NovelToon NovelToon
My Beloved Bastard

My Beloved Bastard

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Perjodohan / Tamat
Popularitas:215.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Freya Kara Alaika

Melati, seorang gadis berumur 15 tahun yang menjalani hari-harinya sebagai anak homeschooling dan murid Starlight Bimbel. Hidup berdua bersama sang ayah tak membuatnya merasa kekurangan kasih sayang. Dia juga memiliki sahabat bernama Tita.

Suatu malam, Melati terpaksa harus mendatangi tempat terkutuk yang sering disebut club untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Melati bertemu seorang pria dewasa yang membuat hidupnya berubah drastis.

Rupanya, malam itu menjadi awal mula dari kejutan-kejutan yang menghampirinya di kemudian hari. Puncaknya adalah, saat Melati terpaksa bersedia menjadi calon istri dari seseorang yang ia beri julukan 'Om-om Bastard'.

Problema hidup yang dialami seorang Putri Ayla Melati tidak cukup sampai di sana. Begitu banyak rintangan yang terus-menerus mendatanginya.

Bagaimana kelanjutan cerita Melati? Siapa 'Om-om Bastard' ini sebenarnya? Cari tahu kisah lengkapnya di novel "My Beloved Bastard".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Kara Alaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Setelah melalui detik-detik yang panjang, akhirnya aku bisa kembali menghirup segarnya udara dalam rumahku. Meski masih ada bekas luka sayatan di pipiku.

Karena kantuk masih ingin berkeliaran dan belum hinggap di pelupuk mata, aku memilih untuk menonton video trik-trik asyik matematika melalui YouTube. Satu jam kemudian, terdengar ketukan yang bersumber dari pintu kamarku. Kukira itu papa yang baru pulang kerja dan merindukan putri cantiknya ini. Tapi ternyata, aku menangkap sosok Pak Glenn begitu membuka pintu.

Baru saja aku akan membuka suara, Pak Glenn terlebih dulu menyela dengan mengulurkan sebuah ponsel—yang kuduga miliknya—seraya berkata, "Papa kamu."

"Papa?" gumamku yang dijawab anggukan oleh Pak Glenn. Dengan ragu, aku meraih ponselnya. Sebelum kutempelkan layar benda pipih itu ke daun telinga, aku menyempatkan diri untuk melihat nama si penelepon.

Bola mataku membulat sempurna. Apa-apaan om-om bastard ini?! Bisa-bisanya, dia menamai kontak papaku dengan nama 'Calon Mertua'. Hah! Gila!

Ummm ... tapi ... kalau di pikir-pikir, memang benar, sih. Duh! Tahu, ah!

"Nunggu apa?" Suara Pak Glenn membuyarkan lamunanku.

Aku segera menempelkan layar ponsel ke daun telinga. "Hallo?"

"Hallo, Mel?" Benar, ini suara papa. "Kata Glenn, kamu sudah pulang, ya?"

"Iya, Papa di mana sekarang?"

"Maaf banget, ya, Sayang. Siang tadi, Papa mendadak harus ke luar kota. Masih urusan yang kemarin, Papa baru bisa menanganinya kembali setelah memastikan kamu aman." Jeda sejenak. Jadi ... Pak Glenn akan tetap di sini selama papa pergi? "Bagaimana keadaan kamu?"

"Udah baikan. Papa pulang kapan?"

"Belum tahu, Mel. Mungkin satu atau dua minggu."

"Aku kangen Papa," ucapku, spontan. Aku memang merindukannya. Sangat.

Terdengar tawa renyah di seberang sana, membuat rinduku pada papa menjadi berlipat ganda. "Papa juga kangen kamu, Sayang. Kamu baik-baik, ya, sama Glenn. Masih ada kerjaan yang harus Papa selesaikan hari ini."

Aku menghela napas berat, tidak rela dengan kenyataan yang mengharuskanku untuk terpisah dengan papa selama beberapa hari. "Oke."

"Boleh kasih HP-nya ke Glenn?"

Pandanganku lantas beralih pada seorang lelaki yang masih setia berdiri di ambang pintu kamarku. Saat itu, aku baru menyadari tatapannya yang seakan terkunci padaku.

"Ya, Pa?" ucap Pak Glenn sesaat setelah menerima ponselnya kembali.

Lagi-lagi, aku dibikin terpana. Pa? Pa?! Papa?!

"Siap, Pa ... Pasti! ... Sama-sama."

Panggilan terputus. Saat itu juga, aku melisankan apa yang sedari tadi mengganjal dalam benakku. "Om panggil Papa saya apa?"

Pak Glenn memfokuskan pandangan ke arahku, lalu menjawa, "Papa. Kenapa? Dia akan menjadi Papa saya juga, kan?"

