NovelToon NovelToon
Rahasia Si Gadis Cupu

Rahasia Si Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Berliana Febbyola

"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.

Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.

Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.

Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"

Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.

Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.

Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 MAFIA TENGIL

"Ana." panggilan itu membuat bulu kuduknya merinding tapi bukan ada hantu. Melainkan itu suara dari Kai yang memanggil namanya.

Belasan pasang mata tertuju pada Ana, ada apa Kai memanggil Ana?Sebelumnya, belum pernah ada yang dipanggil oleh Kai di kelas ini.

"Na. Kamu dipanggil tuh." sahut Jeje melelehkan Ana yang masih nge-freeze.

"I-iya." jawabnya dengan gugup, lalu menghampiri Kai yang belum duduk di kursinya.

"Ada apa?" tanya Ana.

Menatap Ana dengan penuh rasa penasaran, "Pak Anton, meminta kamu ke ruang guru secepatnya. Kartu pelajar kamu udah selesai." sahutnya datar, namun pandangannya tetap ke Ana.

"Baiklah. Makasih." jawab Ana, gadis itu hendak beranjak pergi tapi sesuatu menahannya.

"Pak Anton juga bilang. Bawakan beberapa kertas ulangan dimeja."

"Hah? Kenapa nggak dia aja yang ambil sekalian. Hem." batin Ana lalu mendengus kesal.

"Kenapa? Nggak mau?" tanya dengan tatapan tajam.

"Ah- nggak kok. Aku bawa kertas - kertas ulangan kelas kita hehe. Makasih infonya." jawabnya tersenyum pahit, lalu pergi.

"Na. Kita ikut ya." jawab Sheila antusias.

Ana sebenarnya ingin teman - temannya ikut tapi jam pelajaran ke- 2 akan segera dimulai.

"Nggak apa - apa kok. Aku bisa sendiri."

"Yakin, Na?" tanya Jeje khawatir.

"Iya dong. Aku nggak akan nyasar kok." jawab Ana, lalu disambung kedua temannya itu tertawa.

________________________

Di Lorong menuju Ruang Guru, terlihat gerombolan siswa laki - laki. Dan jika dilihat dengan seksama itu adalah Geng Nathaniel.

"Waduh, gawat. Cowok itu lagi.." gumamnya, tapi sialnya lorong itulah jalan satu satunya menuju Ruang Guru.

Mau tidak mau Ana harus melewati komplotan Geng Sekolah itu.

Nathaniel rupanya punya kharismatik tersendiri, matanya yang tajam dan juga rahang yang tegas membuat dia disegani dan dikagumi sedangkan Kai ia lebih tenang, kalem dibanding Nathaniel.

Ana yang terus menunduk dan Nathaniel yang terus melihat ponselnya, sehingga tabrakan pun tak terhindarkan

BRUGH!

Buku yang catatan yang Ana pegang ikut terlempar, alih - alih bantu Ana mengambil bukunya, Nathaniel malah kesal dan berkomentar pedas.

"Heh! Kamu nggak punya mata?! Kalau jalan tuh lihat ke depan."

"Dih. Bukannya ditolong, malah sewot." batin Ana.

Ana mengambil kembali buku catatannya yang tergeletak di lantai.

Menatap Nathaniel yang masih mengomel.

"Udah puas ngomelnya?",

Teman - teman Nathaniel terbelalak, tak ada yang berani kepada bos mereka itu.

"Aku tadi jalan pakai kaki ya, tapi kamu jalan sambil main ponsel. Yang salah siapa?!" tegasnya.

Nathaniel tersenyum pahit. Baru kali ini ada yang berani melawan.

Tapi...

Entah kenapa, gadis itu membuatnya kesal sekaligus penasaran.

Seperti pernah lihat, tapi dimana...

"Pokoknya, karena kamu udah nabrak aku. Minta maaf sekarang."ketus Nathaniel.

"Apa?! Yang bener aja. Kamu yang nabrak aku karena main ponsel, kenapa aku yang minta maaf?" tegas Ana, menolak.

"What? Bos, kayaknya dia siswi pindahan itu. Yang cantiknya kayak Tinkerbelle." sahut salah satu temannya yang berbisik ke Nathaniel.

Nathaniel tertawa meledek. "Tinkerbelle darimananya? CK, yaudah aku tunggu kamu minta maaf sampai pulang Sekolah. Gimana kalau dilapangan, biar dilihat sama banyak orang." sahut Nathaniel, jarak mereka sekarang lebih dekat.

"Cih, nggak Sudi ya. Awas! Aku mau lewat." gerutu Ana, lalu pergi melewati Nathaniel.

"Waduh gawat. Udah ada yang mulai berani lawan bos mafia Nathaniel." celetuk Waden sambil cengengesan.

"Diam!" tegas Nathaniel, merasa dipermalukan tapi ia jadi penasaran dengan Ana.

