NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5 Tuan muda sutra di Lembah para terbuang

Kabut kelabu merayap dari kaki Gunung Tengkorak, menyelimuti jalanan berbatu yang menuju ke Lembah Gagak Hitam. Jinling, dengan segala kemegahan emas dan intrik istananya, kini berada puluhan li di belakang. Perubahan lanskap ini begitu drastis. Dari paviliun sutra yang harum, kini berganti menjadi hamparan tanah tandus yang berbau belerang dan pembusukan. Pohon-pohon mati berdiri seperti jemari raksasa yang mencuat dari dalam bumi, dahan-dahannya yang gundul menjadi tempat bertengger ratusan gagak bermata satu yang mengawasi setiap pendatang dengan tatapan lapar.

Tiga ekor Kuda Iblis Mata Merah melesat menembus kabut, derap langkah kaki mereka meninggalkan jejak api tipis di atas tanah yang menghitam. Di atas punggung kuda paling depan, Cang Qixuan duduk dengan santai. Tudung jubahnya yang berwarna kelabu tua berkibar kencang ditiup angin malam. Topeng perunggu setengah wajah miliknya memantulkan cahaya rembulan yang samar, menyembunyikan paras tampannya di balik rupa monster logam yang dingin.

Di belakangnya, Mo Chen mengendalikan kudanya dengan kepatuhan mutlak. Di sisi lain, seorang wanita paruh baya bertubuh kurus bernama Lin Sanniang—salah satu informan terbaik Jaring Bayangan yang biasa beroperasi di wilayah perbatasan—memimpin jalan dengan kewaspadaan tinggi.

"Tuan Muda, kita telah memasuki batas luar Lembah Gagak Hitam," suara Lin Sanniang terdengar berat, teredam oleh kain penutup wajahnya. "Tempat ini berada di luar jangkauan hukum Kekaisaran Yan. Para pembunuh bayaran yang gagal mengeksekusi target, kultivator sesat yang diusir dari sekte ortodoks, hingga buronan pengadilan kelas kakap berkumpul di sini. Di lembah ini, kekuatan adalah hukum tertinggi, emas adalah tuhan kedua."

Qixuan menarik sedikit tali kekang kudanya, memperlambat laju lari hewan iblis tersebut saat jalanan mulai menyempit menjadi celah tebing yang curam. "Emas adalah tuhan kedua? Pernyataan yang sangat bagus, Sanniang. Bagiku, selama sesuatu bisa dibeli dengan emas, tempat itu tidak berbeda dengan pasar malam di Jinling. Aku justru lebih suka berurusan dengan penjahat luar hukum daripada para menteri di pengadilan. Setidaknya, penjahat di sini tidak akan berpura-pura membacakan puisi kebajikan sebelum mereka mencoba menusuk punggungmu."

Langkah kaki kuda mereka akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besar yang terbuat dari jalinan tulang belulang binatang raksasa dan kayu ulin yang menghitam. Dua obor besar yang menyala dengan api berwarna hijau pekat mengapit gerbang tersebut, memberikan kesan mistis yang mencekam.

Belasan pria berpakaian kulit serigala dengan zirah besi yang berkarat berdiri menjaga gerbang. Senjata-senjata mereka—mulai dari gada berduri hingga parang raksasa—masih menyisakan noda darah kering. Merasakan kedatangan tiga penunggang kuda iblis, para penjaga tersebut langsung bersiap, memancarkan aura ganas tingkat Pengumpulan Qi tahap menengah hingga akhir.

"Berhenti!" seorang pria raksasa berkepala botak dengan tato kalajengking di lehernya melangkah maju, menghantamkan gagang kapak raksasanya ke tanah. *BOM!* Tanah berbatu sedikit retak. "Siapa kalian?! Lembah Gagak Hitam tidak menerima pelancong tersesat! Tinggalkan kuda-kuda berharga ini dan seluruh barang bawaan kalian jika masih ingin kepala kalian tetap menempel di leher!"

