Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 032
Aksa menatap tumpukan barang di meja marmernya. Martabak yang masih mengepulkan uap gurih, buket bunga lili dan mawar peach yang segar, serta kotak cokelat mewah. Ia segera menyambar kunci mobil SUV hitamnya.
Aksa mengemudikan SUV hitamnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk setir mengikuti irama detak jantungnya yang tidak biasa. Di kursi penumpang, buket bunga lili dan mawar peach itu tampak sangat kontras dengan interior mobilnya yang serba gelap. Ia melirik jam di dasbor: 10:15. Sedikit terlambat dari janji, tapi ia yakin martabaknya masih cukup hangat untuk meluluhkan hati gadis malas itu.
Disisi lain Kediaman Winata
Di ruang makan keluarga Winata, suasana tidak sedamai biasanya. Abian sedang duduk di meja makan dengan sepiring nasi goreng, namun matanya tidak lepas dari sosok Ziva yang sedang berjalan menuju dispenser dengan gerakan yang sangat mencurigakan.
Ziva melangkah dengan sangat pelan, mencoba menumpu berat badannya pada kaki kanan, sementara kaki kirinya—yang dibalut celana training panjang untuk menutupi lukanya—terasa kaku.
"Ziv," panggil Abian dengan nada menyelidik.
Ziva membeku. "Apaan?"
"Lo kenapa jalan kayak penguin kena rematik gitu? Pincang-pincang nggak jelas," Abian memicingkan matanya, menaruh sendoknya dan berdiri menghampiri adiknya.
"Enggak! Ini... ini tadi pagi gue pas mau bangun, kaki gue kram! Kebanyakan tidur kali," dalih Ziva sambil buru-buru meneguk air putihnya.
"Kram? Kram apa habis cosplay jadi pemain akrobat?" Abian berputar mengelilingi Ziva. "Semalem gue balik jam satu, kamar lo gelap banget. Lo nggak keluyuran kan?"
"Semalem gue kepompong! Lo kan tau gue mager parah," sahut Ziva, berusaha keras menahan ringisan saat lututnya tak sengaja tertekuk.
Abiani masih tidak percaya. Ia hendak menarik ujung celana training Ziva untuk memeriksa, namun tiba-tiba suara bel rumah berbunyi dengan sangat nyaring.
TING TONG! TING TONG!
"Nah, siapa tuh! Sana lo liat, Bang! Ganggu orang lagi minum aja," usir Ziva, merasa terselamatkan oleh bel.
Abi berjalan menuju pintu depan dengan wajah kesal. "Siapa sih jam segini bertamu? Kalau tukang paket, gue suruh lempar aja lewat pager."
Begitu pintu dibuka, Abi langsung mematung. Di depan pintu, berdiri Aksa Erlangga. Bukan dengan motor sport-nya, melainkan dengan SUV hitam yang elegan. Tangannya penuh dengan kantong martabak, box cokelat, dan sebuah buket bunga besar yang sangat tidak masuk akal untuk dibawa seorang Aksa.
"Aksa? Lo... lo mau nyekar ke rumah gue apa gimana? Bawa bunga gede bener," celetuk Abi bingung.
Aksa menatap Abian datar. "Ziva ada?"
"Ada di dalem lagi pincang-pincang kram katanya. Masuk, Aks. Tumben amat lo bawa beginian. Martabak jam sepuluh pagi? Lo dapet dari mana? Setau gue tukang martabak baru ngucek mata jam segini," cerocos Abi sambil menuntun Aksa masuk ke ruang tengah.
Ziva yang sedang duduk di sofa ruang tengah langsung tersentak saat melihat sosok Aksa masuk bersama Abangnya.
Ziva hampir saja menjatuhkan gelas air putihnya ketika melihat Aksa melangkah masuk dengan santai.
"Aksa? Lo beneran..." Kalimat Ziva menggantung di udara. Matanya melotot menatap buket bunga lili dan bunga mawar yang sangat cantik itu, lalu beralih ke kantong plastik martabak yang aromanya mulai menjajah ruang tengah.
