NovelToon NovelToon
Asmara Setelah Menikah

Asmara Setelah Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Obsesi / Keluarga / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: yesstory

Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

David menepati janjinya. Setiap hari dia mengirim setangkai demi setangkai mawar merah ke rumah Tara.

Di akhir pekan, David benar-benar datang ke rumah Tara dengan membawa bibit bunga mawar yang akan ditanam di pot depan rumah Tara. Mereka berkebun bersama diiringi canda dan tawa. Haris menolak ikut serta. Haris sengaja membiarkan mereka berkebun berdua. Sementara dia jadi pengawas saja.

Haris ikut tersenyum saat Tara tersenyum bahkan tertawa saat bersama David. Sepertinya Haris sudah benar mempercayakan Tara pada David, walau dia tak tahu apakah Tara bisa menerima kehadiran David di hatinya lagi atau tidak.

Setelah itu, hari demi hari, keduanya semakin dekat. Namun tetap tak ada status jelas diantara mereka berdua. David tak ingin memaksa Tara untuk memperjelas status keduanya. David selalu bersyukur bisa selalu ada untuk Tara. Selebihnya, dia percaya akan takdir Tuhan.

Tara akhirnya menerima panggilan kerja dari perusahaan dimana Dea juga bekerja di sana. Menjalani serangkaian test masuk kerja, Tara akhirnya resmi bekerja disana. Tentu saja Tara bahagia. Dia bahkan mentraktir Dea setelah gajian sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantunya.

“Jadi, siapa cowok tampan itu, Ra?” tanya Dea seraya melirik menggoda pada Tara yang pipinya bersemu merah saat melihat David menungguinya di depan lobby kantor.

Tara menggeleng jengah. Ini sudah pertanyaan yang entah ke berapa puluh kali semenjak David sering menjemputnya pulang bekerja di depan lobby kantor.

“Hanya teman,” jawab Tara juga entah untuk ke berapa kali.

Tentu saja Dea tak percaya dan semakin terus menggoda Tara. “Teman spesial mungkin. Kenapa sih nggak ngenalin dia ke aku?” tanya Dea sedikit kesal.

Keduanya masih ada di dalam lobby. Tara ingin segera keluar agar David tak menunggu terlalu lama, tapi Dea selalu menahannya di dalam lobby seperti ini hanya untuk bertanya siapa lelaki tampan yang menjemput Tara.

Tara terkekeh. “Terserah deh apapun itu yang ada dalam pikiran Mbak. Udah ya, aku mau pulang.”

Dea mengangguk sambil senyum-senyum. “Oke. Kamu belum mau cerita ya sama aku. Tapi aku tahu, kalian berteman sangat dekat. Itu pasti,” kikik Dea lalu akhirnya masuk lagi ke dalam, untuk mencari Vito, kekasihnya yang belum keluar dari ruangannya.

Dea memang selalu seperti itu. Dia mengikuti Tara bahkan mengantarnya sampai lobby hanya demi melihat lelaki tampan yang sering menjemput Tara. Setelah itu, dia kembali ke dalam kantor, menuju ruangan Vito, untuk mengajaknya pulang bersama. Definisi mempersulit diri sendiri ya itu Dea.

David tersenyum lembut saat melihat Tara keluar dari lobby. Tara juga melempar senyum. Setelah itu, keduanya menuju mobil David dan tak lama kemudian mobil melaju, menembus jalanan kota yang seperti biasa akan macet disaat jam pulang bekerja seperti ini.

“Gimana kerjaan hari ini?” David menoleh. Mobil David berhenti karena macet.

“Lancar. Kamu sendiri gimana?” tanya Tara balik.

“Tentu saja lancar juga. Makanya aku bisa jemput kamu,” jawab David mulai melajukan mobilnya.

Namun hanya beberapa meter, mobil kembali terhenti. Jika pengemudi yang lain mungkin saja bosan atau bahkan mengumpat karena kemacetan ini, David justru menikmatinya. Dengan begitu waktu bersama Tara akan lebih lama lagi. Walau bisa saja David menjemput Tara menggunakan motor, namun David sengaja memperlama waktu dengan menggunakan mobil.

“Tapi hampir tiap hari loh, Vid. Apa nggak capek kamu, pulang kerja malah jemput aku dulu? Bengkel kamu sama kantor aku beda arah.”

David menggeleng dan tersenyum. “Nggak kok. Kalau aku capek, aku pasti akan bilang. Aku nggak akan memaksakan diri kalau aku nggak kuat, Ra.”

