NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Terperangkap Badai

Langit sudah berubah menjadi gelap sepenuhnya. Di dalam ruangan, hanya tersisa aku yang masih bergelut dengan cahaya dari layar komputer. Semua staf sudah pulang sejak tadi, meninggalkan keheningan yang terasa mencekik sekaligus menenangkan. Aku memacu jemariku, merevisi laporan untuk besok pagi dengan teliti; aku tidak ingin memberi celah sedikit pun bagi Danendra untuk mengkritik pekerjaanku lagi.

Tepat pukul delapan malam, semuanya selesai. Aku mematikan mesin komputer, meraih tas, dan melangkah keluar menuju lobi. Namun, begitu pintu kaca terbuka, pemandangan di depanku membuat langkahku terhenti.

Hujan turun sangat deras, seperti tumpah dari langit tanpa ampun. Suara guntur sesekali menggelegar, dan tirai air yang tebal membuat area parkir motor hampir tak terlihat. Udara dingin seketika menusuk kulitku. Aku berdiri mematung di ambang pintu, menatap genangan air yang mulai meninggi.

Mau tidak mau, aku harus menunggu badai ini reda atau mencoba memesan taksi online, karena pulang dengan motor dalam kondisi seperti ini adalah hal yang mustahil. Saat aku baru saja merogoh ponsel dari tas, sebuah sorot lampu mobil menembus kegelapan dan berhenti tepat di depanku.

Lalu, jendela mobil itu turun perlahan.

"Masuk, Zal. Jangan nekat."

"Terima kasih pak Danendra,tidak usah saya sudah pesan taksi online"

Taksi online mana yang mau mengambil pesanan di tengah badai seperti ini, Azzalia?" sahut Danendra tenang, namun suaranya memiliki nada otoritas yang tak terbantahkan. Ia mematikan mesin mobilnya, seolah menegaskan bahwa ia tidak akan beranjak sampai aku menurut.

Aku tetap terpaku di tempatku, jemariku sibuk menyapu layar ponsel yang masih menunjukkan status mencari pengemudi. Kilat menyambar di kejauhan, disusul suara guntur yang membuat lobi kaca ini bergetar pelan. Aku benci fakta bahwa dia benar—taksi online tidak akan muncul dalam waktu dekat, dan badai ini sepertinya tidak akan reda hingga tengah malam.

"Ingat janji saya pagi tadi? Saya hanya ingin memastikan kamu pulang dengan aman. Sebagai asisten teknis, kesehatan kamu adalah prioritas proyek ini," tambahnya lagi. Kali ini ia menggunakan tameng profesional yang sama dengan yang sering kupakai untuk menjauhinya.

Aku menghela napas panjang, merasa kalah oleh keadaan. Dengan langkah cepat agar tidak terlalu basah, aku menerjang hujan dan masuk ke dalam mobilnya. Begitu pintu tertutup, keheningan kabin yang hangat segera memutus suara gaduh hujan di luar.

"Terima kasih," gumamku pendek, menatap lurus ke arah jalanan yang tertutup tirai air.

"Sama-sama," jawabnya singkat.

Danendra mulai menjalankan mobilnya perlahan. Ia benar-benar menjaga janjinya untuk tidak memulai percakapan pribadi. Namun, suasana di dalam mobil ini terasa begitu menyesakkan bagi perasaanku. Aroma parfumnya yang maskulin memenuhi setiap sudut kabin, memicu kembali ingatan-ingatan yang susah payah aku kubur.

Setiap kali kilat menyambar, aku bisa melihat pantulan wajahnya dari kaca jendela "rahang yang tegas dan mata yang fokus menatap jalan. Ia tampak begitu tenang, sementara aku di sampingnya sibuk berperang dengan detak jantungku sendiri.

Hujan yang turun kian menderu, seolah ingin memerangkap kami lebih lama di dalam ruang sempit ini. Aku menyadari satu hal yang pahit; sisa tiga belas hari ini tidak akan pernah mudah jika semesta terus-menerus menciptakan situasi yang memaksaku untuk bergantung padanya.

