NovelToon NovelToon
Mama Tiriku Canduku

Mama Tiriku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / Selingkuh / Cinta Terlarang / Duda / Cintapertama
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dydy_ailee

Sebuah cinta terlarang.
Sebuah pengkhianatan dalam keluarga.
Zavier hanya ingin mencintai wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama tiga tahun — namun takdir berkata lain ketika wanita itu kini bersanding sebagai istri sang ayah.

Di antara rasa bersalah, cinta, dan kehancuran, adakah kesempatan kedua untuk hati yang sudah hancur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB-13 Makan Malam Menegangkan

Zavier yang menerima ajakan makan malam dari Ardian merasa canggung. Setelah beberapa hari penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab, ia merasa agak terlepas dari kenyataan sementara. Namun, ia tak bisa menahan rindu terhadap hal-hal yang terasa lebih nyaman, terutama masakan rumahan yang sering ia nikmati. Zavier tak bisa menyembunyikan perasaan itu—ia merindukan masakan yang pernah disiapkan oleh seseorang yang tak ia duga, yang kini menjadi bagian dari kehidupan papanya.

Begitu tiba di rumah Ardian, suasana terasa sedikit kaku. Ardian menyambut Zavier dengan senyum hangat, namun Zavier tahu ini akan menjadi malam yang penuh ketegangan. Dia merasa canggung bertemu Veyra, apalagi setelah kejadian-kejadian yang mereka alami.

Di dapur, Veyra tengah menyiapkan makanan dengan hati-hati, tapi matanya tak bisa menghindar dari pandangan Zavier yang tiba-tiba datang. Begitu Zavier masuk, ada ketegangan di antara mereka berdua. Veyra terkejut, seolah tak tahu apa yang harus ia lakukan.

"Zavier, apa kabar?" Veyra akhirnya berkata dengan suara yang sedikit gemetar. Meskipun mereka sudah sering berinteraksi sebelumnya, malam ini terasa berbeda.

Zavier hanya tersenyum kecil, merasa tak nyaman dengan situasi yang dipaksakan ini. "Baik, terima kasih sudah mengundang," jawabnya singkat, berusaha menjaga jarak, meskipun dalam hatinya ada perasaan campur aduk.

Saat mereka duduk di meja makan, suasana semakin tegang. Ardian mulai mengobrol dengan santai, mencoba membuat keduanya merasa lebih nyaman, namun Zavier bisa merasakan ketegangan yang mengalir di antara dirinya dan Veyra. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti dipikirkan dua kali. Ada sesuatu yang tak terucapkan, sebuah ketidaknyamanan yang tidak bisa disembunyikan.

Veyra juga merasakan hal yang sama. Meski ia mencoba bersikap profesional, hatinya bergejolak. Melihat Zavier di rumah ini—di rumah yang ia anggap sebagai rumah baru bagi Ardian—menambah beban di hatinya. Ia tidak bisa memungkiri perasaan yang mulai tumbuh, meskipun tahu bahwa Zavier dan Ardian adalah dua pria yang begitu berbeda baginya.

"Bagaimana masakan Mama kamu, Zavier?" tanya Ardian sambil menepuk pundak putranya.

"Lumayan. Masakan mamaku paling enak, Pah. Mama Arlita," jawab Zavier yang tak ragu menyebut nama almarhumah mamanya.

Ardian terdiam. Ia tahu jika Zavier belum bisa menerima semua ini. Sedangkan Veyra semakin merasa serba salah. "Tidak ada yang bisa menggantikan Mama kamu, Zavier."

"Untuk itu, Pah. Jangan panggil dia Mama di depan mataku. Aku akan memanggil namanya saja. Toh kita seumuran," ujar Zavier dengan nada suara yang terdengar kesal sambil menatap sinis Veyra.

"Ya, baiklah. Apa yang membuatmu nyaman saja," ucap Ardian dengan bijak. Ia tidak ingin berdebat dengan Zavier dan membuat suasana makan malam menjadi tidak nyaman.

Zavier tahu, ada banyak hal yang harus ia selesaikan dalam pikirannya, dan Veyra, meski tampak tenang, juga merasakan tekanan yang sama.

Ardian tersenyum lebar, membuka pembicaraan yang seakan tak terhindarkan. "Oh ya, Zavier, ada kabar baik," kata Ardian sambil menyendokkan makanan ke piringnya. "Flora, akan bergabung dengan perusahaan. Om Hans sudah menghubungi Papa tadi."

Zavier yang semula sedang meminum air, tiba-tiba terdiam. Suara itu terasa asing dan memberat di udara. Flora? Nama itu mengingatkannya pada masa kecil, pada kenangan yang tidak selalu manis. "Flora? Dia bergabung di perusahaan kita?" Zavier bertanya dengan nada yang sedikit ragu, tak bisa menyembunyikan ketidaksetujuannya.

Ardian mengangguk sambil tersenyum, jelas senang dengan perkembangan tersebut. "Iya, Om Hans menelpon Papa dan menyarankan agar dia langsung terjun ke arsitektur, di perusahaan kita ini. Papa rasa itu kesempatan yang bagus."