Qixuan tidak turun dari kudanya. Dari balik topeng perunggunya, sepasang matanya berkilat malas. Ia merogoh lengan bajunya yang longgar, mengeluarkan sepasang batangan emas murni berbobot masing-masing seratus kati. Tanpa peringatan, ia melempar batangan emas berat tersebut tepat ke arah wajah si pria botak.

*Wush!*

Pria botak itu terkejut melihat dua balok kuning berkilauan melesat ke arahnya. Menggunakan reflek kultivasinya, ia menjatuhkan kapaknya dan menangkap kedua balok emas itu dengan kedua tangannya. Beban berat emas murni berpadu dengan sisa inersia qi yang ditanamkan Qixuan membuat tubuh raksasa pria itu terseret mundur lima langkah di atas tanah, meninggalkan dua parit kecil di bawah sepatunya.

Mata pria botak itu terbelalak lebar saat menyadari apa yang ia genggam. Kemurnian emas ini... adalah standar tertinggi Perbendaharaan Kekaisaran!

"Uang tip untuk membuka pintu," suara Qixuan terdengar dari balik topeng, santai dan penuh penghinaan. "Aku datang untuk membuang uang, bukan untuk mendengarkan gonggongan anjing penjaga. Buka gerbangnya sebelum aku kehilangan selera dan membeli seluruh kepala kalian hanya untuk dijadikan hiasan roda keretaku."

Para penjaga gerbang lainnya yang tadinya berniat menyerang langsung membeku. Mereka menatap dua balok emas di tangan pemimpin mereka dengan mata hijau penuh keserakahan. Di tempat terkutuk ini, dua ratus kati emas murni bisa digunakan untuk membeli pil obat berharga atau menyewa puluhan pembunuh bayaran selama setahun penuh. Pemuda bertopeng ini melemparnya seolah-olah itu hanyalah batu kali yang tidak berharga.

Pria botak itu menelan ludah dengan susah payah. Ia segera menyimpan emas tersebut ke dalam zirah kulitnya, lalu membungkuk dalam-dalam hingga punggungnya membentuk sudut siku-siku. Sikap ganasnya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh kepatuhan seekor anjing peliharaan yang penurut.

"Tuan Besar yang mulia... hamba telah bersikap lancang!" suara pria botak itu bergetar penuh kegembiraan. "Silakan masuk! Lembah Gagak Hitam selalu menyambut para dewa kekayaan seperti Anda! Hei, kalian semua, cepat buka gerbang tulang! Bersihkan jalannya!"

Gerbang kayu raksasa berderit terbuka. Qixuan memacu kudanya masuk ke dalam lembah, diikuti oleh Mo Chen yang wajahnya tetap datar, dan Lin Sanniang yang diam-diam mengagumi efektivitas metode foya-foya tuannya. Di dunia luar, menyusup ke tempat seperti ini membutuhkan penyamaran rumit atau pertarungan berdarah. Di tangan Tuan Muda Cang, sebuah tembok pertahanan luar hukum bisa diruntuhkan hanya dengan dua balok logam kuning.

Bagian dalam Lembah Gagak Hitam adalah sebuah kota bawah tanah yang dibangun di dalam ceruk tebing raksasa. Lentera-lentera minyak merah tergantung di sepanjang jalanan yang becek, menerangi ratusan kios yang menjual barang-barang terlarang. Di satu sudut, seorang kultivator tua berwajah keriput menjual bagian tubuh monster iblis yang masih segar; di sudut lain, sekelompok pria merantai puluhan budak wanita dari negara-negara tetangga yang siap dijual kepada penawar tertinggi.

Udara di sini pengap, dipenuhi aroma asap candu, arak murah, dan karat besi.

