NovelToon NovelToon
Accidentally Wedding

Accidentally Wedding

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kunay

Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.

"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."

"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandaran tak Terduga

​Greenindia mengendarai motornya dengan kecepatan penuh, menembus dinginnya malam. Air matanya sudah mengering, menyisakan rasa perih di kulit wajah. Begitu sampai di parkiran apartemennya, ia mematikan mesin, membiarkan keheningan pekat menyelubunginya. Ia tahu ia tidak bisa menemui Tomi malam ini; ia terlalu rapuh untuk percakapan apa pun.

​Ia menaiki tangga ke lantai tiga dengan langkah gontai. Saat membuka pintu apartemen, ia langsung menuju kamar. Ia mengunci pintu, menjatuhkan tas, dan merosot ke lantai, menyandarkan punggungnya ke dinding di sudut ruangan, di depan jendela kecilnya.

​Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh lampu jalan yang masuk dari celah tirai. Greenindia meringkuk, memeluk lututnya erat-erat, membiarkan tubuhnya bergetar. Dia tidak punya siapa-siapa. Tidak ada bahu untuk bersandar, tidak ada kata-kata lembut untuk meredakan rasa sakit yang mendera. Hanya pil-pil di saku jaketnya yang selama ini menjadi satu-satunya pelarian.

​Air mata Greenindia kembali jatuh, bukan lagi karena kemarahan, tetapi karena kesedihan yang mendalam, kesepian yang menggerogoti jiwanya. Ia menangis tanpa suara, membiarkan kenangan pahit tentang ayahnya dan tuduhan ibunya berputar-putar dalam benaknya.

​Saat Greenindia tenggelam dalam kesedihannya, pintu kamarnya perlahan terbuka. Rex Carson masuk. Wajahnya tampak lebih serius dan tenang dari biasanya. Ia mungkin baru kembali dari suatu tempat, atau mungkin ia mendengar suara tangisan Greenindia.

​“Green?” panggil Rex pelan, namanya terdengar lembut di tengah keheningan.

​Greenindia segera menoleh. Wajahnya yang basah oleh air mata dan pucat karena kelelahan terlihat jelas di bawah cahaya remang-remang. Matanya yang merah menatap Rex dengan pandangan kosong.

​Tiba-tiba, tanpa berpikir, Greenindia bangkit. Seperti orang tenggelam yang menemukan sepotong kayu di tengah badai, ia berlari ke arah Rex. Ia memeluk pinggang Rex, menyandarkan wajahnya ke dada pria itu, dan meledak dalam tangisan histeris yang tidak tertahankan.

​Rex yang hendak melontarkan konfrontasi tentang Chester Anderson, membeku. Ia tidak pernah menyangka wanita keras kepala ini akan runtuh di depannya, apalagi mencari sandaran padanya. Insting mendominasinya yang biasanya keras tiba-tiba melunak.

​Dengan sedikit rasa sakit di kakinya, Rex membalas pelukan itu. Ia mengangkat tangan dan mengelus punggung Greenindia dengan gerakan pelan, menenangkan, seperti yang dilakukan seorang ayah. Greenindia terus menangis, mencengkeram kemeja Rex erat-erat.

​“Tidak apa-apa,” bisik Rex, suaranya dalam dan menenangkan. “Keluarkan saja. Menangis sekeras yang kau mau. Aku di sini. Itu adalah hakmu untuk merasa sakit.”

​Greenindia terus menangis, melepaskan semua beban yang ia pikul selama tiga tahun terakhir, tumpah ruah di pelukan pria yang baru saja menikahinya secara paksa.

​“Aku tahu, Green,” lanjut Rex, tetap mengelus punggungnya. “Aku tahu ada hal-hal yang tidak bisa kau bagi. Tapi ingat ini: kau tidak sendiri. Apa pun yang kau rasakan, apa pun yang mengganggu pikiranmu, kau bisa datang padaku. Kau tidak harus mengunci semuanya sendiri. Kalau kau butuh bicara, aku akan mendengarkan. Kalau kau butuh diam, aku akan diam. Kalau kau butuh pelukan, aku akan memelukmu. Katakan saja. Katakan apa pun yang kau butuhkan.”

​Kata-kata Rex seperti balsem dingin yang menenangkan luka bakar. Ia berbicara dengan suara yang penuh pengertian, bukan dengan nada meremehkan seorang tuan.

​Hampir setengah jam Greenindia menangis tanpa henti, akhirnya tangisnya mereda menjadi isakan pelan. Ia menarik diri perlahan, wajahnya memerah dan matanya bengkak. Ia merasa lega, tetapi juga malu karena telah menunjukkan kelemahan di hadapan Rex.

​Rex menatapnya. “Lebih baik?”

​Greenindia mengangguk pelan, menghindari kontak mata.

​Rex tersenyum tipis. “Bagus. Sekarang, aku lapar. Kau juga. Kau belum makan dengan benar sejak kemarin. Aku akan membuatkan makan malam.”

Meski seharusnya Green yang bertanggung jawab mengurusnya, tapi Rex kali ini mengalah, ia tidak akan merusak suasana dengan bertengkar dengannya.

