Apa jadinya jika yang menjadi sekretaris di perusahaan adalah istri sendiri? jangankan bisa menggoda karyawan wanitanya bahkan untuk sekedar lirik sana-sini pun tidak akan bisa dilakukan.
Sementara itu, dibalik sikap ceria sang istri ternyata dia harus bertahan menghadapi keluarga suami yang sering menyindirnya karena belum dikaruniai anak. Akankah rumah tangga mereka bisa kuat ataukah harus hancur hanya gara-gara sang istri belum juga dikaruniai keturunan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 Mulai Berbohong
Malam semakin larut, Rio masih bersama Nathalie. "Nathalie kita sudah melakukan kesalahan besar, seharusnya aku tidak berbuat seperti ini kepadamu," ucap Rio menyesal.
"Kenapa, kamu menyesal Rio? Sekarang nasi sudah menjadi bubur dan kita sudah melakukannya," sahut Nathalie.
"Aku gak mau sampai Ashika tahu dan aku juga gak mau sampai cerai dengannya," ucap Rio.
"Jadi sekarang bagaimana? Apa kamu mau pergi begitu saja, setelah apa yang sudah kita lakukan tadi? Apa kamu tidak mau tanggung jawab? Aku ini seorang model terkenal, Rio. Aku mempertaruhkan reputasi aku untuk bisa tetap bersama kamu!" bentak Nathalie dengan deraian air matanya.
Rio bingung, dia pun menghampiri Nathalie dan memeluknya. "Maafkan aku Nathalie, tapi pada kenyataannya aku sudah punya istri, aku tidak mungkin menceraikan Ashika dan aku juga tidak mungkin menikahi kamu," sahut Rio.
Nathalie melepaskan pelukan Rio dengan kasar. "Jadi kamu mau kabur begitu saja setelah kamu merenggut kesucianku!" bentak Nathalie dengan deraian air matanya.
"Itu dari awal kamu yang menggoda aku, Nathalie. Bagaimana pun aku itu pria normal, tapi 'kan kamu tahu jika aku sudah punya istri," kesal Rio.
"Baik, kalau kamu gak mau tanggung jawab lebih baik sekarang aku mati saja." Nathalie mengambil pisau buah dan mengarahkannya ke lehernya sendiri.
"Astaga Nathalie, kamu jangan nekad," ucap Rio panik.
"Kalau begitu, katakan jika kamu mau bertanggung jawab dan akan menikahi aku kalau tidak, aku akan bunuh diri," ancam Nathalie.
"baiklah, aku akan bertanggung jawab." Akhirnya mau tidak mau, Rio pun mengatakan itu.
Perlahan Rio mendekati Nathalie dan mengambil pisau itu secara perlahan. "Kalau terjadi kenapa-napa sama kamu, maka aku akan bertanggung jawab. Tapi aku hanya bisa menikahi kamu dengan siri karena aku tidak bisa jika harus menceraikan Ashika," bujuk Rio.
Nathalie pun memeluk Rio dengan bahagia, akhirnya tidak sia-sia dia menggoda Rio sampai menyerahkan kesuciannya. "Aku akan terus menggoda kamu supaya kamu menjadi milik aku seutuhnya," batin Nathalie dengan senyumannya.
"Maafkan aku, Ashika. Aku sudah mengkhianatimu," batin Rio dengan penuh penyesalan.
Sementara itu, Ashika belum bisa tidur sebelum suaminya pulang. "Mas Rio ke mana, sudah larut malam seperti ini belum pulang juga?" batin Ashika was-was.
Rio pamit kepada Nathalie. "Pokoknya jangan sampai Ashika tahu dengan hubungan kita, jika sampai Ashika tahu dan meminta cerai kepadaku, aku jamin aku juga tidak akan menikahi kamu!" tegas Rio.
Nathalie menelan salivanya. "Baik, kamu percaya sama aku kalau Ashika tidak akan tahu dengan hubungan kita," sahut Nathalie.
Rio pun segera meninggalkan apartemen Nathalie. Selama dalam perjalanan, perasaan Rio tidak enak karena dipenuhi dengan perasaan bersalah. Dia akhirnya kalah juga dengan godaan Nathalie.
Sesampainya di rumah, Rio langsung masuk ke dalam kamarnya dan kaget melihat Ashika sedang menunggunya. "Sa--yang, ka--mu belum ti--dur?" tanya Rio gugup.
"Mana mungkin aku tidur jika kamu belum pulang, Mas. Kamu itu ke mana saja, kenapa bekerja sampai larut malam seperti ini?" kesal Ashika.
"Maaf sayang, kerjaan aku banyak sekali makanya aku harus lembur," sahut Rio dengan wajah gugup.