Qixuan menunggangi kudanya perlahan menembus kerumunan. Kehadirannya dengan Kuda Iblis Mata Merah yang langka dan jubah sutra yang mahal langsung memicu perhatian ratusan pasang mata yang penuh niat jahat. Banyak kultivator liar yang mulai meraba gagang senjata mereka, bersiap untuk melakukan perampokan di tengah jalan.

Merasakan niat buruk yang berkumpul di sekitar mereka, Mo Chen yang menunggangi kuda di belakang Qixuan perlahan melepaskan sedikit aura pedangnya. *Sring!* Sebuah riak energi spiritual yang sangat tajam berkilat di udara malam, memotong sebatang tiang kayu lentera di dekat mereka menjadi dua bagian yang sangat rapi.

Aura Pembentukan Fondasi tahap akhir!

Merasakan penekanan mental dari Mo Chen, para kultivator liar di sepanjang jalan seketika memucat. Mereka menarik kembali tangan mereka dari senjata masing-masing dengan panik, buru-buru memalingkan wajah ke arah lain. Seorang pengawal di tingkat Pembentukan Fondasi tahap akhir adalah eksistensi yang bisa membantai setengah isi lembah ini dalam semalam jika diprovokasi. Memiliki pengawal sekuat itu membuktikan bahwa pemuda bertopeng perunggu di depannya bukanlah domba gemuk yang bisa disembelih sembarangan, melainkan putra dari klan kuno yang mengerikan.

Kereta kuda mereka berhenti di depan sebuah bangunan tiga lantai yang terbuat dari batu hitam berlumut, dengan papan nama bertuliskan *Kedai Anggur Tulang Hitam*. Ini adalah pusat perdagangan informasi terbesar di dalam lembah, dikelola oleh seorang wanita misterius bernama Murong Chan.

Qixuan turun dari kudanya, melangkah masuk ke dalam kedai yang bising oleh suara tawa para penjahat. Begitu ia melangkah melewati pintu, keheningan perlahan menyebar. Penampilan Qixuan yang kelewat mewah sangat kontras dengan lingkungan kedai yang kotor dan berbau darah.

"Siapa pengelola tempat ini?" Qixuan bertanya dengan suara keras, berdiri di tengah ruangan sambil mengayunkan kipas gioknya yang mewah.

Seorang wanita dengan gaun sutra ungu ketat melangkah turun dari tangga lantai dua. Ia memiliki wajah yang sangat menawan dengan tahi lalat kecil di sudut matanya, memancarkan pesona kedewasaan yang berbahaya. Gerakannya anggun, namun setiap langkah kakinya tidak meninggalkan suara sedikit pun di atas lantai kayu, membuktikan ilmu meringankan tubuhnya telah mencapai tingkat yang sangat tinggi. Dialah Murong Chan, mantan murid inti dari Sekte Anggrek Hitam yang membelot setelah membunuh seluruh tetua sektenya karena dendam pribadi.

"Tamu terhormat dari jauh, saya adalah Murong Chan," suara wanita itu terdengar lembut, merayap masuk ke dalam telinga setiap orang seperti bisikan kekasih. Matanya yang tajam menyapu topeng perunggu Qixuan, lalu beralih pada Mo Chen yang berdiri di belakangnya seperti patung kematian. "Tempat kecilku jarang dikunjungi oleh tuan muda sebesar Anda. Boleh saya tahu, informasi berbobot apa yang sedang Anda cari malam ini?"

Qixuan tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju meja kosong terbesar di tengah ruangan, menendang kursi kayu yang kotor hingga hancur, lalu memberi isyarat kepada Mo Chen.

Mo Chen melangkah maju, menjatuhkan sebuah karung kain rami besar ke atas meja. Karung itu robek saat mendarat, mengeluarkan ratusan batu spiritual tingkat menengah yang berkilauan dengan cahaya biru murni. Energi spiritual yang pekat seketika memenuhi seluruh ruangan kedai, membuat napas para kultivator di sana menjadi sesak karena keserakahan yang memuncak.