"Zal," panggilnya lirih setelah sepuluh menit kami terdiam.

Aku tidak menoleh. "Iya, Pak?"

"AC-nya kedinginan? Kamu agak menggigil," ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk mengatur ventilasi udara agar tidak mengarah langsung padaku.

Sentuhan kecil itu perhatian yang tidak perlu itu justru membuat zirahku terasa kian rapuh. Aku hanya bisa mengeratkan pelukan pada tas di pangkuanku, berharap perjalanan menuju kost-ku terasa lebih singkat malam ini.

"Mau mampir makan dulu?" tanyanya pelan

"enggak usah pak,saya masih kenyang dan ingin segera sampai kost" jawabku pelan dengan suara yang aku buat setenang mungkin.

Danendra tidak membantah, namun ia juga tidak bisa mempercepat laju mobil. Di depan kami, deretan lampu rem berwarna merah menyala panjang, memantul di atas permukaan aspal yang tertutup air. Banjir di beberapa titik membuat kendaraan merayap, dan kemacetan total tak terhindarkan.

Suasana di dalam mobil menjadi semakin sunyi, hanya suara gemericik air yang menghantam spakbor dan bunyi wiper yang bergerak malas. Aku meremas tali tas di pangkuanku. Setiap menit yang berlalu terasa seperti jam. Berada di ruang sempit ini, dengan aroma tubuhnya yang memenuhi kabin dan hawa dingin yang mulai meresap ke tulang, membuat pertahananku terasa semakin tipis.

Aku melirik ke luar jendela, melihat motor-motor yang berteduh di kolong jembatan dan orang-orang yang menerjang genangan air setinggi lutut. Rasa tidak nyaman menyergapku; bukan karena takut pada banjir, tapi karena aku takut pada diriku sendiri. Aku takut kesunyian ini akan memaksaku untuk bicara, atau lebih buruk lagi, memaksaku untuk kembali merasa nyaman di dekatnya.

"Zal, kalau kamu mau tidur, tidur saja. Perjalanan ini sepertinya masih akan lama," ucap Danendra tanpa menoleh, seolah bisa merasakan kegelisahan yang memancar dari tubuhku.

"Saya tidak mengantuk, Pak," sahutku cepat, terlalu cepat.

Danendra menghela napas panjang. Ia sedikit melonggarkan dasinya, sebuah gerakan sederhana yang entah kenapa terlihat begitu intim di mataku. Ia kemudian merogoh dashboard dan mengeluarkan sebuah jaket miliknya.

"Pakai ini. Kamu sudah mulai pucat karena kedinginan," ia meletakkan jaket itu di atas pangkuanku tanpa menunggu persetujuanku.

Aku menatap jaket itu dengan bimbang. Aroma Danendra menguar kuat dari sana—hangat dan familiar. Aku ingin menolaknya, ingin menunjukkan bahwa aku kuat dan tidak butuh perlindungannya. Namun, tubuhku yang gemetar tak bisa lagi diajak kompromi. Dengan tangan yang sedikit kaku, aku mengenakan jaket itu. Kehangatannya langsung mendekapku, dan secara ironis, itu adalah hal yang paling kubenci sekaligus kubutuhkan saat ini.

"Maaf," gumam Danendra tiba-tiba, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi guntur di luar.

Aku menoleh sedikit. "Untuk apa?"

"Untuk kemacetan ini. Untuk hujan ini. Dan mungkin... untuk membuatmu terjebak di sini bersamaku," ia menatapku sekilas dengan binar mata yang redup sebelum kembali fokus ke jalanan yang masih lumpuh total.

Aku kembali membuang muka ke arah jendela yang berembun. Dadaku sesak. Kota ini terasa semakin sempit, hujan terasa semakin menjebak, dan sisa tiga belas hari ke depan mendadak terasa seperti selamanya.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!