Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Tak Pernah Siap Kuterima
POV Kanaya
Langkahku terhenti sesaat begitu pintu lift tertutup.
Suara mesin yang bergerak naik terdengar samar, tapi pikiranku… justru turun jauh ke belakang. Ke satu tahun lalu saat semuanya runtuh.
Aku menghela napas pelan, menatap pantulan diriku di dinding lift yang mengilap.
“Kenapa harus hari ini…” gumamku lirih.
Bayangan itu datang lagi.
Fatan.
Dalam seragam sopir.
Dengan tatapan yang… tidak lagi sama.
Aku memejamkan mata sejenak.
Satu tahun lalu, aku berdiri di titik yang jauh berbeda. Aku bukan wanita yang berdiri tegak seperti sekarang. Aku adalah seseorang yang hancur pelan, diam-diam, tapi menyakitkan.
Aku ingat malam itu.
Malam ketika aku memutuskan pergi.
“Aku tidak bisa bertahan seperti ini, Fatan,” ucapku saat itu, suaraku berusaha tetap tenang meski hatiku berantakan. “Pernikahan ini… sudah kehilangan maknanya, pernikahan tanpa ada landasan apapun hanya akan meninggalkan luka”
Fatan hanya menatapku, tanpa emosi yang jelas, walaupun ia mengatakan akan berusaha memperbaikinya namun bagiku itu terlambat
“Kamu terlalu berlebihan,” jawabnya dingin. “Semua ini masih bisa diperbaiki.”
Aku tersenyum getir.
“Diperbaiki oleh siapa?” tanyaku. “Aku? Sendirian lagi?”
Tidak ada jawaban.
Dan saat itu… aku tahu.
Aku memang sendirian sejak awal.
Lift berdenting pelan, membawaku kembali ke masa kini. Namun kakiku belum bergerak keluar.
Aku masih terjebak di sana.
Hari-hari setelah perceraian itu tidak mudah.
Aku pulang ke rumah dengan hati kosong. Tidak ada lagi suara yang menyambut. Tidak ada lagi seseorang yang kutunggu.
Hanya aku.
Dan kesunyian.
Aku ingat bagaimana aku duduk di lantai kamar, menatap kosong ke depan, tanpa tahu harus melakukan apa.
“Kenapa rasanya… sesakit ini…” bisikku saat itu.
Aku tahu dia tidak mencintaiku.
Aku tahu sejak awal.
Tapi aku tetap berharap.
Dan mungkin… itulah kesalahanku.
Aku terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.
Hari-hari berikutnya aku jalani seperti robot.
Bangun.
Bekerja.
Pulang.
Diam.
Mengulang semuanya tanpa rasa.
Sampai suatu hari, ibuku duduk di hadapanku.
“Kamu mau seperti ini terus?” tanyanya.
Aku menatapnya lelah. “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Bu…”
Ibuku menghela napas.
“Kalau kamu terus menoleh ke belakang, kamu tidak akan pernah maju,” katanya tegas. “Kamu sudah kehilangan dia. Jangan sampai kamu juga kehilangan dirimu sendiri,dan kehilangan segalanya.”
Kalimat itu… sederhana.
Tapi menghantam.
Aku terdiam lama.
“Kamu bukan wanita lemah, Kanaya,” lanjutnya. “Jangan biarkan satu kegagalan menentukan seluruh hidupmu.”
Aku menunduk.
Air mataku jatuh tanpa suara.
“Aku capek, Bu…” ucapku pelan.
Ibuku menggenggam tanganku.
“Capek itu wajar,” katanya lembut. “Tapi menyerah… bukan pilihan yang tepat”
Sejak hari itu… aku mulai mencoba.
Pelan.
Sangat pelan.
Aku kembali fokus pada pekerjaan. Mengambil alih hal-hal yang dulu hanya kulakukan setengah hati. Belajar lebih banyak. Berani mengambil keputusan.
Awalnya sulit.
Banyak yang meragukan.
“Perempuan memimpin perusahaan sebesar ini?” aku pernah mendengar bisikan itu
Aku hanya tersenyum.
Tidak membalas.
Tapi membuktikan.
Aku bekerja lebih keras dari sebelumnya. Mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaanku sendiri.aku tidak ingin mengabaikan satu satunya peninggalan ayahku yang menjadi kebanggaannya
Tidak ada ruang untuk lemah.
Tidak ada waktu untuk mengingat.
Atau setidaknya… aku mencoba.
Lift kembali berdenting.
Pintu terbuka.
Aku melangkah keluar, tapi langkahku terasa lebih berat dari biasanya.
Semua kenangan itu… kembali hari ini.
Dan lebih menyakitkan karena aku tidak hanya mengingatnya
aku melihatnya.
Fatan.
Aku berjalan menyusuri koridor, para karyawan menyapaku seperti biasa.
“Selamat pagi, Bu Kanaya.”
Aku mengangguk.
“Pagi.”
Suaraku terdengar normal.
Tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi di dalam kepalaku.
Aku masuk ke ruang kerja, menutup pintu, lalu bersandar sejenak.
Sunyi.
Aku menatap meja kerjaku.
Semua ini…
Aku membangunnya dengan susah payah.
Dari luka.
Dari kehilangan.
Dari kehancuran yang dulu hampir membuatku menyerah.
Dan sekarang…
aku bertemu kembali dengan sumber dari semua itu.
Dalam keadaan yang sangat berbeda.
Aku tertawa kecil, pahit.
“Hidup ini aneh…” gumamku.
Dulu, aku yang berusaha mempertahankan.
Sekarang… aku yang memilih menjauh.
Dulu, aku yang menunggu.
Sekarang… aku yang berjalan lebih dulu.
Aku berjalan ke jendela besar di ruanganku, menatap ke bawah.
Di sana… mobil yang tadi kami gunakan masih terparkir.
Dan entah kenapa, aku tahu
dia masih di sana.
Fatan.
Aku menarik napas panjang.
“Apa ini kebetulan… atau ujian?” bisikku pelan.
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu… pertemuan ini membuka kembali sesuatu yang belum sepenuhnya sembuh.
Aku memejamkan mata.
“Tenang, Kanaya…” kataku pada diri sendiri. “Kamu sudah sejauh ini,jangan pikirkan masa lalu, apalagi Fatan ,cukup dia membuat kehidupan mu kacau,tenanglah , kehadirannya tidak akan mengubah kehidupanmu yang sudah tertata rapih,runtuh lagi.”
Aku tidak boleh mundur.
Tidak boleh goyah.
Karena semua yang sudah aku bangun… tidak boleh runtuh hanya karena masa lalu yang tiba-tiba kembali.
Aku membuka mata perlahan.
Tatapanku kembali tegas.
“Aku bukan Kanaya yang dulu,” ucapku pelan.
Dan kali ini…
aku akan memastikan itu benar.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?