"Aku tidak suka berbicara di tempat yang bising," Qixuan berkata dengan nada malas, bersandar pada pilar batu di dekat meja. "Batu-batu spiritual ini adalah biaya untuk mengosongkan tempat ini selama satu jam. Siapa saja yang masih berada di dalam ruangan ini dalam waktu sepuluh hitungan... pengawalku akan membantu kalian memotong kaki kalian agar bisa keluar lebih cepat."

Mendengar ancaman itu, ditambah dengan tatapan dingin dari Mo Chen, para pengunjung kedai tidak berani memprotes meski hati mereka dipenuhi amarah. Mereka berebut keluar dari pintu depan seperti tikus yang ketakutan, menyisakan Murong Chan yang berdiri terpaku dengan senyum yang sedikit membeku di wajah cantiknya.

Menghamburkan ratusan batu spiritual tingkat menengah hanya untuk mengosongkan kedai anggur... Tindakan gila ini bahkan tidak akan dilakukan oleh pangeran kekaisaran sekalipun.

"Tuan Muda benar-benar memiliki selera yang unik," Murong Chan melangkah mendekati meja, menyapu batu-batu spiritual itu ke dalam cincin penyimpanannya dengan gerakan cepat. "Sekarang ruangan ini sudah sunyi. Silakan katakan keinginan Anda."

"Di mana Paviliun Karat Hijau milik Gu Lie?" Qixuan bertanya langsung pada intinya, pandangan matanya di balik topeng mengunci wajah wanita itu.

Mendengar nama Gu Lie, ekspresi Murong Chan berubah drastis. Ketakutan yang tulus berkilat di matanya sebelum ia berhasil menyembunyikannya. "Anda... Anda mencari Alkemis Sinting itu? Tuan Muda, saya menyarankan Anda untuk membatalkan niat Anda. Gu Lie bukan lagi seorang manusia; dia adalah monster yang terbuat dari racun. Menara Obat Surgawi mengirim tiga tetua Pembentukan Fondasi tingkat akhir untuk menangkapnya bulan lalu, dan ketiga kepala tetua itu kini digantung sebagai pot tanaman di halaman rumahnya. Dia tidak menerima tamu, dia hanya menerima bahan percobaan hidup."

"Aku tidak butuh nasihatmu, Nyonya Murong," Qixuan mendengus dingin, mengeluarkan sebuah gulungan peta sutra yang ia dapatkan dari Kompas Bintang Putri Yan Ling semalam. "Aku membawa bahan percobaan yang paling ia inginkan di dunia ini: Peta Jalur Suplai Obat Rahasia Militer Istana. Katakan saja lokasinya, atau aku akan membakar kedai ini beserta seluruh informasi di dalamnya."

Murong Chan menarik napas dalam-dalam, menyadari bahwa pemuda bertopeng di depannya adalah orang gila dengan latar belakang yang terlalu besar untuk ia singgung. Ia mengambil selembar kertas, menuliskan beberapa baris petunjuk dengan cepat, lalu menyerahkannya pada Qixuan.

"Di bagian paling dalam lembah, di bawah Air Terjun Darah. Rumahnya berada di dalam gua belerang," bisik Murong Chan. "Semoga keberuntungan menyertai Anda, Tuan Muda. Jika Anda tidak kembali besok pagi, saya akan menggunakan batu spiritual Anda untuk membelikan peti mati terbaik untuk Anda."

Qixuan mengambil kertas tersebut, berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun, jubah sutranya berkibar angkuh saat ia melangkah keluar kedai.

Perjalanan menuju bagian terdalam Lembah Gagak Hitam semakin menyiksa bagi makhluk hidup biasa. Udara berubah menjadi merah karena kabut belerang yang keluar dari celah-celah bebatuan. Suara gemuruh air terjun terdengar di kejauhan, namun air yang mengalir di sungai bawah tanah ini berwarna merah tua akibat kandungan mineral besi oksida tingkat tinggi, menyerupai aliran darah raksasa yang membelah kegelapan.

