Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Sang Singa Tua Terbangun
Pagi itu, Jakarta diguyur hujan tipis. Elena duduk di kursi kebesarannya di kantor The V Group cabang Jakarta.
Di depannya, layar televisi menampilkan berita Siska Pratama yang digelandang keluar dari butiknya dengan tangan terborgol.
Wajah wanita itu tertutup rambutnya yang acak-acakan, sangat jauh dari citra sosialita yang ia bangun selama ini.
"Kosmetik bermerkuri dan penggelapan pajak," gumam Elena sambil memutar-mutar pena emas di jarinya.
"Terlalu mudah. Ular seperti dia memang selalu meninggalkan jejak lendir di mana-mana."
Paman Han masuk dengan raut wajah yang lebih serius dari biasanya.
Ia meletakkan sebuah undangan fisik berwarna krem dengan cetakan emas timbul di atas meja Elena.
"Nona, sepertinya kita berhasil memancing perhatian sang singa tua," ujar Paman Han.
Elena mengambil undangan itu. Haryo Adiguna. Ayah Adrian. Sosok yang selama ini berada di puncak rantai makanan bisnis Indonesia.
Pria yang jarang sekali menampakkan diri di publik, namun setiap kata-katanya bisa mengubah hukum di negeri ini.
"Dia mengundangku makan malam di kediaman pribadinya. Bukan di restoran, bukan di kantor," Elena membaca isi undangan itu.
"Ini bukan sekadar pertemuan bisnis, Paman. Ini adalah interogasi."
"Apakah Anda akan datang? Haryo bukan Adrian. Dia punya mata yang bisa melihat menembus beton," Paman Han tampak khawatir.
Elena berdiri, berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan kabut di antara gedung-gedung tinggi.
"Jika aku tidak datang, dia akan tahu aku takut. Dan dalam dunianya, rasa takut adalah undangan untuk dihancurkan. Siapkan mobil. Aku ingin mengenakan gaun yang paling sederhana namun paling mahal yang kita punya."
Kediaman Haryo Adiguna terletak di sebuah kompleks tersembunyi di Menteng, dikelilingi tembok tinggi dan penjagaan ketat layaknya barak militer.
Saat mobil Rolls-Royce Elena memasuki gerbang, suasana berubah menjadi sunyi dan mencekam.
Pohon-pohon beringin tua yang rimbun seolah mengawasi setiap langkah tamu yang datang.
Elena disambut oleh seorang pelayan tua yang membawanya ke ruang makan formal.
Di ujung meja panjang yang terbuat dari kayu jati utuh, duduklah Haryo Adiguna.
Rambutnya sudah memutih seluruhnya, namun tatapan matanya tetap tajam, sedingin es kutub.
Adrian duduk di sisi kiri meja, tampak kuyu dan tidak berani menatap Elena.
"Selamat malam, Tuan Haryo. Terima kasih atas undangannya," Elena menyapa dengan suara tenang yang terlatih.
Haryo tidak langsung menjawab.
Ia memperhatikan Elena dari ujung rambut hingga ujung kaki selama beberapa detik yang terasa sangat lama.
"Silakan duduk, Nona Elena. Atau haruskah saya memanggil Anda dengan nama lain?"
Jantung Elena berdegup sedikit lebih kencang, namun wajahnya tetap seperti porselen—tanpa ekspresi.
"Nama adalah identitas, Tuan Haryo. Dan Elena adalah identitas saya sekarang."
"Identitas sekarang," Haryo mengulang kata-kata itu dengan penekanan yang ganjil.
"Adrian bercerita banyak tentang Anda. Tentang bagaimana Anda menghancurkan pesta pertunangannya dan membuat calon istrinya mendekam di penjara dalam waktu kurang dari 48 jam."
"Saya hanya melakukan pembersihan, Tuan. Sebuah investasi besar membutuhkan lingkungan yang bersih dari parasit," jawab Elena sambil mulai memotong steak di piringnya.
Haryo tertawa kecil, suara yang terdengar lebih seperti geraman.
"Parasit memang harus dibasmi. Tapi terkadang, pembasmi itu sendiri membawa virus yang lebih berbahaya."
Haryo meletakkan garpunya dengan denting yang keras di atas piring porselen.
"Katakan padaku, Elena. Bagaimana rasanya kembali dari kematian? Apakah jurang itu sedalam yang diceritakan orang-orang?"
Suasana di ruangan itu mendadak membeku.
Adrian tersedak minumannya, sementara para pelayan di sudut ruangan tampak menahan napas.
Elena meletakkan pisau dan garpunya dengan perlahan.
Ia menatap Haryo tanpa berkedip. "Kematian itu sunyi, Tuan Haryo.
Tapi yang lebih menarik adalah kelahiran kembali.
Rasanya seperti mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan... termasuk kesalahan orang-orang yang menganggap mereka bisa bermain menjadi Tuhan."
Haryo menyipitkan mata.
"Kau punya nyali yang besar, Alana. Aku akui itu. Kau berubah banyak. Wajahmu, bicaramu... tapi kebencian di matamu itu? Itu adalah sesuatu yang tidak bisa diubah oleh pisau bedah manapun di Swiss."
Elena tersenyum—senyum yang benar-benar dingin sekarang. "Jika Anda sudah tahu, kenapa repot-repot berbasa-basi?"
"Karena aku ingin tahu apa maumu," sapa Haryo, tubuhnya condong ke depan. "Kau menghancurkan Siska, itu hiburan buatku.
