NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 17: "Puing Gairah yang Terluka"

​Malam di Kediri yang biasanya tenang, kini terasa mencekam. Suara gesekan koper Shania di atas lantai bagaikan detak lonceng kematian bagi ketenangan di rumah itu. Shania, dengan jemari yang gemetar hebat, berusaha menarik tuas kopernya. Ia tidak peduli lagi pada hafalan silsilah, tidak peduli pada pandangan santriwati, dan tidak peduli pada statusnya sebagai istri seorang ustadz besar. Yang ia tahu, ia ingin lari sejauh mungkin dari rasa tidak diinginkan yang menghimpit dadanya.

​Namun, sebelum ia sempat mencapai daun pintu, sebuah bayangan besar menyambar lengannya.

​"Lepaskan, Mas!" teriak Shania, suaranya parau karena tangis yang pecah.

"Lepaskan, aku! Biarkan aku pulang ke Jakarta!"

​Zain tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia menarik lengan Shania dengan kekuatan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Mata Zain yang biasanya teduh dan penuh pantulan dzikir, kini berkilat gelap. Ada badai kemarahan, frustrasi, dan luka yang meledak di sana.

​"Saya, tidak mengizinkanmu untuk pergi, Shania Ayunda Salsabilla!"

Suara Zain menggelegar di ruang tengah. Intonasinya naik beberapa oktav, memecah kesunyian malam.

​"Kenapa? Takut nama baikmu tercoreng karena punya istri gagal?!" balas Shania menantang, wajahnya memerah, air matanya membasahi cadar yang sudah tersingkap.

​Zain mengatur napasnya yang memburu. Giginya gemertak.

"Kamu, selalu menuduh saya tidak menginginkanmu. Kamu selalu bilang saya jijik padamu hanya karena saya menjaga jarak agar tidak melampaui batas sebelum kamu siap secara batin."

​"Bohong! Mas, cuma menganggapku beban! Mas cuma mau menyentuhku kalau aku sudah 'suci' dan 'pintar' seperti Fatimah, kan?!"

​Kalimat itu seolah menjadi pemantik bom waktu yang selama ini dipendam Zain. Rasa sabar yang ia bangun dengan ribuan rakaat shalat malam itu runtuh seketika. Logika sang ustadz kalah telak oleh insting seorang pria yang harga dirinya diinjak-injak oleh wanita yang paling ia cintai.

​"Kamu, mau aku menyentuhmu? Baiklah!"

​Tanpa peringatan, Zain menyentak tangan Shania. Ia menyeret istrinya masuk ke dalam kamar. Shania terpekik, kakinya tersandung-sandung mencoba mengikuti langkah lebar Zain yang penuh emosi. Sesampainya di dalam, Zain mendorong tubuh Shania ke atas tempat tidur.

​Kasur itu berderit saat punggung Shania mendarat di sana dalam posisi terlentang. Sebelum ia sempat bangkit, tubuh besar Zain sudah mengungkungnya.

​"Mas... apa yang Mas lakukan?"

Shania berbisik ketakutan. Ini bukan Zain yang ia kenal.

​Zain tidak menjawab. Dengan gerakan kasar yang dipicu oleh amarah, ia membuka kancing baju kokonya satu per satu hingga terlepas, memperlihatkan dada bidang dan tubuh atletisnya yang selama ini tertutup rapat di balik kain-kain takwa. Ia hanya menyisakan sarung yang melilit pinggangnya.

​Shania terpaku. Ia melihat otot-otot lengan Zain yang mengeras, urat-urat yang menonjol di leher suaminya. Pemandangan itu seharusnya indah, namun dalam situasi ini, terasa mengancam.

​Zain merunduk, kedua tangannya mengunci sisi kepala Shania. Dengan satu sentakan, ia menarik kain hitam yang menutupi wajah Shania hingga cadar itu terlepas. Tak berhenti di situ, tangannya beralih ke jarum-jarum hijab Shania, membukanya dengan paksa hingga kain itu luruh ke lantai, menampakkan rambut panjang Shania yang berwarna cokelat keemasan, tergerai berantakan di atas bantal putih.

​"Mas, jangan begini..."

Shania mulai memberontak. Ia memukul dada Zain, mencoba menjauhkan wajah pria itu.

​Namun Zain seperti tuli. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Shania, menghirup aroma vanilla yang selama ini selalu menghantuinya setiap kali ia bersujud. Ia mencium kulit leher itu dengan intensitas yang menyakitkan, bukan sebuah kemesraan, melainkan sebuah klaim kepemilikan yang brutal.

​"Diam! Ini kan yang kamu mau?!" desis Zain di telinga Shania.

"Kamu, bilang saya hanya mencintai hasil didikan, saya. Kamu, bilang saya hanya ingin menyentuhmu karena nafsu. Sekarang lihat, siapa yang sedang terbakar di sini?!"

​Zain beralih ke bibir Shania. Jika dulu di Jombang Shania yang memulai dengan kenakalan, kali ini Zain yang membalas dengan kemarahan. Ia melumat bibir Shania dengan kasar, seolah ingin menghapus semua kata-kata menyakitkan yang keluar dari sana. Ia ingin Shania tahu bahwa diamnya selama ini bukan karena dingin, melainkan karena ia sedang menahan gunung berapi yang siap meluluhlantakkan segalanya.

