Suaminya berkhianat dan selalu mengabaikan nya, Calista malah tak sengaja bermalam dengan seorang Office Boy hotel tempat dia dijebak.
"Kamu masih perjaka?" tanya Calista pada lelaki tampan yang tidur dengan nya.
"Ya, Nona."
"Baiklah, aku akan bertanggung jawab! Kita akan jadi kekasih!" tutur Calista dengan serius, dia adalah orang yang selalu bertanggung jawab pada hal yang telah ia lakukan.
"Tapi saya hanya seorang Office Boy miskin."
"Aku nggak perduli latar belakang mu, aku hanya harus bertanggung jawab telah mengambil keperjakaan mu! Aku orang yang berpikiran sangat kuno, dimana keperawanaan atau keperjakaan sangat penting!"
Siapa sangka, ternyata lelaki itu bukan lah seorang OB biasa... akan tetapi seorang Bos besar misterius yang menyembunyikan identitas aslinya dari Calista dan pria itu mencintai Calista dengan ugal-ugalan!
Bagaimana rasanya dikhianati dan diabaikan suami lalu diceraikan, namun malah dicintai secara ugal-ugalan oleh kekasih misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 13.
Calista tak menghiraukan keramahan Andrean, dia mendorong tubuh lelaki itu agar bisa masuk ke dalam. Saat melihat ibu mertuanya, dia tersenyum lalu mendekat ke sofa.
"Assalamualaikum, Ibu. Gimana kabar Ibu, sehat?" Calista menyalami sang ibu mertua lalu memeluk wanita setengah baya itu dengan erat.
"Waalaikumsalam, Neng. Aduh, tambah cantik mantu Ibu. Alhamdulillah Ibu sehat, tapi Bapak..."
Keduanya berpelukan sebentar, lalu Calista menoleh ke arah brankar dan melihat sang Ayah mertua belum siuman.
"Bapak belum bangun, Bu."
"Belum, kata Dokter serangan nya ringan tapi karena usia Bapak sudah uzur jadi tetap berat."
Calista menggenggam tangan Ibu mertuanya, "InsyaAllah Bapak bentar lagi bangun dan sehat lagi, Bu. Jangan capek-capek bilang ke Bapak nanti."
"Coba Eneng yang bilang ke Bapak, kalau Neng yang bilang... Bapak suka nurut."
Calista tersenyum lemah, lalu menggeleng. "Maaf Bu, Calista nggak bisa sering-sering ketemu Ibu Bapak dan datang ke Bandung lagi. Tapi nanti, Calista sesekali telepon Ibu sama Bapak ya."
"Loh kenapa Neng? Kami buat salah apa sama Eneng?"
"Apa Bang Andrean nggak bilang apa-apa sama Ibu tentang pernikahan kami yang sudah berakhir."
"Lista... kita belum resmi bercerai. Hari ini aku akan menarik pengajuan dokumen cerai kita ke pengadilan agama." Ucap Andrean dengan entengnya.
"Kenapa kamu ingin tarik lagi? Sepertinya dokumen cerai pun sudah diproses, kamu nggak bisa tarik kembali." Calista tak merasa yakin tapi mudah-mudahan memang sudah di proses.
"Aku yakin belum, jangan bicarakan tentang cerai di depan Ibu sama Bapak, bisa?" Andrean tampak kesal, ia kira Calista tak akan langsung membicarakan masalah perceraian pada ibunya.
"Justru itu alasan aku datang kesini, selain untuk menjenguk Bapak. Aku ingin menjelaskan hubungan kita pada Ibu dan Bapak. Bahkan ibu harus tau... kalau kamu udah punya penggantiku dan akan menikah sebentar lagi karena selingkuhan kamu sedang hamil!" Calista bahkan tak ingin menyembunyikan apapun dari mertuanya.
"Apa?! Ya Allah, Nak!!!" Ibu Andrean menatap marah pada anaknya. "Kamu bilang Calista yang selingkuh, ternyata kamu yang mengkhianati menantu Ibu!!!"
"Kenapa Ibu lebih percaya padanya, Bu? Calista hanya sedang bingung, aku nggak pernah khianati dia!" Andrean menatap tajam Calista.