Zavier mendengus pelan. "Kenapa aku merasa ini ide yang buruk?" pikirnya, meskipun tidak langsung mengungkapkan protesnya. Ia merasa sedikit terkejut dan tidak nyaman dengan kabar tersebut. Flora? Gadis yang selalu membuatnya merasa terganggu saat kecil, dan kini harus bekerja di tempat yang sama? Ia tidak tahu mengapa, tapi ada sesuatu dalam hatinya yang menolak.

Veyra yang duduk di sebelah mereka, seakan merasakan ketegangan yang muncul dalam diri Zavier. Ia melihat ekspresi wajah Zavier yang berubah, dan meskipun Zavier tidak mengungkapkan ketidaksetujuannya secara langsung, Veyra tahu perasaan itu. Veyra menahan diri untuk tidak berkata apa-apa, namun hatinya sedikit mencelos. "Kenapa aku merasa cemburu? Apakah ini juga yang dirasakan oleh Zavier?" pikirnya dalam hati. Tiba-tiba Flora yang masuk ke dalam dunia mereka terasa begitu dekat, dan Veyra merasa cemas dengan kemungkinan yang bisa terjadi.

Ardian kembali mengangguk, sedikit terkejut dengan sikap Zavier yang terlihat tidak begitu senang. "Apa kamu tidak setuju?" tanya Ardian dengan nada sedikit heran.

"Tidak… tidak juga," jawab Zavier, sambil menghindari pandangan Ardian. "Hanya… aku rasa, kita bisa mencari orang lain yang lebih tepat."

Veyra yang mendengar percakapan itu merasa semakin tertekan. Ia mencoba tetap tenang dan fokus pada makanan, namun perasaan tidak nyaman terus menghantui. "Itu artinya Zavier dan Flora akan intens bertemu?" pikirnya dalam hati.

Ardian tidak menyadari perubahan dalam suasana hati Zavier dan malah melanjutkan pembicaraan dengan penuh semangat. "Flora selalu pintar dan berbakat. Aku yakin dia bisa banyak membantu. Dia hebat lho, Vier.Kamu bisa setiap hari bertemu dan diskusi dengan Flora. Kalian bisa terlibat proyek bersama dan semakin dekat."

Zavier merespon dengan sedikit tergesa-gesa, "Mungkin... tapi aku rasa kita harus lihat dulu bagaimana dia bekerja." Suaranya terdengar kurang yakin, seakan ia menahan amarah yang sebenarnya ingin dikeluarkannya. Ia tidak mau kehadiran Flora menjadi penghambat hubungannya dengan Veyra.

"Menurut kamu bagaimana, Sayang? Tidak apa-apa kan kalau Flora bergabung diperusahaan?" tanya Ardian pada Veyra.

Veyra yang merasa semakin tidak nyaman, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Kalau menurut kamu Flora berbakat, sudah pasti kamu tahu mana yang terbaik, Mas. Aku hanya bisa mendoakan supaya semuanya berjalan lancar." Ia berusaha terlihat tenang, meskipun hatinya tidak sejalan dengan sikapnya yang tenang.

Ardian tersenyum, tidak menyadari kecanggungan yang berkembang. "Aku percaya semuanya akan baik-baik saja. Terima kasih sayang, kamu selalu mendukungku."

"Sama-sama, Mas," balas Flora dengan senyum kecilnya.

Melihat kemesraan itu, membuat Zavier merasa muak.

************

Setelah makan malam yang tegang, Zavier merasa cemas dan tidak nyaman dengan kehadiran Flora yang tiba-tiba. Ia mencoba untuk menenangkan perasaannya, lalu setelah beberapa waktu, saat Ardian sibuk di ruang kerjanya, Zavier memutuskan untuk mencari Veyra dan berbicara dengannya di taman belakang rumah.

Di luar rumah, suasana malam yang tenang memberi Zavier kesempatan untuk mengatur pikirannya. Ia menunggu Veyra datang, dan ketika Veyra muncul, ada ketegangan yang jelas terasa di antara mereka.

Zavier menatap Veyra dengan sedikit kekhawatiran. "Veyra, aku butuh bicara. Tentang tadi, tentang Flora."

Veyra yang sedang menahan cemburu hanya diam sejenak, kemudian dengan nada dingin bertanya, "Flora? Teman masa kecilmu, bukan?"

Zavier mengangguk pelan, terlihat ragu. "Iya. Aku tidak mau kamu salah paham. Aku juga kesal karena Papa selalu membahas Flora."

Veyra menghela napas. "Zavier, kamu tidak bisa mengendalikan semua orang." Ia memandangnya serius. "Aku percaya padamu, tapi kita harus lebih sabar."

Zavier merasa sedikit terdiam, lalu berkata pelan, "Aku tidak suka Flora bisa begitu dekat dengan papaku, dan aku tidak ingin dia mengganggu hubungan kita."

