NovelToon NovelToon
BATAS 2 TAHUN

BATAS 2 TAHUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:971
Nilai: 5
Nama Author: Ainun masruroh

Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.

Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.

Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

harapan baru

Cahaya matahari sore yang hangat jatuh tepat di atas meja kerjaku. Di hadapanku, bukan sekadar coretan bangunan, melainkan sebuah mimpi besar yang kusebut sebagai Team Alea. Proyek ini bukan hanya tentang memperluas bisnis, tetapi tentang menciptakan sebuah oase bagi mereka yang sering kali kehilangan masa depan sebelum sempat mengejarnya, para santri dan anak muda yang terpaksa menikah dini karena himpitan ekonomi.

​Aku menghela napas, menatap lahan kosong di sebelah butik Dear Alea yang baru saja aku resmikan. Di sanalah, tiga pilar harapan akan berdiri.

​beberapa hari lalu ketika aku kembali ke rumah, ada seseorang yang menungguku di gerbang pesantren dan aku mendapati kenyataan pahit. Seorang anak perempuan dengan wajah kusam dan tubuhnya yang terlihat kering kini sudah menggendong anak dengan raut wajah yang tampak lebih tua dari usianya. Masalahnya klise namun menyakitkan, ekonomi keluarga yang sulit membuat orang tua melihat pernikahan sebagai jalan pintas untuk mengurangi beban.

" ada apa mbak? Apa yang bisa saya bantu?" ucapku setelah turun dari mobil.

​"Aku ingin sekolah, tapi Bapak bilang lebih baik ada yang menanggung makanku," ucapnya dengan wajah tertunduk.

​Kalimat itu terngiang-ngiang membuat telingaku berdenging. Dan rasanya seperti ada pisau yang menancap tetap di dadaku, Aku tidak bisa tinggal diam. Aku adalah seorang penulis, seorang pengusaha fashion, tapi lebih dari itu, aku adalah seseorang yang percaya bahwa kemandirian ekonomi adalah kunci martabat. Aku melihatnya putus asa, aku lihat anaknya yang ia gendong begitu ringkih sama seperti ibunya.

" kamu umur berapa?" ucapku.

" umur tujuh belas" ucapnya. Aku membelalakkan mataku, aku memastikan lagi umurnya, dan ia tetap menjawab tujuh belas taun, dia bilang bahkan belum punya KTP karna baru bulan kemaren dia memasuki umur tujuh belas taun. Aku menyuruhnya memasuki mobil, untuk mengobrol lebih banyak di dalam, dia sempat menolak karna dia tidak pakai jilbab, lalu aku mengambil jilbab yang ada di mobil untuk dia merasa nyaman saat di dalam. Aku bertanya banyak hal, tentang kenapa dia menerima untuk di nikahkan, tentu permasalahan ekonomi, bahkan dia bercerita kalau dia tidak melanjutkan sekolah SMP karena lagi-lagi permasalahan ekonomi, dia harus membantu ayahnya untuk mencari rumput di pagi hari dan siang harus membantu ibunya berjualan, Seorang anak perempuan yang harus memberikan hidupnya padahal dia tidak memilih untuk di lahirkan, anak sebuah hadiah dan titipan yang harusnya di jaga.

" lalu dimana suamimu?"

" dia merantau tapi sudah 3 bulan tidak ada kabar, saya kesulitan untuk membiayai anak saya, ibu dan ayah marah marah setiap hari karena harus memberi makan kami" ucapnya dengan suara bergetar, aku yakin selama ini hidupnya serba salah dan dia sendirian bertahan. Aku mengelus pundaknya perlahan, air mata nya tidak terbendung lagi, dia menangis dan di ikuti suara anaknya menangis, ini pukulan lagi untukku, kenapa dari dulu aku tidak menyadari ada kehidupan sejahat ini di lingkunganku, kenapa aku tidak keluar dari dulu, kenapa aku baru sekarang ada dan menyadarkan mereka, aku menitikan air mata yang sedari aku tahan saat melihat mereka berdua menungguku di depan gerbang.