Aku hanya bisa memanyunkan bibir mendengar jawabannya yang memang tepat. Tiba-tiba, jari telunjuk Pak Glenn mendarat di permukaan bibirku, membuatnya kembali normal.

"Jangan menggoda saya, Melati." Aku menatapnya heran. Menggoda? Menggoda apa? Siapa pula yang berniat menggoda om-om bastard macam dia? Hih!

Aku tak tahu apa yang baru saja terjadi, hingga menyebabkan Pak Glenn tertawa renyah. Dia mengacak rambutku pelan. "Sana masuk. Selamat malam, Calon Istriku."

Aku memutar bola mata malas. Perutku terasa mual mendengar dua kata terakhir itu. Sok manis!

Tanpa berniat mengatakan apapun, aku lantas memasuki kamar dan menutup pintu. Belum sempat pintu kamarku tertutup sempurna, tangan kekar Pak Glenn mengadangnya.

"Apa?" tanyaku, bingung.

"Kamu nggak mau balas ucapan selamat malam saya?"

Lagi-lagi, aku memutar bola mata malas. Enggan membiarkannya terus menganggu, kuturuti saja permintaannya.

"Selamat malam."

Aku segera menutup pintu kamarku kembali. Namun, dorongan yang kuberi tak merubah posisinya. Ternyata, Pak Glenn masih di sana.

"Apa lagi?!" erangku, frustasi.

"Coba bilang, 'selamat malam, Calon Suamiku'."

Ishhhh!!! Banyak maunya, ya, nih, om-om!

"Selamat malam, Calon Suamiku," ucapku pada akhirnya, terpaksa!

"Yang tulus, dong! Pakai senyuman," protesnya.

Oh Godddd!!!

Aku menghela napas sejenak, lalu kutarik kedua sudut bibirku dengan sengaja. Kuulas senyum manis—palsu—terbaik yang kupunya. "Selamat malam, Calon Suamiku." Tuh! Suara menjadi terdengar menggelikan.

Pak Glenn tersenyum puas. "Good job!"

***

Keesokan harinya, jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 10.07. Dahiku berkerut heran, mengapa tidak ada yang membangunkan aku? Apalagi, ini hari Kamis, jadwalku ke Starlight Bimbel.

Perlahan, aku bangun dari kasur. Usai mengumpulkan kesadaran, kulangkahkan kaki keluar kamar, menuruni anak tangga, lalu menuju dapur. Perutku terasa lapar.

Sesampainya di dapur, ada pemandangan yang membuat langkahku seolah direm mendadak. Apa kesadaranku belum sepenuhnya pulih? Sampai-sampai indra pengelihatanku salah menafsirkan bayangan. Ah! Mataku perlu dikucek-kucek.

Namun, hingga kucekan ketiga dan mataku sudah terasa panas, pemandangan di depan memang tidak salah.

"Ngapain berdiri di situ?"

"Om ngapain?" tanyaku yang masih berada di titik awal.

"Masak," jawabnya santai. Tangannya tampak mematikan kompor terlebih dahulu, kemudian melangkahkan kaki ke arahku. "Kenapa, sih? Kaget gitu kayaknya."

Telapak tangan kekarnya mendorong kedua bahuku hingga pantatku bersentuhan dengan permukaan salah satu kursi di samping meja makan. "Melati?"

"A-hah?"

"Kenapa?"

"Om ngapain?" Bodoh! Dia, kan, sudah menjawabnya tadi.

Benar saja, akibat tingkah absurd yang kulakukan, Pak Glenn tergelak. "Tunggu sebentar." Dia bergegas kembali ke dapur.

Tak lama kemudian, Pak Glenn kembali, dengan dua piring nasi goreng di tangan kanan dan kirinya.

"Di mana Mbak Ning?" tanyaku saat kami tengah duduk bersebelahan.

"Lagi nyuci di belakang."

"Nggak masak?"

"Kan, sudah ada saya yang masak."

Aku menatap sepiring nasi goreng di hadapanku dengan was-was. Dari penampilannya, sih, oke. Sangat layak untuk dimakan. Mungkin, cita rasa pedasnya saja yang kurang. Ah! Bukan mungkin. Itu pasti!

Dia tidak mencampurkan zat-zat berbahaya ke dalam makanan ini, 'kan? Racun, mungkin? Bisa saja Pak Glenn ingin membawaku ke suatu tempat tanpa mendapat berontak dariku, maka dari itu, Pak Glenn meracuniku terlebih dahulu. Atau, obat tidur yang paling ringan. Hih. Ngeri.

"Tenang aja, saya nggak ada niat meracuni kamu, kok," ucapnya, seolah mendengar suara hatiku.

