NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kelaparan dan Bantuan Tiba

"Apakah pemuda Xiao An itu pakar sejati?" tanya Kakek Zhou, matanya berbinar penuh harap.

Lin Cheng segera menepis anggapan itu.

"Bukan, Kek. Dia murid. Punya seorang guru, tapi katanya belum diajari apa pun, ditinggal sendirian di sana karena urusan penting tuannya."

Mendengar itu, mata Kakek Zhou berkilat. Sebuah rencana segera terbentuk di benaknya.

"Kalau begitu, Cheng'er, kamu harus menjalin hubungan erat dengannya!" seru Kakek Zhou, nadanya penuh penekanan.

"Ini adalah bantuan besar bagi keluarga Lin. Kita harus berterima kasih pada pemuda itu, dan bahkan... kita harus berterima kasih pada tuannya yang telah menjadi dermawan tak terduga bagi keluarga Lin!"

Kakek Zhou bersikeras.

"Mari kita berdua akan menemui Xiao An. Aku juga harus berterima kasih pada tuannya yang mulia itu!"

Tak berselang lama, jarak tiga kilometer ditempuh oleh sepasang kakek dan cucu itu. Kakek Lin Zhou, dengan langkah yang kini jauh lebih gesit berkat efek kulit apel, berjalan di depan, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Lin Cheng mengikutinya.

Sepanjang jalan, Kakek Zhou berkali-kali menekankan bahwa cucunya harus menjaga pertemanan sebaik-baiknya terhadap Xiao An, sang murid pakar.

"Ingat, Cheng'er, pemuda itu adalah kunci! Tuannya pasti bukan orang sembarangan. Kita harus bersikap hormat dan menjalin hubungan baik,"

Kakek Zhou tak henti-hentinya mengingatkan, hingga telinga Lin Cheng memanas saking seringnya mendengar wejangan yang sama.

Akhirnya, mereka sampai pada tangga bukit yang misterius. Kakek Zhou mendongak, dan seketika itu juga, ia terpana dengan pemandangan bukit yang puncaknya diselimuti kabut tebal. Ia tahu betul bukit ini, tapi tak pernah melihat fenomena seperti ini sebelumnya. Perasaan takjub dan misteri bercampur aduk di benaknya.

ITU

Lin Cheng menghela napas.

"Ada ratusan anak tangga untuk mencapai puncaknya, Kek," katanya, membayangkan kembali pendakian yang melelahkan kemarin.

Namun, Kakek Lin Zhou hanya mendengus bangga. Sebagai seorang praktisi Qi Condensation di ranah minor Qi Gathering, menaiki tangga seperti ini baginya adalah permainan meloncat belaka. Ia tidak lagi terbebani oleh gravitasi atau kelelahan fisik seperti orang biasa.

Dengan angkuh, Kakek Zhou memberi contoh. Ia tidak menaiki tangga satu per satu. Dengan gerakan yang sangat gesit, ia melompat, melangkahi tiga hingga empat anak tangga sekaligus dalam satu lompatan ringan.

Tubuhnya seperti bulu, melesat ke atas tanpa suara. Ia menoleh ke belakang, menatap cucunya dengan senyum mengejek.

"Tangga yang bukan apa-apanya ini, Cheng'er!" serunya, seolah menantang Lin Cheng untuk mengikutinya.

Namun, brughhhhh...

Saat kaki Kakek Lin Zhou menjejak ke anak tangga berikutnya dengan angkuh, sesuatu yang tak terduga terjadi. Seketika, Kakek Zhou merasa seluruh kultivasinya seperti diluruhkan oleh bebatuan tangga itu.

Kekuatan Qi Gathering-nya menguap begitu saja, mengembalikan dia kepada sosok kakek-kakek yang reyot dalam sekejap mata.

"ADUDUDUDUUH...." rintihan keras keluar dari mulut Kakek Zhou.

INI

Pinggangnya terasa seperti disambar petir, sebuah rasa encok kecetit yang luar biasa menyerang. Kedua tangannya refleks mencengkeram pinggangnya sendiri hingga posturnya melengkung ke belakang, dengan meneriakkan kata aduuh dengan keras. Suara jeritannya yang nyaring itu bahkan membuat burung-burung di hutan beterbangan kabur ke angkasa, terkejut oleh jeritan mendadak itu.

Lin Cheng yang terkejut menyaksikan semua itu, hanya bisa menatap Kakeknya dengan mulut ternganga.

Lin Cheng segera tersadar dari keterkejutannya. Ia bergegas mendekati kakeknya yang kini membungkuk kesakitan.

"Kakek!" seru Lin Cheng, suaranya cemas.

Dengan susah payah, Lin Cheng membantu memapah pria jompo itu untuk turun. Setiap langkah terasa berat. Kakek Lin Zhou tak henti-hentinya mengerang kesakitan memegangi pinggangnya, membuat Lin Cheng nyaris ikutan meringis.

