Dewasa🌶🌶🌶
"Apa? Pacaran sama Om? Nggak mau, ah! Aku sukanya sama anak Om, bukan bapaknya!"
—Violet Diyanara Shantika—
"Kalau kamu pacaran sama saya, kamu bakalan bisa dapetin anak saya juga, plus semua harta yang saya miliki,"
—William Alexander Grayson—
*
*
Niat hati kasih air jampi-jampi biar anaknya kepelet, eh malah bapaknya yang mepet!
Begitulah nasib Violet, mahasiswi yang jatuh cinta diam-diam pada Evander William Grayson, sang kakak tingkat ganteng nan populer. Setelah bertahun-tahun cintanya tak berbalas, Violet memutuskan mengambil jalan pintas, yaitu dengan membeli air jampi-jampi dari internet!
Sialnya, bukan Evan yang meminum air itu, melainkan malah bapaknya, William, si duda hot yang kaya raya!
Kini William tak hanya tergila-gila pada Violet, tapi juga ngotot menjadikannya pacar!
Violet pun dihadapkan dengan dua pilihan: Tetap berusaha mengejar cinta Evan, atau menyerah pada pesona sang duda hot?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Jatuh Cinta?
William terus menghajar pria itu tanpa ampun. Tinju pertamanya mengenai rahang satpam tersebut, membuatnya tersungkur ke tanah sambil mengerang kesakitan. Namun, William tidak berhenti di situ. Dengan tatapan yang dipenuhi amarah, dia menarik pria itu kembali berdiri, lalu menghantam perutnya dengan keras hingga pria itu terbatuk dan nyaris muntah.
"Berani-beraninya lo sentuh dia?!" suara William terdengar penuh amarah.
Pria itu mencoba meronta, tapi genggaman William terlalu kuat. "S-saya cuma bercanda, Pak!" katanya dengan suara panik.
"Bercanda?" William menyeringai sinis sebelum meninju wajah pria itu lagi, kali ini lebih keras. Pria itu mengaduh dan roboh ke trotoar dengan darah mengalir dari hidungnya. "Lo pikir melecehkan perempuan itu cuma bahan bercandaan?!"
Violet berdiri kaku di tempatnya, terengah-engah, tubuhnya masih gemetar setelah kejadian tadi. Namun, melihat William yang kehilangan kendali seperti ini justru membuatnya lebih takut. Dia tidak pernah melihat pria itu semarah ini sebelumnya.
"Om, cukup!" seru Violet akhirnya, berusaha menghentikan William sebelum keadaan semakin buruk.
Namun, William tidak menggubrisnya. Dia masih terus menghajar pria itu dengan membabi-buta. "Mati aja Lo!" teriaknya.
"Pak William! Ampun! Saya salah! Saya nggak bakal ngulangin lagi!" pria itu merintih dengan suara gemetar.
Namun, William tidak peduli. Tangannya kembali terangkat, siap menghantam lagi—
Sampai tiba-tiba, sepasang tangan melingkari pinggangnya dari belakang.
"Udah, Om... cukup," suara Violet terdengar lirih, penuh isakan.
Tubuh William menegang. Kepalan tangannya mengendur. Napasnya masih berat, tapi perlahan kesadarannya kembali. Setelah beberapa detik, dia menghempaskan tubuh pria itu dengan kasar.
"Pergi," katanya pada sang satpam dengan suara dingin. "Sebelum gue berubah pikiran."
Tanpa perlu diberitahu dua kali, pria itu langsung merangkak bangun dan kabur secepat mungkin, meninggalkan Violet dan William di tempat itu.
Violet masih berdiri sambil memeluk William dari belakang, tubuhnya gemetar hebat. Perlahan, William menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya. Setelah beberapa detik hening, William akhirnya menoleh ke arah Violet.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya, suaranya lebih lembut sekarang.
Violet hanya bisa mengangguk pelan.
William menghela napas, lalu berjalan mendekat. "Kamu ikut saya," katanya.
"Ke mana?"
"Ke apartemen. Saya nggak akan biarin kamu pulang sendirian setelah kejadian ini."
Violet ragu sejenak, tapi melihat keseriusan di mata William, dia akhirnya mengangguk. Lagipula, setelah semua yang terjadi, dia merasa tidak ingin sendirian.
Tanpa berkata-kata lagi, William meraih tangan Violet dan membawanya kembali ke dalam gedung.
...----------------...
Di dalam apartemen, William menuntun Violet duduk di atas sofa. Gadis itu masih tampak shock. William lalu pergi ke dapur dan kembali dengan segelas air.
"Minum dulu," katanya lembut.
Violet menerima gelas itu, tetapi tangannya terlalu gemetar hingga airnya bergoyang dan hampir tumpah. William menghela napas panjang, lalu mengambil kembali gelas itu.