Di ujung sungai, di bawah tebing curam tempat Air Terjun Darah bergemuruh, berdiri sebuah bangunan aneh yang berbentuk seperti tungku pil raksasa berkaki tiga. Bangunan itu terbuat dari perunggu hitam yang sudah berkarat hijau, dikelilingi oleh parit berisi cairan beracun yang mendidih, mengeluarkan gelembung-gelembung gas ungu yang mematikan.

Di halaman depan bangunan tersebut, seperti yang dikatakan Murong Chan, tiga tengkorak manusia berukuran besar digantung pada tiang kayu, dengan tanaman herbal berwarna hitam pekat tumbuh subur dari dalam rongga mata mereka.

Qixuan dan Mo Chen menghentikan langkah mereka tepat di depan parit beracun. Hawa beracun di tempat ini begitu pekat hingga zirah kulit Lin Sanniang mulai melepuh karena kontak udara. Melihat hal itu, Qixuan mengalirkan secercah qi murni dari pusaran ketiganya, membentuk pelindung transparan berwarna keemasan gelap yang menyelimuti tubuh mereka bertiga, menahan kabut ungu di luar.

Merasakan fluktuasi energi yang mendekati tempat tinggalnya, pintu perunggu bangunan berkarat hijau itu tiba-tiba terbuka dengan suara dentangan keras.

Sesosok pria dengan penampilan yang sangat mengerikan melangkah keluar. Tubuhnya kurus kering seperti mayat hidup, rambutnya putih acak-acakan berlumuran jelaga hitam. Setengah dari wajah kirinya hancur, memperlihatkan kulit yang melepuh berwarna hijau akibat ledakan pil beracun, sementara mata kanannya berkilat dengan kegilaan yang tak terkendali. Ia mengenakan jubah alkemis yang sudah robek-robek dan penuh noda zat kimia berwarna-warni.

Dialah Gu Lie, sang Alkemis Sinting.

"Siapa yang berani mengganggu eksperimenku?!" Gu Lie meraung, suaranya melengking tinggi seperti gesekan besi berkarat. "Apakah Menara Obat Surgawi mengirim anjing baru lagi?! Bagus! Tungku pilku baru saja kekurangan abu dari tulang kultivator Pembentukan Fondasi!"

Gu Lie mengayunkan lengan bajunya yang longgar. Seketika, kabut ungu dari parit beracun berkumpul membentuk puluhan ular beludru beracun yang melesat menembus udara, mengarah tepat ke wajah Qixuan.

Mo Chen bersiap menghunus pedangnya, namun Qixuan mengangkat tangan kanannya, menahan gerakan pengawalnya.

"Gu Lie, matamu sudah terlalu tua hingga tidak bisa membedakan antara musuh dan Sapi Perah sejati," Qixuan berbicara dengan tenang, sama sekali tidak bergerak menghadapi puluhan ular racun yang mendekat.

Tepat tiga inci di depan pelindung qi Qixuan, ular-ular racun itu tiba-tiba meledak menjadi kabut air biasa. Bukan karena dihancurkan oleh kekuatan fisik, melainkan karena Qixuan telah melempar sebuah kotak giok kecil yang terbuka ke udara. Di dalam kotak tersebut, terdapat sebutir pil berwarna putih bersih yang memancarkan aroma harum bunga melati yang sangat kuat—*Pil Pemurni Sembilan Surga*, salah satu pil penawar racun tingkat tinggi yang diproduksi secara eksklusif oleh keluarga Kerajaan untuk para jenderal perang di perbatasan.

Aroma pil tersebut seketika menetralkan seluruh kabut beracun di sekitar halaman dalam hitungan detik.