"Tentu aja Ibu lebih percaya sama mantu Ibu, karena selama ini dia lah yang selalu merawat Ibu sama Bapak. Bertahun-tahun ini sejak Calista jadi pacar kamu... dia yang menyayangi kami. Sebagai anak, kamu nggak pernah ada untuk kami! Bukan kali ini Bapak mu dilarikan ke rumah sakit, beberapa waktu lalu Bapak terjatuh di kebun dan kakinya bengkak! Calista langsung datang ke rumah dan bawa Bapak ke rumah sakit. Padahal Bapak hanya sakit di kakinya dan bisa sembuh dengan diurut... tapi Calista sangat mencemaskan Bapak mu! Apa lagi yang kurang dari istrimu sampai kamu berselingkuh?! Ya Allah..." Ibu Andrean mulai menangis merasa sangat malu dengan kelakuan anaknya. Melihat air mata ibu mertuanya, hati Calista ikut merasa sakit.
"Bu, jangan begini. Calista udah nggak apa-apa, sekarang udah ikhlas karena kami berdua sudah berbeda jalan." Calista mengussaap air mata ibu mertuanya dengan saputangan.
"Maafin Ibu Neng, Ibu nggak bisa menjadikan anak Ibu jadi orang baik. Ibu malu, sangat malu sama kamu..."
"Bu, Calista akan tetap jadi putri Ibu. Di masa depan, meski tanpa Andrean... Calista akan tetap menyayangi Ibu." Calista sekali lagi memeluk Ibu mertuanya untuk berpamitan. "Calista harus pergi, salam ke Bapak. Jaga kesehatan Ibu, ya."
Calista melepaskan genggaman tangannya pada sang ibu mertua, lalu berdiri dan berjalan ke arah ranjang rumah sakit. "Bapak, Calista doakan cepat sembuh. Maafin Calista ya, nggak bisa temenin Bapak sampai Bapak siuman."
Setelah merasa cukup dengan tujuan kedatangan nya, wanita itu menghembuskan nafas panjang lalu berbalik menuju pintu keluar dan pergi.
Namun Andrean menyusul Calista keluar, di lorong pria itu menghalangi jalan Calista, "Aku nggak akan biarin kamu pergi, Lista! Ayolah, sayang... aku akan memperbaiki sikapku dan masalah Adele, aku akan menikahinya sampai dia melahirkan anak kami. Setelah anak itu lahir, aku akan menceraikan nya. Kamu tunggu aku, ya."
Calista seperti sedang menatap orang gila, "Maksudmu kita tetap bercerai dan kamu akan menikah sama Adele secara resmi. Lalu, kamu akan bercerai dengannya nanti setelah anak kalian lahir dan menikah lagi dengan ku?"
"Benar, itu maksud ku. Jadi tunggu aku sampai Adele melahirkan, ya. Aku janji akan kembali padamu..." Andrean tersenyum lalu mencoba meraih tangan Calista tapi wanita itu mundur dengan cepat.
"Jangan pernah berani menyentuhku lagi! Dasar laki-laki nggak waras...! Kau pikir aku sudi dengan ide gila mu! Kau kira hanya kau laki-laki di dunia ini! Setelah aku resmi bercerai darimu, aku akan segera menikah lagi...! Kau pikir selamanya hanya ada kamu di hatiku! Tidak... Andrean! Sudah lama, nama mu sudah tergantikan dalam hatiku!"
"Ahhhh! Jadi benar! Kau selingkuh sama si bajingaannn Bara! Iya...! Wah wah! Hebat sekali kamu!" Andrean menatap Calista nyalang.
Menghadapi amukan Andrean, Calista tak gentar dan menatap tajam mantan suaminya itu.
"Aku akan mengirim sesuatu padamu, itu adalah rekaman Cctv saat malam anniversary kita. Aku nggak pernah selingkuh, tapi wanita selingkuhan mu itu yang menjebak ku dan dia lah yang membuatku berpaling darimu! Dan laki-laki itu... bukan Bara!"
Calista mengirim rekaman Cctv pada ponsel Andrean, pria itu langsung membukanya dan terbelalak mendengar perintah Adele dalam rekaman untuk menjebak Calista.
"Wanita brengseekk itu...! Beraninya dia ingin menjebak mu!" Andrean menjambaaak rambutnya sendiri.