​Shania merasa sesak. Ia merasa ini bukan penyatuan cinta, melainkan sebuah penaklukan. Rasa perih menjalar di bibirnya, dan ia merasa harga dirinya sedang diruntuhkan oleh pria yang ia harapkan bisa menjadi pelindungnya.

​Dengan sisa kekuatan yang ada, Shania mengumpulkan tenaga di kedua tangannya. Ia mendorong dada Zain dengan hentakan keras saat ciuman itu mengendur sejenak untuk mencari napas.

​PLAK!

​Suara tamparan itu menggema di dalam kamar.

​Wajah Zain terlempar ke samping. Bekas merah jari Shania tercetak jelas di pipinya yang biasanya bersih. Keheningan yang sangat pekat langsung menyergap ruangan itu. Hanya suara napas keduanya yang terdengar memburu, saling beradu dalam kegelapan yang remang.

​Zain mematung. Telapak tangannya perlahan menyentuh pipinya yang berdenyut panas. Matanya perlahan meredup, kemarahan yang tadi meluap-luap mendadak surut, digantikan oleh rasa malu yang teramat dalam. Ia menatap Shania yang kini meringkuk di sudut kasur, memeluk dirinya sendiri sambil menangis sesenggukan.

​"Shania..." suara Zain kembali rendah, namun kali ini penuh dengan getaran penyesalan.

​Shania tidak menjawab. Ia hanya terus menangis, menutupi rambutnya yang tergerai dengan tangan, merasa telanjang meski pakaiannya masih lengkap.

​Zain mundur perlahan. Ia melihat tangannya yang gemetar, lalu melihat pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia baru saja melakukan hal yang selalu ia jaga agar tidak terjadi; ia membiarkan amarahnya mengendalikan syahwatnya. Ia telah melukai wanita yang seharusnya ia muliakan.

​"Maaf..." bisik Zain.

Namun ia tahu, kata maaf tidak akan cukup menghapus memori beberapa menit lalu.

​Zain memungut baju kokonya, lalu berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi. Ia menutup pintu dengan sangat pelan, seolah takut suara pintu akan menambah luka di hati Shania.

​Keesokan harinya, rumah itu berubah menjadi makam.

​Shania tidak jadi pergi ke Jakarta. Entah apa yang menahannya. Mungkin rasa takut pada ayahnya, atau mungkin karena bayangan kejadian di Jombang dulu melintas di benaknya.

Dulu, ia pernah melakukan hal yang sama pada Zain—merangkak di atas tubuhnya, menciumnya dengan sengaja hanya untuk "mengetes" iman pria itu. Kini, ia merasa mereka berdua sama-sama kotor, sama-sama terluka.

​Mereka tetap berada di bawah satu atap, namun jiwa mereka berada di kutub yang berbeda.

​Shania tetap menjalankan tugasnya. Ia menyiapkan kopi di meja makan, namun ia meletakkannya dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Setelah itu, ia akan segera menghilang ke arah dapur atau keluar menuju pesantren.

​Jika mereka tidak sengaja berpapasan di lorong sempit menuju kamar mandi, keduanya akan refleks menghindar. Zain akan menepi ke dinding, menundukkan pandangannya dalam-dalam seolah Shania adalah api yang akan menghanguskan sisa-sisa kewarasannya. Sedangkan Shania akan mempercepat langkahnya, menarik cadarnya lebih erat, dan memalingkan muka.

​Meja makan yang dulu pernah dihiasi tawa tipis saat Zain mengoreksi makhraj Shania, kini hanya berisi denting sendok yang sesekali beradu dengan piring. Tidak ada suara "Dek", tidak ada panggilan "Mas". Hanya keheningan yang menyesakkan.

​Zain lebih banyak menghabiskan waktunya di masjid pesantren. Ia pulang hanya saat larut malam, memastikan Shania sudah tidur atau setidaknya sudah berada di dalam kamar yang terkunci. Ia akan merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, menatap langit-langit dengan mata yang basah.

​Ia teringat betapa cantiknya Shania malam itu saat rambutnya tergerai. Ia teringat betapa ia sangat ingin mendekap istrinya itu dan mengatakan bahwa ia mencintai segala kekurangannya. Namun, emosi telah merusak segalanya. Ia telah menjadi "macan" yang ia takuti sendiri, dan kini ia kehilangan kepercayaan dari satu-satunya orang yang ingin ia lindungi.

​Di dalam kamar, Shania duduk di balik pintu. Ia menatap koper yang masih tergeletak di pojok ruangan, belum dibongkar. Ia teringat tamparannya pada Zain. Ia teringat tatapan hancur di mata suaminya setelah tamparan itu.

​"Kita, sama-sama berantakan, Mas," bisik Shania pada angin malam yang masuk lewat jendela.

​Ia menyadari bahwa belenggu mahar ini bukan lagi soal status pernikahan atau paksaan orang tua. Ini adalah belenggu rasa bersalah dan ego yang terlalu tinggi. Mereka saling merindu, namun cara mereka mengekspresikannya justru saling menghancurkan.

​Puing-puing kepercayaan itu memang masih ada di balik pintu yang tertutup, namun baik Zain maupun Shania, tidak ada yang tahu bagaimana cara menyatukannya kembali tanpa melukai tangan mereka sendiri.

​Bersambung ....

1
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!