NovelToon NovelToon
Dinginmu, Hangatku

Dinginmu, Hangatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:348
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang yang Tidak Bisa Ditemukan

Zurich tidak berubah.

Kota itu tetap rapi, tetap tenang, tetap terlihat seperti tempat di mana segala sesuatu berjalan sesuai aturan. Trem melintas tepat waktu. Orang-orang berjalan dengan langkah yang terukur. Kafe-kafe membuka pintu dengan aroma kopi yang konsisten setiap pagi.

Namun bagi Raka, dunia sudah bergeser.

Tidak secara kasat mata—tidak ada gedung yang runtuh, tidak ada sirene yang meraung—melainkan secara struktural. Seperti fondasi yang tiba-tiba diketahui retak, namun belum cukup terlihat untuk membuat siapa pun panik.

Nama itu.

Eldric K.

Nama yang tidak memiliki sejarah, tidak memiliki wajah, tidak memiliki jejak.

Dan justru karena itu… ia terasa seperti pusat dari semuanya.

Pukul 13.10, mereka kembali ke hotel.

Bukan untuk beristirahat.

Tapi untuk menyusun ulang peta permainan.

Raka berdiri di dekat jendela kamar, menatap kanal di bawah. Airnya bergerak pelan, hampir tidak terlihat. Seperti sesuatu yang menyimpan kekuatan jauh di bawah permukaan.

Dian duduk di lantai dengan laptop terbuka, kabel charger menjulur seperti akar. Arka berdiri di dekat pintu, tubuhnya setengah bersandar, namun matanya aktif—memindai setiap suara dari luar koridor. Arsenia duduk di kursi, diam, tapi pikirannya jelas bekerja lebih cepat dari siapa pun di ruangan itu.

“Kalau Eldric tidak bisa ditemukan melalui data,” kata Dian tanpa mengalihkan pandangan dari layar, “kita harus mengubah pendekatan.”

“Jadi?” tanya Arka.

“Kita berhenti mencari orangnya.”

Semua menoleh.

“Kita cari dampaknya.”

Raka tersenyum tipis.

“Lanjutkan.”

Dian membuka beberapa layer data sekaligus.

“Orang seperti ini—kalau dia benar-benar ada di puncak—tidak akan pernah muncul di permukaan. Tapi setiap keputusan besar yang dia buat akan meninggalkan pola.”

“Seperti gelombang,” gumam Arsenia.

“Ya,” kata Dian. “Kita tidak melihat batu yang dilempar. Tapi kita bisa melihat riaknya.”

Raka berjalan mendekat.

“Dan riak terbesar?” tanyanya.

Dian memutar layar.

“Perubahan kebijakan yang terlihat ‘terlalu tepat waktu’.”

Arka mengangkat alis. “Contoh?”

“Wilayah barat Jakarta,” jawab Dian cepat. “Perubahan zonasi, perizinan pembangunan ulang, masuknya investor asing—semuanya terjadi dalam urutan yang terlalu sempurna untuk kebetulan.”

Raka mengangguk pelan.

“Dan semua itu terjadi setelah merger yang ditandatangani Larasati.”

“Exactly.”

Dian menatap Raka.

“Kalau Larasati adalah eksekutor… maka Eldric adalah orang yang menentukan kapan tombol itu ditekan.”

Arsenia berdiri.

Ia berjalan perlahan ke arah meja, menatap amplop cokelat yang sejak tadi belum dibuka lagi.

“Ayahku menyebut nama itu… bukan sebagai informasi,” katanya pelan.

“Lalu?” tanya Arka.

“Sebagai peringatan.”

Raka menatapnya.

“Apa maksudmu?”

Arsenia menarik napas dalam.

“Dia tahu kita akan sampai ke Larasati. Dia tahu kita akan menemukan Margareth. Semua itu… sudah ia perhitungkan.”

“Dan Eldric?” tanya Dian.

“Itu bukan langkah berikutnya,” jawab Arsenia. “Itu batasnya.”

Sunyi.

Raka menyilangkan tangan.

“Batas apa?”

Arsenia menatapnya lurus.

“Batas antara permainan yang masih bisa dimenangkan… dan permainan yang sudah diatur sejak awal.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Berat.

Tidak nyaman.

Dan entah kenapa… terasa benar.

Raka mengalihkan pandangannya ke jendela.

Ia sudah berada di banyak situasi berbahaya.

Sudah menghadapi orang-orang dengan kekuasaan.

Sudah melihat sistem yang rusak.

Namun ini berbeda.

Karena untuk pertama kalinya—

ia tidak yakin mereka sedang bermain di papan yang sama.

“Kalau begitu kita buat papan baru,” ucapnya akhirnya.

Dian menatapnya. “Bagaimana caranya?”

Raka menoleh.

“Kita paksa dia keluar.”

Arka tertawa kecil. “Kedengarannya sederhana.”

“Tidak,” jawab Raka. “Tapi mungkin.”

Ia berjalan ke meja, mengambil amplop cokelat itu.