Tara menghela napas pelan. “Oke. Yang penting aku nggak minta kamu untuk jemput.”

David menahan senyumnya. Geli sendiri dengan pernyataan Tara. Nggak minta jemput, tapi dia sengaja naik ojek online saat berangkat bekerja. Padahal Tara punya mobil sendiri. Bukankah itu sama saja artinya sebuah kode agar David mau menawarinya jemputan?

“Oh iya. Mau mampir kemana dulu, nggak?” tanya David setelah beberapa saat. Mobil sudah melaju lancar, walaupun jalanan masih padat. Setidaknya mereka sudah keluar dari kemacetan parah yang tak jauh dari kantor Tara.

Tara mengangguk. Dia hampir saja lupa. Tadi, Abang Haris minta dibelikan donat satu box. “Ke Toko kue di depan sana, Vid.”

“Oke.”

David pun membelokkan mobilnya ke parkiran Toko kue yang dimaksud Tara. Sesaat kening David mengernyit. Dia seperti mengingat tempat ini.

“Kamu mau ikut turun nggak, Vid?” tanya Tara setelah melepas sabuk pengamannya.

“Ehm… boleh deh,” jawab David tersenyum kaku. Dia masih mencoba mengingat apakah dia pernah datang kesini. Tapi hingga mereka masuk ke dalam Toko, dia tak mengingat apapun.

“Mbak, saya pesan donat satu box campur ya,” ucap Tara pada pelayan Toko. Pelayan Toko mengangguk dan mulai memasukkan donat pesanan Tara ke dalam box.

“Tara.”

Tara menoleh saat namanya dipanggil. “Loh, Miska,” sapa Tara cukup terkejut karena bertemu Miska di dalam Toko. Dan Miska memakai apron?

Miska tersenyum hangat dan bersalaman dengan Tara. “Apa kabar ?”

“Aku baik. Kamu pakai apron ini …”

“Aku pakai apron ini karena aku ada pesanan kue ulang tahun untuk malam ini. Jadi aku baru membuatnya sekarang. Wah.. aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Dan kabar baiknya, kamu membeli kue di Tokoku,” ucap Miska tersenyum ramah.

“Oh … aku baru tahu kamu punya usaha Toko kue.”

“Sudah lama kok. Oh iya, kamu sendirian kesini?” tanya Miska.

Tara sontak mematung. Ya Tuhan. Dia lupa jika Miska adalah mantan pacar David. Bagaimana jika Miska tahu kalau dia datang kesini bersama David?

“Udah belum, Ra?”

Suara seorang pria membuat dua perempuan itu menoleh bersamaan. Miska terbelalak, terkejut saat melihat David. Begitupun David yang terkejut melihat Miska. Dan barulah dia ingat jika Toko kue ini adalah milik mantan kekasihnya, Miska.

“David?” Suara Miska tercekat. Dia langsung memandang David dan Tara bergantian.Bagaimana bisa keduanya ada disini bersamaan?

“Hai, Mis. Apa kabar?” David berusaha tersenyum ramah.

“Aku baik. Kalian … kalian nggak sengaja ketemu atau kalian emang bareng kesininya?” Miska tak bisa menahan rasa penasarannya.

Tara dan David saling pandang. Tara hendak menjawab, namun suara pelayan toko menginterupsinya bahwa donat pesanan Tara sudah selesai. Tara akhirnya melangkah menuju kasir untuk melakukan pembayaran.

Mau tak mau David lah yang harus menjawab. “Kami barengan kesini.”

Miska terkejut. “Apa suami Tara nggak tahu? Apa dia nggak marah kalau lihat kalian bersama?” Miska menatap sinis.

Miska pikir David akan berhenti untuk mengganggu pernikahan mantannya. Namun apa ini? Miska melihatnya sendiri. Jelas-jelas mereka berdua selingkuh. Gesture mereka sudah menunjukkannya.

David menghela napas panjang. “Tara sudah bercerai, Mis.”

Miska terbelalak. “Cerai?”

David mengangguk. “Iya. Satu tahun lalu. Jadi, nggak akan ada yang marah kalau lihat kami bersama.”

Miska masih begitu terkejut. Benar-benar tak percaya. Sekian lama tak bertemu David, dan saat bertemu, David sedang bersama Tara yang statusnya bukan istri orang lagi.

“Ehm … apa kalian masih ingin mengobrol?” tanya Tara sambil menenteng paperbag berisi donat pesanannya.

