Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekar Menghilang!
"Nduk, ayo bangunkan kakakmu. Sebentar lagi dia akan dirias." Kata Bu Ratmini pada Dila, adik Sekar, sambil membereskan beberapa perlengkapan di ruang tengah yang sejak tadi ramai oleh para tetangga dan perias pengantin yang sudah bangun dari jam 4 subuh.
"Baik, Bu." Sahut Dila cepat lalu berlari kecil menuju kamar kakaknya.
Saat itu hari masih sangat pagi, bahkan matahari belum sepenuhnya muncul. Jam dinding di rumah kayu sederhana itu menunjukkan hampir pukul lima subuh. Udara desa masih terasa dingin dan embun pagi belum mengering di halaman rumah.
Dila berdiri di depan kamar Sekar. Tadi dia sempat mencoba membuka pintunya, namun ternyata terkunci dari dalam. Hal itu membuatnya sedikit heran karena biasanya Sekar tidak pernah mengunci pintu kamar saat tidur.
Apalagi, setiap subuh kakaknya itu selalu sudah bangun untuk sholat. Bahkan sering kali Sekar yang membangunkan semua orang di rumah.
"Kak, Sekar bangun. Ibu bilang sebentar lagi kakak akan dirias!" Teriak Dila sambil mengetuk pintu cukup keras.
Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar.
"Kak Sekar..." Panggilnya lagi, kali ini lebih keras.
Tetap sunyi.
"Kak Sekar!" Teriak Dila mulai kesal. Kesabarannya memang setipis tisu, terlebih sejak tadi dia mondar-mandir membantu ibunya.
"Bangun kak! Nanti telat lho. Masa mau telat akad nikah sendiri?" Omelnya sambil terus mengetuk pintu.
Dila lalu menyandarkan telinganya ke pintu kayu itu.
"Entar Mas Lindu keburu marah karena telat jadi suami kakak!" Tambahnya lagi polos.
Namun, tetap saja tidak ada suara sedikit pun dari dalam kamar Sekar.
"Bu... Kak Sekar nda mau membuka pintu. Sepertinya tidurnya nyenyak sekali. Mungkin dia sedang bermimpi sudah jadi istri Mas Lindu, makanya nda mau bangun." Kata Dila polos sambil cemberut kecil.
Ucapan bocah itu langsung membuat beberapa orang yang berada di ruang tengah tertawa kecil. Bahkan perias pengantin yang sedang menyiapkan alat rias ikut tersenyum mendengarnya.
"Dasar mulutmu itu, Dila." Ujar salah satu tetangga sambil menggeleng geli.
Dila hanya mengedikkan bahu lalu memandang pintu kamar Sekar dengan wajah kesal. Dari tadi dia sudah memanggil berkali-kali, tetapi kakaknya tetap tidak menjawab sama sekali.
"Mungkin dia kelelahan." Sahut Bu Bena, tetangga yang sejak semalam membantu persiapan pernikahan dan menginap di rumah itu.
"Biasanya kalau mau jadi pengantin baru itu gugup. Jadi nda bisa tidur nyenyak," Lanjut Bu Bena sambil melipat kain seserahan di atas meja.
"Iya juga sih." Timpal wanita lain.
Bu Ratmini yang sejak tadi tampak sibuk, mulai merasa sedikit heran. Sekar memang mudah lelah, tetapi anaknya itu bukan tipe yang susah dibangunkan. Apalagi hari ini adalah hari akad nikahnya sendiri.
"Dila, coba panggil lagi baik-baik." Ujar Bu Ratmini sambil melirik ke arah kamar putrinya.
"Ibu saja. Siapa tahu Kak Sekar langsung bangun kalau dengar suara Ibu." Kata Dila malas. Anak kecil itu sudah menyerah setelah berkali-kali memanggil kakaknya tanpa hasil.
Sesampainya di depan kamar, Bu Ratmini langsung mengetuk pintu kayu itu beberapa kali.
"Sekar, ayo bangun nduk." Ucapnya dengan suara lembut seperti biasanya.
"Ini sudah jam lima. Nanti kamu terlambat dirias, nduk."
Bu Ratmini menunggu beberapa detik. Namun tetap tidak ada jawaban.
Dia kembali mengetuk pintu lebih keras.
"Sekaaar..."
Masih sunyi.
Tidak terdengar suara langkah kaki, suara ranjang bergerak, ataupun jawaban pelan dari dalam kamar.
Wajah wanita paruh baya itu perlahan berubah khawatir.
"Sekar..." panggilnya lagi.
Dila yang berdiri di belakang ibunya ikut diam. Bahkan anak kecil itu mulai merasa ada yang tidak beres.
"Bu... Kak Sekar kenapa ya?" bisiknya pelan.
