Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Kang Ojek
"Oh, gak usah, Bang. Deket kok."
"Ngak papa. Biar cepet aja." Collins masih mencoba membujuk. Namun, melihat reaksi Aida yang terdiam, ia jadi serba salah. "Eh, kalo gak mau, gak papa. Eh, saya duluan, ya? Permisi."
"Iya."
Collins menjalankan motornya. Ia melihat dari cermin kaca spion kalau Aida mulai melangkah lagi. 'Gimana sih caranya bisa dekat dengannya? Ck! Babe sih pake acara gak boleh pacaran dulu. Apa Aida juga begitu? Masa, aku harus nikah dulu sama Aida,' pikirnya sambil merengut. Namun, kalimat terakhir sukses membuat Collins berubah pikiran. Ia menyentuh dagunya. 'Tapi ... nikah juga gak jelek-jelek amat!' Collins tersenyum simpul.
****
"Bara, rambut lu potong nape. Dah gondrong noh!" sahut babe yang menikmati kopinya di pagi hari.
Collins menarik kursi makan dan duduk di samping pria itu. Ia meraih singkong rebus yang ada di atas piring. "Gak ada nasi goreng ya?" Collins menggigit singkong di tangan.
"Kemarin ade tetangga yang ngasih banyak singkong, katenye dari kebunnye. Jadi Enyak rebus ini buat sarapan." Babe mengikuti Collins meraih satu potong singkong yang berukuran besar. "Lu potong rambut, napa."
"Memangnya kenapa? Aku lagi malas potong rambut, Be. Panjangnya juga nanggung."
"Lu bukannye ada duit?"
Collins sedikit merengut.
"Lu preman, bukan. Penyanyi, bukan. Lu artis juga bukan. Lah, terus ngapain punya rambut gondrong begini? Kayak perempuan aja, lu!" ledek Babe.
Collins makin dongkol. "Emangnya preman aja yang boleh gondrong?"
"Laki mah kudu rapi. Rambut pendek, Bara. Ntar dikira lu melambai lagi!" Babe memperlihatkan gaya tangan yang melentik.
Ipah yang baru keluar dari kamar mandi, tertawa melihat gaya sangat ayah yang merapatkan tangan bergerak seperti menari.
"Kagak ada perempuan yang demen ama elu!"
Collins tertegun mendengar kalimat ini. Apa iya? Apa karena itu Aida tidak mau dekat dengannya? Collins lupa kalau Aida buta. "Ya udah deh, Be. Ntar Bara potong."
"Gitu dong, anak babe." Pria paruh baya itu menepuk-nepuk bahu Collins.
****
Pasar begitu ramai siang itu, tapi Collins sudah selesai belanja. Kini ia membawa plastik belanjaannya menuju tempat parkir. Saat ia mengeluarkan motor, Collins melihat Aida yang sedang menunggu bajaj di pinggir jalan. Kembali ia coba mendekat, walau tahu wanita itu pasti akan menolaknya lagi. "Eh, Ustadzah. Mau pulang?"
Kembali Aida tertegun. Ia merasa aneh, karena sering kali bertemu dengan pria ini. Apa Bara mengikutinya? "Eh, Bang ...." Ia nampak tak nyaman.
Namun kali ini Collins mencoba nekat. "Mau kuantar pulang? Sekalian, kebetulan searah."
"Enggak, Bang. Saya nunggu bajaj aja," ucap Aida menolak dengan sopan.
Terlintas sesuatu di pikiran Collins. "Ya udah, ngojek sama aku aja. Gimana?"
"Hah?" Aida terkejut dengan tawaran pria ini.
"Oh, aku ngojek kok. Kalo Mbak mau, aku anterin." Collins dengan siasat lain.
Wanita itu terlihat bingung. "Tapi ...."
"Ya udah, harga bajaj aja, gak papa. Udah, sini." Collins meraih jinjingan plastik yang dipegang Aida.
Karena sudah terlanjur diambil, wanita itu terpaksa naik motor sang pria. Aida memakai celana panjang hingga bisa dengan mudah naik ke motor. Ia memegang tongkatnya sambil berpegangan dengan baju kaos Collins di belakang.
"Udah?"
"Iya."
Collins menjalankan motornya. Ada perasaan aneh yang menjalar di dada. Perasaan aneh yang menggembirakan. Ia sengaja menjalankan motornya dengan pelan agar bisa berlama-lama dengan Aida. Wanita itu juga bisa merasakannya tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Selama Collins sopan, ia takkan protes. Motor itu pun lewat toko Babe dan pria paruh baya itu melihatnya.
"Astaga, Bara ...." Babe melongo sambil memegang kepalanya. Sebentar kemudian ia menggeleng-gelengkan kepala.