“Ini bukan sekadar bukti,” katanya. “Ini umpan.”

Dian langsung mengerti.

“Kalau kita kirim ke Interpol—”

“—Larasati akan bergerak,” sambung Arka.

“Dan jika Larasati bergerak…” kata Raka.

Arsenia menyelesaikannya.

“Eldric akan memperhatikan.”

Raka mengangguk.

“Orang seperti dia tidak akan turun tangan untuk hal kecil. Tapi jika sesuatu cukup besar untuk mengganggu sistem…”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Dia akan memastikan itu tidak berkembang.”

“Dan itu saat kita melihatnya,” kata Dian.

“Atau setidaknya… bayangannya,” tambah Arka.

Raka mengeluarkan ponselnya.

Pesan dari Komisaris Wirawan sudah masuk.

Tiba besok pagi. Siapkan koordinasi. Jangan bergerak sendiri.

Raka membaca pesan itu sekali.

Lalu mengunci layar.

“Kita tidak punya waktu menunggu besok.”

Dian menatapnya tajam. “Raka—”

“Jika Larasati sudah tahu Margareth ada di Zurich,” lanjutnya, “dia tidak akan menunggu Interpol datang.”

Arka mengangguk. “Dia akan bergerak hari ini.”

“Dan kalau dia bergerak…” kata Raka.

“Kita harus lebih dulu bergerak,” gumam Dian.

Arsenia menatap mereka semua.

Untuk sesaat, ia terlihat seperti seseorang yang berada di antara dua dunia—dunia lamanya sebagai anak dari seorang tokoh besar… dan dunia baru di mana ia harus berdiri sendiri.

“Aku ikut,” katanya.

Raka menatapnya.

“Kamu tidak harus—”

“Aku tahu.”

Nada suaranya tenang.

Tapi tegas.

“Ayahku ada di tengah semua ini. Namanya ada di setiap lapisan permainan ini. Aku tidak akan duduk diam sementara kalian mengambil risiko.”

Raka tidak langsung menjawab.

Namun dari cara ia mengangguk pelan—

jawabannya jelas.

Rencana disusun dalam waktu dua puluh menit.

Tidak sempurna.

Tidak rapi.

Tapi cukup.

Dian akan menghubungi jalur aman untuk mengirim salinan data ke jaringan internasional—cukup untuk memancing reaksi, tapi tidak cukup untuk memberikan semuanya.

Arka akan mengawasi pergerakan di sekitar hotel dan rumah sakit—mencari pola yang tidak biasa.

Arsenia akan tetap di dekat ayahnya—

bukan karena aman.

Tapi karena jika ada sesuatu yang mereka lewatkan… Bramantyo mungkin satu-satunya yang masih bisa memberi petunjuk.

Dan Raka—

Raka akan menemui Margareth lagi.

“Sendiri?” tanya Dian.

Raka mengangguk.

“Dia hanya akan muncul jika aku sendiri.”

Arka menghela napas. “Kita mulai mengulang pola berbahaya.”

“Ini bukan soal aman,” jawab Raka. “Ini soal waktu.”

Sore mulai turun ketika Raka keluar dari hotel.

Langkahnya tenang.

Namun pikirannya bergerak cepat.

Ia tidak tahu di mana Margareth sekarang.

Namun ia tahu satu hal—

orang seperti Margareth tidak akan benar-benar menghilang.

Ia akan tetap cukup dekat untuk mengawasi.

Cukup dekat untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencananya.

Dan cukup dekat—

untuk ditemukan… jika seseorang tahu bagaimana mencarinya.

Raka berhenti di tengah jembatan Rathausbrücke.

Tempat yang sama seperti pagi tadi.

Air di bawahnya memantulkan langit yang mulai berubah warna.

Ia mengeluarkan ponselnya.

Mengetik satu pesan.

Singkat.

Tanpa basa-basi.

“Kalau kamu masih mengawasiku, kita perlu bicara. Sekarang.”

Ia menekan kirim.

Lalu menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit—

“Cepat juga kamu belajar.”

Suara itu datang dari belakangnya.

Raka tidak berbalik langsung.

Ia tersenyum tipis.

“Kalau tidak cepat belajar, aku sudah mati dari dulu.”

Ia berbalik.

Margareth berdiri di sana.

Dengan jaket berbeda.

Rambut sedikit diubah.

Namun matanya—

tetap sama.

Tenang.

Menghitung.

Selalu selangkah di depan.

“Jadi,” katanya pelan. “Apa yang berubah dalam beberapa jam ini… sampai kamu memanggilku seperti ini?”

Raka menatapnya.

Lalu mengucapkan satu nama.

“Eldric K.”

Dan untuk pertama kalinya—

ekspresi Margareth berubah.

Bukan drastis.

Hanya sepersekian detik.

Namun cukup bagi Raka untuk tahu satu hal:

Nama itu—

nyata.

Dan bahkan bagi seseorang seperti Margareth…

itu bukan nama yang bisa diabaikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!