Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.33
Harlan dan Alisa menuruni tangga rumah utama secara berdampingan. Jemari pria itu masih menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat namun tetap nyaman.
Begitu sampai di lantai bawah, suasana rumah terlihat cukup ramai. Mama Hesti sedang duduk di ruang tengah sambil berbincang dengan Tante Hani dan juga Nenek Astari.
Tatapan mereka langsung beralih ketika melihat Harlan dan Alisa berjalan bersama, mendekat ke arah mereka.
Mama Hesti bahkan sempat tersenyum tipis melihat putranya yang kini terlihat jauh lebih ceria dibandingkan biasanya.
“Mau langsung pulang?” tanya Mama Hesti begitu Harlan dan Alisa mendekat.
“Iya, Ma. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan di apartemen, jadi kami harus pulang.” jawab Harlan santai.
Mama Hesti mengangguk pelan lalu menatap Alisa dengan penuh perhatian.
“Kamu sudah bawa semua barangmu, Sayang?” tanyanya.
“Sudah, Ma,” jawab Alisa lembut.
“Kalau begitu hati-hati di jalan. Jangan lupa sering-seringlah datang kemari.” sambung Tante Hani sambil tersenyum jahil ke arah mereka berdua.
Alisa hanya bisa tersenyum malu. Entah kenapa, ia merasa semua orang di rumah itu seperti sedang memperhatikannya dengan arti tertentu.
Sementara Harlan terlihat jauh lebih tenang. Bahkan pria itu masih sempat menggenggam pelan jemari Alisa menggunakan ibu jarinya secara refleks.
“Kalau butuh apa-apa, atau ada apa apa langsung bilang sama Mama, ya?” ujar Mama Hesti lagi kepada Alisa.
“Iya, Ma.”
Tak lama kemudian, Kakek Dewa yang baru keluar dari ruang kerja ikut menghampiri mereka.
“Mau pulang sekarang?” tanyanya.
“Iya, Kek.”
Kakek Dewa mengangguk singkat sebelum menepuk bahu cucunya itu pelan.
“Jaga istrimu baik-baik.” lanjut Kakek Dewa sebelum benar benar beranjak pergi.
Harlan menoleh sekilas ke arah Alisa sebelum kembali menatap Kakeknya.
“Pasti, Kek.”
Jawaban singkat itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa membuat pipi Alisa kembali terasa hangat.
Setelah berpamitan satu per satu, Harlan akhirnya mengajak Alisa keluar menuju halaman depan rumah itu.
Mobil hitam miliknya sudah terparkir rapi di sana. Salah satu petugas keamanan segera membukakan pintu mobil untuk mereka.
Namun sebelum Alisa masuk, Harlan tiba-tiba menahan pintu dan menatap istrinya sebentar.
“Ada apa? Apa ada yang tertinggal?” tanya Alisa bingung.
Harlan menggeleng pelan, lalu tersenyum. Senyuman yang kembali membuat jantung Alisa berdebar kencang.
“Tidak ada.” jawabnya santai.
“Lalu?”
Harlan menatap wajah Alisa sangat intens, membuat wanita itu salah tingkah sendiri dibuatnya.
“Ke_kenapa, melihatku seperti itu?” tanyanya lagi, terbata karena gugup.
“Kamu… cantik sekali.”
DEG.
Bluussshhh.
Seketika, refleks, Alisa langsung memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Alisa benar benar dibuat salah tingkah oleh suaminya sendiri. Sampai sampai ia tidak tahu harus menjawab apa.
Ucapan itu datang tiba-tiba. Membuat Alisa kaget. Padahal suasana masih pagi dan mereka bahkan baru saja keluar dari rumah utama.
Namun Harlan mengatakannya begitu saja dengan wajah tenang tanpa rasa malu sedikitpun.
Melihat reaksi istrinya, sudut bibir Harlan semakin terangkat. Wajahnya juga terlihat sangat puas karena sudah membuat sang istri salah tingkah.
“Ayo masuk” ucapnya akhirnya.
Tidak mau membuang waktu, Alisa langsung masuk ke dalam mobil sambil menahan malu. Sedangkan Harlan menutup pintu mobilnya pelan sebelum berjalan memutar menuju kursi kemudi.
Tak lama kemudian, mobil itu pun keluar meninggalkan rumah utama keluarga Argantara.
***
Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih nyaman, santai dan hangat. Harlan sesekali melirik Alisa yang sejak tadi lebih banyak diam sambil menatap keluar jendela.
“Kenapa? Ada yang kamu pikirkan?” tanyanya akhirnya. Memecah keheningan.
Alisa langsung menoleh cepat saat mendengar suara Harlan.
“Tidak apa-apa. Memangnya kenapa?”
“Kalau tidak ada apa apa, kenapa sejak tadi kamu terus menghindariku?”
“Menghindar? Masa sih?”