Kualihkan pandangan ke arah Pak Glenn. Menatapnya yang tampak begitu lahap menikmati nasi goreng miliknya.

"Apa?" tanyanya, merasa risih sebab kutatap sedemikian intens. "Kamu nggak percaya? Saya bisa jamin, Melati. Makan saja."

"Nggak laper," sahutku.

Baru saja kata-kata itu keluar dari mulutku, tiba-tiba ....

'Kruyukkkk!!!'

Ihhh!!! Perut kurang ajar! Bisa-bisanya mengkhianati majikan sendiri. Awas, ya! Kutusuk baru tahu rasa!

Pak Glenn terbahak-bahak, membuatku lantas menghujamnya dengan tatapan tajam. "Itu yang kamu bilang nggak lapar?"

Om-om berkaos warna merah polos lengan panjang itu meletakkan sendoknya, lalu berganti mengambil pada piring di hadapanku, tak lupa dengan sesuap nasi goreng yang siap mendarat di dalam mulut.

Lah, nasi goreng milikku mau diembat juga?

"Buka mulutnya." Oh-oh, dia berniat menyuapiku ternyata. Kutatap manik matanya lekat-lekat, memastikan bahwa yang akan masuk sistem pencernaanku terjamin aman. Pak Glenn mengangguk.

Alih-alih membuka mulut untuk menerima suapannya, aku mengambil alih sendok dari tangannya dan melahap nasi goreng itu. Enak!

"Dasar Melati," gumamnya sesaat sebelum kembali melahap nasi goreng miliknya.

Tanpa menggubris si om-om bastard, aku menikmati nasi goreng di hadapanku dengan santai. Lalu, aku teringat sesuatu.

"Kenapa Om nggak bangunin saya? Hari ini seharusnya saya ke Starlight, 'kan?"

"Saya kira, kamu masih perlu banyak istirahat." Itu bukan penawaran, pertanyaan, atau semacamnya, melainkan perintah.

Aku hanya manggut-manggut sebagai balasan.

Sepuluh menit kemudian, nasi goreng buatan Pak Glenn tandas tak bersisa. Tak kusangka, seorang om-om bastard sepertinya bisa memasak juga.

"Mel?"

Aku menoleh. Tubuhku menegang begitu menyadari betapa dekatnya jarak antara wajahku dan Pak Glenn. Dia semakin mendekat.

O-ow! Apa yang akan om-om bastard ini lakukan?

Refleks, aku memejamkan mata rapat-rapat, bersiap merasakan sensasi yang—

"Mau banget saya cium?"

*

*

*

*

*

HI, GUYS!

MAU TAU GAYA SI OM-OM BASTARD KALAU LAGI NGANTOR NGGAK?

NIH, AKU KASIH PENAMPAKANNYA:

GIMANA? KEREN, YA? IYA, SIH, KEREN. APALAGI KALAU SENYUM SELEBAR ITU. SAYANGNYA, SENYUM YANG KAYAK GITU CUMA BUAT NENG MELATI, HEHEHE.

ANYWAY, MAKASIH BANYAK UNTUK KALIAN YANG UDAH DUKUNG AKU. JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, YA!

See you! :)

1
Jaenah Susanti
mdh²n Mawar yg jadi pendonor nya..
Syamsimar Burhan
Assalamualaikum,...
Kpn lanjutannya..???
Di tunggu lho....😊😊
💋🅲🅷🆈💋
jadi senyum2 sendiri😊😊😊
💋🅲🅷🆈💋: semangat othor💪
total 2 replies
💋🅲🅷🆈💋
visualnya uwwu banget😍😍😍
💋🅲🅷🆈💋
sempat degdegan🙄🙄🙄
Yanti Yulianti
cigogoy
Yanti Yulianti
bubigo
Akifah Naila
lanjuttttt
Susi Lanita
lanjut..
Susi Lanita
antara O'on dan berhati tulus sepertinya beda tipis, kan ada keamanan bandara, atau dilaporkan ke informasi, gmn klu dituduh penculikan anak adeh.. melati melati..
Shanum Azkadina
lanjut donk seru loe
Susi Lanita
pipi melati yg disayat, tdk berbekas kah?
ngilu bayang kan nya..
Woro Aji W
pas bgt visualnya tor
Rahmi Miraie
bolehlah
Way-naviza
lanjut... 👍
pecinta time travel
boleh s2 nya
Alifia C.T: Ditunggu ya. :b
total 1 replies
Rahmi Miraie
happy ending dong ?
pecinta time travel
isssh author masa sad ending
Hissiz
Thor jngan dibikin sad ending😭 Up thor semangat💪
Alickha Senja
nex thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!