Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.
Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.
Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.
Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.
Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam
Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8 Menjauhlah Dari Pria Itu
"Dari mana saja? Kenapa baru pulang jam segini?" Suara Bianca memecah keheningan ruang tengah yang megah itu.
Wanita itu berdiri di dekat tangga, menyilangkan tangan di dada dengan tatapan yang penuh curiga.
Dante mengabaikannya. Ia terus melangkah, melepaskan jam tangannya dengan gerakan malas. "Bukan urusanmu."
"Bukan urusanku, kau bilang? Aku ini istrimu, Dante!" Bianca turun dari tangga dengan langkah cepat, menghalangi jalan suaminya. "Oh, aku tahu. Kau pasti baru saja menghabiskan waktu menemani detektif berwajah menjijikkan itu di rumah sakit, kan?"
Langkah Dante terhenti. Ia menoleh perlahan, menatap Bianca dengan tatapan dingin yang mampu membuat wanita itu gemetar. "Jadi, kau menguntitku? Kau mengirim orang untuk mengawasiku?"
"Tentu saja! Ini semua karena ulahmu sendiri yang membuatku ragu padamu!" teriak Bianca. "Kau memperlakukan detektif itu lebih istimewa daripada istrimu sendiri. Kau panik saat dia pingsan, kau menggendongnya... apa kau sudah gila?"
"Sudah kukatakan padamu berulang kali, Bianca. Di antara kita tidak ada cinta, jadi berhenti ikut campur!" Dante membentak, membuat Bianca tersentak mundur. "Tugasmu hanya menjadi Nyonya Carson di depan publik, tidak lebih."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Bianca. "Apakah tujuh tahun tidak cukup membuatmu mencintaiku sedikit saja, Dante? Sedikit saja? Meski hanya karena rasa kasihan?" Ia melangkah maju, mencoba meraih tangan Dante namun kembali ditepis. "Kau bahkan menolak saat aku memintamu menyentuhku. Sampai saat ini, aku masih menjaga diriku hanya untukmu! Apa itu tidak ada artinya?"
"Persetan soal itu!" Dante menyentak, wajahnya mengeras. "Aku tidak pernah memintamu melakukan semua itu. Aku hanya menginginkan Venus! Hanya dia!"
"Dante, aku—"
"Aku lelah. Berhenti menggangguku." Dante berbalik, berjalan cepat menuju kamarnya dan menutup pintu dengan keras, meninggalkan Bianca seorang diri di ruang tengah yang luas dan dingin.
"Kau pria egois! Kau bajingan, Dante!" maki Bianca histeris ke arah pintu yang tertutup.
Bianca jatuh terduduk di sofa, menelungkupkan wajah di telapak tangan.
Selama tujuh tahun, ia yang berada di sisi Dante saat pria itu koma. Ia yang merawat luka-lukanya, ia yang menanti dengan setia hingga Dante membuka mata. Ia pikir waktu akan meluluhkan hati pria itu, namun nyatanya, sosok Venus masih menjadi tembok besar yang tak bisa ia robohkan.
Bianca menghapus air matanya dengan kasar. Tatapannya berubah menjadi tajam dan penuh kebencian. "Aku tidak mau kalah dari wanita jelek itu," bisiknya penuh dendam.
Rasa cemburu membakarnya hidup-hidup. Meski Detektif Ve memiliki wajah yang rusak, Bianca bisa merasakan ada sesuatu yang mengancam posisinya. Ia tidak tahu siapa Detektif Ve sebenarnya, insting wanitanya hanya mengatakan bahwa wanita itu jauh lebih berbahaya daripada ribuan musuh mafia Dante.
"Jika aku tidak bisa memilikimu dengan cinta," gumam Bianca sambil menatap foto pernikahan mereka di dinding, "maka tak akan ada satu pun wanita yang boleh memilikimu. Terutama detektif berwajah jelek itu."
*****
"Mama!" ucapan Sean yang pertama menyambut kesadaran Venus.
Venus mengerjapkan mata perlahan, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu rumah sakit dan aroma antiseptik segera menyerbu indra penciumannya.
Sean ada di sana, berdiri tepat di samping ranjang dengan mata yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran meski wajahnya tetap datar.
Begitu melihat mata ibunya terbuka, Sean langsung menghambur memeluk Venus. "Jangan menakutiku seperti itu lagi," bisiknya teredam di ceruk leher Venus.
Venus mengusap rambut putranya dengan tangan yang masih terasa lemas. "Maafkan Mama, Sayang. Mama hanya... sedikit mengantuk."
"Bukan mengantuk. Mama pingsan karena kecerobohan pria itu," potong Sean sambil melepaskan pelukannya, kembali ke mode seriusnya.
