," bisik Rei, suaranya sangat rendah, nyaris menyerupai desau angin.

Ingatan Rei kembali ke kejadian sore tadi, saat ia hampir kehilangan seluruh kendali dirinya di atas meja kayu itu. Jika bukan karena interupsi Yuchen, ia tidak yakin apakah ia akan sanggup melepaskan Alin malam ini. Kehadiran Alin di sisinya bukan lagi sekadar kebutuhan dan keinginannya semata, namun telah menjadi obsesi yang mengakar dalam.

Alin sedikit menggeliat dalam tidurnya, mencari posisi yang lebih nyaman. Secara tidak sadar, ia bergerak mendekat ke arah sumber panas—yaitu tubuh Rei. Tangan kecil Alin keluar dari balik selimut dan tanpa sengaja menyentuh paha Rei.

Rei membeku. Nafasnya tertahan. Sentuhan kecil itu memicu kembali api yang tadi susah payah ia padamkan bersama Yuchen di ruang kerja. Ia bisa saja membangunkan Alin sekarang, menagih "hutang" yang tertunda, dan melanjutkan apa yang seharusnya terjadi beberapa jam lalu.

Namun, saat melihat betapa lelapnya Alin, Rei hanya bisa menghela nafas panjang. Ia meraih tangan Alin yang dingin, menggenggamnya dengan lembut, lalu mengecup punggung tangan wanita itu dengan lama.

"Tidurlah," gumam Rei, suaranya sarat dengan proteksi yang posesif. "Nikmati ketenanganmu malam ini. Karena besok, aku tidak akan membiarkanmu lari lagi, bahkan jika kau membawa seluruh bahasa negaramu untuk memprotesku." Lanjutnya dengan menaikkan selimut tebal itu untuk menutupi tubuh Alin.

Rei tidak beranjak. Ia tetap di sana, duduk di kegelapan, menjaga tidur wanita yang telah berani mengacaukan dunianya. Ia tahu, esok pagi saat Alin terbangun, mereka akan kembali pada peran kucing dan tikus—saling menyerang, saling menggoda, dan saling menantang. Tapi untuk saat ini, di bawah langit Bingdu yang membeku, Rei hanya ingin menjadi pria yang mencintai wanitanya dalam diam.

...****************...

Cahaya pucat mentari musim dingin mulai menyelinap masuk melalui celah gorden, memantul pada furniture mewah di dalam kamar. Suhu dingin Bingdu yang menembus kaca jendela membuat Alin semakin merapatkan selimutnya. Ia mengerang pelan, perlahan membuka matanya yang masih terasa berat.

Namun, rasa kantuknya hilang seketika saat ia merasakan beban berat di sisi ranjangnya.

Alin menoleh perlahan, dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Rei masih di sana. Pangeran itu tidak pergi ke kamarnya sendiri semalam. Ia duduk bersandar pada headboard ranjang tepat di samping Alin, masih dengan kemeja yang sama ia kenakan semalam, namun kini tampak lebih kusut. Mata pria itu terpejam, kepalanya terkulai sedikit ke samping, menunjukkan gurat kelelahan yang nyata setelah terjaga hampir sepanjang malam demi urusan negara—dan mungkin, demi menjaganya.

Alin terpaku. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Rei dalam kondisi sedemikian "manusiawi". Tidak ada aura angkuh, tidak ada tatapan dingin yang mengintimidasi.

Hanya ada seorang pria yang tampak sangat lelah.

Tanpa sadar, Alin bergerak mendekat, tangannya terangkat ingin menyentuh wajah tampan Rei yang terlelap. Namun, baru saja ujung jarinya hampir menyentuh kulit pria itu, mata Rei terbuka.

Tajam dan waspada. Refleks seorang pria yang hidup dalam ancaman setiap detik.

Tangan Rei bergerak secepat kilat, menangkap pergelangan tangan Alin sebelum sempat menyentuhnya. Alin tersentak, nafasnya tertahan.

"Ingin mencuri kesempatan saat aku tidur, Alin?" suara Rei terdengar sangat serak, khas suara pria yang baru bangun tidur, namun getarannya terasa sangat dalam di telinga Alin.

Alin berusaha menarik tangannya, wajahnya mendadak panas. "Aku... aku hanya ingin melihat apakah kau masih hidup. Kau tidur seperti orang mati." Sahutnya menenangkan, “Kau baik-baik saja? Kenapa tidak tidur dikamar mu?”

Rei tidak melepaskan genggamannya. Sebaliknya, ia menarik tangan Alin hingga tubuh wanita itu ikut tertarik mendekat ke arahnya. Rei menatap Alin dengan mata yang perlahan melembut, namun tetap sarat akan keinginan yang belum tuntas.

"Aku tidak tidur, Alin. Aku hanya menutup mata sebentar," gumam Rei. Ia membawa tangan Alin ke bibirnya, mengecup telapak tangan wanita itu dengan lembut, namun matanya tetap mengunci pandangan Alin.

Alin menelan ludah, berusaha mencari kata-kata untuk membalas, tapi lidahnya terasa kelu. Keheningan di antara mereka terasa sangat berbeda dari biasanya—tidak ada lagi kemarahan, hanya ada ketegangan romantis yang kental di bawah selimut yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!