Kini berbagai pertanyaan muncul ketika Raelynn terbaring di atas meja operasi. Mempertaruhkan nyawa, berjuang untuk bisa melahirkan bayinya dengan selamat … sendirian. Ya, dengan tubuhnya yang kurus, Raelynn menandatangani surat pernyataan untuk dilakukan operasi untuk dirinya sendiri.
Apakah semua kemalangan ini bermula ketika dia menerima pernikahan di atas kerta yang pria berikan? Ataukah semua ini berawal saat dia mengetahui tentang kehamilannya sekaligus penyakit mematikan yang tidak dia sadari sebelumnya? Atau semenjak malam itu … di saat keluarganya sendiri menyiksa dan menjadikannya pelayan dan bahkan menjualnya demi kepentingan bisnis mereka?
Raelynn rasa, tidak! Bahkan sebelum semua itu terjadi kemalangan mulai menjadi hari-harinya sejak saat itu. Ya … Raelynn ingat sekarang. Semenjak hari itu, dimana dia menolak perjodohan yang di atur oleh keluarga demi untuk mengejar cinta pertamanya.
Mampukah Raelynn bertahan dengan semua kemalangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Kembali Diusir
Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di wajah Raelynn, hingga dia terjatuh dan sudut bibirnya berdarah. Bahkan darah dari hidungnya yang dengan susah payah berhasil dia hentikan sebelumnya, kini kembali mengalir.
Panas dan perih Raelynn rasakan pada pipinya yang terkena tamparan, air matanya mulai berlinang saat matanya mendapati sang ayah yang sama sekali tidak peduli lagi dengan keadaan dirinya. Bahkan jika dirinya mati mengenaskan dipinggir jalan, sang ayah mungkin tidak berkenan untuk membawa jasadnya pulang.
“Kemana saja kau semalaman, Hah? Kenapa kau melarikan diri, padahal ini kesempatan satu-satunya untuk kita membangkitkan perusahaan lagi. Semuanya menjadi kacau hanya kerena anak bodoh seperti dirimu, Raelynn!” hardik sang Ayah tanpa belas kasihan lagi kepada Raelynn. Bukannya menanyakan keadaannya, sang ayah malah semakin menambah luka di tubuh dan hatinya.
“Papah, tenanglah!”
Risha mendekat, berperan seperti adik yang baik. Padahal dia juga sangat kesal karena Raelynn berhasil melarikan diri malam itu.
“Risha jangan ikut campur. Kita diam saja disini!”
Sang Ibu langsung menarik Risha untuk sedikit menjauhi ayahnya dan melarangnya untuk menolong Raelynn lagi. Risha tersenyum puas diam-diam saat menyadari bahwa kedua orang tuanya kini benar-benar tidak akan memperdulikan Raelynn, walaupun dia membunuhnya.
“Papah! Mamah … apakah sekarang aku bukan lagi putri kalian? Apakah sekarang aku menjadi orang asing di mata kalian berdua? Kenapa kalian terus menyiksaku seperti ini … Bahkan menjadikan aku sebagai alat transaksi bisnis untuk kalian.”
Dengan suara tertahan, Raelynn mencoba bertanya dan memastikan arti keberadaan dirinya di hati ayah dan ibunya.
“Bukankah kau sendiri yang memutuskan hubungan orang tua dan anak di antara kita hanya untuk mengejarnya? Lalu kenapa kau masih menanyakannya lagi? Terlebih lagi karena keputusanmu waktu itu,perusahaan menjadi seperti sekarang. Semua karena dirimu dan kau seharusnya tahu akan hal yang sudah jelas itu!” seru sang Ibu mengingatkan Raelynn akan kesalahan terbesarnya.
“Sebegitu benci ‘kah kalian semua padaku sekarang?” tanya Raelynn dengan deraian air mata yang sudah membasahi pipinya.
“Iya, kami sangat membencimu! Jadi, pergilah dari sini untuk selamanya. Karena mulai detik ini kami tidak sudi lagi memiliki putri pembawa sial sepertimu.”
Degh ….
Betapa sesaknya dada Raelynn saat mendengar jawaban sang ayah, bahkan sang ibu dan juga Risha sama sekali tidak sudi melihat wajahnya lagi. Kali ini Raelynn bahkan tidak diberikan pilihan lagi, dia langsung diusir oleh keluarganya sendiri karena gagal dimanfaatkan sebagai alat transaksi bisnis. Baik Edwin dan Emma bahkan langsung melempar koper yang sudah berisi barang-barang milik Raelynn saat itu juga.
“Bawa pergi semua barang-barangmu ini. Aku tidak ingin ada satu pun barang pembawa sial milikmu itu,” tukas Edwin yang bahkan tidak sudi menatap wajah putri sulungnya lagi.
“Pa-papah … Hiks!”
Raelynn hanya bisa menangis terisak memanggil Papahnya dengan nada putus asa, berharap ada sedikir rasa kasih sayang dari mereka untuknya. Namun, sepertinya harapan Raelynn mustahil karena Edwin bahkan menyuruh Risha dan istrinya untuk masuk ke dalam rumah mereka membiarkan Raelynn begitu saja.
“Kalian berdua cepat masuk ke dalam sekarang!”