Abian berkacak pinggang, menatap Aksa dan adiknya bergantian dengan dahi berkerut. "Bentar, bentar. Ini ada apa sih? Aksa bawa bunga, Ziva mukanya merah kayak habis lari maraton, terus martabak ini... Aksa lo?
Aksa tidak memedulikan ocehan Abian. Ia berjalan mendekati sofa, meletakkan semua bawaannya di atas meja kopi tepat di depan Ziva. Tanpa izin, ia duduk di samping Ziva, membuat gadis itu refleks bergeser namun tertahan oleh sandaran sofa.
"Lutut kamu," ucap Aksa rendah, matanya tertuju pada celana training longgar Ziva. "Masih sakit?"
"A-Aman! Gue bilang tadi cuma kram!" jawab Ziva cepat, sambil melirik Abang nya dengan tatapan waspada.
"Kram mata lo," sahut Abian ketus. Ia mendekat, hendak menyentuh lutut Ziva, namun tangan Aksa lebih dulu menepisnya dengan gerakan protektif.
"Dia jatuh dari motor semalam," ucap Aksa datar, sukses membuat Ziva ingin menghilang dari bumi saat itu juga.
Hening sejenak. Mata Abian membelalak sempurna. "APA?! JATUH DARI MOTOR?! ZIVANNA CLARISSA WINATA, LO KELUYURAN MALEM-MALEM?!"
"Aksa! Lo kenapa ember banget sih!" pekik Ziva frustrasi.
"Biar lo nggak bisa bohong lagi," sahut Aksa tanpa rasa bersalah. Ia membuka kotak martabak manis keju yang masih hangat. "Makan."
Abian akhirnya duduk di kursi tunggal di depan mereka, menatap keduanya dengan tatapan menginterogasi. "Oke, Aks. Gue hargain martabak perjuangan lo ini. Tapi jelasin ke gue, gimana ceritanya adek gue bisa jatuh dari motor?"
Aksa menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Abian dengan tenang. "Dia nekat ke bandara lama semalam. Motornya masuk lubang, dia jatuh. Gue gak sengaja nemuin dia di minimarket pas perjalanan pulang kemarin malam."
Aksa menoleh ke arah Ziva yang sedang sibuk menyumpal mulutnya dengan martabak untuk menghindari pembicaraan. Aksa meraih satu tangan Ziva, menggenggamnya erat di depan mata Abian.
"Gue pacaran sama Ziva. Mulai semalam," ucap Aksa tegas.
UHUK! UHUK!
Ziva tersedak martabaknya. Abian hampir terjungkal dari kursinya.
"PACARAN?!" teriak Abian histeris. "Aksa! Gue emang ijinin lo temenan, tapi lo... lo beneran mau pacaran sama cewek yang bangun tidurnya aja nunggu hidayah begini?!"
"Gue nggak keberatan," jawab Aksa santai, seolah sedang membahas cuaca. "Dia mager, gue yang gerak. Adil."
Abian memijat pelipisnya. Di satu sisi, ia tahu Aksa adalah pria paling bertanggung jawab yang ia kenal. Di sisi lain, adiknya baru saja "di-klaim" oleh sang Pangeran Es di depan matanya sendiri.
"Papa tau soal ini?" tanya Abi akhirnya, mencoba bersikap dewasa.
"Akan gue kasih tahu secara resmi nanti malam," sahut Aksa.
Ziva yang sudah berhasil menelan martabaknya hanya bisa menatap tangannya yang masih digenggam Aksa. Ia merasa jiwanya sebagai Zura sedang tertawa melihat betapa agresifnya Aksa di dunia ini.
"Aksa, bunganya untuk ku... cantik. Makasih ya," bisik Ziva pelan, mencoba meredakan ketegangan.
"Ya, semuanya untuk mu, Sama-sama, Sayang. Habisin martabaknya, nanti aku obatin lagi lutut mu," ucap Aksa dengan suara yang sengaja dilembutkan.
BRUAK!