Calista tersenyum sinis. "Adele setengah berhasil, aku memang tidur dengan pria lain tapi bukan dengan orang suruhan wanita jalaaang itu! Tapi... tentang perselingkuhan ku, itu bukan salahku semuanya! Salahkan saja wanita kesayangan mu itu!"
Tak ingin berurusan lagi dengan Andrean, Calista kembali melanjutkan langkahnya pergi dari rumah sakit.
Di dalam mobil, wanita itu beberapa kali mengatur nafasnya agar tenang. Rasa pahit ia rasakan, karena harus kehilangan sosok mertua yang sangat baik padanya.
"Maaf Ibu, Bapak." Calista menggenggam setir lalu melajukan mobilnya pergi dari rumah sakit.
Kisahnya bersama Andrean kini telah usai...
Setelah Calista menghilang dari pandangan, Andrean duduk termenung di kursi di lorong. Tubuhnya terasa lemas setelah Calista pergi, dan ia malah mendapatkan fakta jika Calista sudah tidur dengan laki-laki lain selain dirinya dan itu adalah ulah Adele. Kebencian tiba-tiba mengakar dalam hatinya pada Adele, ia begitu menyesal berhubungan dengan wanita licik seperti Adele.
"Tuan Andrean."
Tiba-tiba seseorang datang, Andrean mengangkat kepalanya dan menatap orang itu. "Apa yang kau dapatkan?"
"Nona Calista tinggal dengan seorang pria, saya mengikuti lelaki itu dan dia pergi dari apartemen menuju sebuah perusahaan. Tapi saya tidak bisa masuk ke dalam perusahaan jadi tidak tahu siapa dia."
"Perusahaan apa?"
"Grup Pratama."
"Pratama?" Andrean terkejut.
"Bukannya itu grup yang menginvestasikan dana pada proyek Calista? Kalau tak salah, nama investornya adalah Ravindra. Apa dia selingkuhan Calista?! Pantas saja...!!" Andrean bangun dari duduknya dengan wajah emosi, pantas saja Calista menolaknya karena wanita itu mendapatkan pria yang lebih kaya darinya.
Amarah menguasai Andrean, ia tak rela jika Calista mendapatkan pria yang lebih segalanya dari dirinya. Dia akan mendapatkan kembali Calista bagaimana pun caranya!
*
*
*
Di perusahaan, Bram sedang membuat laporan jika ada yang memata-matai sang Bos.
"Jadi dia mengikuti ku sampai kesini dan langsung melapor pada Andrean?"
"Iya, Tuan."
Ravindra tersenyum miring, "Biarkan saja, aku ingin tahu apa yang akan dia perbuat."
"Baik, Tuan. Tapi saya akan tetap mengawasi nya."
"Kerja bagus, Bram. Aku akan memberikan mu bonus bulan ini."
Senyum Bram melebar, "Terimakasih, Tuan."
"Sekarang Calista dimana, masih di rumah sakit? Andrean tak menyakiti dia, kan?"
"Aman, Tuan. Anak buah kita terus menjaga Nona Calista, sekarang Nona menuju salon. Sepertinya bersiap untuk nanti malam, itu adalah acara makan malam untuk pertemuan seluruh kru dan tim produksi bersama para artis yang akan ikut dalam projek ini."
"Hm, malam ini sepertinya dia akan sibuk. Kalau begitu, tetap lindungi dia dan laporkan padaku."
"Baik, Tuan."
"Aku ingin memberinya gaun yang paling mewah dan mahal untuk nanti malam, tapi dia pasti curiga padaku kan, Bram?"
"Pasti Nona Calista akan curiga, Tuan. Kecuali..."
"Kecuali apa?" Ravindra menaikkan sebelah alisnya.
"Saya punya ide, bagaimana kalau Tuan berikan gaun itu pada pihak produksi dan bilang pada mereka agar gaun itu diberikan pada Nona Calista dan mengatakan jika itu adalah pemberian dari salah satu sponsor."
Ravindra tersenyum lebar, dia menepuk bahu asisten nya. "Kau selalu pintar, aku naikkan bonusmu jadi 2 kali lipat!"
Bram membusungkan da da merasa bangga telah membantu sang Bos dengan kepala pintarnya.
Ah, paparazzi emang menyebalkan 🤔😅
Pasti dia pikir, Bara ada hubungan dengan Calista 😅