Veyra menatap Zavier dengan lembut, meletakkan tangannya di bahunya. "Jangan khawatir, Zavier. Kita sudah cukup dewasa untuk menghadapi ini bersama."

Zavier menghela napas panjang, merasa sedikit lebih baik dengan kata-kata Veyra. "Aku hanya takut kalau ini semakin rumit."

Veyra tersenyum, "Tidak ada yang bisa memisahkan kita, Zavier. Kita harus lebih kuat," ucap Veyra dengan yakin. Meskipun di dalam hati Veyra merasa ragu akan masa depan hubungannya dengan Zavier.

Di malam itu, meskipun ada rasa cemas yang menggelayuti, Zavier merasa sedikit tenang setelah berbicara dengan Veyra. Mereka berdua tahu bahwa hubungan mereka akan diuji, tapi mereka bertekad untuk tetap bersatu meskipun ada banyak halangan yang datang.

Zavier meraih tangan Veyra dengan lembut, menatapnya dengan penuh pengertian. Ia mendekatkan wajahnya ke tangan Veyra, lalu mengecup punggung tangannya dengan penuh perhatian, seolah ingin menenangkan semuanya yang mengganggu perasaan mereka.

Veyra merasa jantungnya berdegup kencang, matanya langsung memerhatikan tangan Zavier yang menggenggamnya. Ada rasa takut yang menggelayuti dirinya. "Zavier... kalau Ardian tahu—" Veyra berusaha menarik tangannya, tapi Zavier dengan cepat menggenggamnya lebih erat, membuatnya tetap di tempat.

"Jangan khawatir, Veyra," Zavier berbisik dengan lembut. "Papaku bisa berjam-jam di ruang kerja. Kita punya waktu lebih banyak untuk bicara." Ia menatap Veyra dengan tatapan yang menenangkan, mencoba meyakinkan Veyra bahwa tidak ada yang akan terjadi jika mereka sedikit lebih berani. "Aku tidak akan membiarkan apa pun menghalangi kita."

Veyra menatap Zavier dengan ragu, masih merasa cemas meskipun ia merasakan ketulusan dalam kata-kata Zavier. "Tapi, Zavier, ini berbahaya." Ia berkata pelan, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri lebih dulu.

Zavier mengusap punggung tangan Veyra dengan ibu jarinya, memberikan sentuhan yang menenangkan. "Aku tahu ini tidak mudah, tapi kita bisa menjaga semuanya tetap aman. Aku hanya ingin kamu tahu, Veyra, aku di sini untuk kamu. Tidak peduli apa yang terjadi."

Veyra merasakan ketenangan yang perlahan muncul, meskipun ada kecemasan yang belum hilang sepenuhnya. "Aku takut, Zavier," katanya pelan, matanya berkaca-kaca.

Zavier mengangkat dagu Veyra, memandangnya dengan lembut. "Kamu tidak perlu takut. Aku akan melindungimu, apapun yang terjadi."

Veyra menundukkan kepalanya, merasa terluka oleh kenyataan yang sulit, namun ia tahu betapa Zavier berusaha untuk membuatnya merasa aman. Meski cemas, dia mengangguk pelan. "Aku berharap kamu bisa menjaga semuanya, Zavier."

Dengan satu lagi ciuman singkat di tangan Veyra, Zavier mengangguk. "Kita akan melewati semuanya bersama."

1
Han
zavier hanya mau menikah dengan istri muda mu, tuan
Han
anda salah tuan, anakmu ada hubungan dengan istri mu
Han
dia itu ayahmu lohh
Han
lahhhhh si zavier nekat banget
Han
cantik sih, tapi istri papa🤭
Han
capek kan, vey? selalu berpura-pura 😅
Han
waktu yang dibutuhkan zavier akan lebih lama dari waktu kalian bersama, vey
☠༄⃞⃟⚡ᴹᵃᵐ ᶠᵉⁿ 𒈒⃟ʟʙᴄ zc❖🍒⃞⃟🦅
andai kau tau ardian kekasih anak mu yg kau maksud itu adalah istri mu yg baru saja kau nikahi
Han
menjauh lebih baik, dari pada makin sakit hati
Han
kekasih zavier sudah kau nikahi pak tua
Han
Ardian sedang mengalami puber ke sekian, za. jadi, maklumi saja😅
Han
do'akan saja, za.
Han
veyra masih bimbang, antara anak sama ayah. padahal sudah nikah ma ayah kekasih
☠༄⃞⃟⚡ᴹᵃᵐ ᶠᵉⁿ 𒈒⃟ʟʙᴄ zc❖🍒⃞⃟🦅
baru mampir lagi ke karya kak duduk ailee. komen ke 2 aku 🤣
☠༄⃞⃟⚡ᴹᵃᵐ ᶠᵉⁿ 𒈒⃟ʟʙᴄ zc❖🍒⃞⃟🦅: sama sama kak dydy
total 2 replies
aisyahara_ㅏㅣ샤 하라
komen pertama like pertama,
awal nya bagus, lanjut thor
Dydy Ailee: makasih kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!