"GUE CABUT! GUE NGGAK KUAT LIAT DRAMA KOREA LIVE DI RUMAH SENDIRI!" teriak Abian sambil berlari menuju dapur, wajahnya antara geli dan ngeri melihat sisi "bucin" Aksa yang baru saja bangkit.
Setelah Abian menghilang ke arah dapur dengan teriakan dramatisnya, suasana di ruang tengah kediaman Winata mendadak berubah menjadi sangat intens. Hanya ada suara denting jam dinding dan aroma gurih martabak manis yang masih mengepul di atas meja.
Aksa masih tidak melepaskan genggaman tangannya. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat, membuat Ziva bisa merasakan panas tubuh Aksa yang menembus kaos tipisnya.
"Ziva," panggil Aksa rendah.
A-apa?" Ziva menjawab tanpa berani menatap mata Aksa. Ia pura-pura sangat sibuk menelan potongan martabak yang sebenarnya sudah habis di mulutnya.
"Mulai sekarang, panggil 'aku-kamu', ya?"
UHUK! UHUK!
Ziva tersedak untuk kedua kalinya. Ia buru-buru meraih gelas air putih dan meminumnya sampai habis. "Hah? Tapi... tapi gue nggak terbiasa, Aksa! Kedengerannya geli banget di kuping. Biasanya kan kita 'lo-gue', lebih santai gitu."
Aksa menatap Ziva dengan tatapan yang tidak bisa dibantah—tatapan yang sama saat ia mengunci posisi lawan di lintasan balap. "Di-biasa-in, sayang."
Deg.
Pipi Ziva yang tadinya sudah mulai mendingin, kini kembali merah merona, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Panggilan 'sayang' yang diucapkan Aksa dengan nada datar namun penuh penekanan itu benar-benar serangan jantung bagi Ziva.
"A-aksa... lo, eh, kamu... ah tau ah!" Ziva menutupi wajahnya dengan satu tangan yang bebas, sementara tangan lainnya masih dipenjara oleh Aksa. "Jangan panggil gitu terus. Jantung gue—maksudnya jantung aku—bisa copot!"
Aksa menyeringai tipis melihat reaksi gadis di depannya. Ia menarik tangan Ziva yang menutupi wajah itu, memaksa Ziva untuk menatapnya. "Berarti jantung kamu normal. Itu tandanya kamu suka."
"Suka apanya!" protes Ziva dengan suara yang mencicit. "Gue—aku... cuma kaget aja. Kamu itu kaku kayak kanebo kering, tiba-tiba jadi bucin begini kan horor."
Aksa terkekeh rendah, suara yang selalu berhasil membuat saraf Ziva berdesir. Ia membawa tangan Ziva ke depan bibirnya, lalu mengecup punggung tangan itu dengan sangat lembut. "Kalau buat kamu, aku nggak keberatan jadi horor. Yang penting kamu nggak 'terbang' ke mana-mana lagi tanpa aku."
Ziva hanya bisa mematung. Jiwa Zura yang biasanya punya seribu satu kalimat sarkas mendadak menghilang ditelan bumi. Ia menatap Aksa—si Pangeran Es yang baru saja mengerahkan empat anggota Black Eagle demi martabak pagi hari—dan menyadari bahwa perlawanannya sudah berakhir sebelum benar-benar dimulai.
"Iya, iya... 'aku-kamu'. Puas?" gumam Ziva pasrah, meski sudut bibirnya tak bisa menahan senyum tipis yang perlahan muncul.
"Puas," sahut Aksa singkat. Ia lalu mengambil kotak p3k yang tadi sempat ia minta pada asisten rumah tangga saat masuk.
"Sekarang, luruskan kaki kamu. Aku mau ganti plester di lutut kamu. Jangan membantah."
Ziva hanya bisa menurut, membiarkan Aksa sibuk dengan luka di lututnya. Sambil memperhatikan Aksa yang begitu telaten, Ziva membatin, Sepertinya hidup mager gue bakal berubah total sejak ada 'diktator asmara' macam dia.
di tunggu selalu update nya👍
lanjut ya thor... 🤧