David menggeleng. “Bye, Mis.”

Tara juga mengangguk sekali, berpamitan. “Semoga Abangku suka dengan donat buatanmu ya, Mis.”

Miska mengangguk kaku. Tara dan David pun keluar Toko. Menyisakan Miska yang masih menatapnya tak mengerti.

‘Apa memang kalian ditakdirkan berjodoh?’

‘David bahkan rela menunggumu jadi seorang janda. Kamu beruntung, Tara. David sungguh-sungguh mencintaimu.’

Miska tersenyum tipis. Dia pun kembali masuk ke dapur. Dia tak bersedih lagi karena keputusannya putus dengan David dulu adalah yang terbaik. Dia hanya masih terkejut melihat David kembali bersama Tara. Dan sepertinya kali ini mungkin mereka akan menikah.

“Sorry, Ra. Aku terpaksa bilang ke Miska tentang status kamu. Aku nggak mau Miska mengira kita pasangan selingkuh karena setahu dia kamu sudah punya suami,” ucap David seraya melajukan mobilnya santai. Mereka dalam perjalanan pulang menuju rumah Tara.

Tara mengangguk. “Aku mengerti. Cepat atau lambat, semua orang akan tahu tentang statusku. Lagipula, aku nggak peduli apa tanggapan mereka. Aku happy dengan status ini. Dan itu yang terpenting.”

David menoleh sesaat dan tersenyum lembut. “Aku juga nggak mempersalahkan apa statusmu. Bisa melihatmu tersenyum bahagia saja, aku udah ikut bahagia.”

Tara tertawa pelan. “Klasik banget kata-katamu, Vid. Eh tapi, aku melihat kamu nggak canggung sama sekali ketemu Miska. Padahal kan kalian pernah pacaran lama loh. Apa sedikitpun nggak ada perasaan gimana gitu saat ketemu tadi?”

David menggeleng. “Itulah kesalahanku dulu yang membuat Miska terjebak dalam hubungan yang sebenarnya dipaksakan. Aku nggak ada perasaan apapun sama Miska. Bahkan saat pacaran dulu. Dulu, aku sedih saat kamu memintaku keluar dari Toko itu. Aku kerja disana hanya ingin dekat sama kamu, Ra. Tapi kamu menolak kehadiranku. Setelah itu, aku berusaha menjalani hidup sesuai takdir. Hingga akhirnya ketemu Miska. Miska minta aku buka hati untuk orang lain agar bisa melupakanmu karena kamu sudah punya suami. Akhirnya aku coba buka hati untuk Miska. Miska tahu aku masih mencintaimu karena melihat foto yang aku pajang di atas meja kerjaku. Foto kita berdua.”

David menoleh sesaat. Tara ikut menoleh dan mengernyit. ‘Foto apa?’

David melanjutkan,” Miska mencoba membuka hatiku, berusaha membuat aku melupakanmu dan mencintai Miska. Miska memintaku untuk membuang foto itu, namun karena aku nggak bisa, aku hanya menyimpannya di dalam laci. Sesekali aku masih sering melihatnya. Namun ternyata, perasaan itu tak bisa dipaksa. Aku tetap tak bisa mencintai Miska hingga tiga tahun lamanya kami pacaran. Miska juga menyadarinya. Itulah sebabnya Miska memutuskan hubungan kami dengan baik-baik. Miska ingin dicintai. Dan aku tak bisa mencintainya. Setelah putus dari Miska, aku kembali meletakkan foto itu ke atas meja. Aku nggak tahu bagaimana nanti. Yang jelas, aku nggak mau membohongi hatiku lagi. Kenyataannya aku masih mencintaimu, Ra.”

Tara salah tingkah. Pipinya merona. Walaupun David sering mengatakannya, tetap saja perasaan Tara berdebar.

“Eh.. tapi sebenarnya foto apa yang ada di atas meja kerjamu?” Tara berdehem, menatap ke lain arah yang penting tidak melihat David.

David merogoh ponsel di sakunya dan menyerahkannya pada Tara. “Buka saja ponselku, dan lihat wallpapernya. Itulah foto yang kupajang di atas meja kerjaku,” ucap David. Dia tengah sibuk menyetir, jadi tak mungkin membuka ponsel.

Tara menerimanya. “Eh … nggak dikunci?”

David menggeleng. “Aku selalu lupa jika dikasih password.”