Mata gila Gu Lie terkunci pada pil putih di udara. Kegilaannya sesaat mereda, digantikan oleh rasa analisis seorang alkemis jenius. "Pil Pemurni Sembilan Surga... dengan tanda segel tiga garis perak! Itu adalah karya dari Master Alkemis Agung Istana Kekaisaran! Dari mana sampah bertopeng sepertimu mendapatkan benda seperti itu?!"

Qixuan menangkap kembali kotak gioknya dengan santai. "Aku membelinya dari seorang putri kekaisaran bodoh semalam dengan harga beberapa keping kata-kata manis. Gu Lie, Menara Obat Surgawi memburumu karena kau menolak mengikuti aturan ortodoks mereka yang membosankan. Mereka memotong aksesmu terhadap herbal spiritual tingkat tinggi, memaksamu tinggal di gua busuk ini dan menggunakan rongsokan untuk eksperimenmu. Bukankah hidup seperti ini terlalu menyedihkan bagi seorang jenius sepertimu?"

Gu Lie mendengus kasar, wajah hancurnya berkedut kemarahan. "Apa pedulimu?! Aku tidak butuh belas kasihan dari tikus-tikus kaya ibukota! Pergi dari sini sebelum aku menggunakan racun sumsum untuk melelehkan jiwamu!"

"Aku tidak datang untuk memberimu belas kasihan, aku datang untuk mendanai kegilaanmu," Qixuan melangkah maju satu tindak, aura Pembentukan Fondasi tahap awal yang sangat murni dari pusaran Menelan Langit miliknya meledak keluar secara terbuka, berpadu dengan ketajaman mental yang menekan. "Mulai hari ini, Jaring Bayangan milikku akan menyuplai seluruh herbal spiritual langka yang kau butuhkan. Tanaman es dari utara, darah monster dari laut selatan, hingga ramuan terlarang dari dalam gudang istana... aku akan membawanya ke depan pintumu dalam jumlah yang tidak terbatas."

Gu Lie tertegun. Ia menatap pemuda bertopeng di depannya dengan saksama. Aura Pembentukan Fondasi ini... sangat aneh. Tidak mengalir melalui meridian, melainkan memancar langsung dari pusat energinya dengan kemurnian yang menakutkan. Yang lebih mengejutkan adalah tawaran pemuda ini. Dana tanpa batas untuk eksperimen terlarang?

"Tidak ada makan siang gratis di dunia ini, anak muda," Gu Lie menyipitkan mata kanannya yang gila. "Apa yang kau inginkan dariku sebagai gantinya?"

Qixuan menyeringai di balik topengnya. Ia merogoh lengan bajunya, melempar gulungan kertas sutra berisi peta jalur suplai militer rahasia Istana yang ia dapatkan dari Putri Yan Ling semalam ke hadapan Gu Lie.

"Kaisar Yan tua menunjuk seorang wakil jenderal pengkhianat bernama Mu Chenghai untuk memimpin Pasukan Naga Hitam di Perbatasan Utara," suara Qixuan berubah menjadi sedingin es di kutub utara. "Aku ingin kau menciptakan sebuah racun massal yang tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak bisa dideteksi oleh kultivator tingkat Komandan Bumi sekalipun. Racun itu tidak boleh membunuh mereka dengan cepat. Sebaliknya, racun itu harus mengikis energi spiritual di dalam Dantian para prajurit secara perlahan selama dua bulan, membuat mereka merasa lelah, kehilangan kekuatan bela diri, dan mengira diri mereka terkena penyakit kutukan perbatasan."

Gu Lie menangkap gulungan peta tersebut, membukanya, dan matanya seketika berbinar melihat rute pengiriman herbal militer kekaisaran yang sangat rahasia. Sifat gila dan destruktif di dalam darahnya seketika bergejolak mendengar rencana kejam Qixuan. Melumpuhkan seluruh pasukan militer kekaisaran menggunakan racun buatannya... Ini adalah mahakarya yang selalu ia impikan untuk membuktikan eksistensinya kepada dunia yang telah membuangnya!