​“Tidak perlu, aku tidak lapar,” tolak Greenindia lemah.

​“Tidak ada penolakan, Green.” Rex mengambil kendali. “Kau adalah istriku, dan aku tidak akan membiarkan istriku kelaparan. Aku yang membuatmu lelah hari ini. Aku yang bertanggung jawab.”

​Rex menyuruh Greenindia duduk di sofa. Ia lalu pergi ke dapur dengan kaki pincangnya, mengambil bekal makanan yang dibawa Antonio sebelumnya. Rex tidak memasak, tetapi ia mengatur makanan yang ada dengan rapi.

​“Karena udaranya sedang sejuk, kita makan di balkon,” kata Rex, sudah kembali mendorong kursi rodanya ke area balkon kecil.

​Ia menggelar kain bersih di lantai balkon, lalu meletakkan dua piring yang sudah diisi makanan.

“Kau yakin ingin makan di sana?”

Green bukan tidak mengerti bagaimana kehidupan Rex tapi dia tidak peduli. Pria itu yang datang ke rumahnya yang kecil dan memaksa untuk menumpang.

“Tentu saja. Jangan remehkan aku. Anggap saja, kita sedang piknik.”

Green terkekeh tapi akhirnya setuju.

Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, di bawah cahaya rembulan dan pemandangan toko buku usang di seberang jalan yang biasa dilihat Greenindia.

Rex terus memperhatikan Green yang terus melirik toko buku di depannya. Entah apa yang menarik perhatiannya. Rex yakin Green memiliki kenangan di sana.

​Saat mereka selesai makan, Greenindia merasa jauh lebih tenang. Rex memberinya waktu untuk bernapas.

​Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras, diikuti oleh suara panik yang familier.

​“Greenindia! Green! Kau di dalam? Buka pintunya!”

​Itu suara Lizbet, diikuti oleh suara Tomi.

​Greenindia terkejut. Ia berdiri, panik. “Tomi? Lizbet? Kenapa mereka kemari?”

​Rex hanya mengangkat bahu. "Sepertinya mereka khawatir."

​Greenindia buru-buru membuka pintu. Tomi dan Lizbet segera menerobos masuk.

​"Ya ampun, Green! Kau tidak apa-apa? Will bilang kau terlihat buruk setelah... setelah dia!" seru Lizbet, suaranya nyaring karena khawatir.

​Tomi mengangguk cemas. "Kau sakit? Kami khawatir terjadi sesuatu."

​Mereka berdua berhenti bicara saat pandangan mereka jatuh ke balkon. Mereka melihat Rex Carson yang duduk di kursi roda, kain tergelar di lantai dengan sisa-sisa makanan, dan Greenindia yang baru saja berdiri di sampingnya. Pemandangan itu, di bawah cahaya rembulan yang romantis, terlihat seperti adegan kencan yang intim.

​Lizbet adalah yang pertama angkat suara. Matanya membesar.

​“ASTAGA, GREENINDIA! SIAPA PRIA INI? KAU BERDUA SEDANG KENCAN?!” teriak Lizbet, menunjuk Rex dengan jari gemetar. “Kau baru saja pulang dengan wajah seperti mayat, dan sekarang kau duduk romantis dengan pria asing?! Cepat jelaskan, Green!”

Green meringis mendengar hal itu, dia tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskannya.

 

1
hasatsk
miris banget nasib greenidia....
Fera Susanti
kasihan banget..up lagi dong..
hasatsk
ada ya, seorang ibu kandung seperti itu kepada anaknya😭
Fera Susanti
othor..up lagi
momski
keren thor....makasih udah crazy up 🙏😍
Fera Susanti
kpn green ketemu ibunya??..
Fera Susanti
iya Thor..crazy up nya d tunggu
momski
crazy up thor jgn digantung pas lg seru 😄
Kunay: siap. ditunggu. direview satu-satu
total 1 replies
Fera Susanti
oke othor aku tunggu mereka saling jatuh cinta 🤭..
semangat up
momski
gpp thor tp syukur2 crazy up 😍
hasatsk
perjalanan Rex untuk mendapatkan greenidia tidak mudah,harus menembus benteng pertahanan Chester....
Fera Susanti
aku juga memantau mu thor🤭😬
hasatsk
tantangan Rex meluluhkan hati Chester untuk bisa menemukan greenidia...
Fera Susanti
makin seru..
Fera Susanti
serruuuu... lanjut
momski
keren.... 👏👏👏👏
Fera Susanti
Aya dong Chester,.cepat ikut mencari green..dia lagi terpuruk..jgn sampe Rex yg menemukan green lebih dulu..mau nya keluarga nya yg lebih dulu menemukan green
Fera Susanti
apa maksud dari mewujudkan permainan dengan tuan Anderson untuk terakhir kali nya??...
Kunay: tipo kk. maksudnya, permintaan. sudah diperbaiki tapi masih review. terima kasih sudah diingatkan🤭😍
total 1 replies
Fera Susanti
dih nenek2 nech cari masalah
momski
go... go.... go..... up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!