Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.
Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.
Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.
Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Deras
Gluduk…! Gluduk…!
Suara guntur menggema begitu keras di langit malam. Hujan deras membasahi seluruh pepohonan di dalam hutan itu, sementara angin dingin berembus cukup kencang hingga membuat dedaunan bergoyang liar.
Namun, Evelyn tidak berhenti meskipun badai terus menerpa tubuhnya.
Saat ini, gadis itu sedang mencari jamur hutan untuk dijual ke kota. Musim panen jamur telah tiba, dan itu adalah satu-satunya kesempatan baginya untuk mendapatkan lebih banyak uang sebelum musim dingin datang.
Dengan keranjang anyaman di tangannya, Evelyn berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang licin. Tudung cokelat yang ia kenakan sudah basah kuyup terkena hujan.
“Aku harus mendapatkan lebih banyak sebelum malam semakin larut…” gumamnya pelan.
Evelyn kemudian berjongkok di dekat batang pohon besar saat melihat beberapa jamur tumbuh di sana. Wajahnya sedikit berbinar.
“Syukurlah…”
Tangannya yang kecil segera memetik jamur-jamur itu dengan hati-hati agar tidak rusak. Walaupun hidup sendirian di tengah hutan, Evelyn sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri.
Gluduk…!
Suara petir kembali menggelegar hingga membuat Evelyn sedikit tersentak.
Angin malam terasa semakin dingin. Evelyn buru-buru berdiri dan memeluk keranjangnya erat. Sepertinya badai malam ini akan berlangsung cukup lama.
Saat hendak kembali ke gubuknya, langkah Evelyn tiba-tiba terhenti. Tatapannya mengarah ke tepi sungai kecil yang berada tidak jauh dari sana.
Ada sesuatu di sana.
Seseorang. Tubuh seorang pria terbaring di antara bebatuan sungai, setengah tertutup derasnya air hujan.
Mata Evelyn membulat kaget. Tanpa berpikir panjang, dia segera berlari mendekat.
“Ya Tuhan…” lirihnya pelan.
Pria itu dipenuhi luka dan darah.
Pakaiannya berwarna hitam pekat, terlihat mahal dan asing untuk seseorang yang berasal dari desa sekitar. Rambut hitamnya basah menutupi sebagian wajah pucatnya.
Evelyn menelan ludah gugup. Pria itu terlihat sangat berbahaya. Tetapi. Dia masih bernapas.
“Bagaimana caranya aku membawanya ke gubuk? Sepertinya dia terluka parah…” gumam Evelyn panik.
Tatapannya terus memeriksa tubuh pria itu. Luka-luka di tubuhnya terlihat cukup mengerikan, bahkan beberapa bagian pakaiannya sudah dipenuhi darah yang tercampur air hujan.
Evelyn menggigit bibir bawahnya pelan. Dia tidak mungkin meninggalkan pria itu sendirian di tengah badai seperti ini. Jika tetap berada di sini semalaman, pria itu bisa mati kedinginan.
“Maaf sebelumnya…” ucap Evelyn lirih.
Dengan susah payah, Evelyn mencoba menopang tubuh pria itu. Tubuhnya jauh lebih besar dan berat dibanding dirinya.
“Berat sekali…” keluhnya pelan sambil berusaha menyeret tubuh pria itu menjauh dari tepi sungai.
Hujan masih turun deras membasahi tubuh mereka.
Beberapa kali Evelyn hampir terpeleset karena jalan yang licin, tetapi dia tetap berusaha membawanya menuju gubuk kecil miliknya yang berada cukup jauh di dalam hutan.
Napas Evelyn mulai terengah-engah.
Tangannya terasa sakit, tubuhnya menggigil kedinginan, tetapi dia tidak menyerah begitu saja. Sesekali, Evelyn menoleh ke arah pria itu. Anehnya.
Walaupun tubuh pria itu sedingin es, wajahnya tetap terlihat sangat tenang. Bahkan dalam keadaan terluka parah sekalipun, pria itu masih tampak begitu tampan dan asing.
Bulu mata Evelyn sedikit bergetar.
“Siapa sebenarnya dirimu…?” gumamnya pelan.
Evelyn terus berusaha membawa pria itu meskipun tubuhnya mulai kelelahan.
Tangannya terasa nyeri karena harus menopang tubuh pria asing yang jauh lebih besar darinya. Kakinya beberapa kali hampir terpeleset di jalan berlumpur, sementara hujan deras masih mengguyur tanpa ampun.
Napasnya mulai memburu.
“Sedikit lagi tiba…” ucap Evelyn pelan sambil mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Dia kembali menarik tubuh pria itu perlahan melewati jalan setapak yang gelap. Keranjang jamur miliknya bahkan sudah tertinggal entah di mana, tetapi Evelyn tidak memedulikannya lagi.
Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah menyelamatkan pria ini. Angin malam berembus dingin hingga membuat tubuh Evelyn menggigil hebat.