Setelah membawa kartu pelajarnya dari Pak Anton dan kertas - kertas ujian kelasnya, Ana menyimpannya di meja depan.

Tiba - tiba Kai beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Ana.

"Kamu mau kemana?" tanyanya.

Dengan nafas tersengal ia menjawab, "Mau duduk-"

Sreett.

Mengambil tumpukan kertas ujian, lalu menyodorkannya.

"Bagikan semuanya."

"Hem? A-aku?" tanya Ana terkejut, bukan hanya dia melainkan seisi kelas pun terkejut.

"Kai kok agak berbeda ya hari ini, Je." bisik Sheila.

"Iya. Dia kayak lagi usil ke Ana. Sengaja biar Ana sibuk kesana kesini." jawabnya datar, tak suka sahabat barunya diperlakukan seperti itu.

"Oke." Jawabnya singkat, lalu membagikan kertas ujian sesuai nama siswa.

Kai yang melihatnya pun, tersenyum samar nyaris tak terlihat. Dan kembali duduk sambil lihat Ana membagikan hasil ujian.

Dan kertas terakhir, ia bagikan kepada dirinya sendiri. Selesai itu, Ana pun duduk sambil mengatur nafasnya.

"Ana, kamu nggak apa - apa?" tanya Sheila, cemas.

"(Menggeleng sambil tersenyum) Aku nggak apa - apa."

"Si kulkas 2 pintu, hari ini menyebalkan." gerutu Jeje.

"Sebelumnya dia nggak kayak gini?" tanya Ana, tiba - tiba ia penasaran.

"Nggak, dan nggak pernah dia bicara sama orang apalagi panggil nama orang." jelas Sheila.

"Kayak pake lem bibirnya. Sekalinya ngomong, mungkin itu sebuah keajaiban." tambahnya lagi.

Ana semakin penasaran dengan Kai, dia merasa Kai mengetahui tentang dirinya.

Jam pelajaran kedua pun berakhir dan sampailah di pelajaran olahraga.

[ Di ruang ganti. ]

Jeje mencuci wajahnya, tapi yang membuat Ana terpesona adalah wajah Jeje yang memang cantik alami, natural dan tampak riasan sedikitpun.

"Wajah kamu cantik natural." sahutnya.

Jeje membersihkan wajah yang basah dengan tissu. "Ah kamu berlebihan, Na. Kamu lebih cantik dariku." timpal Jeje.

Ana langsung terdiam, "Nggak Je, aku Nggak cantik sama sekali. Aku cuma bersembunyi dibalik riasan aja." batin Ana, sempat melamun.

"Ana. Kok malah melamun?" tanya Jeje, memecah lamunan Ana.

"Hah? Ouh, nggak kok. Aku cuma terkagum aja liat wajah kamu. Hehe..." jawab Ana, berbohong.

"Em dasar. Sheila lama banget di kamar mandi." omel Jeje.

"SHEILA!!!" panggil Jeje, membuat Ana ikut terkejut.

"Ma-maaf, Na. Kamu kaget ya?" semua berubah jadi komedi, Ana pun tertawa setelah kaget mendengar suara Jeje yang keras.

Setelah mereka berganti pakaian dengan pakaian olahraga, mereka bertiga pun langsung pergi ke lapangan yang dimana siswa siswi kelas mereka sudah berkumpul.

Ana memakai pakaian olahraga di tubuhnya yang ramping dan rambut masih tertata rapi. Membuat ia jadi pusat perhatian orang - orang.

Bukan hanya anak - anak kelasnya saja tapi yang sedang berjalan, ngobrol ditaman dekat lapangan pun terfokus pada Ana yang sedang olahraga voli.

"Bolanya lembar kesini, Na!" teriak Sheila dengan semangat.

"Iya!"

Wing, dug!

Bolanya mendarat di kepala belakang Kai. Membuat semua orang terkejut, entah apa yang akan dilakukan Kai nanti kepada Ana.

Mereka mengira Kai akan marah dan memberi hukuman kepada orang yang sudah melempar bola mengenai kepalanya. Tapi-

"Nih tangkap." sahutnya dengan ekspresi datar.

Ana menangkap dengan ekspresi bingung, yang semula takut Kai marah jadi memasang wajah bingung.

"Lho? Kai nggak ngamuk?! semua mempertanyakan, tingkah laku Kai.

Ana menghampiri Kai untuk meminta maaf.

"Ma-maaf Kai, aku nggak sengaja. Apa kepala kamu masih sakit?" tanya Ana, merasa bersalah.

Ana refleks mengelus lembut kepala belakang Kai, Dan..

#Bersambung...

1
Berliana Febbyola
Iya kah? Lebih terpontang panting kalau yang iniiii🤭
NonaMudaDesi
Ceritanya mirip drakor true beauty yah, tapi ini lebih dark nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!