Dikhianati kekasih dan juga sahabat sendiri adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang Gea Anastasya. Gadis 24 tahun itu sangat syok melihat secara langsung pengkhianatan dari dua orang yang sangat ia percayai.
Rasa kecewa Gea membuatnya mati rasa terhadap pria manapun, sampai akhirnya ia tak sengaja bertemu dengan Duda anak satu yang berhasil mematahkan janji Gea pada dirinya untuk tidak membuka hatinya kepada siapapun.
Mau tau cerita selanjutnya? Langsung klik subscribe yaaa!!! ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 13 : Terima Kasih
“Tante...” Ikhsan atau biasa dipanggil Ican memanggil Bunga seraya menunjuk ke arah buku cerita berwarna hijau.
Mendengar namanya dipanggil, Bunga langsung menghampiri Ican dan melihat sesuatu yang ditunjuk oleh Ican.
“Ican mau Tante membacakan buku dongeng ini?” tanya Bunga seraya mengambil buku dongeng tersebut.
“Mau...” Ican nampak antusias dengan buku dongeng yang sudah berada pada Bunga.
Bunga menoleh ke arah jam di dinding untuk memastikan bahwa sudah waktunya Ican tidur.
Sebelum tidur, Bunga meminta Ican untuk mengambil air wudhu terlebih dulu. Bunga sengaja menerapkan hal tersebut agar Ican terbiasa melakukannya.
Setelah berwudhu, Ican perlahan naik ke tempat tidur dan bersiap mendengarkan Bunga mendongeng untuknya.
Bunga mulai mendongeng dan di pertengahan cerita, Ican akhirnya terlelap seraya memeluk guling.
Melihat Ican sudah tertidur, Bunga menghentikan bacaannya dan memperhatikan wajah Ican yang sangat mirip dengan Almarhumah Yani, Kakak kandung Bunga.
“Mbak pasti sangat bahagia disana, karena semakin besar Ican maka semakin mirip pula wajahnya dengan Mbak Yani,” ucap Bunga bermonolog.
Tanpa sadar Bunga meneteskan air matanya, gadis cantik berhati lembut itu sangat menyayangi keponakannya dan ingin selalu berada di dekat keponakannya yang lucu itu.
Bunga segera mengusap air matanya dan melanjutkan bacaannya hingga selesai.
“Ican, Tante tinggal ya,” ucap Bunga lirih sebelum meninggalkan Ican sendirian.
Biasanya Bunga dan Ican tidur dikamar yang sama. Akan tetapi, sudah 3 hari itu mereka tidur terpisah karena Bunga sedang ada hafalan Al-Quran dan Bunga tidak ingin mengganggu tidur Ican.
“Apa Ican sudah tidur?” tanya Ibu Maya.
“Alhamdulillah sudah, Ibu. Ibu kenapa belum tidur? Apa Ibu ingin makan sesuatu? Bunga masakin ya,” ucap Bunga yang bersiap pergi ke dapur.
“Ibu nggak lapar Bunga, Ibu tadi ingin melihat Ican dan ternyata Ican sudah tidur.”
“Alhamdulillah Ican sudah tidur, kalau Ibu mau melihat Ican silakan. Bunga mau ke kamar, mau meneruskan hafalan Bunga,” balas Bunga yang hendak pergi ke kamarnya.
Keesokan hari.
Hasan datang ke rumah mertuanya untuk menjemput putra kecilnya yang sudah beberapa hari menginap.
Melihat Hasan datang, Ican dengan kaki kecilnya berlari menghampiri Hasan secepat mungkin.
“Papa!!”
Hasan segera menggendong putra kecilnya dan mendekap tubuh kecil itu dengan penuh kerinduan.
Hasan sangat berterima kasih kepada orang tua dari Almarhumah istrinya dan juga Bunga, adik iparnya yang telah merawat Ican dengan baik.
Ibu Maya dan Ayah Roni mempersilakan Hasan untuk duduk sejenak sembari minum teh bersama, akan tetapi Hasan tidak bisa berlama-lama dan meminta maaf karena ia harus kembali ke restoran.
Sebelum pergi, Bunga memberikan bekal makanan kesukaan Ican kepada Hasan.
“Mas Hasan, Ican sangat suka makan masakan ini, tolong perhatikan makan Ican ya Mas,” ucap Bunga pada Kakak iparnya.
Hasan mengucapkan terima kasih kepada Bunga yang selalu memperhatikan Hasan dengan baik.
Hasan kemudian pamit membawa Ican bersamanya.