Namun tiba-tiba.
Jemari pria itu bergerak pelan. Evelyn tersentak kaget dan langsung menunduk menatap wajah pria tersebut. Mata merah gelap itu terbuka perlahan.
Untuk sesaat, Evelyn membeku di tempat. Tatapan mata pria itu terasa begitu dingin dan mengerikan.
Tetapi anehnya, pria itu hanya diam menatap Evelyn tanpa mengatakan apa pun.
“Ka-kamu sudah sadar?” tanya Evelyn gugup.
Sunyi.
Pria itu tetap tidak menjawab. Beberapa detik kemudian, matanya kembali tertutup seolah kehilangan kesadaran lagi.
Evelyn menelan ludah pelan.
“Syukurlah… kupikir tadi aku melihat hantu…” gumamnya lirih sebelum kembali berjalan membawa pria itu menuju gubuk kecilnya.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Evelyn tiba di gubuk kecilnya.
Dengan napas yang masih terengah-engah, dia segera membuka pintu kayu gubuk itu lalu membawa pria tersebut masuk ke dalam.
Bruk.
Evelyn perlahan merebahkan tubuh pria itu di atas ranjang sederhana miliknya.
“Syukurlah…” gumamnya pelan sambil mengusap keringat di dahinya.
Tubuhnya benar-benar lelah.
Hujan di luar masih turun deras, sementara suara angin terus terdengar dari sela-sela dinding kayu gubuk itu.
Evelyn kembali menatap pria di hadapannya.
Kini, dalam cahaya lampu minyak yang redup, luka-luka di tubuh pria itu terlihat jauh lebih jelas.
Banyak luka robek memenuhi lengannya. Bahkan ada beberapa bekas sayatan panjang yang terlihat cukup dalam.
Evelyn sedikit terkejut.
“Lukanya parah sekali…” lirihnya.
Tanpa membuang waktu, Evelyn segera berdiri dan berjalan menuju rak kayu kecil di sudut ruangan.
Di sana tersimpan berbagai tanaman obat kering dan ramuan yang selama ini dia racik sendiri.
Evelyn dengan cepat mengambil: kain bersih, botol ramuan, serta beberapa daun obat. Setelah itu, dia kembali duduk di samping pria tersebut.
Tatapannya sempat ragu sejenak. Namun akhirnya Evelyn menarik napas pelan sebelum mulai membersihkan luka di tubuh pria itu secara perlahan.
“Maaf, mungkin ini agak sakit,” ucap Evelyn lembut. “Tapi aku harus memberikan pertolongan kepadamu.”
Tangannya bergerak hati-hati saat mengoleskan obat pada luka pria itu.
Anehnya.
Walaupun luka-lukanya terlihat sangat parah, pria tersebut sama sekali tidak bereaksi.
Tidak mengerang. Tidak bergerak.
Bahkan wajahnya tetap terlihat tenang dalam tidurnya. Evelyn sedikit heran melihatnya.
“Dia benar-benar aneh…” gumamnya pelan.
Evelyn kembali menatap pria itu dengan ragu.
Pakainya benar-benar dipenuhi darah dan air hujan. Jika terus dibiarkan seperti ini, tubuh pria itu bisa semakin memburuk karena kedinginan.
Evelyn menghela napas pelan.
“Maaf…” gumamnya lirih.
Dengan hati-hati, Evelyn mulai membuka pakaian pria tersebut yang sudah robek di beberapa bagian. Gerakannya sangat pelan agar tidak memperparah luka-lukanya.
Namun saat pakaian itu terbuka, Evelyn sedikit terdiam.
Tubuh pria itu dipenuhi luka lama dan bekas sayatan yang samar. Dadanya terlihat pucat, bahkan terasa sangat dingin saat tanpa sengaja tersentuh oleh jemarinya.
Evelyn segera mengalihkan pandangannya karena merasa tidak enak.
Tanpa berpikir macam-macam, dia langsung mengambil kain perban dan mulai melilitkannya perlahan di beberapa bagian tubuh pria itu. Tangannya bergerak hati-hati menutupi luka-luka yang cukup dalam.
“Bajunya penuh darah… aku harus membersihkannya dulu,” ucap Evelyn pelan.
Setelah selesai membalut luka pria tersebut, Evelyn mengambil pakaian hitam yang tadi ia lepaskan lalu berjalan menuju ember air di sudut ruangan.
Lampu minyak kecil menerangi wajah gadis itu yang terlihat sangat fokus membersihkan noda darah.
Sementara di atas ranjang. Mata merah gelap milik pria itu perlahan terbuka. Tatapannya langsung tertuju pada Evelyn.
Diam.
Tanpa suara.
Pria itu memperhatikan gadis tersebut cukup lama dengan ekspresi sulit ditebak. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ada manusia yang menyentuh tubuhnya tanpa rasa takut.