Raden Nandana Rahandika duda tanpa anak yang di jebak oleh seseorang mengakibatkan sebuah tragedi satu malam terjadi. Raden yang dijebak, harus merenggut kesucian gadis asing yang tidak dia kenal.
Apa yang akan Raden lakukan setelah tanpa sadar mengambil paksa kesucian seorang gadis yang tak dia kenal? ikuti kisahnya .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang Hangat
Raden membuka pintu freezer dan mengambil beberapa masakan yang memang sudah di siapkan oleh mang Udin untuk mereka makan. Kerena memang mereka sampai di Villa sudah malam,jadi Raden meminta mang Udin untuk menaruhnya di dalam freezer.
Raden segera menghangatkan masakan itu ke dalam microwave.
Tak butuh waktu lama, semua makanan sudah tersaji di atas meja.
"Makan yang banyak, biar baby nya sehat." Raden dengan telaten menyiapkan makanan untuk Elin.
Elin yang mendapat perlakuan seperti itu pun merasa senang. Walaupun bagaimana pun, wanita hamil itu memang butuh perhatian khusus karena dia akan lebih sensitif dari biasanya.
"Terimakasih mas," tak lupa Elin mengucapkan terimakasih pada Raden untuk perhatian nya.
Raden hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan kemudian duduk berhadapan dengan Elin. Mereka makan dengan tenang dan Elin terlihat begitu bersemangat untuk menyantap makanan yang di sajikan malam ini.
"Biar aku saja. Kamu duduk yang manis. Sebentar.." Raden mengambil sebuah kotak dan ternyata di dalamnya ada buah potong di dalamnya. " makanlah, aku cuci piring sebentar." Elin yang ingin menolak tapi Raden langsung memberikan isyarat untuk Elin menurut padanya.
Akhirnya Elin pun mengikuti ucapan suaminya. Elin menikmati buah potong yang Raden siapkan dan Raden mencuci bekas makan mereka.
Setelah selesai membereskan semuanya, Raden pun duduk di samping Elin. "Terimakasih ya mas, kamu sebenarnya nggak perlu seperti ini, aku jadi..
"Sssttt...jangan pernah membantah. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk kamu dan baby di dalam sini." Raden menyentuh perut Elin perlahan mengusapnya penuh kasih.
Wajah kaku dan dingin yang biasa Raden tampilkan di depan umum, kini tak ada lagi saat bersama Elin.
"Sudah?" Raden melihat Elin menutup tempat buah di depannya.
"Sudah, Alhamdulillah kenyang."
Raden beranjak dari tempat duduknya. "Baiklah, kalau begitu kita kembali ke kamar." dengan gerakan cepat Raden mengangkat tubuh Elin.
"Eeehhh...biar aku jalan saja mas, aku berat loh.." Elin reflek mengalungkan kedua tangannya di leher Raden saat tubuhnya melayang karena Raden mengangkat tubuh nya.
"Diamlah , jangan banyak protes."Raden pun membuat Elin terdiam dan kemudian menyembunyikan wajahnya di dada bidang Raden.
Raden perlahan membawa tubuh Elin ke lantai dua di mana kamar mereka berada. Perlahan dia menurunkan tubuh Elin di ranjang.
"Istirahat lah, jangan banyak begadang." Raden menyelimuti tubuh Elin dengan selimut tebal.
"Terimakasih mas.." Raden mengangguk dengan tersenyum menatap ke arah Elin.
Raden naik ke atas tempat tidur yang sama dengan Elin. Hal itu membuat Elin canggung, karena memang belum terbiasa tidur dengan laki-laki.
Raden menoleh ke arah Elin yang menggeser posisi tubuh nya. Raden tahu jika Elin masih belum terbiasa. Raden tiba-tiba menarik tangan Elin supaya lebih dekat dengan nya. Bahkan saat ini Elin sudah ada dalam dekapan Raden.
Tubuh Elin membeku saat merasakan bagaimana tubuhnya tak berjarak lagi dengan Raden. Detak jantung keduanya bahkan sama-sama berdetak kencang.
Walaupun Raden berstatus duda, tapi baginya kali ini dia tidur bahkan hidup bersama dengan orang yang dari awal sampai detik ini belum punya rasa yang spesial untuk Elin.
Kedua nya terlihat saling bertatap mata. Tangan kekar Raden melingkar di tubuh Elin. "Dingin?" bisikan Raden tepat di depan Elin, hingga segarnya nafas Raden dapat tercium oleh indra penciuman Elin.
