Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melayani
"Berhenti di depan sini ya,Mon," ucap Raisa pelan.
Mobil pun melambat dan berhenti.
Raisa menoleh ke Mona.
"Makasih ya, Sa… sudah mau dengerin curhatan aku," kata Mona dengan senyum tipis.
Ia ragu sejenak, lalu melanjutkan,
"Oh iya… aku boleh nginep di rumah kamu malam ini nggak?"
Raisa sedikit terkejut, tapi mencoba tetap tenang.
"Iya… boleh kok," jawabnya pelan. "Nggak apa-apa. Aku juga sendiri an dirumah."
Mona terlihat sedikit lega.
"Makasih banget, Sa…"
Raisa mengangguk.
"Sama-sama…"
Ia lalu membuka pintu mobil.
"Aku duluan ya," ucapnya.
Raisa masuk ke dalam kafe dengan langkah sedikit tergesa.
"Kamu kenapa baru datang?" suara Pak Ben langsung terdengar dari arah dalam.
Raisa menunduk sopan.
"Maaf, Pak Ben… saya tadi ke dokter dulu, badan saya kurang enak."
Pak Ben menghela napas, terlihat tidak percaya.
"Alasan saja itu. Bilang saja kamu malas."
Raisa langsung menggeleng.
"Saya nggak alasan, Pak."
Pak Ben meliriknya sekilas, lalu berkata datar,
"Sudah, buatkan saya kopi. Saya tunggu di ruangan."
Raisa mengangguk cepat.
"Baik, Pak."
Raisa selesai membuat kopi, lalu membawanya ke ruang kerja Pak Ben.
Tok… tok…
"Masuk," terdengar suara dari dalam.
Raisa membuka pintu pelan.
"Ini kopinya, Pak," ucapnya sopan sambil meletakkan cangkir di meja.
Namun baru saja cangkir itu disentuh.
Byur!
Kopi itu disemburkan ke muka Raisa.
"Apa ini?!" bentak Pak Ben. "Kopi apa yang kamu buat?!"
Raisa kaget, mundur sedikit.
"Maaf, Pak…"
Pak Ben menatapnya tajam.
"Kamu sengaja, ya? Mau meracuni saya?" ucapnya dengan nada tinggi.
Raisa langsung menggeleng panik.
"Nggak, Pak! Saya nggak—"
"Saya bisa pecat kamu sekarang juga!" potong Pak Ben keras.
Raisa hanya bisa terdiam, jantungnya berdegup kencang, menahan takut dan tekanan yang datang bertubi-tubi.
Raisa langsung gemetar, air matanya mulai jatuh.
"Saya mohon, Pak… jangan pecat saya," ucapnya lirih, penuh takut.
Pak Ben menatapnya tajam, lalu berkata dengan nada rendah,
"Kalau kamu nggak mau dipecat… layani saya, Sa."
Raisa membeku.
"Apa…?" suaranya bergetar.
Pak Ben mendekat sedikit.
"Kamu tuli? Saya bilang… layani saya."
Raisa mundur perlahan, wajahnya pucat.
"Pak… saya bukan perempuan seperti itu…"
Pak Ben tersenyum sinis.
"Saya tahu kamu janda," ucapnya. "Kesepian setelah suami kamu meninggal."
Raisa menggeleng pelan, air matanya terus jatuh.
"Saya juga punya kebutuhan biologis," lanjut Pak Ben tanpa rasa bersalah. "Istri saya nggak bisa memenuhi itu. "
Ia menatap Raisa dari atas ke bawah.
"Jadi kita sama-sama butuh… saling menguntungkan," tambahnya dingin. "Jangan sok jual mahal."
Raisa mengepalkan tangannya kuat-kuat, tubuhnya gemetar menahan takut sekaligus marah.
"Saya… lebih baik dipecat daripada harus melayani Anda, Pak," ucapnya tegas meski suaranya bergetar.
Wajah Pak Ben langsung berubah gelap.
"Kamu pikir kamu bisa keluar dari sini begitu saja?" katanya dingin.
Ia melangkah maju, memojokkan Raisa ke dinding.Ben lalu mencium Raisa tapi wanita itu selalu menghindar dan mendorong dadanya.
Raisa panik, napasnya memburu. Matanya bergerak cepat mencari sesuatu.
Tangannya meraih vas bunga di sampingnya.
Tanpa berpikir panjang.
Prak!
Vas itu menghantam kepala Pak Ben.
"Aaa—!" Pak Ben terhuyung darah keluar dari kepalanya.
"Jalang kurang ajar!" bentaknya marah. "Awas kamu, Raisa!"
Raisa mundur dengan napas tersengal, tangannya gemetar hebat. Dalam kepanikan, ia mengumpulkan sisa keberaniannya lalu menendang bagian sensitif Pak Ben.
"Aaahh… sialan!" teriak Pak Ben kesakitan.
Tanpa menunggu, Raisa langsung berlari ke arah pintu.
Namun.
Ceklek.
Pintu terkunci.
