Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: MENARA OBSIDIAN
08:05:00
Taksi biru yang ringsek bagian depannya itu terparkir miring di Basement 3 Menara Obsidian. Asap tipis keluar dari kap mesin yang penyok akibat menabrak palang parkir.
Vero menendang pintu mobil hingga terbuka. Dia keluar, pistol terarah ke sekeliling.
Area parkir VIP ini sunyi. Lampu neon berdengung rendah. Deretan mobil mewah—Mercedes, BMW, Alphard—terparkir rapi, berkilau di bawah cahaya artifisial.
"Keluar. Cepat," desis Vero.
Sarah dan Maya merangkak keluar dari taksi. Kaki Maya masih gemetar, tas pendingin medis dipeluk erat di dadanya seperti bayi.
"Lewat mana?" tanya Vero pada Maya. "Jangan bilang lobi utama. Kita butuh jalan tikus."
Maya menelan ludah, menunjuk ke sudut gelap di ujung area parkir. Ada pintu baja ganda dengan simbol Biohazard kecil.
"Lift Logistik B. Itu jalur khusus untuk pengiriman sampel biologis dan... pembuangan limbah rahasia. Aksesnya langsung tembus ke Laboratorium Level 45 tanpa melewati resepsionis lobi."
"Bagus," kata Vero.
Mereka berlari kecil menuju pintu itu.
Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu bot terdengar menggema.
Seorang satpam patroli muncul dari balik pilar, tangan memegang radio HT.
"Hei! Siapa di sana?!" Satpam itu melihat taksi yang hancur dan senjata di tangan Vero. Matanya membelalak. "Kode Hitam di B3! Ada penu—"
Vero tidak menembak. Suara tembakan akan memicu alarm gedung.
Dia berlari sprint.
Satpam itu mencoba mencabut taser gun dari sabuknya.
Terlambat.
Vero meluncur di lantai licin, menjegal kaki satpam itu hingga jatuh terjengkang.
Sebelum satpam itu bisa berteriak, Vero menghantamkan gagang pistolnya ke pelipis pria itu.
Brak.
Pingsan.
"Maaf, Pak. Tidur sebentar," gumam Vero. Dia mengambil kartu akses yang tergantung di pinggang satpam itu.
"Sarah, urus CCTV," perintah Vero sambil menyeret tubuh satpam itu ke balik mobil BMW agar tidak terlihat.
Sarah mengeluarkan ponsel militer curian dan menghubungkannya ke laptopnya sambil berjalan.
"Aku sedang mencoba masuk ke jaringan gedung. Keamanannya gila-gilaan, tapi..." Sarah berhenti mengetik, wajahnya bingung. "Tunggu. Firewall-nya sedang down."
"Down?"
"Sistem keamanan gedung sedang dialihkan. Bandwidth mereka tersedot ke satu saluran berita. Semua orang di gedung ini sedang menonton siaran langsung ledakan Stasiun Pusat."
Vero tersenyum tipis. Pengalihan isunya berhasil.
"Terima kasih, Adrian. Kematianmu berguna."
Mereka sampai di depan Lift Logistik.
Vero menempelkan kartu akses satpam. Lampu merah.
Access Denied.
"Kartu satpam level rendah," umpat Vero. "Maya, giliranmu."
Maya maju dengan ragu. Dia menempelkan telapak tangannya ke panel pemindai di samping pintu lift.
Cahaya biru memindai sidik jarinya.
Bip. Welcome, Dr. Maya.
Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desis hidrolik yang berat.
Di dalamnya bukan kabin lift biasa yang mewah. Dindingnya dilapisi baja tahan karat (stainless steel) dingin, berbau disinfektan kuat.
Mereka bertiga masuk.
"Lantai berapa?" tanya Vero.
"Lantai 50," jawab Maya. "Ruang Server Utama dan Mesin Omega ada di Penthouse. Tapi lift ini cuma sampai Lantai 45 (Lab). Kita harus naik tangga darurat untuk 5 lantai terakhir."
Vero menekan tombol 45.
Lift mulai bergerak naik dengan kecepatan tinggi yang membuat telinga berdenging.
08:10:00.
Di dalam kotak besi yang meluncur naik itu, ketegangan terasa mencekik.
Sarah melihat angka lantai berganti dengan cepat di layar indikator.
B3... G... 5... 10...
"Vero," bisik Sarah. "Kalau kita berhasil mematikan mesin itu... apa yang terjadi?"
"Loop berhenti," jawab Vero, matanya terpaku pada pintu lift, Glock 19 siap di tangan.
"Dan besok?" tanya Sarah lagi. "Apa yang terjadi besok? Apa kita akan ingat semua ini?"
Vero terdiam. Dia tidak pernah memikirkan itu.
"Entahlah. Mungkin kita akan bangun di hari Selasa, dan ini semua cuma jadi mimpi buruk yang samar. Atau mungkin kita tetap ingat, dan harus hidup dengan trauma ini selamanya."
Vero menoleh ke Maya. "Kau tahu efek sampingnya?"
Maya menggeleng lemah. "Teorinya... Grandfather Paradox akan terjadi. Waktu akan mengoreksi dirinya sendiri. Semua kejadian di timeline yang 'batal' akan dihapus. Tapi timeline utama akan terus berjalan."
"Artinya... stasiun yang meledak itu..."
"Tetap meledak," kata Maya lirih. "Kita tidak bisa menyelamatkan mereka, Vero. Kita hanya bisa mencegah hari esok meledak juga."
Vero mengepalkan tangan kirinya.
Harga yang mahal.
Ting.
Lantai 45.