Pintu langsung tertutup rapat setelah mereka masuk ke dalam rumah mewah itu. Seolah pintu itu selamanya sudah tertutup untuk menyambut Raelynn kembali. Hanya air mata yang menjadi saksi betapa sakit hati Raelynn setelah dibuang oleh keluarganya sendiri. Rasanya Raelynn ingin mengakhiri penderitaannya itu dengan kematian. Namun, Raelynn takut jika kematian bahkan tidak berpihak padanya.
“Papah! Mamah … Apakah aku benar-benar pembawa sial untuk kalian? Jika memang seperti itu, maka aku akan pergi dari sini dan selamanya tidak akan kembali bahkan jasadku sekalipun.”
Raelynn berusaha keras untuk menghapus air matanya, menerima takdirnya yang begitu kejam. Meski sayangnya, air mata itu tidak bisa dia hentikan dengan mudah. Raelynn meraih kopernya, membawanya pergi bersama dengan luka yang dia terima selama ini. Namun, kenangan indah semasa kecilnya di ruamh itu akan selalu menjadi kenangan terindah dalam hidupnya.
...****************...
Tanpa diketahui oleh siapapun, kejadian itu disaksikan dengan jelas melalui kaca jendela rumah mewah itu oleh Bi Martha. Melihat kepergian Raelynn seorang diri tanpa tujuan dan bahkan tanpa uang sepersen, hati Bi Martha tentu tidak tega. Bi Martha jelas tidak bisa menghentikan kepergian Raelynn, karena itulah dia sudah memutuskan untuk berhenti dan akan menemaninya.
Dimana Edwin, Emma dan Risha tengah berdebat mengenai dana untuk membangkitkan perusahaan CM Group kembali. Bi Martha nmulai membereskan semua barang-barangnya, lalu setelahnya akan langsung mengundurkan dan berpamitan.
“Papah Kenapa Papah malah mengusirnya begitu saja? Lalu bagaimana dengan kita sekarang? Kalian tidak berpikir menjadikan aku sebagai penggantinya, bukan?” tanya Risha yang tidak habis pikir dengan pemikiran ayahnya.
Pasalnya mereka belum berhasil membuat Raelynn memuaskan Tuan Jhon. ‘Kan kini dirinya yang merasa dalam bahaya, apalagi sejak awal Tuan Jhon sudah mengincar dirinya. Tidak mungkin ‘kan Papah dan Mamahnya akan menjadikan dirinya sebagai alat transaksi seperti yang mereka lakukan pada Raelynn.
“Tidak mungkin, Risha sayang! Bagaimana mungkin kami akan menyerahkanmu pada pria tua hidung belang itu, sementara kini hanya kau satu-satunya putri yang kami miliki,” ujar Edwin sembari membelai penuh kasih wajah Risha.
Meskipun Edwin sudah memiliki waktu lagi untuk mendapatkan dana investasi agar perusahaannya terselamatkan. Dia tidak akan pernah menjadikan putri bungsunya itu sebagai alat transaksi bisnisnya.
“Tapi Pah, kenapa kau malah mengusir Kak Raelynn? Bukannya langsung mengantarkannya kembali pada Tuan Jhon? Setidaknya perusahaan akan terselamatkan, bukan?” Risha masih menanyakan alasan sang ayah mengusir Raelynn.
“Kau tidak lihat tanda kemerahan di area lehernya? Dia sepertinya terjebak dengan pria lain semalam. Kau tahu sendiri bagaimana efek obat yang kita berikan padanya, bukan? Meski dia berhasil melarikan diri dari Tuan Jhon, dia jelas terjebak dengan pria lain. Dan jika kita mengirimkannya pada Tuan Jhon dalam keadaan seperti itu, maka akan menambah masalah untuk kita sendiri,” jelas Emma.
“Jadi, dia telah melakukannya dengan pria lain?”
Risha kembali memastikan, sebab dia memang tidak terlalu memperhatikannya tadi. Emma hanya mengangguk sebagai jawaban, sedangkan Edwin memilih menghela napas panjang.
“Tuan! Nyonya dan Nona muda. Maaf, saya ingin mengundurkan diri sebagai pelayan di sini,” ujar Bi Martha yang tiba-tiba muncul dengan membawa tas besar berisi barang-barangnya.
“Kenapa bibi ingin berhenti sekarang?” tanya Risha, karena Bi Martha satu-satunya pelayan yang tersisa di rumah itu.
“Sepertinya dia ingin menyusul anak itu,” ujar Emma yang merujuk pada Raelynn.
“Pergilah! Tapi kau tahu harus tahu, bahwa begitu kau keluar dari rumah ini. Maka kami tidak akan menerimamu lagi.”
Edwin tidak menghentikannya sama sekali, tapi sama seperti yang dia katakan pada putri sulungnya sendiri bahwa tidak aka nada kesempatan kedua bagi siapapun yang berniat keluar dari rumahnya itu.
“Saya mengerti, Tuan! Kalau begitu saya pamit pergi sekarang.”
Bersambung ….
Lagian Gavin ngga bilang sih, siapa anak Edwin Cameron yang dimaksud...
Masa Suho ngga tahu sih, kalo Edwin punya 2 anak perempuan 🤔
next kk