Tara menggeleng. Dia masih ingat jika David memang pelupa sekali. “Masih pelupa ternyata.”

David tertawa pelan. Tara membuka ponsel David dan tersentak saat melihat foto yang dimaksud. Itu foto mesra mereka berdua saat dulu masih berpacaran.

“Dari banyaknya foto yang kita ambil, itu favorite ku. Aku suka senyum dan tawa bahagiamu selepas itu. Aku jadikan foto itu untuk penyemangat agar bengkelku bisa berkembang dan sukses. Niatnya, setelah usahaku mapan dan punya rumah, aku akan menemuimu. Namun, saat kita bertemu, ternyata kamu sudah menikah. Hatiku hancur. Apa yang kuusahakan, sudah dimiliki orang. Namun aku tak ingin menyerah. Aku masih menggodamu kan waktu itu? Aku pernah berpikir jahat ingin membuatmu berpaling dari suamimu. Namun aku gagal lagi. Aku lupa kalau kamu adalah perempuan setia. Dan aku menyerah saat kamu menyuruhku pergi dalam kehidupanmu.”

Tara menatap lekat foto di ponsel David. Matanya berkaca-kaca. Dia juga rindu senyumannya sendiri. Saat foto itu diambil, Tara begitu bahagia bersama David. Bunga cinta di antara mereka begitu bermekaran indah dan cantik. Jika orang lain melihat foto itu, mereka pasti juga merasakan kebahagiaan yang sama dengannya.

“Aku nggak tahu kenapa takdir mempermainkan kita, Vid. Dulu, kita saling mencintai, hingga akhirnya kita berpisah. Kamu menyakitiku begitu dalam. Hingga Devan hadir menawarkan persahabatan lalu pernikahan. Dan kamu hadir lagi, memberikan perhatian yang tak bisa Devan berikan ke aku. Jujur, aku menyuruhmu pergi, karena hatiku sudah goyah, Vid. Jika kita terus bersama, aku takut aku akan mengkhianati suamiku sendiri. Ku pikir cinta itu sudah hilang, namun ternyata aku hanya menyimpannya di sudut hati terdalam. Aku hanya berusaha menguburnya. Dan perlahan tapi pasti, pernikahanku makin berada di pinggir jurang. Pernikahan yang aku pertahankan susah payah, dihancurkan oleh kelakuan Devan. Dan kita bertemu lagi. Kamu menawarkan kebahagiaan lagi. Hatiku sudah berpaling dari Devan saat itu. Hingga perceraian lah yang aku minta. Dan kita sekarang duduk di satu mobil seperti ini,” ucap Tara masih setia memandangi foto itu.

David mengangguk. Dia bisa merasakan kesedihan Tara. “Dan apa yang kamu rasakan sekarang saat bersamaku?”

Tara menoleh. Menatap lekat wajah David yang juga menoleh sesaat sebelum akhirnya melihat ke depan karena David masih posisi menyetir.

“Perasaan yang aku kubur itu, dia muncul lagi ke permukaan, Vid,” ucap Tara sontak membuat David menoleh sesaat. Setelah itu David meminggirkan mobilnya. Mobilnya berhenti dengan mesin masih menyala. Kali ini, David bisa menoleh dengan leluasa.

“Apa itu artinya …” David tak melanjutkan kata-katanya. Dia hanya merasa berdebar. Mungkinkah Tara …

Tara tersenyum dan mengangguk. “Cinta itu kembali lagi. Sejak aku berada di rumahmu setelah kecelakaan itu.”

David tersenyum lebar. “Apa hubungan kita sekarang bisa naik level?”

Pipi Tara merona. Dia tersenyum dan menatap wajah David. “Aku nggak tahu apa ini takdir kita.. tapi, aku merasakan kebahagiaan itu saat bersamamu, Vid.”

David tak tahan. Melepas sabuk pengamannya dan langsung meraih tubuh Tara ke dalam pelukannya. David bahkan meneteskan air mata. Begitu haru. Tara sudah jelas membuka hati lagi untuknya. Kini, David tahu perjuangannya, kesabarannya, tak sia-sia.

Tara tersenyum bahagia. Dia balas memeluk David. Tak ada paksaan apapun. Tara benar-benar bahagia. Perasaannya berbunga-bunga. Dia tahu inilah saatnya melanjutkan hidup.

Bersambung …

1
Atik R@hma
ok ka yes,salam kenal🤣🤣
yesstory: Terima kasih banyak kak Atik yang setia baca karyaku. Semoga suka ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!