Vero memberi isyarat diam. Dia berdiri di samping pintu, siap menyergap.
Pintu terbuka.
Tidak ada penjaga di depan lift.
Yang ada adalah kekacauan.
Lorong laboratorium yang serba putih itu dipenuhi para ilmuwan berjas lab yang berlarian panik. Sirine merah berputar tanpa suara di dinding. Layar-layar monitor di lorong menampilkan Breaking News Stasiun Pusat yang runtuh.
"Evakuasi! Protokol Omega aktif!" teriak salah seorang ilmuwan.
Mereka terlalu sibuk menyelamatkan data dan diri sendiri untuk menyadari ada tiga penyusup keluar dari lift logistik.
"Jalan terus. Jangan bertatapan mata," bisik Vero. Dia menyembunyikan pistol di balik kemejanya yang berdarah.
Mereka berjalan cepat menyusuri lorong, berbaur dengan kepanikan.
"Tangga darurat di ujung lorong kanan," arahkan Maya.
Tiba-tiba, seorang pria berjas hitam dengan earpiece (penjaga keamanan internal Triad) menghadang mereka.
"Hei! Kalian dari divisi mana? Kenapa bawa warga sipil?" Dia menunjuk Sarah dan Vero yang bajunya kotor dan berdarah.
Vero tidak berhenti. Dia terus berjalan mendekat.
"Kami dari Unit Pembersihan. Ada kontaminasi di bawah."
"Unit Pembersihan? Saya tidak dapat lapor—"
Vero mencabut pistolnya dan memukulkan gagangnya ke dagu penjaga itu secepat kilat.
Brak.
Penjaga itu ambruk.
Beberapa ilmuwan di dekat situ menjerit.
"LARI!" teriak Vero.
Penyamaran terbongkar.
Vero, Sarah, dan Maya berlari menuju pintu tangga darurat.
Di belakang mereka, dua penjaga lain muncul dari tikungan dan mulai menembak.
Dor! Dor!
Kaca partisi lab pecah berhamburan.
"Masuk! Masuk!" Vero mendorong Sarah dan Maya ke balik pintu tangga darurat yang berat, lalu berbalik melepaskan dua tembakan balasan (suppressive fire) ke arah penjaga.
Bang! Bang!
Vero masuk ke tangga darurat dan membanting pintu hingga tertutup. Dia menembak pegangan pintu itu hingga rusak agar tidak bisa dibuka dari luar dengan mudah.
Mereka kini berada di tangga beton yang bergema.
"Lima lantai lagi!" teriak Vero. "Naik!"
Mereka berlari menaiki anak tangga.
Lantai 46.
Lantai 47.
Napas Maya mulai habis. Dia tertinggal.
Sarah menarik tangannya. "Ayo Maya! Sedikit lagi!"
Lantai 49.
Di atas mereka, di bordes Lantai 50, pintu terbuka.
Seorang tentara bayaran Unit Delta dengan rompi taktis lengkap muncul, mengarahkan senapan serbu ke bawah.
"Target di tangga!"
Vero bereaksi instan. Dia mendorong Sarah dan Maya ke dinding.
"Tunduk!"
TATATATATA!
Peluru menghujani anak tangga, menciptakan debu beton dan percikan api. Suara bising di ruang tertutup tangga darurat itu memekakkan telinga.
Vero berguling, membidik ke atas dari celah sempit pegangan tangga (railing).
Sudut tembak yang sulit. Musuh punya High Ground.
"Aku butuh pengalihan!" teriak Vero.
Sarah melihat sekeliling. Ada Alat Pemadam Api Ringan (APAR) tergantung di dinding dekat mereka.
"Vero! Tembak itu!" Sarah menunjuk tabung merah itu, lalu melemparkannya ke atas, ke arah bordes tempat tentara itu berdiri.
Sarah melempar tabung APAR itu sekuat tenaga. Tabung itu melayang di udara.
Vero membidik.
Bukan ke tentara. Ke tabung merah yang melayang.
DOR!
Peluru menembus tabung bertekanan tinggi itu.
BOOM!
Tabung APAR meledak, menyemburkan bubuk putih kimia ke seluruh bordes Lantai 50. Kabut putih tebal menutupi pandangan si tentara.
"Argh! Mataku!"
Vero memanfaatkan momen itu. Dia berlari menaiki tangga sambil menembak menembus kabut putih.
Dor! Dor!
Suara tubuh jatuh terdengar.
Vero sampai di Lantai 50. Tentara itu terkapar.
"Bersih!" teriak Vero.
Sarah dan Maya menyusul naik, terbatuk-batuk karena bubuk pemadam.
Di depan mereka, ada satu pintu ganda besar berwarna hitam matte tanpa pegangan. Hanya ada panel pemindai retina dan suara.
Di atas pintu itu, terukir tulisan emas:
PROJECT ZERO: TEMPORAL CORE
"Ini dia," kata Maya, napasnya tersengal. "Pintu terakhir."
Vero mengecek pistolnya.
"Buka pintunya, Maya. Dan apapun yang ada di dalam sana... jangan berhenti sampai Drive itu terpasang."
Maya mengangguk. Dia melangkah maju.
Dia menempelkan matanya ke pemindai.
"Identifikasi: Dr. Maya Lestari."
Scan Retina Complete.
Voice Command Required.
Maya menarik napas.
"Chronos Devourer."
Klik. Hiss...
Pintu hitam itu terbuka perlahan, memancarkan cahaya biru yang menyilaukan dari dalam. Suara dengung rendah—seperti suara jantung raksasa—bergetar hingga ke tulang mereka.
Mereka melangkah masuk ke dalam perut mesin waktu.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