Venus menoleh ke arah Leo yang berdiri di sudut ruangan sambil bersandar pada dinding. "Leo, siapa yang membawaku ke sini? Dan dimana dia sekarang?"
Leo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kak Dante yang membawamu. Dia panik tadi setengah mati. Kalau saja aku tidak cepat datang, mungkin dia sudah menyewa seluruh dokter di rumah sakit ini hanya untuk menemanimu tidur."
Venus terdiam. Bayangan Dante yang memeluknya saat ia hampir kehilangan napas di restoran tadi berkelebat di kepalanya.
"Pria itu berbahaya," ketus Sean. "Baru satu hari Mama bekerja dengannya, Mama sudah masuk rumah sakit. Jika diteruskan, mungkin minggu depan kita harus memesan peti mati. Aku tidak suka dia, Ma."
"Sean, bicara apa kau ini? Mama hanya tidak sengaja makan udang," ucap Venus lembut.
"Tidak sengaja adalah kata lain dari kurangnya observasi," balas Sean telak. "Dan Paman Leo juga sama saja. Bisa-bisanya Paman memanfaatkan keadaan!"
Leo tersentak, wajahnya yang tertutup topeng sebagian nampak memerah.
"Eh? Memanfaatkan apa? Aku ini menyelamatkan nyawa kita semua dengan aktingku!"
"Paman mencium tangan Mama di depan pria itu hanya untuk membuatnya cemburu, kan?" Sean menyipitkan mata, menatap pamannya dengan tatapan menghakimi. "Paman pikir itu keren? Itu murahan, Paman. Paman mencari kesempatan dalam kesempitan di saat mama sedang sekarat."
"Hei! Itu namanya strategi!" bela Leo dengan suara tinggi yang dibuat-buat. "Aku harus meyakinkan dia kalau kalian itu keluargaku! Kalau tidak, dia akan terus menatap wajah mama mu dengan tatapan menyelidik itu. Kau tidak lihat betapa panasnya muka kak Dante tadi?"
"Tapi Paman terlihat sangat menikmatinya," sindir Sean lagi. "Lain kali kalau mau akting, tidak perlu pakai kontak fisik yang berlebihan!"
"Sudah, sudah!" Venus akhirnya melerai sambil mencoba duduk tegak.
"Leo, kau tidak seharusnya melakukan itu. Dante pria yang teliti, dia bisa curiga jika kau terlalu berlebihan."
"Tuh, kan! Mama saja setuju denganku!" Sean bersedekap. Ia mendekat ke telinga Venus dan membisikkan sebuah nasihat.
"Ma, dengarkan aku sekali ini saja. Jaga jarak dari pria itu. Dante Carson adalah magnet masalah. Baru sehari saja dia sudah membuat Mama pingsan karena udang, tujuh tahun lalu dia membuat kita kehilangan rumah. Apa lagi selanjutnya? Apa Mama mau menunggu sampai dia benar-benar menghancurkan kita?" ucap Sean dengan wajah serius.
Venus tertegun melihat kesungguhan di mata Sean. Ia bisa merasakan perlindungan yang tulus dari putra kecilnya.
"Dia klien Mama, Sean. Mama harus menyelesaikan tugas ini agar kita bisa
benar-benar bebas," ucap Venus lirih.
"Bebas dari tugas, atau bebas dari kenangan?" tanya Sean tajam. "Kalau Mama ingin melupakannya, berhenti menatap matanya. Pria itu tidak akan membawa apa-apa selain badai. Aku tidak mau melihat Mama menangis lagi hanya karena pria yang bahkan tidak bisa membedakan sup udang dan sup ayam untuk orang yang katanya dia cintai."
Leo terdiam di sudut ruangan, tak berani menyela. Ia tahu Sean benar. Di balik tingkah lucunya, Leo sadar bahwa kehadiran kakaknya bisa jadi ancaman bagi kedamaian kecil yang mereka bangun.
"Istirahatlah, Ma," ucap Sean sambil memperbaiki selimut Venus. "Besok, biarkan paman Leo yang bicara padanya. Mama tidak boleh bertemu dia dulu sebelum ruamnya hilang. Aku tidak mau dia melihat sisi lemah Mama lagi."
Venus hanya mengangguk pelan. Tapi di dalam hati, Venus bertanya-tanya, sampai kapan ia bisa menjauh jika takdir terus-menerus menariknya kembali ke dalam pusaran hidup Dante?
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
gimana donk??
kata² cinta loe 7 tahun lalu itu Beneran pretttttttt pada waktunya 🙎