Elin menggelengkan kepalanya pelan. Telapak tangan besar Raden kini sudah ada di punggung Elin. Tangan itu mengusap punggung Elin naik turun hingga Elin merasa tangan itu perlahan masuk ke dalam kain baju Elin dan tangan itu menyentuh kulit punggung Elin.
Elin memejamkan matanya merasakan sesuatu yang asing baginya. Tiba-tiba saja Elin merasakan keningnya di kecup beberapa kali dan terakhir lumayan lama Raden mencium kening Elin. Sampai bibir Raden mengecup pangkal hidung mancung Elin dan terus turun ke dua belah pipi Elin.
Raden menjepit dagu Elin dan menaikkan pandangan Elin sampai pandangan mereka bertemu. Jempol Raden mendarat di bibir Elin. terlihat jempol Raden mengusap lembut bibir merah alami milik Elin.
Mata Elin melihat jakun laki-laki yang sudah menjadi suami nya itu naik turun dan terlihat rahangnya mengeras. Lalu sedetik kemudian Raden pun melum*t bibir Elin dengan lembut. Raden terlihat menggerakkan tangan nya ke depan dan mulai membuka satu persatu kancing baju tidur milik Elin.
Sampai dimana pemandangan indah terbungkus rapi di balik dua cover berwarna hitam. Bibir Raden masih menyantap habis bibir Elin dengan rakus. Bahkan awalnya terasa lembut, sampai kemudian lama-lama jadi menuntut. Tangan Raden melepaskan pengait yang menghalanginya melihat keindahan alam impian Raden.
Setelah terlepas, nampak lah pemandangan yang indah dan mempesona. Bahkan Raden tak mempu menolak pesonanya.
Terlihat telapak tangannya mulai mengusap lembut pucuk merah delima itu dan bahkan mencubit nya dengan gemas membuat Elin mengerang nikm*t.
"Eeeaahhh..." lenguhan panjang terdengar dari mulut Elin.
Raden melepas tautan bibir mereka dan beralih pada dua keindahan alam yang menggoda nya untuk segera menikmati nya.
"Indah sekali sayang, aku suka.." terdengar bisikan Raden membuat Elin tersenyum malu.
Raden pun kembali menjelajah alam semesta yang dia miliki untuk selamanya itu. Sentuhan-sentuhan pembawa nik*at dunia surga pin Raden sajikan untuk Elin. Bahkan Elin sudah tak bisa lagi menahan suara-suara indahnya yang sesekali menyebut nama Raden.
Tangan Raden mulai masuk ke dalam bawah sana.Tangannya mulai menyentuh lembah yang sudah terasa basah itu.
"Sayang, kamu sudah siap?" Raden mengatakan kesiapan Elin dengan menyentuh lembah surgawi Elin yang sudah terasa basah.
"Hemmm... pelan-pelan mas, ada dedek bayinya." dengan mata setengah terbuka Elin mengingatkan agar Raden tidak kebablasan karena Elin sedang berbadan dua.
"Boleh aku mulai?' kembali Raden menanyakan pada Elin saat Raden ingin memulai petualangan mereka.
"Boleh." jawaban singkat Elin membuat hati Raden bersorak.
Raden melakukan nya dengan perlahan saat mulai menuntun sang raja masuk ke dalam lembah surgawi Elin. Walaupun bukan pertama kalinya melakukan hal ini, namun Elin belum terbiasa dengan kegiatan yang mereka lakukan saat ini.
Raden melakukan nya dengan begitu lembut dan beruntung Raden tak bersikap egois demi kepuasannya saja. Tapi, Raden tetap menanyakan keadaan Elin saat kegiatan mencangkul itu berlangsung.
Raden melenguh panjang saat dia mulai menembakkan peluru kendali yang masuk ke dalam rahim Elin.
"Apa itu sakit?" Raden pun menanyakan keadaan Elin. Raden takut jika terjadi apa-apa dengan Elin terutama calon anak mereka. Terlihat Raden mengusap perut Elin yang masih rata itu.
"Nggak mas, aku baik-baik saja." Raden pun tersenyum dan kemudian mengecup kening Elin dan juga bibir Elin.
"Terimakasih sayang.." Elin mengangguk lemah dan kemudian masuk ke dalam pelukan hangat Raden.
Raden tersenyum lebar saat melihat tingkah manja Elin yang terlihat begitu menggemaskan.
Bersambung