Sifa tidak pernah menyangka dengan nasib nya, ia harus menjadi Pengantin Pengganti, Kakak kandung nya sendiri yang tiba-tiba kabur di hari pernikahan nya sendiri.
Bagaimana Kisah nya.. hanya di Novel Pengantin Pengganti
Follow Me :
Ig : author.ayuni
Tiktok : author.ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Perlahan-lahan pening dikepala Sifa sudah berangsur berkurang.
" Manjur juga obat yang diberikan Mas Revan " gumam Sifa, ia bangun dari tidurnya, meraba tubuhnya sudah lebih baik dari tadi.
Suamimu itu dokter Sifaaaa !
Ia bangkit dari tidurnya, menyibakkan selimut lalu ia berjalan menuju lemari pakaian, ia berniat untuk mengganti pakaiannya, karena setelah meminum obat tadi ia berkeringat sehingga tidak nyaman.
Setelah menganti bajunya, ia melihat jam yang tertempel di dinding.
" Udah jam 9 malem " gumam Sifa.
Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing dari dalam perutnya, ia meraba perutnya, benar ia merasa lapar, terakhir makan tadi siang saat dikampus.
Sifa keluar kamar, sudah terasa sepi ia pastikan Revan sudah berada di kamarnya.
Perlahan ia berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan.
Di meja makan ia melihat ada tudung saji disana pertanda ada makanan didalam tudung saji itu.
Ia membuka tudung sajinya, ada beberapa makanan yang masih cukup banyak.
" Ini Mas Revan makan gak sih ? " gumam Sifa karena merasa heran makanan yang katanya Revan beli masih cukup banyak.
Sifa langsung mengambil nasi kedalam piring, ia kembali duduk di kursi makan mengambil lauk yang berada di hadapannya.
" Lagian juga tumben banget, beli makanan banyak gini, pake ngajak-ngajak makan segala lagi " gumam Sifa sebelum ia menyuapkan nasi ke mulutnya.
" Bismillah.. " Sifa menyuapkan satu suapan nasi ke mulutnya.
Dilain tempat Revan yang berada di kamarnya belum tidur, ia berniat untuk mengambil air minum karena merasa haus. Ia keluar kamar berjalan menuruni anak tangga, ia sedikit kaget saat ia melihat Sifa sedang makan sendirian di ruang makan.
Ia tersenyum kecil, lalu menghampiri Sifa.
" Ehem "
Sontak membuat Sifa kaget.
" Astaghfirullah.. " hampir ia melemparkan sendok yang ia pegang.
" Kenapa ? Liat hantu kamu ? " tanya Revan.
" Kenapa dateng tiba-tiba sih Mas " ucap Sifa.
" Kamu terlalu fokus makan sehingga tidak sadar aku sudah berdiri disini dari tadi " balas Revan.
Revan berjalan menghampiri Sifa, sebelumnya ia mengambil gelas lalu mengisi nya dengan air putih, ia duduk tepat di depan Sifa. Sedangkan Sifa kembali ke nasi dihadapannya.
Hening
Hanya terdengar suara sendok dan garpu saling bersahutan, Revan memperhatikan Sifa.
" Sudah baikan ? " tanya Revan.
Sifa mengangguk.
" Hmm... "
Kembali hening. Sifa menjadi bingung sendiri dengan sikap Revan.
Kesambet setan mana lagi Mas... Tumben peduli..
Batin Sifa. Ia menjadi salah tingkah.
" Mhh... Oya .. Aku.. Mau minta maaf " ucap Revan membuyarkan keheningan.
Sifa mendongkakkan wajahnya.
" Maaf ? " ucap Sifa mengernyitkan dahinya.
Revan mengangguk.
" Untuk apa ? "
" Atas sikapku ke kamu selama ini " ucap Revan.
Sifa menghela nafas.
" Kita sudah hampir beberapa bulan bersama bukan ? Apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini ? " tanya Revan.
" Aku berharap, kamu tidak perlu mempertahankan ku selama ini " ucap Sifa.
" Apa alasannya ? "
" Ya, kita tidak saling mencintai Mas, apa lagi yang mau kamu pertahankan ? " susul Sifa.
" Bukankah kamu sudah menerima keadaan kamu sekarang ? " balas Revan.
" Ya, awalnya tapi itu membuatku sakit "
Revan menghela nafas dalam setelah mendengar ucapan dari Sifa.
" Jadi mau kamu ? "
" Lepaskan ! "
" Tapi aku gak bisa " jawab Revan.
Deg
" Kenapa ? Cinta kamu itu buat Kak Sita, bukan buat aku Mas " ucap Sifa.
" Itu dulu, sekarang nggak ! " balas Revan santai namun tegas.
" Maksud kamu ? " Sifa tidak mengerti.
" Aku ingin hidup untuk sekarang dan kedepannya, bukan untuk masa lalu dan... " ucapannya sempat terhenti.
" kamu yang akan menjadi masa depan aku .. " lanjut Revan.
Jreng
Sifa membulatkan matanya, terasa hangat telinga dan dada Sifa setelah mendengar pengakuan Revan kepadanya. Ia terpaku tak bergeming. Jantungnya menjadi bertalu-talu.
Sifa hey... Apa aku gak salah denger.. Pliss.. Ini bukan Mas Revan.. Bukan..
" Dek... " Revan melambaikan tangannya di hadapan wajah Sifa.
Namun Sifa masih diam terpaku.
" Sifa " panggil Revan lagi.
Sifa sedikit terhenyak.
" Kenapa ? Kamu gak dengerin omongan aku ya ? " Tanya Revan.
" euh.. e.. Apa ? Ya..yang mana ? " Sifa menjadi salah tingkah ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Revan menghela nafas kasar, lalu menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi.
" Ya sudahlah.. Lanjutkan saja makan malam mu " ucap Revan bangkit dari duduk nya berjalan untuk kembali ke kamar nya meninggalkan Sifa.
Sifa hanya bengong, memperhatikannya punggung Revan yang berlalu meninggalkan nya.
Sepertinya Sifa tidak akan melanjutkan makan malam nya, tiba-tiba saja perutnya menjadi kenyang.
" Apa sih maksud Mas Revan, Aneh !! " gumam Sifa merapikan bekas makan nya.
Setelah selesai Sifa langsung berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya kembali, namun sebelum ia masuk kedalam kamarnya, ia melihat Revan sedang fokus pada laptop nya duduk di sofa yang disimpan di area antara kamarnya dan kamar Revan.
Ini memang tempat ternyaman Revan jika ia sedang mengerjakan laporan rumah sakit, membuat materi untuk seminar atau hanya sekedar bersantai.
Sifa menghentikan langkahnya, ia menoleh sekilas ke arah Revan, Revan yang sadar jika Sifa berada tidak jauh dari dirinya hanya melihat dengan ekor matanya.
" Ehem " Revan berdehem membuat Sifa segera membuka pintu kamar, lalu masuk kedalam kamarnya.
Revan hanya tersenyum sekilas dan melanjutkan aktifitasnya nya, karena sesuai jadwal besok pagi Revan akan menjalani pelatihan di luar kota selama 2 minggu.
🌺🌺🌺
Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan cara vote like dan komennya ya ❤️