" begini saja, kamu belajar disini, bawa anakmu juga mulai besok, aku akan memikirkan selanjutnya" ucapku tenang.

aku memberinya uang saku sedikit untuk bisa membeli makan dan transportasi, sebenarnya aku ingin membelikannya susu untuk kebutuhan anaknya tapi aku urungkan karena jika orang tuanya tau, dia akan di tuduh mencuri karena anak ini selalu diam dan sulit untuk mengungkapkan. Aku akan melaporkan ini pada Abah dan ibu untuk mencari solusi dan aku juga akan meminta saran pada bapak diknas pendidikan bapak Agus untuk mencari jalan keluar agar ketika terjadi hal tidak di harapkan, beliau bisa membantu dalam hal hukum dan lainnya.

dua hari berlalu, akhirnya aku di undang ke kantor diknas pendidikan setelah aku minta pendapat pada pak Agus, beliau hari ini akhirnya memiliki waktu untuk membahas secara gamblang, pak Agus mengacak rambutnya dan mengeluarkan nafas berat, itu juga yang aku rasakan saat itu, kami saling melempar pertanyaan Untuk saling memastikan satu sama lain, karena kembali lagi untuk menyadarkan seseorang dari ketidaktahuan adalah dengan sabar dan lembut, orang tidak mudah untuk terima jika penyampaian kita memaksa meski kita sudah menunjukkan realitanya, inilah kebodohan yang mengakar.

Aku juga mengatakan akan membuat bangunan Team Alea untuk membantu mereka dan menjadikan solusi untuk para anak muda agar tidak terjerat dengan pernikahan dini, namun pak Agus terlihat berpikir keras.

" mbak Alea... Sepertinya membuat bangunan yang bersebelahan dengan butiknya mbak Alea untuk membangun Team Alea bukan solusi melainkan permasalahan baru, membuat bangunan yang berdekatan dengan satu agensi akan menimbulkan perkara lain, seperti toko montir yang ada di bangunan sebrang butik akan membuat suara kegaduhan yang menyebabkan pelanggan tidak nyaman, mohon di pikirkan ulang mbak Alee sebelum semuanya mulai di bangun, jangan terburu-buru meski mbak Alea memiliki maksud baik" ucap pak Agus dengan pelan, aku juga tidak memikirkan itu sebelumnya dan aku setuju, untungnya bangunan baru proses desain belum di bangun.

" begini saja mbak Alea, saya sebenarnya punya keinginan untuk membuat sekolah untuk mereka yang tidak memiliki pilihan selain pilihan orang tuanya, saya punya lahan milik pribadi dan tidak jauh dari rumahnya mbak Alea, cuma saya masih bingung untuk di buat seperti apa dan bagaimana, terlebih untuk anak-anak seperti tadi yang sudah memiliki anak" jelas pak Agus

" maksud bapak mau di titipkan kemasa anaknya kalau ibunya sedang belajar?" tanyaku

" iya... jika di tinggalkan di rumah sedangkan anak butuh asi ibunya kan" timpal pak Agus

" kalau begitu bagaimana mana jika di sekolahnya ada penitipan anak, ini juga membuka lowongan pekerjaan baru pak, dan kita juga tidak tau seberapa banyak anak yang mauelanjutkan sekolah, saat ini hanya Sifa saja" nama anak itu.

" baiklah ide bagus, saya akan meminta bantuan bapak bupati untuk mengumpulkan anak di bawah umur yang tidak bersekolah untuk mendapatkan bantuan pendidikan secara gratis, dan saya akan memberikan lahan saya sebagai langkah awalnya " ucap apak Agus terdengar tegas, aku melemparkan senyum dan anggukan kecil.

​Aku kembali dengan lega, lalu kembali ke kamar. Masih banyak narasi yang harus kutulis, masih banyak desain yang menunggu untuk dipastikan, dan masih banyak nyawa yang harus aku ajak untuk bermimpi lebih tinggi. Karena bagiku, setiap anak muda adalah permata yang hanya butuh sedikit polesan untuk bersinar paling terang.

Malam itu, di dalam kamarku yang masih terasa sunyi dan tenang, aku membuka catatan pribadiku. Aku menuliskan satu kalimat penutup untuk hari ini: "Kemiskinan mungkin bisa merampas pilihan seseorang, tapi pendidikan dan keterampilan akan mengembalikan kedaulatan atas hidup mereka sendiri." Dan dengan itu, aku menutup buku, siap untuk menyambut hari esok di mana Aleea akan kembali berdenyut dengan harapan-harapan baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!