Bunga menatap mobil berwarna hitam itu dengan berkaca-kaca dan saat itu juga Ibu Maya tahu kalau rasa sayang Bunga terhadap Ican bukan hanya sebatas sayang Tante kepada keponakannya.
“Bunga, Ibu mau bicara berdua dengan kamu sebentar saja,” ucap Ibu Maya.
“Ibu mau bicara apa? Soal kuliah Bunga?” tanya Bunga memastikan.
“Soal kamu dan Hasan. Ibu tahu kamu sangat sayang dengan Ican. Apa boleh Ibu tahu soal perasaan kamu dengan Hasan?” tanya Ibu Maya penasaran.
Bunga tak mengira kalau Sang Ibu menanyakan tentang perasaannya terhadap Kakak iparnya. Bunga pun bingung harus menjawab apa dan justru mengalihkan pembicaraan mereka ke arah lain.
“Bu, hari ini cuaca sangat cerah. Kita keluar yuk Bu, pergi ke kedai Mbak Yul. Bunga rindu dengan es campur di kedai Mbak Yul,” ujar Bunga yang terus mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ibu Maya menyadari kalau Bunga tak ingin membahas hal sensitif tersebut. Saat itu juga Ibu Maya mengiyakan dan bergegas pergi ke kedai yang dimaksud Bunga.
***
Hasan telah sampai di restoran miliknya dan membawa Ican dengan cara menggendong Ican agar segera sampai ke ruangan kerja Hasan.
Melihat Hasan datang dengan putra kecilnya, para pelayan yang bekerja di restoran miliknya menyapa Ican dengan senyum terbaik mereka.
Ican tersenyum lebar mendapat sapaan dari orang-orang yang bekerja pada Papanya tercinta.
“Maem..” Hasan menunjuk ke arah bekal makanan yang sebelumnya telah disiapkan oleh Bunga untuk dirinya.
“Ican lapar ya, Papa suapin ya Nak.” Hasan mengambil bekal makanan tersebut dan perlahan membukanya.
Hasan tersenyum samar melihat isi bekal nasi tersebut dan mulai menyuapi Hasan dengan hati-hati.
“Ayo do'a dulu,” ucap Hasan agar Ican berdo'a terlebih dulu sebelum menikmati makanannya.
Terima kasih Bunga, kamu sangat baik dan begitu memperhatikan Ican. Semoga kebaikanmu ini Allah yang membalasnya. (Batin Hasan)
“Udah,” ucap Ican yang sudah cukup menikmati makanannya.
“Ayo baca do'a setelah makan,” tutur Hasan dan mengangkat kedua tangannya, kemudian melafazkan do'a setelah makan agar diikuti oleh Ican.
Setelah itu, Ican meminta Papanya tercinta untuk menemaninya bermain. Akan tetapi, Hasan tidak bisa karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.
“Ican main sendiri dulu ya. Kalau Papa sudah selesai dengan pekerjaan Papa, Papa pasti akan menemani Ican main,” balas Hasan dengan nada selembut mungkin agar Ican mau mengerti.
Ican tak menjawab, ia hanya diam dengan mata berkaca-kaca. Ican hanya ingin bermain dengan ditemani oleh Hasan.
Hasan mengalah, pria itu tersenyum lebar dan pada akhirnya menemani Ican bermain di area kolam ikan bersama dengan Ican.
Ican sangat senang dan menarik jari kelingking Papanya seraya berlari kecil ke arah kolam ikan.
“Boleh?” tanya Ican yang ingin masuk ke dalam kolam ikan yang kebetulan baru kemarin dibersihkan.
“Ican mau masuk ke dalam kolam?” tanya Hasan memastikan.
“Iya Papa,” jawabnya yang terdengar begitu menggemaskan di telinga Hasan.
Hasan tak langsung menjawab, pria itu melihat ke arah kolam untuk memastikan apakah ada ikan atau tidak.
Kolam ikan itu rupanya belum diisi oleh ikan dan kedalamannya hanya 30 cm yang artinya tidak berbahaya bagi Ican yang berusia 5 tahun.
Hasan pun memperbolehkan Ican untuk masuk ke dalam dengan syarat Ican tidak boleh berlarian yang mana akan membuka Ican terpeleset.
Ican mengiyakan dengan patuh apa yang dikatakan Hasan dan dengan dibantu oleh Hasan, Ican berhasil turun ke dalam kolam tersebut.
“Telima kasih,” ucap Ican dengan suara cadelnya.
“Sama-sama,” balas Hasan yang terus mengawasi putra kecilnya yang tengah asik bermain air di dalam kolam.