"Hahaha! Meracuni seluruh Pasukan Naga Hitam?! Rencana yang sangat indah! Sangat berdarah!" Gu Lie tertawa histeris, suaranya menggema di sepanjang dinding tebing belerang. "Aku suka idemu, anak muda! Aku bisa membuat pil bernama *Pil Embun Pemutus Dao*. Jika dimasukkan ke dalam sumber air atau campuran logistik gandum mereka, dalam waktu tiga puluh hari, zhirah besi mereka tidak akan lebih berguna daripada pakaian kain kafan manusia mati!"

Gu Lie menghentikan tawanya, menatap Qixuan dengan kilat licik. "Namun, bahan dasar untuk pil itu membutuhkan *Bunga Jiwa Hitam* yang hanya tumbuh di makam kuno keluarga kerajaan Kekaisaran Yan. Tanpa benda itu, racun ini tidak akan bisa menembus pertahanan qi kultivator tingkat tinggi."

Qixuan melambaikan kipasnya dengan santai. "Bulan depan adalah upacara penghormatan leluhur musim gugur di Pemakaman Kerajaan Gunung Sembilan Naga. Kaisar dan seluruh anggota klan akan pergi ke sana. Aku akan memastikan seratus kuntum Bunga Jiwa Hitam mendarat di mejamu sebelum ritual selesai. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah bersumpah setia padaku dengan Sumpah Darah Dao."

Sumpah Darah Dao adalah ikatan mistis tertinggi bagi seorang kultivator. Pelanggaran berarti kehancuran instan bagi Dantian dan jiwa penggunanya.

Gu Lie menatap gulungan peta militer di tangannya, lalu menatap pegunungan batu spiritual murni yang dijanjikan di masa depan. Menara Obat Surgawi memperlakukannya sebagai sampah; pemuda bertopeng ini memperlakukannya sebagai senjata pemusnah masal. Bagi seorang alkemis gila, tidak ada kehormatan yang lebih tinggi dari ini.

*Sret!*

Gu Lie menggigit jari telunjuknya sendiri hingga berdarah, lalu mengukir sebuah prasasti rune darah di udara malam. "Aku, Gu Lie, dengan darahku sebagai saksi, bersumpah demi Dao Kebenaran: Mulai malam ini, jiwaku dan kuali pilku adalah milik Penguasa Bayangan. Pelanggaran berarti jiwaku akan hancur terberai menjadi debu abu!"

Rune darah itu menyala merah terang sebelum melesat masuk ke dalam dahi Qixuan, menanamkan ikatan kendali mutlak di dalam lautan kesadarannya.

Qixuan tersenyum puas. Penguasa sejati tidak mengumpulkan pasukan yang berbaris rapi dengan zirah mengkilap; penguasa sejati mengumpulkan para monster yang dibuang oleh dunia dan mengubah mereka menjadi pisau belati yang siap merobek jantung kekaisaran dari dalam kegelapan.

"Selamat bergabung di dalam permainan, Gu Lie," Qixuan berbalik arah, melangkah meninggalkan Air Terjun Darah bersama Mo Chen dan Lin Sanniang. "Mo Chen, berikan dia kantong penyimpanan berisi sepuluh ribu batu spiritual pertama sebagai modal awal. Kita harus kembali ke Jinling sebelum matahari meninggi. Upacara Penghormatan Musim Gugur di Pemakaman Kerajaan akan menjadi panggung foya-foya kita berikutnya, dan aku ingin memastikan seluruh ibukota ikut menari di atas api yang kubuat."

Kuda-kuda iblis bermata merah kembali meringkik, membawa sang Tuan Muda Sutra keluar dari lembah para terbuang, meninggalkan benih kehancuran baru yang siap meledak di perbatasan utara Dinasti Yan. Alur catur berdarah miliknya semakin rapi, menuntut setiap musuhnya membayar setiap cemoohan masa lalu dengan nyawa dan kekuasaan mereka.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!