Dia memang wanita murahan. Kau mengacaukan Adrian, itu pelajaran buatnya karena dia ceroboh.
Tapi jika kau menyentuh Adiguna Group lebih jauh lagi, kau tidak akan berurusan dengan anak bodoh ini atau wanita gila itu. Kau akan berurusan denganku."
Elena tertawa sinis.
"Anda pikir saya takut? Tuan Haryo, Anda adalah orang yang memastikan lampu jalan tol itu mati malam itu, bukan? Adrian mungkin yang menginginkanku pergi, tapi Andalah yang memastikan aku tidak akan pernah kembali untuk menuntut warisan atau mencoreng nama baik keluarga Anda dengan perceraian yang kotor."
Adrian terperangah. "Ayah? Apa maksudnya ini? Bukankah malam itu murni kecelakaan?"
Haryo mengabaikan anaknya. Matanya hanya tertuju pada Elena. "Di keluarga ini, efisiensi adalah segalanya. Kau adalah variabel yang mengganggu stabilitas perusahaan saat itu. Dan variabel yang mengganggu... harus dihapus."
"Sayangnya, penghapusan itu gagal," Elena berdiri, tangannya bertumpu di atas meja kayu mahal itu.
"Dan sekarang, variabel itu kembali sebagai pemegang saham mayoritas dari tiga bank yang memegang hutang Adiguna Group. Dalam satu jentikan jari, aku bisa membuat perusahaan ini pailit besok pagi."
Haryo terdiam. Ia tahu Elena tidak menggertak.
Kekuatan finansial The V Group yang didukung oleh dana misterius dari Singapura memang telah mengepung gurita bisnisnya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Haryo, suaranya kini lebih rendah, mengakui bahwa lawan di depannya adalah tandingan yang sepadan.
"Aku ingin Adrian kehilangan hak warisnya. Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan: tidak punya apa-apa, tidak punya siapa-siapa, dan nama baik yang hancur berkeping-keping," jawab Elena tanpa belas kasihan.
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Haryo.
"Anda? Anda akan tetap di kursi Anda, melihat kerajaan yang Anda bangun dengan darah dan air mata orang lain perlahan-lahan beralih tangan ke perusahaanku.
Anda akan tetap kaya, Tuan Haryo, tapi Anda akan kesepian.
Tidak ada penerus, tidak ada kehormatan. Anda akan mati sebagai orang tua yang hanya memiliki tumpukan kertas tanpa arti."
Adrian berdiri dengan marah. "Kau gila! Aku suamimu!"
"Kau pernah menjadi suamiku," Elena menoleh ke arah Adrian dengan tatapan jijik.
"Sekarang, kau hanyalah pion yang sudah kehilangan fungsinya. Paman Han!"
Paman Han masuk ke ruang makan, membawa sebuah koper hitam.
Ia membukanya, memperlihatkan tumpukan dokumen yang sudah ditandatangani oleh para dewan komisaris Adiguna Group yang telah disuap atau diancam oleh Elena.
"Pilih, Tuan Haryo," Elena memberikan sebuah pulpen pada sang singa tua.
"Tandatangani penyerahan kendali operasional padaku, atau tontonlah berita besok pagi tentang bagaimana Anda secara pribadi memerintahkan sabotase jalan tol dua tahun lalu. Aku punya saksi mata yang sudah kau pikir sudah kau 'selesaikan', tapi ternyata dia lebih suka uangku daripada kesetiaan padamu."
Tangan Haryo gemetar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar kalah.
Bukan oleh otot, bukan oleh senjata, tapi oleh seorang wanita yang ia remehkan dan ia buang ke jurang.
Dengan napas berat, Haryo meraih pulpen itu. "Kau akan menyesali ini, Alana. Kekuasaan adalah kutukan."
"Mungkin," Elena mengambil kembali dokumen yang sudah ditandatangani itu.
"Tapi setidaknya aku akan dikutuk sambil melihat kalian semua hancur."
Elena melangkah keluar dari rumah megah itu dengan perasaan yang campur aduk.
Di belakangnya, ia bisa mendengar teriakan kemarahan Adrian dan suara piring pecah.
Ia masuk ke dalam mobilnya, menyandarkan kepala di sandaran kursi yang empuk.
"Sudah selesai, Nona?" tanya Paman Han pelan.
Elena menatap tangannya yang sedikit bergetar.
"Belum, Paman. Ini baru pemindahan aset. Balas dendam yang sesungguhnya adalah saat mereka menyadari bahwa mereka masih hidup, tapi tidak ada lagi alasan untuk terus bernapas."
Mobil itu melaju meninggalkan Menteng, meninggalkan puing-puing keluarga Adiguna yang perlahan runtuh dari dalam.
Elena melihat ke luar jendela, ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip.
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam legam muncul dari belakang, melaju dengan kecepatan tinggi dan mencoba memepet mobil Elena.
"Paman! Ada yang mengikuti kita!" seru Elena.
Paman Han segera menginjak gas. "Sepertinya Haryo tidak membiarkan kita pergi begitu saja dengan dokumen itu, Nona. Pegangan yang kuat!"
Kejar-kejaran terjadi di jalanan Jakarta yang basah.
Elena menyadari bahwa meskipun ia telah memenangkan pertempuran di meja makan, perang yang sesungguhnya di jalanan—tempat semuanya bermula—kembali terulang.
Namun kali ini, ia tidak akan jatuh ke jurang sendirian.
Bersambung...
Ayo buruan baca...