“Eemm… kamu terus saja menatap keluar jendela. Bahkan, kamu bicara padaku, tapi tidak mau melihatku,”
“Maaf, tapi…”
“Malu karena aku memujimu?” potong Harlan.
Deg.
Seketika, wajah Alisa kembali memerah. Melihat reaksi sang istri, Harlan terkekeh pelan. Suara tawanya rendah namun terdengar jelas di dalam mobil.
“Masa cuma dipuji begitu saja langsung gugup sih, Yang?”
Alisa spontan memalingkan wajahnya lagi. Tidak ingin semakin diledek oleh suaminya karena raut wajah yang tidak bisa ia kendalikan
Harlan kembali tersenyum kecil melihat tingkah istrinya itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, perjalanan pulang terasa jauh lebih menyenangkan baginya.
***
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam. Mobil hitam itu akhirnya memasuki area basement apartemen.
Setelah memarkir mobil itu di tempat biasanya. Harlan langsung mematikan mesin mobil dan bersiap untuk keluar dari mobil.
Alisa membuka seatbelt lebih dulu, lalu menoleh sekilas ke arah suaminya yang masih duduk santai sambil mematikan layar ponselnya.
“Kenapa?” tanya Harlan saat menyadari Alisa memperhatikannya.
“Tidak. Tidak apa apa, ayo turun,” jawab Alisa bergegas membuka pintu mobil, lalu keluar tanpa menunggu Harlan membukakan pintu itu.
Melihat reaksi istrinya, Harlan hanya menggeleng pelan sebelum akhirnya ia pun ikut turun menyusul Alisa yang sudah lebih dulu berada di luar mobil.
Keduanya lalu berjalan berdampingan menuju lift private apartemen. Jemari Harlan kembali menggenggam tangan Alisa dengan santai seolah itu sudah menjadi hal biasa sekarang.
Selama lift bergerak naik, suasana terasa tenang. Hanya terdengar suara mesin lift yang samar dan nafas mereka yang sama-sama pelan.
Namun begitu pintu lift terbuka di lantai unit penthouse mereka. Langkah keduanya langsung terhenti.
Alisa sedikit membulatkan mata karena terkejut. Sementara tatapan Harlan langsung berubah dingin dan datar.
Di depan pintu unit apartemen mereka, berdiri seorang wanita yang terlihat sangat mencolok.
Wanita itu mengenakan dress body-fit berwarna cream yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambut cokelat gelapnya ditata bergelombang rapi, sementara makeup flawless di wajahnya membuat penampilannya terlihat semakin elegan dan mahal.
Di samping kakinya, terdapat koper branded berukuran sedang. Wanita itu tampaknya sudah cukup lama menunggu.
Begitu menyadari keberadaan Harlan, wajah cantiknya langsung berubah cerah dilengkapi dengan senyuman yang cukup lebar.
“Harlan!”
Suara wanita itu terdengar antusias. Bahkan tanpa ragu, ia langsung melangkah cepat menghampiri Harlan dan Alisa yang masih berdiri di depan pintu lift.
Alisa refleks menoleh ke arah suaminya. Namun berbeda dari ekspresi terkejut Alisa, wajah Harlan justru terlihat sangat datar dan dingin.
Bahkan, pria itu sama sekali tidak menjawab sapaan lembut dari wanita itu. Wanita itu pun langsung berhenti tepat di depan Harlan dengan senyum lebarnya.
“Akhirnya kamu datang juga. Kamu tahu, aku sudah menunggu hampir satu jam di sini.” ucapnya lagi dengan nada yang dibuat semanis mungkin
Tatapannya kemudian beralih pada tangan Harlan yang masih menggenggam erat tangan Alisa.
Senyuman di wajah wanita itu perlahan memudar tipis. Lalu matanya naik menatap Alisa dari ujung kepala sampai kaki.
Seketika, Alisa pun mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan yang tidak bersahabat itu. Sedangkan Harlan sama sekali tidak bergeming. Tangannya masih menggenggaman erat tangan istrinya.
“Ngapain kamu kesini?” tanya Harlan datar. Nada suaranya benar-benar berbeda dibanding saat berbicara dengan Alisa tadi.
Beberapa detik suasana mendadak terasa aneh. Sampai akhirnya wanita itu kembali menatap Alisa.
“Kenapa bertanya? Bukankah, seharusnya ini adalah tempatku.” ucapnya sembari menatap tajam ke arah Alisa.
Masa lebih milih anak sambung daripada anak kandung sii.. 😬😬😤😤
Bersyukur Harlan waras n ganti nama mempelai wanitanya.. 😵💫😵💫
Ijab kabul dengan nama wanita lain?
Ngga SAH atuh ijab kabulnya 😱😱
Ini pegimana konsepnya?
Masa seorang ayah kandung tega menjerumuskan anak perempuannya ke lembah zina?? 😱😱😤😤