"Sudah kubilang ini tangga aneh, Kek!" sembur Lin Cheng, tak bisa menahan diri.

"Kakek sombong sekali tadi! Lihat sekarang, kan jadi sakit pinggang! Siapa suruh tadi melompat-lompat seperti monyet?"

Lin Cheng terus mengomel, melampiaskan kekesalannya. Ia terus memarahi kakeknya, satu demi satu kalimat pedas keluar dari mulutnya, hingga rasanya telinga Kakek Zhou berdarah—bukan secara harfiah, tentu saja, tapi saking pedas dan banyaknya omelan Lin Cheng.

Kakek Zhou hanya bisa meringis dan menggerutu pelan, tak bisa membantah karena rasa sakit pinggangnya jauh lebih nyata daripada rasa malu.

Begitu kaki Kakek Lin Zhou menyentuh tanah kembali di kaki bukit, keajaiban terjadi. Vitalitas yang hilang dari tubuhnya seketika terserap kembali. Rasa sakit encok yang tadi menyiksa menguap dengan segera, seolah tak pernah ada.

Postur bungkuknya kembali tegap, kerutan di wajahnya sedikit menghilang, dan kilau di matanya kembali memancar. Dalam sekejap, ia kembali menjadi sosok kultivator tua yang bijaksana, bukan lagi seorang jompo renta pesakitan yang mengeluh.

Kakek Zhou menghela napas lega, merentangkan tangannya, dan tersenyum tipis.

"Tangga ini... sungguh luar biasa," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

"Ada semacam formasi penekan Qi di sana. Menarik."

Lin Cheng, yang baru saja memarahi kakeknya habis-habisan, hanya bisa terdiam, menatap perubahan drastis itu dengan mulut sedikit terbuka.

Akhirnya, Kakek Lin Zhou mengisyaratkan kepada cucunya bahwa dia tidak bisa menaiki tangga itu lagi.

"Formasi penekan Qi di tangga itu terlalu kuat untukku saat ini, Cheng'er," katanya, raut wajahnya sedikit kecewa namun juga penuh pemahaman.

"Mungkin hanya kamu yang memiliki kekuatan fisik sejati dan hampir dibilang beru memulai kultivasi yang mampu melakukannya, sebagaimana hari kemarin kamu mencapai puncak."

Dengan berat hati, Kakek Zhou melihat dari bawah saat cucunya, Lin Cheng, mulai menaiki tangga misterius itu. Kali ini, Lin Cheng melangkah dengan lebih hati-hati, mengingat apa yang terjadi pada kakeknya. Ia terus mendaki hingga akhirnya menghilang ke dalam kabut tebal yang menyelimuti puncak bukit.

Kakek Zhou mendesah pelan. Sebuah kesempatan besar bagi keluarga Lin kini berada di tangan cucunya. Ia hanya bisa berharap yang terbaik untuk pertemuan Lin Cheng dengan Xiao An dan "tuannya" di puncak sana.

Sampai di puncak, Lin Cheng melihat pemandangan yang sama persis seperti kemarin: pemondokan yang rapi, telaga kecil yang jernih, dua ekor domba yang kini sedang mengunyah rumput dengan tenang, dan si sapi berotot yang lahap merumput tak peduli dunia.

INI

Pemandangan itu seolah menyambutnya dengan damai, kontras dengan pendakian melelahkan yang baru saja ia lalui.

Matanya menerawang, mencari sosok Xiao An. Tidak butuh waktu lama. Buru-buru Lin Cheng menuju telaga kecil. Di sana, ia melihat Xiao An merangkak dengan tubuh yang tampak sangat lemas, matanya kosong menatap air.

"Aku lapar," ucap Xiao An dengan suara parau, nyaris tak terdengar, seolah setiap kata membutuhkan usaha yang luar biasa.

Wajahnya pucat pasi, dan sepertinya ia belum makan apa pun sejak kemarin sore.

"Dasar kamu!" Lin Cheng berseru, meskipun ada nada khawatir dalam suaranya. Ia bergegas mendekati Xiao An.

"Apa tuanmu tidak meninggalkan sesuatu? Bahkan kamu tidak dapat memperhatikan diri sendiri! Pantas saja tuanmu melatihmu untuk mandiri dan bla bla bla..." Lin Cheng terus mengomel, kata-katanya bercampur antara teguran dan kekhawatiran.

Namun, Xiao An hanya mendengar omelan Lin Cheng nampak seperti dengungan lebah yang jauh. Matanya yang kosong semakin terpejam, tubuhnya terasa ringan dan melayang. Ia sudah terlalu lapar, nyaris pingsan. Setiap kata yang diucapkan Lin Cheng tidak sampai ke otaknya yang sudah sangat kekurangan energi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!