Ashika memperhatikan Rio membuat Rio semakin gugup dan jantung Rio berdegup sangat kencang. "Sayang, aku mandi dulu," ucap Rio yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Ashika melihat Rio dengan tatapan aneh, kelakuan Rio sedikit aneh. Butuh beberapa waktu untuk Rio membersihkan tubuhnya, hingga dia pun keluar dari dalam kamar mandi. Dilihatnya Ashika sudah tertidur dengan posisi terduduk di atas kasur membuat Rio semakin merasa bersalah.
Rio menghampiri Ashika dan menatap wajah Ashika dengan sangat dalam. "Maafkan aku sayang, aku sudah melakukan hal yang seharusnya tidak aku lakukan," batin Rio.
Perlahan Rio membenarkan posisi tidur Ashila, lalu menutup tubuh Ashika dengan selimut. Rio takut jika Ashika akan tahu apa yang sudah dia lakukan di belakangnya karena cinta Rio sangat besar kepada Ashika hanya saja imannya belum kuat menerima godaan dari Nathalie.
***
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali Ashika sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk Rio dibantu oleh asisten rumahnya. "Pagi, sayang!" Rio memeluk Ashika dari belakang dan mencium pipinya.
"Pagi juga, Mas. Ayo Mas, sarapan dulu," ajak Ashika.
"Tentu dong."
Ashika mengambilkan nasi goreng buatannya dan Rio paling suka dengan masakan istrinya itu. "Pokoknya nasi goreng buatan kamu paling the best," puji Rio.
Ashika tersenyum. "Mas, Papa Rudi sore ini berangkat ke luar kota dan aku diminta Mama untuk menginap di rumahnya, apa boleh aku menginap di rumah Mama?" seru Ashika meminta izin.
"Boleh dong, kenapa tidak," sahut Rio.
"Beneran? Terima kasih ya, Mas. Malam ini kamu tidur sendiri dulu," ledek Ashika dengan senyumannya.
"Kalau satu malam tidak apa-apa, tapi kalau dua malam tidak boleh karena Mas tidak bisa jika harus jauh-jauhan sama kamu," sahut Rio.
"Idih, lebay," ledek Ashika.
"Lah, kok lebay sih? Memang kenyataannya seperti itu," ucap Rio.
Ashika terkekeh, setelah selesai sarapan Rio pun pamit berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor, entah kenapa Rio selalu ingat dengan kejadian tadi malam bersama Nathalie. Dia merasa jika Nathalie yang sekarang berbeda sekali dengan yang dulu, lebih berani dan lagi-lagi entah kenapa Rio menyukainya.
Tiba-tiba sebuah nomor baru masuk dan Rio tahu jika itu nomor Nathalie hanya saja dia belum menyimpannya. Rio pun segera mengangkatnya.
"Ada apa, Nathalie?" tanya Rio.
"Rio, apa kamu sibuk siang ini?"
"Tidak, memangnya kenapa?" tanya Rio kembali.
"Bisa tidak nanti siang kamu bawakan makan siang untukku ke apartemen karena aku tidak bisa keluar untuk saat ini, tubuh aku lemas dan rasanya sakit bekas tadi malam," sahut Nathalie.
"Nathalie, kamu 'kan bisa pesan lewat gofood," sahut Rio.
"Aku gak biasa pesan-pesan seperti itu, jadi kamu gak mau ke sini? Ya, sudah aku gak bakalan makan biar saja aku mati kelaparan di sini," kesal Nathalie.
Rio mengusap wajahnya kasar, Nathalie selalu bisa mengancamnya.
"Baiklah, nanti aku ke sana. Kamu sebutkan saja makanan yang kamu mau," ucap Rio sedikit kesal.
"Terima kasih, sayang."
Nathalie pun memutuskan sambungan teleponnya. Rio lagi-lagi tidak bisa nolak kepada Nathalie karena Nathalie pintar sekali mengancam. Dia pun dengan cepat menghubungi Ikbal supaya datang ke ruangannya.
"Ada apa, Pak?" tanya Ikbal yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Nanti siang aku mau keluar sebentar, tolong kamu urus semua pekerjaan dulu," ucap Rio.
"Baik, Pak."
"Kalau begitu, kamu boleh keluar dan kembali bekerja," ucap Rio.
Ikbal pun segera keluar, sedangkan Rio menghubungi Ashika. Dia terpaksa harus berbohong lagi dan mencari alasan jika sewaktu-waktu Ashika bertanya. Karena biasanya di jam makan siang, Ashika akan menghubunginya dan menanyakan apa Rio sudah makan atau belum.
.lili kyk nya kecintaan sm boy deh..
.ayo lili sadar lah . tunjukan km kuat.. jg nangisan