Sampai di depan rumah Aida, wanita itu turun dengan sedikit gemetar sambil merapikan kerudung.
"Kenapa, Mbak?" Collins yang menyadari sedikit khawatir.
"Oh ... aku sudah lama tidak naik motor." Aida berusaha menenangkan diri.
Collins melongo, ia tidak tahu ternyata Aida ketakutan naik motor bersamanya.
"Eh, tidak apa-apa. Untung pelan," sahut Aida berusaha tersenyum. Ia mengeluarkan dompet dan memberikan uang pada Collins. "Pas!"
"Bagaimana kamu tahu jumlahnya?" tanya pria itu heran.
"Oh, uang kertasnya, aku kasih tanda lipatan di ujungnya. Jadi tau bedanya."
Collins memperhatikan uang yang ia dapat dari Aida. Ternyata ujungnya sudah diberi lipatan yang berbeda.
Wanita itu mengulurkan tangannya. "Mana?"
"Eh?" Pria itu menatap ke arah tangan Aida lalu kemudian sadar. Ia melirik bungkusan yang digantung di motornya. "Oh, iya." Ia mengembalikan belanjaan Aida.
"Terima kasih."
"Sama-sama." Sebelum berangkat, Collins masih menoleh pada Aida yang mendatangi pagar rumahnya. Kemudian ia pergi dengan menjalankan motor ke arah toko Babe.
Collins sampai di toko dengan bersiul-siul. Ia tidak memperhatikan wajah Babe yang terlihat geram.
"Ngapain lu berduaan sama Ustadzah Aida naik motor?"
"Ngojek, Be," jawab Collins santai.
"Apa?" Babe terlihat bingung, tapi semenit kemudian ia tersenyum di kulum seraya menunjuk-nunjuk wajah Collins. "Pinter lu ya? Ide lu, ada aja! Beneran lu ngojeknye?!" tanyanya tak percaya.
"Ya ... gitu deh," ucap Collins pura-pura acuh.
Babe gemas hingga melemparnya Collins dengan plastik jualan tapi Collins menghindar sambil tertawa. "Awas aja lu, ketahuan pacaran! Lu cari kerja yang bener dulu, nanti langsung lamar kalau serius!"
"Emang bener, gak boleh pacaran, Be?" Collins masih menawar.
"Ya iyalah! Ngak ada yang begitu-begituan, pokoknya!" omel babe cepat.
"Tapi pacaran itu penting, Be. Untuk mengenal orang itu cocok sama kita atau tidak." Collins mencoba dengan argumennya.
"Seberapa jauh lu pengen kenal die, hah!?" Pria paruh baya itu bicara dengan bertelak pinggang. "Sampai daleman-dalemannye juga, gitu!?"
"Daleman-dalemannya, apaan sih, Be?" Seketika Collins mengerut dahi.
Telunjuk Babe mendorong dahi Collins dengan cepat. "Lu gak boddoh-boddoh amat, untuk ngerti kata begituan, Baraa ...!"
Seketika pria muda itu tersadar. "Astaga, Be .... ya, ampun. Aku bukan orang seperti itu, kali, Be ...."
"Biar kata lu ngomong begitu, juga. Lah lu 'kan sekarang lagi waras, tapi coba kalo lo lagi berduaan? Pasti ada setan lewat!!"
"Masa sih, Be?" tanya Collins coba berpikir.
"Dahlah, dengerin aja omongan Babe!! Ngak usah ngebantah!!" Babe semakin sengit.
Collins merengut.
Babe kemudian melihat plastik belanjaan yang dibawa Collins. "Jadi, lu beli Alquran?"
"Jadi, Be." Collins mengangguk.
Babe melirik Collins. Ia tidak tahu seberapa serius pria muda ini ingin membaca Alquran, tapi ia tahu, Collins pasti sangat tertarik pada Aida walau tak percaya diri di awal. Ia bisa melihat dari wajah pria ini.
Tadinya, saat awal bertemu, Collins terlihat sedikit kacau dan murung, tapi belakangan, pria ini tampak mulai bisa tersenyum. Bahkan tertawa. Entah karena tinggal dengannya atau karena bertemu dengan Aida. Walau begitu, ia berharap Aida bisa membawa pengaruh baik bagi Collins.
Keluarganya juga sangat menyukai Collins. Pria misterius ini berhasil menggantikan sesuatu yang pernah hilang dari rumah itu, begitu lama. Enyak begitu senang, apalagi Ipah. Babe berharap Collins tak kembali ke keluarganya terlalu cepat.
Ia menyentuh rambut pria itu yang kini sedikit pendek. "Lu dibilangin suruh potong pendek, kenapa nanggung begini, sih?" Babe melihat rambut Collins yang masih gondrong di sekitar telinga.
Bersambung