Perasaan takut tiba-tiba memenuhi hati Bu Ratmini. Dadanya terasa sesak memikirkan Sekar yang sejak tadi tidak juga memberi jawaban dari dalam kamar.
"Cepat, bangunkan pakde mu, suruh kesini!" kata Bu Ratmini dengan suara gemetar, meminta Dila segera memanggil pamannya yang tidur di rumah tetangga sebelah.
"Iya, Bu!" jawab Dila panik sebelum berlari keluar rumah.
Beberapa ibu-ibu yang sejak tadi membantu sibuk untuk persiapan nanti mulai menghampiri Bu Ratmini yang berdiri di depan pintu kamar Sekar.
"Ada apa, Bu?" tanya salah seorang dari mereka khawatir.
"Sekar, Bu. Tidak bangun-bangun, saya jadi khawatir." Ujar Bu Ratmini dengan mata mulai berkaca-kaca.
Ibu-ibu itu pun ikut cemas. Mereka bergantian mengetuk pintu kamar Sekar lebih keras dari sebelumnya.
"Sekar..." panggil mereka bersahut-sahutan.
Namun, tetap tidak ada jawaban sedikit pun dari dalam kamar itu. Suasana rumah yang tadi ramai perlahan berubah tegang dan penuh kecemasan.
"Pakde... bangun, Pakde!" Tanpa memberi salam, Dila langsung masuk ke dalam rumah tetangga itu. Gadis kecil itu segera menggoyangkan tubuh Pakde Banyu yang masih tertidur lelap di atas tikar.
Pakde Banyu terbangun kaget sambil mengucek matanya yang masih berat.
"Ada apa? Apa pengantinnya sudah siap?" tanyanya terburu-buru, mengira dirinya kesiangan untuk membantu persiapan pernikahan Sekar.
"Nda, Pakde... Kak Sekar." Ucap Dila dengan napas memburu karena panik.
"Sekar kenapa?" Tanya Pakde Banyu yang kini mulai sadar sepenuhnya.
"Dari tadi aku sama ibu bangunkan Kak Sekar, tapi Kak Sekar nda bangun-bangun. Pintu kamarnya terkunci." Jelas Dila dengan wajah cemas.
"Apa?" Pakde Banyu langsung duduk tegak. Rasa kantuknya seketika hilang mendengar ucapan Dila.
"Ya sudah, ayo cepat!" katanya sambil segera berdiri. Meski kepalanya masih terasa pusing karena baru bangun tidur, dia tetap bergegas mengikuti Dila kembali ke rumah Bu Ratmini yang mulai dipenuhi rasa panik.
"Ayo, Mas, cepat! Dobrak pintunya!" Kata Bu Ratmini dengan suara gemetar kepada Pakde Banyu. Wajahnya sudah pucat dipenuhi rasa takut.
Tanpa banyak bertanya lagi, Pakde Banyu langsung menghantam pintu kamar Sekar dengan bahunya. Namun karena melakukannya sendirian, pintu kayu itu hanya berguncang keras tanpa terbuka.
Brak!
Suara rusuh di atas rumah Bu Ratmini membuat beberapa pria yang tinggal di sekitar rumah itu ikut terbangun. Mereka segera naik ke rumah panggung milik Bu Ratmini.
"Ada apa ini?" Tanya salah seorang dari mereka heran.
"Itu, kamar Sekar mau didobrak." Jawab ibu-ibu yang berkumpul di depan kamar dengan wajah tegang.
"Kenapa sampai didobrak?"
"Sekar dari tadi dipanggil-panggil nda muncul-muncul. Pintunya juga terkunci." Jelas salah satu ibu.
Mendengar itu, para pria langsung membantu Pakde Banyu. Mereka bersama-sama menghantam pintu kamar Sekar berkali-kali.
Brak!
Brak!
Pintu kayu itu akhirnya terbuka dengan keras.
Semua orang terdiam.
Kamar kecil berukuran dua kali tiga meter itu tampak kosong.
"Sekar..." Panggil Bu Ratmini lirih sambil masuk ke dalam kamar. Matanya bergerak ke setiap sudut ruangan, berharap anaknya hanya bersembunyi atau tertidur di lantai.
Namun tidak ada siapa-siapa.
"Sekar..." kini Pakde Banyu ikut memanggil dengan suara lebih keras.
Tetap tidak ada jawaban.
Kasur Sekar masih berantakan, jendela kamar sedikit terbuka, sementara angin pagi masuk perlahan menggerakkan tirai tipis di sudut ruangan.
Semua orang saling berpandangan dengan wajah penuh kebingungan.
Lalu... ke mana perginya Sekar di hari pernikahannya sendiri?