Raisa membeku, lalu berbalik dengan wajah panik.
"Kamu nggak akan bisa keluar dari sini," ucap Pak Ben dengan napas berat, menahan sakit tapi masih penuh amarah.
Raisa mulai gemetar, matanya berkaca-kaca.
"Tolong… tolong…!" teriaknya sekuat tenaga.
Pak Ben tertawa sinis.
"Teriak aja sepuasnya," katanya dingin. "Ruangan ini kedap suara… nggak akan ada yang dengar kamu. Kalau pun ada yang mendengar mereka gak akan menolong mu! "
Raisa menatap sekeliling dengan panik, jantungnya berdegup kencang terjebak… tanpa jalan keluar.
Raisa terdesak ke sudut ruangan, napasnya memburu, matanya liar mencari jalan keluar.
"Tolong…!" teriaknya lagi, suaranya mulai serak.
Pak Ben mendekat perlahan, wajahnya masih menahan amarah.
"Nggak ada yang akan menolong kamu,Raisa," ucapnya dingin.
Raisa menggeleng cepat, air matanya jatuh.
"Jangan dekati saya!" bentaknya, mencoba tetap tegar.
Pak Ben melangkah lagi.
"Sudah, Sa… jangan sok jual mahal," katanya rendah.
Brak!!
Pintu didobrak dari luar. Raisa refleks mundur menjauh, tubuhnya masih gemetar.
Pintu terbuka lebar.
"Siapa kamu berani-beraninya dobrak pintu ruangan saya?!" bentak Pak Ben.
Raisa menoleh—matanya langsung membesar.
"Mas Evan…!"
Ia berlari dan langsung memeluk Evan, tubuhnya gemetar ketakutan.
Evan menahan tubuh Raisa, menenangkannya.
"Tenang… ada aku," ucapnya tegas.
Pak Ben menyeringai sinis.
"Dasar perempuan murahan… sama saya nolak, sama dia malah mau," ejeknya.
Tatapan Evan langsung berubah dingin.
"Kamu keluar dulu, Sa," katanya tanpa mengalihkan pandangan dari Pak Ben. "Biar aku yang urus dia."
Raisa mengangguk cepat.
"Iya, mas…"
Ia segera keluar dari ruangan dengan langkah tergesa.
Begitu pintu tertutup Evan langsung melangkah maju.
Buk!
Pukulan pertama mendarat.
Brak!
Pak Ben terjatuh ke lantai, tapi Evan tidak berhenti.
Buk! Buk!
Pukulan bertubi-tubi menghantam tanpa ampun.Ben babak belur darah membanjiri tubuhnya.
"Berani-beraninya kamu sentuh dia!" bentak Evan penuh amarah. "Kalau kamu ulangi lagi… saya pastikan hidup kamu hancur!"
Pak Ben terkapar, mencoba melindungi diri.
"Ampun, Pak… ampun…"
Evan menarik kerah bajunya, menatap tajam.
"Saya akan telepon atasan kamu," ucapnya dingin. "Kamu bukan cuma dipecat… tapi juga saya pastikan kamu nggak akan bisa kerja di mana pun lagi."
Pak Ben hanya bisa gemetar, tak berdaya.
Sementara di luar Raisa berdiri dengan tubuh masih gemetar, air matanya belum berhenti.
Evan keluar dari ruangan, langsung menghampiri Raisa yang masih gemetar.
Ia tanpa ragu memeluknya erat.
"Kamu nggak usah takut… ada aku di sini," ucapnya menenangkan.
Raisa memegang baju Evan, suaranya bergetar.
"Aku takut, mas… dia tadi mau melecehkan aku…"
Evan langsung menegang, rahangnya mengeras.
"Dia pegang kamu di mana?" tanyanya serius.
Raisa menggeleng cepat.
"Nggak… belum sempat… Dia mau cium aku tapi aku menghindar." suaranya masih gemetar.
Evan sedikit lega, tapi tetap menatapnya khawatir.
Tiba-tiba ia melihat sesuatu.
"Tangan kamu… berdarah, Sa," ucapnya panik.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
Raisa langsung menggeleng.
"Nggak… aku nggak mau…"
Evan menghela napas, lalu berkata lebih lembut,
"Ya sudah… kita pulang aja, ya. Nanti aku obatin lukanya… jangan sampai infeksi."
Raisa mengangguk pelan.
Ia lalu menatap Evan, masih bingung.
"Mas… kenapa bisa ada di sini?"
Evan menjawab santai,
"Tadi aku mau beli kopi di sini," ucapnya. "Tapi kamu nggak ada, padahal aku lihat kamu sudah berangkat."
Ia melanjutkan,
"Terus aku tunggu… tapi kamu nggak turun-turun. Pegawai lain bilang kamu dipanggil manajer ke ruangannya."
Tatapan Evan berubah serius.
"Makanya aku langsung naik… dan ternyata…"
Ia tidak melanjutkan, tapi cukup membuat Raisa kembali merinding mengingat kejadian tadi.
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya