Kisah seorang anak perempuan terakhir yang hidupnya selalu di tentukan oleh orang tuanya,dan tidak di beri kesempatan untuk memilih untuk hidupnya.
hingga akhirnya ia pergi dari rumah, dan bertemu dengan seseorang yang mampu untuk ia jadikan rumah dan tempat bersandar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUSB 13
Keesokan paginya Kelvin menunggu Nina di depan kantor, ia sudah bertekad akan mendekati Nina sebelum ia keduluan dengan yang lainnya, terutama Pak Raynar.
Kelvin melihat Nina turun dari mobil Pajero sport, yang terparkir tepat di sebrangnya, Nina tampak anggun mengenakan rok cream di padukan dengan blazer berwarna putih dan hijab senada.
Kelvin ingin menghampiri Nina, namun ia urungkan karena Nina berjalan ke arah lobby bersama dengan Haris.
Pandangan Kelvin tak lepas dari interaksi keduannya, Haris yang ingin merangkul Nina, namun selalu di tepis oleh Nina.
" Pagi Pak Haris,.pagi Nina " sapa Kelvin kala Nina dan Haris lewat di depannya.
" Pagi" jawab singkat Haris.
" Pagi mas kelvin, lagi nunggu seseorang?" jawab Nina yang begitu ramah.
" hehehe iya sedang nunggu ojol, soalnya tadi ada berkas yang ketinggalan" jawab Kelvin.
Haris memandang ke arah Kelvin dengan tattapan yang sulit di artikan,sebagai sesama lelaki Haris tau, pria di depannya ini ada rasa pada sang adik.
Haris kemudian merangkul Nina dan menyeretnya masuk, tanpa berpamitan pada kelvin.
" Bang lepasi ih... malu tau" ujar Nina yang masih bisa Kelvin dengar.
" Sepertinya saingan gue berat, gue harus bisa dapetin Nina" gumam Kelvin melihat kepergian Nina dan juga abangnya.
Sementara di dalam lift, Haris dan Nina masih berdebat hingga Icha masuk ke dalam lift yang sama.
" Pagi Pak Haris" sapa Icha pada Haris yang memang karyawan Kastara banyak yang kenal dengan Haris.
" Pagi" jawab singkat Haris.
Sedangkan Nina hanya diam, karena ia pun tidak di sapa oleh Icha, kemudian lift terbuka di lantai lima menampilkan Bunda Arista dan juga Ayah Danu.
" Bunda ,Ayah" sapa Haris kemudian mencium tangan Bunda Arista dan juga Ayah Danu.
" Pagi pak bu" sapa Icha.
" Pagi" balas Ayah Danu dan Bunda Arista dengan senyum ramahnya.
Nina hanya senyum ke arah Bunda Arista dan juga Ayah Danu.
" Aduh.... sakit bang" pekik Nina setelah kepalanya di toyor oleh sang kakak.
" Salim gak sopan" ujar Haris menegur sang adik.
Nina kemudian menyalami Bunda Arista dan juga Ayah Danu.
" Pagi pak ,bu" sapa Nina.
" Kok bu sih Na, Bunda dong ,kemarin kan sudah sepakat manggilnya Bunda, orang Abang sama kakak kamu juga manggilnya Bunda" protes Bunda Arista kala Nina memanggilnya bu.
" eh.. iya bu- Bunda" jawab Nina.
Tepat pintu lift terbuka mereka berada di gedung paling atas dimana letak runganan Raynar dan juga kakek kastara beserta Ayah Danu dan Paman Prabu. keempat pemimpin dari tiga generasi.
" Kamu mau ke rungan siapa Icha?" tanya Bunda Arista pada Icha.
" Saya di panggil Pak Raynar bu" sahut Icha dengan nada yang sangat amat lembut yang pernah Nina dengar berbeda jika sedang berhadapan dengan ia dan teman- temannya dulu.
" ohh, kalau gitu ayo sekalian, Ayo Na" ajak Bunda Arista dan Nina, namun Bunda Arista hanya merangkul Nina.
" Sial, dia makin dekat dengan Keluarga Kastara, gue harus singkirin dia" gumam Icha menatap tidak suka ke arah Nina.
Haris melihat tatapan benci Icha pada sang adik, ia juga dapat melihat Icha akan merencanakan sesuatu pada adiknya.
"Bersaing secara sehat,jangan menggunakan kecurangan untuk sesuatu yang belum tentu kamu bisa dapat" bisik Haris yang kemudian berlalu melalui Icha.
" Sial, dia terlalu kuat dan banyak orang dalam"