"Biar saya yang pegang untuk kamu."
Violet menatap William ragu, tapi pria itu mengangguk meyakinkan. Akhirnya, Violet meneguk airnya dengan bantuan William.
"Sudah lebih tenang?" tanya William, nadanya lebih hangat.
Violet mengangguk, tapi kemudian matanya menangkap sesuatu. "Om, tangan Om berdarah!" katanya panik.
William menoleh sekilas dan terkekeh kecil. "Ah, ini bukan darah saya."
Violet menghela napas lega, tapi tetap terlihat khawatir. "Om, kenapa Om menghajar dia sampai segitunya?"
Alis William bertaut. "Di situasi seperti sekarang pun kamu masih mau membela dia?"
"Bukan begitu, Om." Violet menggeleng cepat. "Gimana kalau orang itu menuntut Om karena sudah menghajarnya?"
William terkekeh ringan. "Mana mungkin dia berani menuntut saya? Sebelum sempat menuntut, dia sudah ditangkap polisi duluan."
Violet mengerutkan kening. "Gimana bisa?"
William menyandarkan punggungnya santai. "Purple, asal kamu tahu, keamanan di kompleks ini sangat ketat. Ada ratusan CCTV tersembunyi yang memantau setiap sudut, tapi nggak semua orang tahu lokasinya. Satpam sialan itu mungkin orang baru, jadi dia nggak sadar kalau tindakannya direkam. Dan setiap detik, selalu ada orang yang mengawasi CCTV. Jadi mereka bisa langsung bisa langsung bertindak begitu melihat kejadian tadi.
Violet terperangah kagum. "Wow... canggih banget."
"Itulah privilege tinggal di kompleks elit," jawab William santai.
Violet mengangguk pelan, merasa lebih tenang. "Omong-omong, apa Om juga melihat aku dari CCTV dan langsung datang menolong?"
""Nggak." William menggeleng. "Saya niatnya memang mau menyusul kamu. Kebetulan aja saya melihat kamu sedang diganggu sama si brengsek itu." Tangan William terkepal saat kembali mengingat kejadian tadi.
"Nyusul saya?" Violet mengerutkan dahi. "Emang Om mau ngapain nyusul saya?"
William terdiam sejenak. "Ah... itu..."
Violet menatap William dengan mata penasaran. William menelan ludah. Tatapan mata violet seolah menghisapnya ke dalam lubang hitam penuh pesona. Dia buru-buru memalingkan muka.
"Ini kan gara-gara kamu."
Violet semakin mengerutkan kening. "Hah? Kenapa jadi gara-gara aku?"
William mendesah pelan sambil menyibak rambutnya ke belakang. "Gara-gara air jampi-jampi sialan itu, saya jadi nggak tega buat marah sama kamu, dan khawatir saat membiarkan kamu pulang sendirian,"
Mata Violet langsung melebar. "Om, memang efek airnya benar-benar separah itu?"
"Iya! Separah itu!" William menggerutu. "Parah banget sampai tiap malem saya mimpi tidur sama ka—" Ucapannya terhenti mendadak. Matanya membesar sadar hampir keceplosan.
"Hah? Mimpi apa Om?" Violet langsung mundur. "Ih, mesum!"
"Heh, saya nggak mesum ya! Ini gara-gara air jampi-jampi sialan itu! Kamu pikir saya nggak tersiksa, apa? Nanti kalau penawarnya sudah datang, saya nggak akan merasa terganggu lagi dan hidup saya akan tenang seperti semula!"
Violet menipiskan bibirnya. "Jadi, sekarang om kalau liat aku jadi deg-degan gitu?"
Pipi William langsung memerah mendengar pertanyaan frontal violet.
"Beneran om?" William yang tak menjawab pertanyaannya malah membuat Violet makin penasaran. "Jadi sekarang om jatuh cinta sama aku?"
William berusaha menjauh dari violet, tapi violet terus mendekatinya. Akhirnya William menoleh ke arah violet dengan tatapan tajam.
"Iya, saya memang jatuh cinta sama kamu dan pengen mencium kamu sekarang juga! Gimana? Puas kamu?!"
...****************...
Bayangin seorang William dengan wajah begini ngomong begitu ke kalian🤭
kalian mau jawab apa coba?
Sebelumnya, author mau ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa bagi para pembaca yang muslim 🥰🙏
Terus.. untuk menjaga kekhusyukan para pembaca dalam beribadah, mulai besok bab selanjutnya akan update setelah buka puasa. Jadi tenang aja, meskipun ada adegan plus plusnya, ga akan bikin batal 🤭
Terimakasih atas perhatian nya...
Dukung terus karya ini dengan kasih like, komen, gift, subscribe, dan lain-lain.
Terimakasih! ❤